Silsilah KY.NGABEI LORING PASAR

Jumat, 30 September 2016

Silsilah
KY.NGABEI LORING PASAR

Danang Sutawijaya (lahir: - wafat: Jenar, 1601) adalah pendiri Kesultanan Mataram yang memerintah sebagai raja pertama pada tahun 1587-1601, bergelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa Tokoh ini dianggap sebagai peletak dasar-dasar Kesultanan Mataram. Riwayat hidupnya banyak digali dari kisah-kisah tradisional, misalnya naskah-naskah babad karangan para pujangga zaman berikutnya.

Danang Sutawijaya atau Dananjaya adalah putra sulung pasangan Ky.Ageng Pamanahan dan Nyi.Sabinah .

Ky.Ageng Pamanahan sendiri  adalah keturunan Brawijaya raja terakhir Majapahit , Sedangkan Nyi.Sabinah adalah keturunan Sunan Giri anggota Walisanga. Hal ini seolah-olah menunjukkan adanya upaya para pujangga untuk mengkultuskan raja-raja Kesultanan Mataram sebagai keturunan orang-orang istimewa.

NY.Sabinah memiliki kakak laki-laki bernama Ki Juru Martani , yang kemudian diangkat sebagai patih pertama Kesultanan Mataram. Ia ikut berjasa besar dalam mengatur strategi menumpas Arya Penangsang pada tahun 1549.

Sutawijaya di ambil sebagai anak nagkat oleh Hadiwijaya bupati pajang sebagai pancingan, karena pernikahan Hadiwijaya dan istrinya sampai saat itu belum dikaruniai anak. Sutawijaya kemudian diberi tempat tinggal di sebelah utara pasar sehingga ia pun terkenal dengan sebutan Raden Ngabei Loring Pasar .

Penulis: Mufti Ali Elang Wetaning Pasar
Kalianyar-Krangkeng-Indramayu

Versi Mankunegara

Silsilah Panembahan Senopati versi Mangkunegaran
Silsilah Keturunan Lengkap :
Kanjeng Panembahan Senopati / Raden Sutawijaya (Sultan Mataram ke 1, pendiri, 1587-1601) menikah dengan 3 istri melahirkan putra-putri 14 orang :

0001. Gusti Kanjeng Ratu Pambayun / Retna Pembayun
0002. Pangeran Ronggo Samudra (Adipati Pati)
0003. Pangeran Puger / Raden Mas Kentol Kejuro (Adipati Demak)
0004. Pangeran Teposono
0005. Pangeran Purbaya / Raden Mas Damar
0006. Pangeran Rio Manggala
0007. Pangeran Adipati Jayaraga / (Raden Mas Barthotot)

0008. Panembahan Hadi Prabu Hanyokrowati/Panembahan Seda ing
            Krapyak (Sultan Mataram ke 2, 1601-1613) menikah dengan Ratu
            Tulung Ayu dan Dyah Banowati / Ratu Mas Hadi (Cicit dari Raden
            Joko Tingkir & Ratu Mas Cempaka), menurunkan putra-putri 12
            orang :

