Silsilah KY.NGABEI LORING PASAR

Jumat, 30 September 2016

Silsilah
KY.NGABEI LORING PASAR

Danang Sutawijaya (lahir: - wafat: Jenar, 1601) adalah pendiri Kesultanan Mataram yang memerintah sebagai raja pertama pada tahun 1587-1601, bergelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa Tokoh ini dianggap sebagai peletak dasar-dasar Kesultanan Mataram. Riwayat hidupnya banyak digali dari kisah-kisah tradisional, misalnya naskah-naskah babad karangan para pujangga zaman berikutnya.

Danang Sutawijaya atau Dananjaya adalah putra sulung pasangan Ky.Ageng Pamanahan dan Nyi.Sabinah .

Ky.Ageng Pamanahan sendiri  adalah keturunan Brawijaya raja terakhir Majapahit , Sedangkan Nyi.Sabinah adalah keturunan Sunan Giri anggota Walisanga. Hal ini seolah-olah menunjukkan adanya upaya para pujangga untuk mengkultuskan raja-raja Kesultanan Mataram sebagai keturunan orang-orang istimewa.

NY.Sabinah memiliki kakak laki-laki bernama Ki Juru Martani , yang kemudian diangkat sebagai patih pertama Kesultanan Mataram. Ia ikut berjasa besar dalam mengatur strategi menumpas Arya Penangsang pada tahun 1549.

Sutawijaya di ambil sebagai anak nagkat oleh Hadiwijaya bupati pajang sebagai pancingan, karena pernikahan Hadiwijaya dan istrinya sampai saat itu belum dikaruniai anak. Sutawijaya kemudian diberi tempat tinggal di sebelah utara pasar sehingga ia pun terkenal dengan sebutan Raden Ngabei Loring Pasar .

Penulis: Mufti Ali Elang Wetaning Pasar
Kalianyar-Krangkeng-Indramayu

Versi Mankunegara

Silsilah Panembahan Senopati versi Mangkunegaran
Silsilah Keturunan Lengkap :
Kanjeng Panembahan Senopati / Raden Sutawijaya (Sultan Mataram ke 1, pendiri, 1587-1601) menikah dengan 3 istri melahirkan putra-putri 14 orang :

0001. Gusti Kanjeng Ratu Pambayun / Retna Pembayun
0002. Pangeran Ronggo Samudra (Adipati Pati)
0003. Pangeran Puger / Raden Mas Kentol Kejuro (Adipati Demak)
0004. Pangeran Teposono
0005. Pangeran Purbaya / Raden Mas Damar
0006. Pangeran Rio Manggala
0007. Pangeran Adipati Jayaraga / (Raden Mas Barthotot)

0008. Panembahan Hadi Prabu Hanyokrowati/Panembahan Seda ing
            Krapyak (Sultan Mataram ke 2, 1601-1613) menikah dengan Ratu
            Tulung Ayu dan Dyah Banowati / Ratu Mas Hadi (Cicit dari Raden
            Joko Tingkir & Ratu Mas Cempaka), menurunkan putra-putri 12
            orang :

                     001.   Sultan Agung / Raden Mas Djatmika (1593-1645),
                                 Sultan
                                 Mataram ke 3 (1613-1645) menikah dengan Permaisuri
                                  ke 1 Kanjeng Ratu Kulon / Ratu Mas Tinumpak (putri
                                  Panembahan Ratu Cirebon ke 4 setelah Sunan Gunung
                                 Jati), permaisuri ke 2 Kanjeng Ratu Batang / Ratu Ayu
                                 Wetan / Kanjeng Ratu Kulon mempunyai 9 orang putra
                                  putri :
                                                01.    Raden Mas Sahwawrat / Pangeran
                                                            Temenggong Pajang
                                                02.     Raden Mas Kasim / Pangeran Demang
                                                           Tanpa Nangkil
                                                 03.    Pangeran Ronggo Kajiwan
                                                 04.    Gusti Ratu Ayu Winongan
                                                 05.    Pangeran Ngabehi Loring Pasar
                                                 06.    Pangeran Ngabehi Loring Pasar
                                                 07.     Sunan Prabu Amangkurat Agung /
                                                            Amangkurat I / Raden Mas Sayidin 
                                                            (Sultan Mataram ke 4, 1646-1677) wafat
                                                             13 Juli 1677 di Banyumas
                                                 08.    Gusti Raden Ayu Wiromantri
                                                 09.    Pangeran Danupoyo
                       002.   Pangeran Mangkubumi
                       003.   Pangeran Bumidirja
                       004.   Pangeran Arya Martapura / Raden Mas Wuryah
                                   (1605-1688)
                       005.   Ratu Mas Sekar / Ratu Pandansari
                       006.   Kanjeng Ratu Mas Sekar
                       007.   Pangeran Bhuminata
                       008.   Pangeran Notopuro
                       009.   Pangeran Pamenang
                       010.  Pangeran Sularong / Raden Mas Chakra (wafat
                                   Desember 1669)
                        011.  Gusti Ratu Wirokusumo
                        012.   Pangeran Pringoloyo
                                         

0009. Gusti Raden Ayu Demang Tanpa Nangkil
0010. Gusti Raden Ayu Wiramantri
0011. Pangeran Adipati Pringgoloyo I (Bupati Madiun, 1595-1601)
0012. Ki Ageng Panembahan Djuminah/Pangeran Djuminah/Pangeran
            Blitar I (Bupati Madiun, 1601-1613)
0013. Pangeran Adipati Martoloyo / Raden Mas Kanitren (Bupati      
            Madiun
            1613-1645)
0014. Pangeran Tanpa Nangkil


PENJELASAN
Perhatikan kode 0 (nol) Untuk kode keturunan biar tidak bingung.
Ada yang 0 nya 1,2 dan 3

SEJARAH SINGKAT DESA LUWUNGGESIK

Rabu, 14 September 2016

SEJARAH SINGKAT DESA LUWUNGGESIK

Bismillahirrokhmaanirrokhiim….
Seperti halnya desa-desa lain, desa Luwunggesik juga mempunyai sejarah atau latar belakang sebelum desa ini ada. Menurut cerita,  Luwung berasal dari kata suwung yang artinya alas (hutan) sedangkan gesik berasal dari kata kisik yang artinya pinggir laut. Jadi, dapat disimpulkan Luwunggesik adalah desa atau daerah yang dulunya hutan yang berada di pinggir laut.

Awal mula seseorang, sebut saja namanya Ki Gede menemukan daerah ini dengan cara sama seperti  yang pernah dilakukan para penemu-penemu daerah terdahulu yaitu dengan cara babad alas. Namun, ketika diketahui hasil babad tersebut kecil, maka Ki Gede bermaksud meninggalkan daerah ini, dengan tujuan mencari daerah yang lebih luas. Daerah ini dianggap kecil oleh Ki Gede karena sebelumnya sudah ada yg menduduki di masing-masing sisinya, sebelah selatan dan utara sudah ada daerah Bungko dan daerah Krangkeng (Kali Anyar), di sisi barat sudah ada daerah Srengseng, sementara di sisi timur adalah laut.

Akhirnya Ki Gede benar-benar meninggalkan daerah ini, dan kemudian menemukan daerah yang diinginkannya, yang sekarang diketahui daerah tersebut bernama Gegesik yang berada di kabupaten Cirebon.

Bertahun-tahun kemudian setelah Ki Gede berkeluarga, barulah ia ingat kala dulu pernah mempunyai daerah yang berada di pinggir laut, yang berada di perbatasan antara Cirebon dan Indramayu. Akhirnya Ki Gede mengutus anak perempuannya untuk kembali mencari daerah yang pernah ditinggalkannya dulu.

Ketika Putri sampai, ternyata daerah ini sudah ada yang menduduki, yang tak lain adalah Ki Gede Bungko yang dulunya berbatasan di sebelah selatan desa. Adu argumen pun mulai pecah, ketika selisih pendapat tak menemui jalannya, datanglah Nyi Mas Krangkeng (Ki Gede Krangkeng) untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut. Nyi Mas sendiri tahu kalau memang sebenarnya ada seseorang yang menemukan daerah yang berada diantara Krangkeng dan Bungko ini, akhirnya Nyi Mas membantu Putri ke Gede untuk mengurus semuanya.

Singkat cerita, Ki Gede Bungko akhirnya mengakui bahwa daerah ini adalah daerah yang pernah ditemukan oleh ayah dari Putri tersebut, dan pembatasan wilayah pun dilakukan. Seperti yang diceritakan dari awal di sebelah selatan berbatasan dengan daerah Bungko yang di tandai dengan Kali Pamengkang dan Kedokan Beta, di sebelah utara berbatasan dengan daerah Krangkeng (Kali Anyar), di sisi barat berbatasan dengan daerah Srengseng, sementara di sisi timur adalah laut.

Dan akhirnya daerah ini diberi dengan nama desa Luwunggesik. Diantaranya mengartikan desa Luwunggesik yang berarti daerah hutan yang berada di pinggir laut, dan diantaranya pula mengatakan bahwa desa Luwunggesik mempunyai arti daerah hutan yang ditinggalkan pemiliknya ke daerah Gegesik.

Desa Luwunggesik sendiri belum diketahui oleh siapa dan sejak kapan ditemukan oleh seseorang sebelum kita, karena berbagai sumber mengatakan belum ada yang mengetahuinya.

Demikian sejarah singkat dari desa Luwunggesik, penulis mengambil cerita ini dari berbagai nara sumber, diantaranya adalah dari para sesepuh dan dari para tokoh masyarakat  desa Luwunggesik.

Penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam pengangkatan cerita ini terdapat kesalahan nama  atau tempat kejadian. Kritik dan saran sangatlah penulis harapkan. Kesempurnaan hanyalah milik Allah dan kesalahan hanyalah milik kita.