                     001.   Sultan Agung / Raden Mas Djatmika (1593-1645),
                                 Sultan
                                 Mataram ke 3 (1613-1645) menikah dengan Permaisuri
                                  ke 1 Kanjeng Ratu Kulon / Ratu Mas Tinumpak (putri
                                  Panembahan Ratu Cirebon ke 4 setelah Sunan Gunung
                                 Jati), permaisuri ke 2 Kanjeng Ratu Batang / Ratu Ayu
                                 Wetan / Kanjeng Ratu Kulon mempunyai 9 orang putra
                                  putri :
                                                01.    Raden Mas Sahwawrat / Pangeran
                                                            Temenggong Pajang
                                                02.     Raden Mas Kasim / Pangeran Demang
                                                           Tanpa Nangkil
                                                 03.    Pangeran Ronggo Kajiwan
                                                 04.    Gusti Ratu Ayu Winongan
                                                 05.    Pangeran Ngabehi Loring Pasar
                                                 06.    Pangeran Ngabehi Loring Pasar
                                                 07.     Sunan Prabu Amangkurat Agung /
                                                            Amangkurat I / Raden Mas Sayidin 
                                                            (Sultan Mataram ke 4, 1646-1677) wafat
                                                             13 Juli 1677 di Banyumas
                                                 08.    Gusti Raden Ayu Wiromantri
                                                 09.    Pangeran Danupoyo
                       002.   Pangeran Mangkubumi
                       003.   Pangeran Bumidirja
                       004.   Pangeran Arya Martapura / Raden Mas Wuryah
                                   (1605-1688)
                       005.   Ratu Mas Sekar / Ratu Pandansari
                       006.   Kanjeng Ratu Mas Sekar
                       007.   Pangeran Bhuminata
                       008.   Pangeran Notopuro
                       009.   Pangeran Pamenang
                       010.  Pangeran Sularong / Raden Mas Chakra (wafat
                                   Desember 1669)
                        011.  Gusti Ratu Wirokusumo
                        012.   Pangeran Pringoloyo
                                         

0009. Gusti Raden Ayu Demang Tanpa Nangkil
0010. Gusti Raden Ayu Wiramantri
0011. Pangeran Adipati Pringgoloyo I (Bupati Madiun, 1595-1601)
0012. Ki Ageng Panembahan Djuminah/Pangeran Djuminah/Pangeran
            Blitar I (Bupati Madiun, 1601-1613)
0013. Pangeran Adipati Martoloyo / Raden Mas Kanitren (Bupati      
            Madiun
            1613-1645)
0014. Pangeran Tanpa Nangkil


PENJELASAN
Perhatikan kode 0 (nol) Untuk kode keturunan biar tidak bingung.
Ada yang 0 nya 1,2 dan 3




SEJARAH SINGKAT DESA LUWUNGGESIK

Rabu, 14 September 2016

Sejarah Desa Luwunggesik

A. Gambaran Umum

Desa Luwunggesik merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Sebagai daerah yang terletak di kawasan pesisir utara Pulau Jawa, Desa Luwunggesik memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan proses pembukaan hutan, perkembangan permukiman, serta hubungan antarwilayah di perbatasan Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon.

Sebagaimana desa-desa tua lainnya di wilayah Pantai Utara (Pantura), asal-usul Desa Luwunggesik hingga kini masih banyak disampaikan melalui tradisi lisan yang diwariskan dari para sesepuh kepada generasi berikutnya. Meskipun belum ditemukan sumber tertulis yang menjelaskan secara pasti kapan desa ini mulai berdiri, cerita rakyat tersebut tetap menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Desa Luwunggesik.

B. Asal-Usul Nama Luwunggesik

Menurut penuturan para sesepuh desa, nama Luwunggesik berasal dari dua kata, yaitu luwung dan gesik.

Kata luwung dipercaya berasal dari kata suwung, yang dalam pengertian masyarakat setempat bermakna kawasan yang masih kosong, sunyi, atau berupa hutan belantara yang belum dihuni manusia. Sementara itu, kata gesik berasal dari kata gisik atau kisik, yaitu daratan berpasir yang berada di tepi laut atau kawasan pesisir.

Dari kedua kata tersebut, masyarakat kemudian memaknai Luwunggesik sebagai sebuah kawasan hutan yang berada di tepi laut, atau sebuah wilayah yang pada masa lampau masih berupa hutan belantara di kawasan pesisir utara Jawa.

Sebagian tokoh masyarakat juga memiliki penafsiran lain. Mereka berpendapat bahwa nama Luwunggesik tidak hanya menggambarkan kondisi geografis wilayahnya, tetapi juga mengandung makna sebagai sebuah kawasan hutan di tepi laut yang pernah ditinggalkan oleh penemu pertamanya sebelum akhirnya dihuni kembali. Kedua penafsiran tersebut hingga kini masih hidup dan diterima sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan masyarakat.

C. Legenda Awal Pembukaan Wilayah

Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, wilayah yang kini menjadi Desa Luwunggesik pertama kali ditemukan oleh seorang tokoh yang dikenal dengan sebutan Ki Gede. Sebagaimana para pembuka wilayah pada masa lampau, Ki Gede melakukan babad alas, yaitu membuka kawasan hutan untuk dijadikan permukiman baru.

Pada saat pertama kali tiba, kawasan tersebut masih berupa hutan lebat yang berbatasan langsung dengan laut di sebelah timur. Pepohonan tumbuh rapat, sementara sebagian wilayahnya berupa rawa dan semak belukar. Dengan penuh semangat, Ki Gede mulai membuka sebagian hutan untuk dijadikan tempat tinggal.

Namun setelah pekerjaan membuka hutan selesai dilakukan, Ki Gede menyadari bahwa wilayah tersebut tidak terlalu luas untuk dikembangkan menjadi sebuah permukiman besar. Di sekelilingnya telah terdapat wilayah-wilayah lain yang lebih dahulu dihuni masyarakat.

Di sebelah selatan telah berdiri wilayah Bungko, sedangkan di sebelah utara terdapat wilayah Krangkeng atau yang pada masa itu dikenal sebagai Kali Anyar. Di sebelah barat telah berkembang kawasan Srengseng, sementara di sebelah timur terbentang Laut Jawa. Kondisi tersebut membuat ruang untuk memperluas permukiman menjadi sangat terbatas.

Setelah mempertimbangkan berbagai keadaan, Ki Gede akhirnya memutuskan meninggalkan kawasan tersebut. Beliau berharap dapat menemukan daerah lain yang lebih luas dan lebih memungkinkan untuk dikembangkan menjadi sebuah permukiman yang besar.

Perjalanan itu membawanya ke wilayah yang kini dikenal sebagai Gegesik, yang saat ini berada di Kabupaten Cirebon. Di tempat itulah Ki Gede kemudian menetap, membangun keluarga, dan mengembangkan kehidupan bersama masyarakat setempat.

D. Kembalinya Putri Ki Gede ke Luwunggesik

Bertahun-tahun kemudian, setelah kehidupannya di Gegesik berkembang dengan baik, Ki Gede kembali teringat pada kawasan hutan di tepi laut yang pernah dibukanya pada masa muda. Beliau merasa bahwa wilayah tersebut masih memiliki nilai penting karena merupakan tempat pertama yang pernah dirintisnya.

Karena usia yang semakin lanjut, Ki Gede tidak lagi memungkinkan melakukan perjalanan jauh. Oleh sebab itu, beliau mengutus putri tercintanya untuk kembali mencari daerah tersebut dan melanjutkan hak kepemilikan atas wilayah yang pernah dibukanya.

Dengan membawa amanah ayahnya, sang putri melakukan perjalanan menuju kawasan pesisir utara hingga akhirnya menemukan wilayah yang dimaksud. Namun sesampainya di sana, ia mendapati bahwa kawasan tersebut telah dihuni oleh masyarakat yang dipimpin oleh Ki Gede Bungko.

Pertemuan itu kemudian memunculkan perbedaan pendapat mengenai siapa yang sebenarnya memiliki hak atas wilayah tersebut. Sang putri menjelaskan bahwa daerah itu merupakan hasil babad alas yang pernah dilakukan oleh ayahnya bertahun-tahun sebelumnya. Di sisi lain, Ki Gede Bungko merasa bahwa wilayah tersebut telah lama dihuni dan dikelola oleh masyarakatnya.

E. Penyelesaian Sengketa Wilayah

Perselisihan tersebut akhirnya sampai kepada Nyi Mas Krangkeng, yang dalam beberapa cerita juga dikenal sebagai Ki Gede Krangkeng, tokoh yang dihormati oleh masyarakat di kawasan tersebut.