SEJARAH DESA KRANGKENG

Sabtu, 23 Juli 2016


ꦱꦼꦗꦫꦃ ꦢꦺꦱ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦆꦤ꧀ꦢꦿꦩꦪꦸ






(SEJARAH DESA KRANGKENG INDRAMAYU) 

 

 

ꦄꦱ꧀ꦱꦭꦩꦸꦲꦭꦻꦏꦸꦩ꧀ ꦮꦫꦺꦴꦃꦩꦠꦸꦭ꧀ꦭꦺꦴꦲꦶ ꦮꦧꦫꦺꦴꦏꦠꦸꦃ꧉

(Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.)


ꦥꦼꦂꦭꦸ ꦢꦶꦏꦼꦠꦲꦸꦮꦶ ꦱꦼꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ ꦱꦪ ꦗꦲꦸꦃ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦼꦭꦱ꧀ꦏꦤ꧀ ꦱꦼꦗꦫꦃ ꦢꦺꦱ ꦆꦤꦶ ꦠꦼꦂꦭꦼꦧꦶꦃ ꦢꦲꦸꦭꦸ ꦱꦪ ꦠꦼꦏꦤ꧀ꦏꦤ꧀ ꦱꦼꦗꦫꦃ ꦢꦺꦱ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦄꦢ ꦧꦼꦂꦧꦒꦻ ꦮ꦳ꦺꦂꦱꦶ ꦧꦃꦏꦤ꧀ ꦪꦁ ꦱꦪ ꦏꦼꦠꦲꦸꦮꦶ ꦄꦢ ꧕ ꦮ꦳ꦺꦂꦱꦶ ꦪꦁ ꦩꦱꦶꦁꦩꦱꦶꦁ ꦮ꦳ꦺꦂꦱꦶ ꦄꦢ ꦏꦼꦱꦩꦄꦤ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦥꦼꦂꦧꦺꦢꦄꦤ꧀ ꦗꦢꦶ ꦩꦺꦴꦲꦺꦴꦤ꧀ ꦩꦄꦥ꦳꧀ ꦗꦶꦏ ꦮ꦳ꦺꦂꦱꦶ ꦪꦁ ꦱꦪ ꦱꦩ꧀ꦥꦻꦏꦤ꧀ ꦠꦶꦢꦏ꧀ꦭꦃ ꦱꦩ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦮ꦳ꦺꦂꦱꦶ ꦪꦁ ꦩꦸꦁꦏꦶꦤ꧀ ꦧꦥꦏ꧀/ꦆꦧꦸ ꦢꦤ꧀ ꦠꦼꦩꦼꦤ꧀ꦠꦼꦩꦼꦤ꧀ ꦏꦼꦠꦲꦸꦮꦶ꧉


(Perlu di ketahui sebelum saya jauh menjelaskan Sejarah Desa ini terlebih dahulu saya tekankan sejarah Desa Krangkeng ada berbagai Versi bahkan yang saya ketahui ada 5 versi...)


ꦱꦼꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦥꦼꦢꦸꦏꦸꦲꦤ꧀ ꦢꦸꦭꦸꦚ ꦮꦶꦭꦪꦃ ꦆꦤꦶ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦧꦼꦭꦤ꧀ꦠꦫ ꦪꦁ ꦧꦼꦂꦤꦩ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦄꦤ꧀ꦢꦒ ꦱꦫꦶ꧉


(Sebelum menjadi Pedukuhan dulunya wilayah ini merupakan hutan belantara yang bernama hutan ANDAGA SARI.)


ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦄꦤ꧀ꦢꦒ ꦱꦫꦶ ꦱꦼꦤ꧀ꦢꦶꦫꦶ ꦢꦶꦲꦸꦤꦶ ꦎꦭꦺꦃ ꦧꦶꦤꦠꦁ ꦧꦸꦮꦱ꧀꧈ ꦩꦤꦸꦱꦶꦪ ꦱꦏ꧀ꦠꦶ ꦪꦁ ꦢꦥꦠ꧀ ꦏꦼꦭꦸꦮꦂ ꦩꦱꦸꦏ꧀ ꦤꦼꦒꦿꦶ ꦱꦶꦭꦸꦩꦤ꧀ ꦧꦼꦂꦤꦩ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ (ꦩꦤꦸꦱꦶꦪ ꦲꦫꦶꦩꦻꦴ ꦲꦶꦠꦩ꧀) ꦱꦼꦂꦠ ꦥꦫ ꦭꦼꦭꦼꦩ꧀ꦧꦸꦠ꧀ ꦪꦁ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦧꦭ ꦠꦼꦤ꧀ꦠꦫ ꦢꦫꦶ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ꧉


(Hutan andaga sari sendiri dihuni oleh binatang buas, manusia sakti yang dapat keluar masuk negri siluman bernama NYI LODAYA (Manusia Harimau Hitam) serta para lelembut yang menjadi bala tentara dari NYI LODAYA.)


ꦠꦺꦴꦏꦺꦴꦃ ꦪꦁ ꦧꦼꦂꦤꦩ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꦠꦺꦴꦏꦺꦴꦃ ꦱꦏ꧀ꦠꦶ ꦥꦢ ꦗ꦳ꦩꦤ꧀ꦚ ꦪꦁ ꦩꦼꦤ꧀ꦢꦶꦪꦩꦶ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦄꦤ꧀ꦢꦒ ꦱꦫꦶ꧈ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦄꦢꦭꦃ ꦱꦭꦃ ꦱꦠꦸ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦢꦫꦶ ꦱꦺꦠꦤ꧀ ꦏꦺꦴꦧꦺꦂ꧈ ꦱꦼꦭꦻꦤ꧀ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦱꦺꦠꦤ꧀ ꦏꦺꦴꦧꦺꦂ ꦗꦸꦒ ꦩꦼꦩ꧀ꦥꦸꦚꦻ ꦧꦼꦧꦼꦫꦥ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦱꦏ꧀ꦠꦶ ꦢꦶꦪꦤ꧀ꦠꦫꦚ ꦏꦶ ꦧꦸꦪꦸꦠ꧀ ꦥꦭꦶꦩꦤꦤ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦏꦶ ꦧꦸꦪꦸꦠ꧀ ꦧꦪꦭꦔꦸ (ꦱꦁꦒꦸꦥ꧀ ꦩꦼꦤꦁꦏꦥ꧀ ꦥꦼꦠꦶꦂ)꧉


(Tokoh yang bernama NYI LODAYA merupakan tokoh sakti pada zamannya yang mendiami Hutan ANDAGA SARI, beliau adalah salah satu murid dari SETAN KOBER...)


ꦩꦸꦁꦏꦶꦤ꧀ ꦱꦼꦧꦒꦶꦪꦤ꧀ ꦱꦸꦢꦃ ꦠꦶꦢꦏ꧀ ꦄꦱꦶꦁ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦚꦶ ꦒꦼꦢꦺ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦤꦩꦸꦤ꧀ ꦥꦼꦂꦭꦸ ꦏꦶꦠ ꦏꦼꦠꦲꦸꦮꦶ ꦤꦩ ꦄꦱ꧀ꦭꦶ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦄꦢꦭꦃ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦥꦸꦠꦿꦶ ꦩꦠꦫꦩ꧀꧉


(Mungkin sebagian sudah tidak asing dengan NYI GEDE KRANGKENG namun perlu kita ketahui nama Asli Beliau adalah NYI GENDAR MALAYA seorang Putri MATARAM).


ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦄꦢꦭꦃ ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦥꦸꦠꦿꦶ ꦕꦼꦂꦢꦶꦏ꧀꧈ ꦕꦤ꧀ꦠꦶꦏ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦧꦼꦂꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦠꦶꦁꦒꦶ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦥꦢ ꦱꦸꦮꦠꦸ ꦩꦱ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦢꦶ ꦈꦠꦸꦱ꧀ ꦎꦭꦺꦃ ꦏꦼꦢꦸꦮ ꦎꦫꦁ ꦠꦸꦮꦚ ꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ ꦩꦼꦔꦼꦩ꧀ꦧꦫ ꦏꦼ ꦠꦤꦃ ꦗꦮ ꦢꦭꦩ꧀ ꦫꦁꦏ ꦩꦼꦩ꧀ꦥꦼꦂꦢꦭꦩ꧀ ꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦄꦒꦩ ꦱꦼꦂꦠ ꦏꦤꦸꦫꦒꦤ꧀ꦚ꧉


(Beliau adalah seorang putri cerdik, cantik dan berilmu tinggi sampai pada suatu masa beliau di utus oleh kedua orang tuanya untuk mengembara ke tanah Jawa dalam rangka memperdalam ilmu agama serta kanuragannya.)

ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦧꦼꦫꦁꦏꦠ꧀ ꦢꦫꦶ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦩꦼꦤ꧀ꦠꦎꦏ꧀ ꦪꦁ ꦄꦢ ꦢꦶ ꦪꦺꦴꦒ꧀ꦪꦏꦂꦠ ꦱꦼꦭꦤ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦚ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦩꦼꦤꦼꦫꦸꦱ꧀ꦏꦤ꧀ ꦥꦼꦂꦗꦭꦤꦤ꧀ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦤꦼꦒꦿꦶ ꦕꦫꦸꦧꦤ꧀ ꦤꦒꦫꦶ ꦪꦁ ꦱꦼꦏꦫꦁ ꦧꦶꦪꦱ ꦏꦶꦠ ꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦕꦶꦫꦼꦧꦺꦴꦤ꧀ ꦪꦁ ꦏꦭ ꦆꦠꦸ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦥꦸꦱꦠ꧀ ꦥꦼꦩꦼꦫꦶꦤ꧀ꦠꦲꦤ꧀ ꦆꦱ꧀ꦭꦩ꧀꧈ ꦥꦸꦱꦠ꧀ ꦥꦼꦤ꧀ꦢꦶꦢꦶꦏꦤ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦥꦸꦱꦠ꧀ ꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦏꦤꦸꦫꦒꦤ꧀꧉


(Beliau berangkat dari Hutan Mentaok yang ada di YOGYAKARTA selanjutnya beliau meneruskan perjalan sampai negri CARUBAN NAGARI yang sekarang biasa kita sebut CIREBON yang kala itu menjadi pusat Pemerintahan Islam, Pusat Pendidikan dan Pusat Ilmu Kanuragan.)