Sebagai seorang pemimpin yang bijaksana, Nyi Mas Krangkeng mendengarkan penjelasan dari kedua belah pihak. Berdasarkan pengetahuannya mengenai sejarah pembukaan wilayah di sekitar Krangkeng, beliau mengetahui bahwa memang pernah ada seseorang yang lebih dahulu membuka kawasan di antara Bungko dan Krangkeng, kemudian meninggalkannya sebelum berkembang menjadi permukiman.

Setelah dilakukan musyawarah, Ki Gede Bungko akhirnya mengakui bahwa wilayah tersebut memang pernah dirintis oleh ayah dari putri tersebut. Dengan semangat persaudaraan dan mengutamakan perdamaian, kedua belah pihak sepakat menyelesaikan persoalan tanpa pertumpahan darah.

Selanjutnya dilakukan penetapan batas-batas wilayah agar tidak terjadi perselisihan di kemudian hari.

Menurut tradisi masyarakat, batas wilayah yang disepakati adalah sebagai berikut:

  • Sebelah selatan berbatasan dengan wilayah Bungko yang ditandai oleh Kali Pamengkang dan Kedokan Beta.
  • Sebelah utara berbatasan dengan wilayah Krangkeng atau Kali Anyar.
  • Sebelah barat berbatasan dengan wilayah Srengseng.
  • Sebelah timur berbatasan langsung dengan Laut Jawa.

Batas-batas tersebut kemudian menjadi dasar pembentukan wilayah yang dikenal hingga sekarang.

F. Penamaan Desa Luwunggesik

Setelah penyelesaian batas wilayah selesai dilakukan, kawasan tersebut resmi dikenal dengan nama Luwunggesik.

Menurut penafsiran pertama, nama tersebut menggambarkan kondisi geografis wilayahnya, yaitu sebuah kawasan hutan yang berada di tepi laut.

Sementara menurut penafsiran lain, nama Luwunggesik mengandung makna simbolis sebagai hutan di kawasan pesisir yang pernah ditinggalkan oleh penemu pertamanya sebelum akhirnya dihuni kembali dan berkembang menjadi sebuah desa. Kisah perpindahan Ki Gede ke Gegesik inilah yang diyakini menjadi latar munculnya penafsiran tersebut.

Walaupun memiliki beberapa versi, seluruh masyarakat sepakat bahwa nama Luwunggesik merupakan warisan sejarah yang tidak terpisahkan dari perjalanan berdirinya desa.

G. Perkembangan Desa

Seiring berjalannya waktu, kawasan yang semula berupa hutan belantara mulai berkembang menjadi sebuah permukiman. Masyarakat membuka lahan pertanian, membangun rumah-rumah sederhana, serta memanfaatkan hasil laut sebagai sumber penghidupan.

Letaknya yang berada di kawasan pesisir menjadikan Desa Luwunggesik berkembang sebagai daerah yang memiliki hubungan erat dengan aktivitas pertanian maupun perikanan. Nilai-nilai gotong royong, musyawarah, serta kehidupan yang rukun menjadi landasan utama masyarakat dalam membangun desa dari generasi ke generasi.

H. Catatan Historis

Hingga saat ini belum ditemukan sumber sejarah tertulis yang dapat menjelaskan secara pasti siapa tokoh pertama yang membuka wilayah Desa Luwunggesik maupun kapan tepatnya desa ini mulai terbentuk. Oleh karena itu, kisah mengenai Ki Gede, putrinya, serta proses penetapan wilayah lebih tepat dipahami sebagai tradisi lisan atau legenda masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.

Meskipun demikian, legenda tersebut memiliki nilai sejarah budaya yang sangat penting karena menggambarkan cara pandang masyarakat terhadap asal-usul desanya. Cerita tersebut juga mengandung nilai-nilai luhur berupa keberanian membuka wilayah baru, penghormatan terhadap hak orang lain, penyelesaian perselisihan melalui musyawarah, serta semangat menjaga persaudaraan antarwilayah.