ꦥꦢ ꦩꦱ ꦱꦩ꧀ꦥꦻꦚ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ ꦏꦼ ꦠꦤꦃ ꦕꦫꦸꦧꦤ꧀ ꦄꦢ ꦒꦼꦤꦼꦫꦱꦶ ꦱꦼꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ꦚ ꦪꦁ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦠꦺꦴꦏꦺꦴꦃ ꦧꦼꦱꦂ ꦢꦤ꧀ ꦢꦶ ꦱꦼꦒꦤꦶ ꦢꦶ ꦕꦫꦸꦧꦤ꧀:


(Pada masa sampainya NYI GENDAR MALAYA ke tanah CARUBAN ada generasi sebelumnya yang menjadi TOKOH BESAR dan di segani di CARUBAN)


꧑꧉ ꦱꦾꦻꦏ꧀ ꦤꦸꦂ ꦗꦠꦶ ꦪꦁ ꦩꦼꦩ꧀ꦥꦸꦚꦻ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦢꦶꦪꦤ꧀ꦠꦫꦚ ꦱꦶꦠꦶ ꦗꦼꦤꦂ꧈ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦏꦭꦶꦗꦺꦴꦒꦺꦴ ꦢꦤ꧀ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ


(1. SYAIK NUR JATI yang mempunyai murid diantaranya SITI JENAR, SUNAN KALIJOGO dan SUNAN GUNUNG JATI)


꧒꧉ ꦱꦾꦻꦏ꧀ ꦤꦸꦂ ꦗꦠꦶ ꦩꦼꦩ꧀ꦥꦸꦚꦻ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦥꦸꦭ ꦥꦢ ꦒꦼꦤꦼꦫꦱꦶ ꦱꦼꦱꦸꦢꦃ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ꧈ ꦱꦶꦠꦶ ꦗꦼꦤꦂ ꦢꦤ꧀ ꦏꦭꦶꦗꦺꦴꦒꦺꦴ ꦪꦻꦠꦸ ꦱꦾꦻꦏ꧀ ꦧꦼꦤ꧀ꦠꦶꦁ (ꦧꦸꦁꦏꦺꦴ)꧈ ꦒꦤ꧀ꦢꦱꦫꦶ (ꦥꦩꦸꦫꦒꦤ꧀) ꦢꦤ꧀ ꦩꦒ꧀ꦭꦸꦁ ꦱꦏ꧀ꦠꦶ


(2. SYAIK NUR JATI mempunyai murid pula pada GENERASI sesudah SUNAN GUNG JATI, SITI JENAR dan KALIJOGO yaitu SYAIK BENTING (BUNGKO), GANDASARI (PAMURAGAN) dan MAGLUNG SAKTI)


꧓꧉ ꦱꦼꦱꦸꦢꦃ ꦒꦼꦤꦼꦫꦱꦶ ꦏꦼꦢꦸꦮ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ ꦩꦼꦁꦒꦤ꧀ꦠꦶꦏꦤ꧀ ꦱꦾꦻꦏ꧀ ꦤꦸꦂ ꦗꦠꦶ ꦢꦤ꧀ ꦩꦼꦩ꧀ꦥꦸꦚꦻ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ (ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ)꧈ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦥꦿꦶꦁꦒꦧꦪ (ꦏꦥꦿꦶꦔꦤ꧀) ꦢꦤ꧀ ꦩꦱꦶꦃ ꦧꦚꦏ꧀ ꦭꦒꦶ ꦪꦁ ꦭꦻꦤ꧀ꦚ꧉


(3. Sesudah generasi Kedua SUNAN GUNUNG JATI menggantikan SYAIK NUR JATI dan mempunyai murid NYI GENDAR MALAYA (Krangkeng), PANGERAN PRINGGABAYA (Kapringan) dan mash banyak lagi yang lainya.)
ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ/ꦱꦾꦫꦶꦥ꦳꧀ ꦲꦶꦢꦪꦠꦸꦭ꧀ꦭꦃ (ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ ꦆꦤꦶ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꦏꦼꦠꦸꦫꦸꦤꦤ꧀ ꦏꦼ-꧑꧗ ꦢꦫꦶ ꦫꦱꦸꦭꦸꦭ꧀ꦭꦃ ꦱꦮ꧀꧉)


(KANJENG SUNAN GUNUNG JATI/SYARIF HIDAYATULLAH (Sunan Gunung Jati ini merupakan keturunan ke-17 dari Rasulullah SAW.))


ꦱꦶꦭ꧀ꦱꦶꦭꦃꦚ ꦢꦶꦩꦸꦭꦻ ꦱꦄꦠ꧀ ꦤꦧꦶ ꦩꦸꦲꦩ꧀ꦩꦢ꧀ ꦱꦮ꧀ ꦩꦼꦩꦶꦭꦶꦏꦶ ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦥꦸꦠꦿꦶ ꦧꦼꦂꦤꦩ ꦱꦶꦠꦶ ꦥ꦳ꦠꦶꦩꦃ꧉ ꦏꦼꦩꦸꦢꦶꦪꦤ꧀ ꦱꦶꦠꦶ ꦥ꦳ꦠꦶꦩꦃ ꦩꦼꦭꦲꦶꦂꦏꦤ꧀ ꦱꦪ꧀ꦪꦶꦢ꧀ ꦲꦸꦱꦻꦤ꧀ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦥꦢ ꦒꦼꦤꦼꦫꦱꦶ-ꦒꦼꦤꦼꦫꦱꦶ ꦱꦼꦭꦤ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦚ꧈ ꦭꦲꦶꦂꦭꦃ ꦄꦪꦃ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ꧉


(Silsilahnya dimulai saat Nabi Muhammad SAW memiliki seorang putri bernama Siti Fatimah. Kemudian Siti Fatimah melahirkan Sayyid Husain sampai pada generasi-generasi selanjutnya, lahirlah ayah Sunan Gunung Jati.)

ꦄꦪꦃꦚ ꦧꦼꦂꦤꦩ ꦱꦾꦫꦶꦥ꦳꧀ ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦭꦃ ꦈꦩ꧀ꦢꦠꦸꦢ꧀ꦢꦶꦤ꧀ ꦧꦶꦤ꧀ ꦄꦭꦶ ꦤꦸꦫꦸꦭ꧀ ꦄꦭꦩ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦢꦶꦏꦼꦤꦭ꧀ ꦱꦼꦧꦒꦻ ꦱꦾꦺꦏ꧀ ꦩꦻꦴꦭꦤ ꦄꦏ꧀ꦧꦂ꧉ ꦢꦶꦪ ꦄꦢꦭꦃ ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦥꦼꦔꦸꦮꦱ ꦩꦼꦱꦶꦂ꧉


(Ayahnya bernama Syarif Abdullah Umdatuddin bin Ali Nurul Alam dan dikenal sebagai Syekh Maulana Akbar. Dia adalah seorang penguasa Mesir.)


ꦆꦧꦸꦚ ꦧꦼꦂꦤꦩ ꦚꦶ ꦩꦱ꧀ ꦫꦫ ꦱꦤ꧀ꦠꦁ ꦪꦁ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꦥꦸꦠꦿꦶ ꦫꦗ ꦥꦗꦗꦫꦤ꧀ ꦪꦁ ꦧꦼꦂꦒꦼꦭꦂ ꦱꦿꦶ ꦧꦢꦸꦒ ꦩꦲꦫꦗ꧉ ꦱꦼꦠꦼꦭꦃ ꦩꦼꦤꦶꦏꦃ꧈ ꦒꦼꦭꦂꦚ ꦧꦼꦂꦒꦤ꧀ꦠꦶ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦱꦾꦫꦶꦥ꦳ꦃ ꦩꦸꦢꦻꦩ꧀꧉


(Ibunya bernama Nyi Mas Rara Santang yang merupakan putri raja Pajajaran yang bergelar Sri Baduga Maharaja. Setelah menikah, gelarnya berganti menjadi Syarifah Mudaim.)


ꦄꦮꦭ꧀ ꦩꦸꦭ ꦥꦼꦂꦠꦼꦩꦸꦮꦤ꧀ ꦏꦼꦢꦸꦮ ꦎꦫꦁ ꦠꦸꦮ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ ꦄꦢꦭꦃ ꦏꦼꦠꦶꦏ ꦚꦶ ꦩꦱ꧀ ꦫꦫ ꦱꦤ꧀ꦠꦁ ꦱꦼꦢꦁ ꦩꦼꦭꦏ꧀ꦱꦤꦏꦤ꧀ ꦆꦧꦢꦃ ꦲꦗꦶ ꦏꦼ ꦏꦺꦴꦠ ꦩꦏ꧀ꦏꦃ꧉ ꦢꦶ ꦱꦤ ꦆꦪ ꦧꦼꦂꦠꦼꦩꦸ ꦱꦾꦺꦏ꧀ ꦩꦻꦴꦭꦤ ꦄꦏ꧀ꦧꦂ꧉


(Awal mula pertemuan kedua orang tua Sunan Gunung Jati adalah ketika Nyi Mas Rara Santang sedang melaksanakan ibadah haji ke Kota Makkah. Di sana ia bertemu Syekh Maulana Akbar.)


ꦩꦼꦫꦺꦏ ꦩꦼꦤꦶꦏꦃ ꦢꦤ꧀ ꦢꦶꦏꦫꦸꦤꦶꦪꦻ ꦢꦸꦮ ꦥꦸꦠꦿ꧈ ꦪꦻꦠꦸ ꦱꦾꦫꦶꦥ꦳꧀ ꦲꦶꦢꦪꦠꦸꦭ꧀ꦭꦃ (ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ) ꦢꦤ꧀ ꦄꦢꦶꦏ꧀ꦚ ꦱꦾꦫꦶꦥ꦳꧀ ꦤꦸꦫꦸꦭ꧀ꦭꦃ꧉


(Mereka menikah dan dikaruniai dua putra, yaitu Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) dan adiknya Syarif Nurullah.)


ꦥꦢ ꧑꧔꧗꧐ ꦩ꧈ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ ꦩꦼꦔꦶꦤ꧀ꦗꦏ꧀ꦏꦤ꧀ ꦏꦏꦶ ꦢꦶ ꦕꦶꦫꦼꦧꦺꦴꦤ꧀ ꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ ꦥꦼꦂꦠꦩ ꦏꦭꦶꦚ꧉ ꦏꦼꦢꦠꦔꦤ꧀ꦚ ꦢꦶꦱꦩ꧀ꦧꦸꦠ꧀ ꦧꦻꦏ꧀ ꦎꦭꦺꦃ ꦥꦩꦤ꧀ꦚ ꦪꦁ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦫꦗ ꦕꦶꦫꦼꦧꦺꦴꦤ꧀꧈ ꦫꦢꦺꦤ꧀ ꦮꦭꦁꦱꦸꦁꦱꦁ/ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦕꦏꦿꦧꦸꦮꦤ ꦢꦤ꧀ ꦌꦩ꧀ꦧꦃ ꦏꦸꦮꦸ ꦱꦁꦏꦤ꧀ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꦥꦸꦠꦿ ꦥꦿꦧꦸ ꦱꦶꦭꦶꦮꦔꦶ ꦢꦫꦶ ꦚꦶ ꦱꦸꦧꦁ ꦭꦫꦁ꧉


(Pada 1470 M, Sunan Gunung Jati menginjakkan kaki di Cirebon untuk pertama kalinya. Kedatangannya disambut baik oleh pamannya yang merupakan seorang raja Cirebon, Raden Walangsungsang/Pangeran Cakrabuana dan Embah Kuwu Sangkan merupakan putra Prabu Siliwangi dari Nyi Subang Larang.)


ꦥꦢ ꦩꦱ ꦱꦩ꧀ꦥꦻꦚ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ ꦏꦼ ꦠꦤꦃ ꦕꦫꦸꦧꦤ꧀ ꦤꦒꦫꦶ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦧꦼꦂꦒꦸꦫꦸ ꦭꦁꦱꦸꦁ ꦏꦼꦥꦢ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ ꦢꦤ꧀ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦩꦼꦤ꧀ꦢꦭꦩꦶ ꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦄꦒꦩ꧈ ꦥꦺꦴꦭꦶꦠꦶꦏ꧀꧈ ꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦏꦼꦢꦶꦒ꧀ꦗꦪꦄꦤ꧀ ꦧꦼꦂꦱꦩ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦭꦻꦤ꧀ꦚ ꦪꦻꦠꦸ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦥꦿꦶꦁꦒꦧꦪ (ꦗꦏ ꦢꦺꦴꦭꦺꦴꦒ꧀) / ꦧꦸꦪꦸꦠ꧀ ꦏꦥꦿꦶꦔꦤ꧀꧉


(Pada masa sampainya NYI GENDAR MALAYA ke tanah CARUBAN NAGARI beliau berguru langsung kepada KANJENG SUNAN GUNUNG JATI dan beliau mendalami ilmu AGAMA, POLITIK, ILMU KEDIGJAYAAN bersama murid lainya yaitu PANGERAN PRINGGABAYA(JAKA DOLOG)/Buyut Kapringan.)


ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ ꦢꦶ ꦧꦼꦫꦶ ꦒꦼꦭꦂ ꦏꦼꦲꦺꦴꦂꦩꦠꦤ꧀ ꦎꦭꦺꦃ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ ꦪꦻꦠꦸ ꦚꦶ ꦩꦱ꧀ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦼꦏꦱꦶꦃ ꦢꦤ꧀ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦪꦁ ꦥꦶꦤ꧀ꦠꦂ꧈ ꦕꦼꦂꦢꦱ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦢꦥꦠ꧀ ꦩꦼꦚꦼꦫꦥ꧀ ꦱꦼꦠꦶꦪꦥ꧀ ꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦪꦁ ꦢꦶꦄꦗꦂꦏꦤ꧀ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦧꦻꦏ꧀ ꦱꦼꦲꦶꦁꦒ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦪꦁ ꦱꦔꦠ꧀ ꦩꦼꦤꦺꦴꦤ꧀ꦗꦺꦴꦭ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦢꦶ ꦄꦤꦏ꧀ ꦌꦩꦱ꧀ꦏꦤ꧀ ꦎꦭꦺꦃ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀꧉


(NYI GENDAR MALAYA di beri gelar kehormatan oleh Kanjeng Sunan Gunung Jati yaitu NYI MAS ENDANG KEKASIH dan menjadi murid yang PINTAR, CERDAS dan dapat menuerap setiap ilmu yang diajarkan Kanjeng Sunan denngan baik sehingga beliau menjadi murid yang sangat menonjol dan di anak emaskan oleh Kanjeng Sunan.)


ꦱꦼꦠꦼꦭꦃ ꦱꦼꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ꦚ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ ꦱꦼꦏꦫꦁ ꦩꦫꦶ ꦒꦸꦤꦏꦤ꧀ ꦒꦼꦭꦂ ꦪꦁ ꦢꦶ ꦱꦼꦩꦠ꧀ꦏꦤ꧀ ꦎꦭꦺꦃ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ ꦩꦼꦭꦤ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦏꦤ꧀ ꦕꦼꦫꦶꦠ꧉


(Setelah sebelumnya NYI GENDAR MALAYA sekarang mari gunakan Gelar yang di sematkan oleh kanjeng sunan untuk melanjutkan cerita.)


ꦱꦼꦠꦼꦭꦃ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦼꦏꦱꦶꦃ ꦢꦶ ꦤꦶꦭꦻ ꦕꦸꦏꦸꦥ꧀ ꦧꦼꦏꦭ꧀ ꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦎꦭꦺꦃ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦩꦏ ꦢꦶ ꦠꦸꦒꦱ꧀ꦏꦤ꧀ꦭꦃ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦧꦼꦫꦁꦏꦠ꧀ ꦏꦼ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦄꦤ꧀ꦢꦒ ꦱꦫꦶ ꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ ꦧꦧꦢ꧀/ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦸꦏ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶꦏꦤ꧀ꦚ ꦥꦼꦢꦸꦏꦸꦲꦤ꧀/ꦢꦺꦱ꧉


(Setelah NYI ENDANG KEKASIH di nilai cukup bekal ilmu oleh kanjeng sunan maka di tugaskanlah NYI ENDANG KASIH berangkat ke HUTAN ANDAGA SARI untuk BABAD/MEMBUKA hutan tersebut dan menjadikanya PEDUKUHAN/DESA.)


ꦠꦥꦶ ꦫꦸꦥꦚ ꦠꦶꦢꦏ꧀ꦭꦃ ꦱꦼꦩꦸꦢꦃ ꦪꦁ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦧꦪꦁꦏꦤ꧀ ꦏꦫꦼꦤ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦄꦢꦭꦃ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦭꦫꦔꦤ꧀ ꦪꦁ ꦢꦶꦲꦸꦤꦶ ꦎꦭꦺꦃ ꦧꦶꦤꦠꦁ ꦧꦸꦮꦱ꧀꧈ ꦩꦤꦸꦱꦶꦪ ꦱꦏ꧀ꦠꦶ ꦪꦁ ꦢꦥꦠ꧀ ꦏꦼꦭꦸꦮꦂ ꦩꦱꦸꦏ꧀ ꦤꦼꦒꦿꦶ ꦱꦶꦭꦸꦩꦤ꧀ ꦧꦼꦂꦤꦩ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ (ꦩꦤꦸꦱꦶꦪ ꦲꦫꦶꦩꦻꦴ ꦲꦶꦠꦩ꧀) ꦱꦼꦂꦠ ꦥꦫ ꦭꦼꦭꦼꦩ꧀ꦧꦸꦠ꧀ ꦪꦁ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦧꦭ ꦠꦼꦤ꧀ꦠꦫ ꦢꦫꦶ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦤꦩꦸꦤ꧀ ꦢꦶ ꦢꦭꦩ꧀ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦫꦸꦥꦚ ꦱꦸꦢꦃ ꦄꦢ ꦢꦲꦸꦭꦸ ꧒ ꦥꦱꦔꦤ꧀ ꦱꦸꦮꦩꦶ ꦆꦱ꧀ꦠꦿꦶ ꦪꦁ ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ ꦢꦶ ꦢꦭꦩ꧀ꦚ ꦪꦻꦠꦸ ꦚꦶ ꦩꦒꦼꦁꦒꦺꦴꦁ ꦢꦤ꧀ ꦏꦶ ꦄꦂꦪ ꦩꦒꦼꦁꦒꦺꦴꦁ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ ꦢꦶ ꦢꦭꦩ꧀ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦪꦁ ꦠꦼꦩ꧀ꦥꦠ꧀ ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ꦚ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꦫꦸꦩꦃ ꦥꦁꦒꦸꦁ ꦢꦤ꧀ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦱꦼꦏꦫꦁ ꦫꦸꦩꦃ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦢꦶ ꦄꦧꦢꦶꦏꦤ꧀ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦤꦩ ꦧ꧀ꦭꦺꦴꦏ꧀ ꦢꦶ ꦢꦺꦱ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦪꦻꦠꦸ ꦧ꧀ꦭꦺꦴꦏ꧀ ꦥꦁꦒꦸꦔꦤ꧀꧉


(Tapi rupanya tidaklah semudah yang NYI ENDANG KASIH bayangkan karena hutan tersebut adalah hutan larangan yang dihuni oleh binatang buas, manusia sakti yang dapat keluar masuk negri siluman bernama NYI LODAYA (Manusia Harimau Hitam) serta para lelembut yang menjadi bala tentara dari NYI LODAYA namun di dalam hutan tersebut rupanya sudah ada dahulu 2 pasangan suami istri yang tinggal di dalamnya yaitu NYI MAGENGGONG dan KY ARYA MAGENGGONG beliau tinggal di dalam hutan yang tempat tinggalnya merupakan rumah panggung dan sampai sekarang rumah beliau di abadikan menjadi nama Blok di Desa Krangkeng yaitu Blok Panggungan.)


ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦏꦼꦪꦏꦶꦤꦤ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦪꦁ ꦢꦶꦩꦶꦭꦶꦏꦶ ꦩꦏ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦩꦼꦩꦱꦸꦏꦶ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦄꦤ꧀ꦢꦒꦱꦫꦶ ꦭꦭꦸ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦱꦶꦁꦒꦃ ꦢꦶ ꦠꦼꦩ꧀ꦥꦠ꧀ ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ ꦚꦶ ꦩꦒꦼꦁꦒꦺꦴꦁ ꦱꦼꦫꦪ ꦩꦼꦩꦶꦤ꧀ꦠ ꦆꦗꦶꦤ꧀ ꦏꦼꦥꦢ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦸꦏ ꦥꦼꦢꦸꦏꦸꦲꦤ꧀ ꦱꦼꦥꦼꦂꦠꦶ ꦄꦩꦤꦠ꧀ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀꧈ ꦎꦭꦺꦃ ꦏꦂꦤ ꦚꦶ ꦩꦒꦼꦁꦒꦺꦴꦁ ꦲꦚ ꦲꦶꦢꦸꦥ꧀ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦱꦸꦮꦩꦶꦚ ꦱꦗ ꦢꦤ꧀ ꦩꦼꦔꦶꦔꦶꦤ꧀ꦏꦤ꧀ ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦄꦤꦏ꧀ ꦩꦏ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦪꦭ ꦢꦶ ꦄꦔ꧀ꦏꦠ꧀ ꦄꦤꦏ꧀ ꦎꦭꦺꦃ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦢꦤ꧀ ꦢꦶ ꦆꦗ꦳ꦶꦤ꧀ꦏꦤ꧀ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦸꦮꦏ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦄꦤ꧀ꦢꦒꦱꦫꦶ꧉


(Dengan keyakinan dan ilmu yang dimiliki maka NYI ENDANG KASIH memasuki Hutan Andagasari lalu beliau singgah di tempat tinggal NYI MAGENGGONG seraya meminta ijin kepada beliau untuk membuka pedukuhan seperti amanat Kanjeng Sunan, oleh karna NYI MAGENGGONG hanya hidup dengan suaminya saja dan menginginkan seorang anak maka NYI GENDAR MAYALA di ankat anak oleh beliau dan di izinkan membuaka Hutan andagasari.)


ꦚꦶ ꦩꦒꦼꦁꦒꦺꦴꦁ ꦢꦤ꧀ ꦏꦶ ꦄꦂꦪ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦼꦫꦶ ꦄꦫꦲꦤ꧀ ꦱꦭꦃ ꦱꦠꦸ ꦏꦸꦤ꧀ꦕꦶ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦸꦏ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦆꦤꦶ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦥꦼꦢꦸꦏꦸꦲꦤ꧀/ꦢꦺꦱ ꦄꦢꦭꦃ ꦩꦼꦔꦭꦃꦏꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦭꦼꦧꦶꦃ ꦢꦲꦸꦭꦸ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦢꦤ꧀ ꦠꦼꦤ꧀ꦠꦫꦚ ꦪꦁ ꦱꦼꦩꦸꦮ ꦠꦼꦤ꧀ꦠꦫꦚ ꦱꦁꦒꦸꦥ꧀ ꦩꦼꦫꦸꦧꦃ ꦢꦶꦫꦶꦚ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦲꦫꦶꦩꦻꦴ꧉

(NYI MAGENGGONG dan KY ARYA memberi arahan salah satu kunci membuka hutan ini menjadi PEDUKUHAN/DESA adalah mengalahkan terlebih dahulu NYI LODAYA dan tentaranya yang semua tentaranya sanggup merubah dirinya menjadi harimau.)


ꦠꦤ꧀ꦥ ꦥꦶꦏꦶꦂ ꦥꦤ꧀ꦗꦁ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦭꦁꦱꦸꦁ ꦥꦩꦶꦠ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦧꦼꦫꦁꦏꦠ꧀ ꦩꦼꦤ꧀ꦕꦫꦶ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦢꦤ꧀ ꦠꦼꦤ꧀ꦠꦫꦚ ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦢꦶꦫꦶ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦄꦏꦶꦂꦚ ꦩꦼꦫꦺꦏ ꦧꦼꦂꦠꦼꦩꦸ ꦢꦤ꧀ ꦧꦼꦂꦠꦼꦩ꧀ꦥꦸꦂ ꧑꧑ ꦲꦫꦶ ꦢꦤ꧀ ꦢꦭꦩ꧀ ꦥꦼꦂꦠꦼꦩ꧀ꦥꦸꦫꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦧꦼꦂꦲꦱꦶꦭ꧀ ꦩꦼꦔꦭꦃꦏꦤ꧀ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦢꦤ꧀ ꦩꦼꦚꦸꦢꦸꦠ꧀ꦏꦤ꧀ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦏꦼ ꦥꦼꦱꦶꦱꦶꦂ ꦄꦤ꧀ꦢꦒ ꦱꦫꦶ ꦢꦤ꧀ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦱꦼꦤ꧀ꦢꦶꦫꦶ ꦥꦸꦭꦁ ꦏꦼ ꦫꦸꦩꦃ ꦎꦫꦁ ꦠꦸꦮ ꦄꦁꦏꦠ꧀ꦚ ꦪꦁ ꦄꦢ ꦢꦶ ꦥꦁꦒꦸꦔꦤ꧀꧈ ꦱꦼꦠꦼꦭꦃ ꦩꦼꦔꦭꦃꦏꦤ꧀ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦩꦏ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦏꦶꦤꦶ ꦢꦶ ꦲꦢꦥ꧀ꦏꦤ꧀ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦱꦶꦠꦸꦮꦱꦶ ꦭꦻꦤ꧀ ꦪꦻꦠꦸ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦼꦫꦶ ꦧꦠꦱ꧀ ꦮꦶꦭꦪꦃ ꦏꦼꦏꦸꦮꦱꦄꦤ꧀ꦚ꧉

(Tanpa piker panjang ENDANG KASIH langsung pamit dan berangkat mencari NYI LODAYA dan TENTARANYA seorang diri sampai akhirnya mereka bertemu dan bertempur 11 Hari dan dalam pertempuran tersebut NYI ENDANG KASIH berhasil mengalahkan NYI LODAYA dan menyudutkan NYI LODAYA ke pesisir ANDAGA SARI dan NYI ENDANG KASIH sendiri pulang ke rumah orang tua angkatnya yang ada di panggungan, setelah mengalahkan NYI LODAYA maka NYI ENDANG KASIH kini di hadapkan dengan situasi lain yaitu memberi batas wilayah kekuasaanya.)


ꦱꦸꦢꦃ ꦱꦼꦭꦪꦏ꧀ꦚ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦗꦶꦏ ꦩꦻꦴ ꦢꦶ ꦧꦸꦮꦠ꧀ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦥꦼꦢꦸꦏꦸꦲꦤ꧀/ꦢꦺꦱ ꦩꦏ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦲꦫꦸꦱ꧀ꦭꦃ ꦢꦶ ꦠꦼꦧꦁ/ꦧꦧꦢ꧀꧉


(Sudah selayaknya hutan jika mau di buat menjadi PEDUKUHAN/DESA maka hutan tersebut haruslah di tebang/babad.)


ꦱꦼꦩꦼꦤ꧀ꦠꦫ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦪꦁ ꦭꦻꦤ꧀ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦧꦢ꧀ ꦲꦸꦠꦤ꧀ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦪꦁ ꦄꦏꦤ꧀ ꦢꦶ ꦠꦼꦩ꧀ꦥꦠꦶꦚ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦧꦼꦂꦧꦒꦻ ꦩꦕꦩ꧀ ꦕꦫ꧉


(Sementara murid-murid Kanjeng sunan yang lain membabad hutan-hutan yang akan di tempatinya dengan berbagai macam cara.)


ꦄꦢ ꦪꦁ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦩꦼꦤ꧀ꦕꦧꦸꦠꦶ ꦥꦺꦴꦲꦺꦴꦤ꧀ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦏꦼꦱꦏ꧀ꦠꦶꦪꦤ꧀ꦚ꧈ ꦄꦢ ꦪꦁ ꦩꦼꦤꦼꦧꦁ ꦥꦺꦴꦲꦺꦴꦤ꧀ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦥꦸꦱꦏꦚ ꦱꦼꦩꦼꦤ꧀ꦠꦫ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦩꦼꦁꦒꦸꦤꦏꦤ꧀ ꦏꦼꦕꦼꦂꦢꦶꦏꦤ꧀ꦚ ꦄꦒꦂ ꦮꦶꦭꦪꦃꦚ ꦭꦸꦮꦱ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦕꦼꦥꦠ꧀ ꦥꦿꦺꦴꦱꦺꦱ꧀ ꦥꦼꦤꦼꦧꦔꦤ꧀ ꦥꦺꦴꦲꦺꦴꦤ꧀ꦚ ꦩꦏ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦏꦂ ꦫꦤ꧀ꦠꦶꦁꦫꦤ꧀ꦠꦶꦁ ꦏꦼꦫꦶꦁ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦥꦢ ꦄꦏꦶꦂꦚ ꦄꦥꦶ ꦩꦼꦚꦭ ꦢꦪꦠ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦏꦂ ꦱꦼꦧꦒꦶꦪꦤ꧀ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦱꦼꦧꦸꦠ꧉


(Ada yang dengan mencabuti pohon dengan kesaktianya, ada yang menebang pohon dengan pusakanya sementara NYI ENDANG KASIH menggunakan kecerdikanya agar wilayahya luas dan cepat proses penebangan pohonya maka beliau membakar ranting-ranting kering sampai pada akhirnya api menyala dayat dan membakar sebagian hutan tersebut.)


ꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ ꦩꦼꦤꦤ꧀ꦢꦻ ꦧꦠꦱ꧀ ꦮꦶꦭꦪꦃ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ ꦩꦼꦔꦶꦏꦸꦠꦶ ꦧꦫꦃ ꦄꦥꦶ ꦪꦁ ꦠꦼꦂꦧꦮ ꦄꦔꦶꦤ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦥꦢ ꦠꦶꦠꦶꦏ꧀ ꦧꦫ ꦄꦥꦶ ꦆꦠꦸ ꦗꦠꦸꦃ ꦠꦼꦥꦠ꧀ ꦢꦶ ꦢꦲꦺꦫꦃ ꦭꦫꦔꦤ꧀ ꦗꦩ꧀ꦧꦺ ꦩꦏ ꦮꦶꦭꦪꦃ ꦪꦁ ꦱꦼꦭꦤ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦚ ꦄꦏꦤ꧀ ꦢꦶ ꦤꦩꦻ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦭꦸꦮꦱ꧀ ꦮꦶꦭꦪꦃꦚ ꦢꦫꦶ ꦥꦼꦂꦧꦠꦱꦤ꧀ ꦕꦶꦫꦼꦧꦺꦴꦤ꧀ ꦆꦤ꧀ꦢꦿꦩꦪꦸ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦭꦫꦔꦤ꧀ ꦗꦩ꧀ꦧꦺ꧉


(Untuk menandai batas wilayah NYI GENDAR MALAYA mengikuti barah api yang terbawa angina sampai pada titik bara api itu jatuh tepat di daerah LARANGAN JAMBE maka wilayah yang selanjutnya akan di namai KRANGKENG luas wilayahnya dari perbatasan Cirebon Indramayu sampai LARANGAN JAMBE.)


ꦏꦠ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦱꦼꦤ꧀ꦢꦶꦫꦶ ꦢꦶ ꦄꦩ꧀ꦧꦶꦭ꧀ ꦧꦸꦏꦤ꧀ ꦠꦤ꧀ꦥ ꦱꦼꦧꦧ꧀ ꦤꦩꦸꦤ꧀ ꦏꦠ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦱꦼꦤ꧀ꦢꦶꦫꦶ ꦧꦼꦂꦩꦏ꧀ꦤ ꦥꦼꦤ꧀ꦗꦫ꧉


(Kata krangkeng sendiri di ambil bukan tanpa sebab namun kata krangkeng sendiri bermakna PENJARA.)


ꦱꦸꦢꦃ ꦱꦪ ꦱꦩ꧀ꦥꦻꦏꦤ꧀ ꦧꦲ꧀ꦮ ꦱꦼꦠꦼꦭꦃ ꦏꦼꦏꦭꦲꦤ꧀ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦢꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦥꦺꦴꦗꦺꦴꦏ꧀ ꦥꦢ ꦥꦼꦱꦶꦱꦶꦂ ꦄꦤ꧀ꦢꦒ ꦱꦫꦶ ꦢꦶ ꦭꦤ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦏꦤ꧀ ꦥꦼꦩ꧀ꦧꦏꦫꦤ꧀ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦩꦏ ꦧꦭ ꦠꦼꦤ꧀ꦠꦫ ꦢꦤ꧀ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦱꦼꦤ꧀ꦢꦶꦫꦶ ꦠꦼꦂꦏꦸꦫꦸꦁ (ꦠꦼꦂꦥꦼꦤ꧀ꦗꦫ) ꦥꦢ ꦄꦥꦶ ꦪꦁ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦏꦂ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦄꦤ꧀ꦢꦒꦱꦫꦶ꧉


(Sudah saya sampaikan bahwa setelah kekalahan NYI LODAYA dan terpojok pada pesisir andaga sari di lanjutkan PEMBAKARAN HUTAN maka bala tentara dan NYI LODAYA sendiri terkurung (terpenjara) pada api yang membakar Hutan ANDAGASARI.)


ꦩꦼꦫꦺꦏ ꦭꦫꦶ ꦏꦼꦱꦤ ꦏꦼꦩꦫꦶ ꦩꦼꦤ꧀ꦕꦫꦶ ꦢꦠꦫꦤ꧀ ꦪꦁ ꦭꦼꦧꦶꦃ ꦠꦶꦁꦒꦶ ꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ ꦧꦼꦂꦭꦶꦤ꧀ꦢꦸꦁ ꦢꦫꦶ ꦄꦥꦶ ꦢꦤ꧀ ꦩꦼꦭꦶꦤ꧀ꦠꦱꦶ ꦢꦲꦺꦫꦃ ꦪꦁ ꦱꦼꦏꦫꦁ ꦢꦶꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦠꦤ꧀ꦗꦏꦤ꧀꧉


(mereka lari kesana kemari mencari dataran yang lebih tinggi untuk berlindung dari api dan melintasi daerah yang sekarang disebut TANJAKAN.)


ꦱꦼꦠꦼꦭꦃ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ/ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦧꦼꦂꦲꦱꦶꦭ꧀ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦸꦏ ꦥꦼꦢꦸꦏꦸꦲꦤ꧀ ꦪꦁ ꦢꦶꦧꦼꦫꦶ ꦤꦩ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦩꦏ ꦢꦠꦁꦭꦃ ꦧꦚꦏ꧀ ꦥꦼꦔꦼꦩ꧀ꦧꦫ ꦢꦶꦪꦤ꧀ꦠꦫꦚ꧈ ꦏꦶ ꦢꦤꦸ ꦮꦂꦢꦪ (ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦥꦸꦠꦿ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦢꦼꦩꦏ꧀) ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦄꦢꦭꦃ ꦏꦏꦏ꧀ ꦢꦫꦶ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦥꦲꦶꦠ꧀ ꦭꦶꦢꦃ꧈ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦢꦤꦸ ꦮꦂꦢꦪ ꦱꦼꦤ꧀ꦢꦶꦫꦶ ꦢꦫꦶ ꦢꦼꦩꦏ꧀ ꦏꦼ ꦠꦤꦃ ꦗꦮ ꦱꦼꦭꦤ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦚ ꦱꦶꦁꦒꦃ ꦢꦶ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦕꦫ ꦈꦤꦶꦏ꧀ ꦪꦻꦠꦸ ꦧꦼꦫꦼꦤꦁ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦱꦼꦏꦸꦗꦸꦂ ꦠꦸꦧꦸꦃꦚ ꦢꦶ ꦥꦼꦤꦸꦲꦶ ꦭꦸꦩꦸꦠ꧀ ꦩꦏ ꦢꦫꦶ ꦆꦠꦸ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦗꦸꦒ ꦢꦶ ꦗꦸꦭꦸꦏꦶ ꦏꦶ ꦧꦠ ꦭꦸꦩꦸꦠ꧀꧈ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦗꦸꦒꦭꦃ ꦪꦁ ꦏꦼꦭꦏ꧀ ꦄꦏꦤ꧀ ꦩꦼꦩ꧀ꦥꦼꦂꦱꦸꦤ꧀ꦠꦶꦁ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦄꦢ ꦗꦸꦒ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦱꦸꦂꦪ ꦫꦱ ꦢꦤ꧀ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦱꦸꦂꦪ ꦗꦠꦶ ꦏꦼꦢꦸꦮ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦆꦤꦶ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꧒ ꦏꦼꦱꦠꦿꦶꦪ ꦪꦁ ꦱꦼꦭꦭꦸ ꦧꦼꦂꦱꦩ ꦢꦭꦩ꧀ ꦥꦼꦔꦼꦩ꧀ꦧꦫꦄꦤ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦱꦼꦭꦤ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦚ ꦢꦶ ꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦱꦼꦫꦏꦶꦠ꧀ (ꦱꦠꦸ ꦥꦱꦁ) ꦄꦢ ꦥꦸꦭꦃ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦗꦪ ꦥꦠꦶꦃ꧉ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦠꦤ꧀ꦗꦸꦁ꧈ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦗꦁꦏꦸꦁ꧈ ꦏꦶ ꦧꦺꦴꦢꦒ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦩꦱꦶꦃ ꦧꦚꦏ꧀ ꦭꦒꦶ ꦪꦁ ꦭꦻꦤ꧀ꦚ꧉


(Setelah NYI GENDAR MALAYA/ NYI ENDANG KASIH berhasil membuka PEDUKUHAN yang diberi nama KRANGKENG maka datanglah banyak pengembara diantaranya, KY.DANU WARDAYA (Seorang Putra Pangeran Demak) beliau adalah kakak dari PANGERAN PAHIT LIDAH, Pangeran DANU WARDAYA sendiri dari demak ke tana jawa selanjutnya singgah di KRANGKENG dengan cara unik yaitu berenang sampai skujur tubuhnya di penuhi lumut maka dari itu beliau juga di juluki KY BATA LUMUT, beliau jugalah yang kelak akan mempersunting NYI ENDANG KASIH ada juga PANGERAN SURYA RASA DAN PANGERAN SURYA JATI kedua pangeran ini merupakan 2 Kesatria yang selalu bersama dalam pengembaraan dan selanjutnya di sebut PANGERAN SERAKIT (Satu Pasang) ada pulah PANGERAN JAYA PATIH. PANGERAN TANJUNG, PANGERAN JANGKUNG, KY BODAG dan mash banyak lagi yang lainya.)


ꦢꦫꦶ ꦥꦼꦂꦏꦮꦶꦤꦤ꧀ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ/ ꦚꦶ ꦩꦱ꧀ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦼꦏꦱꦶꦃ/ꦚꦶ ꦒꦼꦢꦺ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ/ꦚꦶ ꦲꦗ꧀ꦗꦃ ꦈꦩꦶ ꦲꦧꦶꦧꦃ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦏꦶ ꦢꦤꦸ ꦮꦂꦢꦪ/ꦏꦶ ꦧꦠ ꦭꦸꦩꦸꦠ꧀ ꦭꦲꦶꦂꦭꦃ ꦧꦸꦮꦃ ꦲꦠꦶ ꦪꦻꦠꦸ ꦄꦤ꧀ꦗꦱ꧀ꦩꦺꦴꦫꦺꦴ ꦪꦁ ꦢꦶꦥꦼꦂꦱꦸꦤ꧀ꦠꦶꦁ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦠꦤ꧀ꦗꦸꦁ ꦢꦤ꧀ ꦢꦫꦶ ꦥꦼꦂꦤꦶꦏꦲꦤ꧀ꦚ ꦩꦼꦭꦲꦶꦂꦏꦤ꧀ ꦚꦶꦩꦱ꧀ ꦄꦤ꧀ꦗꦱ꧀ꦩꦤꦶ꧉


(Dari perkawinan NYI GENDAR MALAYA/ NYI MAS ENDANG KEKASIH/NYI GEDE KRANGKENG/NYI HJ.UMI HABIBAH dengan KY DANU WARDAYA/KY BATA LUMUT lahirlah buah hati yaitu ANJASMORO yang dipersunting pangeran Tanjung dan dari pernihannya melahirkan NYIMAS ANJASMANI.)


ꦆꦠꦸꦭꦃ ꦱꦼꦥꦼꦁꦒꦭ꧀ ꦱꦼꦗꦫꦃ ꦢꦺꦱ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ꧉


(Itulah sepenggal sejarah Desa Krangkeng)

 


SUSUNAN KEPEMIMPINAN /KUWU-KUWUDESA KRANGKENG

01. NYI ENDANG KEKASIH         
       1534-1591
02. PANGERAN JAYA PATI
       1591-1608
03. PANGERAFN SURYA RASA
       1608-1651
04. NYI MAS AYU ANJASMARA
       1615-1630
05. PANGERAN TANJUNG
       1630-1649
06. NYIMAS AYU ANJASMANI
       1649-1666
07. PANGERAN SURAMADI
       1666-1687
08. PANGERAN GEBANG
       1687-1700
09.  PANGERAN BAUDAG
       1700-1732
10. EMBAH SYARKOWI
       1732-1770
11. KY RESITEM
       1770-1796
12. KY.JAKA
       1796-1829
13. KY.NGABEI LISAN PURO (GELAR KUWU PERTAMA)
       1829-1871
14. KUWU HAJI MURTADO
       1871-1885
15. KUWU SATI
       1885-1900
16. KUWU HAJI ANTARI
       1900-1916
17. KUWU RABINGO
       1916-1926
18. KUWU SALAB
       1926-1928
19. KUWU RADEYA
       1928-1953
20. KUWU DARSINI
       1953-1960
21. KUWU MASRIYAH
       1960-1967
22. KUWU SYAFEI
       1967-1968
23. KUWU MARSO
       1968-1974
24. KUWU KASNO
       1974-1984
25. KUWU TARMUKI
       1984-1990
26. KUWU HAJI BADRUDIN   
       1990-1998
27. KUWU JUBAEDI 2008-2013
28. KUWU MADERI
        2013 -2018 

29.MOH.MANSUR  2018-2030

 

Penulis : Mufti Ali Adzakir Krangkeng (23-07-2016 Tersusun dan dipublikasikan)

089509013330-083827996777 

 


PEDATI KUNO

Kamis, 28 Januari 2016

Pedati atau gerobak yang di tarik hewan semacam kuda, lembu, atau kerbau.
Dalam posting kali ini saya akan menceritakan salah satu pedati yang merupakan bagian dari Sejarah Desa Junti, Desa Dadap dan Desa Sendang yang berada di Kec. Karangampel Kab. Indramayu. Oke saya ceritakan sedikit.

Di Desa  Krangkeng, Kecamatan Krangkeng, Indramayu terdapat bagian-bagian pedati kuno. Tersimpan pada suatu bangunan di belakang kantor desa. Berdasarkan legenda yanghidup di masyarakat, Pedati Kuno itu berkaitan dengan Dampu Awang. Singkat cerita seorang Raja Tiongkok bernama Titongki kehiangan Putrinya yang mengejar seorang pemuda yang dicintainya bernama Syarif Hidayat ke Cirebon. Raja Titongki lalu mengutus beberapa punggawa di bawah pimpinanDampu Awang membawa 2 gerobak perhiasan emas permata untuk bekal hidup sang putri ke Cirebon. Putri Raja Titongki sampai di jawa di pesisir Junti (daerah Junti Kab. Indramayu) dengan di tolong oleh Ki Ageng Junti Putri Raja Titongki pergi menemui Syarif Hidayat yang berada di Pakungwati (sala satu daerah di Cirebon). Dampu Awang sampai di pesisir yang sama dengan Putri Raja Titongki yaitu pesisir Junti,Dampu Awang bertanya kepada Ki Ageng Junti kemana arah menuju Cirebon, saat bertanya Dampu Awang melihat Putri Ki Ageng Junti dan menyukainya. Dampu Awang mencoba melamar Putri Ki Ageng Junti, tidak menyukai Dampu Awang yang gemuk dan tidak beragama Islam  Ki Ageng Junti membuat rencana penolakan halus dengan memberi syarat Dampu Awang harus bisa menembus pagar pekarangan rumah Ki Ageng Junti yang tersusun dari pohon bambu Ori selebar 1,5 m dalam waktu semalam. Begitu malam tiba, Dampu Awang mulai menabur recehan emas pada rumpun bambu yang memagari pekarangan Ki Ageng Junti itu. Penduduk berebut mendapatkan emas dengan cara menebas bambu ori tanpa tahu kenapa Dampu Awang berbuat seperti itu. Satu demi satu rumpun bambu itu jebol. Usaha Dampu Awang berhasil, akhirnyabenteng pekarangan Ki Gedeng Junti bisa ditembus. Di mata Ki Ageng Junti, perlakuan Dampu Awang tersebut curang, mereka kabur dari Dampu Awang ke Gunung Sembung. Sesampainya di gunung Sembung mereka menemui Syeh Bentong untuk mohon perlindungan dari kecurangan Dampu Awang. Ki Ageng Junti berjanji akan menyerahkan puterinya agar diperisteri Syeh Bentong dan Syeh Bentong menyembunyikan Nyi Ageng Junti dipucuk pohon Gebang (ujunggebang). Pengejaran Dampu Awang sampai di Gunung Sembung dan bertemu Syeh Bentong yang kemudian terjadi perang mulut hingga perang fisik yang akhirnya dimenangkan Syeh Bentong. Akhirnya Syeh Bentong memperisteri puteri Ki Ageng Junti dan menetap di desa Ujunggebang.Dampu Awang gagal mendapatkan Nyi Ageng Junti ia kembali ke pesisir Junti dan akan kembali ke Cirebon dengan membawa sisa emas permata yang tinggal 1,5 gerobak untuk diserahkan keputri Titongki di Cirebon namun diperjalanan Dampu Awang melihat wanita cantik rupawan yang bernama Nyi Ageng Benda.Dampu Awang meminta Nyi Ageng Benda menjadi isterinya tapi NyiAgeng Benda karena memiliki suami yang sedang melaut Nyi Ageng Benda mencoba menolaknyadengan halus, dengan memberi syarat minta dibuatkan keraton dalam waktu semalam. Dampu Awang menyanggupi membuat keraton tersebut. Ketika pembuatan keraton baru selesai bagian pintu gerbang, malam sudah berakhir. Dampu Awang kecewa dan memaksa Nyi Ageng Benda menerima lamarannya tetapi Nyi Ageng Benda tetap menolak dan lari ke utara bersembunyi dan mengharap semoga sang suami cepat kembali dan melindunginya. Dampu awang marah dan berusaha menemukan persembunyian Nyi Ageng Benda dengan menaburkan emas di sepanjang jalur pelarian Nyi Ageng Benda sampai ke pesisir laut yang penuh pohon Dadap namun Nyi Ageng Benda tidak ditemukan oleh siapapun Nyi Ageng Benda tetap dipersembunyiannya diantara pohon Dadap dengan setia menunggu suaminya pulang. Alam menghargai kesetiaan Nyi Ageng Benda dengan memperlebar pantai Dadap agar Nyi Ageng Benda bisa melihat kedatangan suaminya dari laut. Dampu Awang menyerah akhirnya kembali dan melanjutkan perjalanannya ke Cirebon.Pedati yang sudah kosong di tinggalkan di di desa Krangkeng dan sampai sekarang disimpan di kantor desanya begitu juga di blok Benda l desa Sendang, sebelah utara lapangan bola, masih ada bangunan pintu gerbang yang belum selesai dibangun Dampu Awang itu dan masih bisa dilihat sampai sekarang.Dari cerita tadi apabila kawan-kawan penasaran bisa datang ke Indramayu kedaerah Krangkeng, Karangampel, Junti. Terima kasih sudah berkunjung, apabilaingin tahu lebih panjang cerita lengkapnya atau versi lain kawan-kawanbisa melihat di Link sumber yang biasa saya sertakan dalam setiap postingan saya.
28/01/2016 Elang Tankzy

Susunan Pemimpin dan Barang Peninggalan Desa Krangkeng

Rabu, 27 Januari 2016

SUSUNAN KEPEMIMPINAN /KUWU-KUWUDESA KRANGKENG

01.NYI ENDANG KEKASIH         
       1580-1591
02.PANGERAN JAYA PATI
       1591-1608
03.PANGERAFN SURYA RASA
       1608-1651
04.NYI MAS AYU ANJASMARA
       1615-1630
05.PANGERAN TANJUNG
       1630-1649
06.NYIMAS AYU ANJASMANI
       1649-1666
07.PANGERAN SURAMADI
       1666-1687
08.PANGERAN GEBANG
       1687-1700
09.PANGERAN BAUDAG
       1700-1732
10.EMBAH SYARKOWI
       1732-1770
11.KY.RESITEM
       1770-1796
12.KY.JAKA
       1796-1829
13. KY.KUWU NGABEI LISAN PURO
       1829-1871
14.KUWU HAJI MURTADO
       1871-1885
15.KUWU SATI
       1885-1900
16.KUWU HAJI ANTARI
       1900-1916
17.KUWU RABINGO
       1916-1926
18.KUWU SALAB
       1926-1928
19.KUWU RADEYA
       1928-1953
20.KUWU DARSINI
       1953-1960
21.KUWU MASRIYAH
       1960-1967
22.KUWU SYAFEI
       1967-1968
23.KUWU MARSO
       1968-1974
24.KUWU KASNO
       1974-1984
25.KUWU TARMUKI
       1984-1990
26.KUWU HAJI BADRUDIN   
       1990-1998
27.KUWU JUBAEDI
28.KUWU MADERI
        2013 -2018 

29.MOH.MANSUR  2018-2023

CATATAN KUWU PEMEKARAN (KALI ANYAR)

01.KUWU BURHANUDIN
02.KUWU RANADI HS
03.KUWU SYAHRONI AGUS 2016-2026


PEMBANGUNAN DAN PEMERINTAHAN.
Setelah melaporkan proses pembukaan hutan pesisir Ujung Tua dan keadaannya, Nyi Gender Malaya pulang ke daerah Krangkeng bersama kedua pengasuhnya dengan menyandang gelar Nyi Gede Krangkeng, sebuah gelar pemerintahan yang terhormat.Setelah menerima tugas dan amanat dari kesultanan Cirebon, Nyi Gede Krangkeng mulali menyusun strategi dan program-program pembanguan. Karena Nyi Gede Krangkeng masih lajang, maka Nyi Gede Krangkeng musyawaraah dengan kedua pengasuhnya. Musyawarah itu menghasilkan keputusan yang stategis dan monumental, yaitu menentukan pusat pemerintahan dan pembangunan pada kebijakan yang pertama tentang penentuan pusat pemerintahan yang startegis, Nyi Gede Krangkeng mempertimbangkan beberapa aspek suatu tempatpemerintahan yang baik, yang berada di pusat pemukiman. Hal ini dapat kita buktikan dengan diyakininnya kantor kuwu sebagai rumah sebagai kediaman dan pusat pemerintahan. Di tengah-tengah desa Krangkeng terdapat pohon asam yang garis tengahnya kira-kira 10 M dibawah pohon itulah Nyi Gede Krangkeng membuat gubug gatap yang terdiri dari daun-daunan dan rumput alang-alang (yang sekarang memjadi kantor balai desa Krangkeng).

Pusaka

1.hiayasan dinding berupa ukiran dari kulit sebanyak 9 buah
2.Kempluk tempat nener sebanyak 4 buah berbagai ukiran.
3.Cotom bambu 3 buah
4.Eter tempurung 4 buah
5.Kati 5 buah
6.Bangerang 4 buahg.
7.Tambang lulub pohon waru 5,5 cm untuk narik jukung 1 buahh.
8. Alat-alat dapur terdiri dari:
    Kodek liwet kulit dari kayu jati 1 buah,Centong 1 buah,Gagang gobag 1 buah/tangka,Penabuh bende 1 buah/penabuh kayu yang dikepalannya diberi lapisan karet,Gagang hujungan panjalin 1 buah,Kekab kecil 1 buah,Irus 1 buah

9. Senjata terdiri dari:
Gagang keris 2 buah, Panah dari besi 2 buah, Klenengan pedati 2 buah, Tumbak kayu 3 buah/tunggak kayu, Panah kayu 1 buah
10. Alat-alat kelengkapan rumah
Hiasan tunas kelapa, Kelambu dan spray, Iket kepala, Kain tapih, Kandek kecil 3 buah, Mukena, Gagang pisau, Gledeg jati ukuran 3X2 m/ tempat padi

25/01/2016 Elang Tankzy

Telaga Krangkeng (Telaga Sari)

Telaga Krangkeng (telaga sari)

Telaga ini berada di desa Kalianyar mengenai sejarah dan asal usul telaga ini baru didapatkan data akurat. Namun ada kisah tentang telaga ini yang dikisahkan oleh seorang tokoh masyarakat Kalianyar beliau menuturkan kisah perang jaya sena dengan arimba karena kesakitannya perang ini meninggalkan bekas yaitu telaga Sari di Krangkeng dan telaga Remis di kaki gunung Ciremai.(Kisah lain menurut Pak Suta) adalah telaga ini tempat disayembara menyelam antara Nyi Gede Krangkengdan Ki Gede Gungko yang terkenal itu. Lalu katanya telaga ini airnya pernah diambil oleh Ki Luber untuk keperluan hajatan orang Cirebon kisah ini. Selanjutnya mengisahkan Ki Sura Madi diberi Ki Luber.(Masih kata bapak Sura) Telaga ini pernah diambil ikannya untuk keperluan Cirebon. Namun di tengah perjalanan rombongan yang mau ngambil ikan ditelaga sari ini di hadang oleh seekor deleg. Seranggi yang menjelma jadi satria bernama Raden Malanggana dan terjadi pertempuran, pada pertempuran ini Raden Malanggana dapat mengalahkan rombongan dari Cirebonkemudian setelah rombongan Cirebon tidak berhasil maka diperintahnya orang Krangkeng bernama Ki Lokawi untuk mengambil ikan telaga ini dikeringan airnya namun sebelum selesai waktu sudah menjelang magrib maka pekerjaandihentikan di tengah malam istri deleg Serenggi menangis menumpakan keprihatinan kepada suaminya, selanjutnya suaminya memanjatkan do’a meminta hujan dan terjadinya hujan lebat sehingga telaga kembali berair. Namun, ki Lokawi berhasil menyimak do’a yang disampaikan dedeg Seranggi kemudian disampaikan ke Cirebon sampai sekarang jika terjadi kemarau panjang masyarakat kerangkeng memanjatkan do’a minta hujan di makam Ki Lokawi.

25/01/2016 Elang Tankzy

Singgahnya Tokoh-tokoh Sakti dan Pasukan Dari China di Krangkeng

Masyarakat desa Kerangkeng yang sejak berdirinya dipimpin oleh seorang penganut agama islam yang saat dihuni oleh beberapa tokoh islam kharismatik maka kehidupan dan sistim kemasyarakatan mengalami pergeseran-pergeseran itu sesuai dengan perkembangan kemajuan islam pergeseran itu ke arah yang sesuai dengan keyakinan masyarakat yang ada.Serah terima putri OontienSeusai melaksanakan serah terima putri oontien kepada kesultanan cirebon, lalu ke tiga panglima dari Mongoliaitu masing-masing ingin melampiaskan perjalanannya. Panglima Guancang memutuskan untuk tidak pulang kenegarannya dan menetap berdomisili di Cirebon beserta anak buahnya untuk memeluk agama islam.Panglima Lieguanhin beserta pasukannya ingin kembali ke Mongolia, namun tiba-tiba diperintahkan untuk mendarat dipesisir muara (celancang) yang kelak dapat mewujudkan desa Kerangkeng.Panglima Tiampokwang adalah seorang panglima yang terbilang luar biasa kemampuannya di bidang I Politik, ekonomi, sosial, budaya, Ham, Kam, dan ilmu kekebalan telah dimilikinya dengan sempurna. Kesehariannya banyak sekali kegiatan-kegiatan yang dikerjakannya seperti berlatih ilmu kanurafgan, ilmu beladiri, ilmu kekebalan, dan lain-lain namun yang paling mencengangkan dia membuat kereta kayu tanpa paku. Lama-lama daerah Roban 1 telah tersohor sebagai pembuat kereta kayu.Banyak sekali ragam kereta yang dibuat dari oleh panglima Tiampokwang ada yang roda empat, dua dan ditarik oleh dengan dua ekor kerbau, ada yang berukir ada pula tanpa ukiran. Pada hari minggu 1486 m Ki Badur seorang murid Tiampokwang yang paling tinggi dalam perguruan Dampuawang ini, pada hari itu ki badur minta main kepada gurunya untuk meminjam kereta kayunya yang paling antik guru mengunjungi kekasihnya di desa Kapetakan yaitu Nyi Balimbing, seorang wanita yang sangatcantik banyak jejaka yang tergila-gila kepada nyi Balimbing karena kecantikannya. Setelah seizin gurunya ki Badur beerangkat dengan memakai kerbau sepasang yakni Maesa gatra dan Maesa gatri. Keberangkatan Ki badur dari sawah, rawah, telaga dan sungai tak menjadi kendala dan rintanganbagi dirinya, karena diatasnyalah kereta Ki Badur berjalan. Belum tiba di rumah kekasihnya Ki Badur melihat perahu melaju diatasnya dan Ki Badur tak berpikir panjang lebar mengutuk perahu dengan kutukan yang amat sangat, sehingga dengan ilmu hitamnya lalu perahu yang dikendarai oleh Mbah Kuwu Cirebon jatuh terjerembab diatas pertahanan desa kerangkeng.Kemudian Mbah Kuwu bertanya daclam hati, siapa gerangan yang iseng kepada diriku? semoga tuhan membalas kejahatan ini, lalu mendadak sontak sebuah kereta kayu yang se dang berjalan diatas sungai kapetakan iti, Ki badur merasa kaget dan marah dan mengandalkan ilmu pamungkasnya tetap tidak bisa mengangkat kereta itu. Sementara itu rakyat kapetakan, besar, kecil, tua, dan muda semua ngeriyung tanpa payung,berkunjung tanpa ujung, membanjiri tanpa akhiruntuk menyaksikan kejadian itu yang dianggapnya sebagaitontonan yang sangat mengasyikan.Kemudian salah satu rakyat itu ada yang mengumumkan, wahai rakyatku!! Bagaimana kalau kerbau ini kita potongrame-rame saja, mumpung pemiliknya pulang, dengan suara lantang setuju, lalu Ki Gondang Kala mendapat jawaban mendapat jawaban banyakdari suara setuju. Laludengan cepat rakyat menyerbu kearah kerbau-kerbau dan langsung memotong dengan rame-rame.Hampir seluruh rakyat kapetakan merasakan nikmatnya daging kerbau Maesa gatra dan Gatri. Ketika Ki Badurdan teman-temanya sampai kelokasi, ki Badur sangat terfkejut melihat kerbau-kerbaunya telah tiada. Lalu ki Badur dengan lantang menanyakan kepada mereka, siapa yang mengambil kerbau-kerbaunya? Dan tidak ragu lagi mereka menjawab dengan serentak ..... kami tidak tahu..dasar kerbau-kerbau yang di makan oleh rakyat Kapetakan itu Digjaya, Adigung, adiguna, maka bersamaan dengan kat-kata tidak tahu dari dalam perut mereka kerbau-kerbau itu bersuara E..E..L!! jadi kata-kata yang lengkapnya diucapkan dari mulut rakyat kapetakan itu yakni, “ tidak tahu eee (ora weru eee).Kemudian Ki bdar mendapatkan seijin gurunya mennyampaikan selembaran/ sayembara di babtang-batang yang lainya, barang siapa yang dapat mengangkat kereta antik ini, maka kereta ini akan diserahkan sebagai pemiliknya. Tidak sedikit orang yang mencoba mengangkat kereta itu namun tak seorang pun mampu mengangkat kereta antik itu.

25/01/2016 Elang Tankzy