Naskah sejarah ini disusun berdasarkan berbagai penuturan para sesepuh, tokoh masyarakat, dan sumber-sumber lisan yang masih hidup di tengah masyarakat Desa Luwunggesik. Oleh karena sifatnya yang bersumber dari tradisi lisan, sangat mungkin terdapat perbedaan versi mengenai nama tokoh, tempat, maupun urutan peristiwa.

Oleh sebab itu, sejarah Desa Luwunggesik hendaknya dipahami sebagai warisan budaya yang terus dilestarikan oleh masyarakat. Apabila di kemudian hari ditemukan sumber sejarah baru yang lebih lengkap, maka cerita ini dapat menjadi dasar untuk memperkaya kajian mengenai perjalanan panjang terbentuknya Desa Luwunggesik sebagai salah satu desa tua di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu.

SEJARAH DESA KRANGKENG

Sabtu, 23 Juli 2016

ꦱꦼꦗꦫꦃ ꦢꦺꦱ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦆꦤ꧀ꦢꦿꦩꦪꦸ


(SEJARAH DESA KRANGKENG INDRAMAYU) 

 

ꦄꦱ꧀ꦱꦭꦩꦸꦲꦭꦻꦏꦸꦩ꧀ ꦮꦫꦺꦴꦃꦩꦠꦸꦭ꧀ꦭꦺꦴꦲꦶ ꦮꦧꦫꦺꦴꦏꦠꦸꦃ꧉

(Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.)


ꦥꦼꦂꦭꦸ ꦢꦶꦏꦼꦠꦲꦸꦮꦶ ꦱꦼꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ ꦱꦪ ꦗꦲꦸꦃ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦼꦭꦱ꧀ꦏꦤ꧀ ꦱꦼꦗꦫꦃ ꦢꦺꦱ ꦆꦤꦶ ꦠꦼꦂꦭꦼꦧꦶꦃ ꦢꦲꦸꦭꦸ ꦱꦪ ꦠꦼꦏꦤ꧀ꦏꦤ꧀ ꦱꦼꦗꦫꦃ ꦢꦺꦱ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦄꦢ ꦧꦼꦂꦧꦒꦻ ꦮ꦳ꦺꦂꦱꦶ ꦧꦃꦏꦤ꧀ ꦪꦁ ꦱꦪ ꦏꦼꦠꦲꦸꦮꦶ ꦄꦢ ꧕ ꦮ꦳ꦺꦂꦱꦶ ꦪꦁ ꦩꦱꦶꦁꦩꦱꦶꦁ ꦮ꦳ꦺꦂꦱꦶ ꦄꦢ ꦏꦼꦱꦩꦄꦤ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦥꦼꦂꦧꦺꦢꦄꦤ꧀ ꦗꦢꦶ ꦩꦺꦴꦲꦺꦴꦤ꧀ ꦩꦄꦥ꦳꧀ ꦗꦶꦏ ꦮ꦳ꦺꦂꦱꦶ ꦪꦁ ꦱꦪ ꦱꦩ꧀ꦥꦻꦏꦤ꧀ ꦠꦶꦢꦏ꧀ꦭꦃ ꦱꦩ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦮ꦳ꦺꦂꦱꦶ ꦪꦁ ꦩꦸꦁꦏꦶꦤ꧀ ꦧꦥꦏ꧀/ꦆꦧꦸ ꦢꦤ꧀ ꦠꦼꦩꦼꦤ꧀ꦠꦼꦩꦼꦤ꧀ ꦏꦼꦠꦲꦸꦮꦶ꧉


(Perlu di ketahui sebelum saya jauh menjelaskan Sejarah Desa ini terlebih dahulu saya tekankan sejarah Desa Krangkeng ada berbagai Versi bahkan yang saya ketahui ada 5 versi...)


ꦱꦼꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦥꦼꦢꦸꦏꦸꦲꦤ꧀ ꦢꦸꦭꦸꦚ ꦮꦶꦭꦪꦃ ꦆꦤꦶ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦧꦼꦭꦤ꧀ꦠꦫ ꦪꦁ ꦧꦼꦂꦤꦩ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦄꦤ꧀ꦢꦒ ꦱꦫꦶ꧉


(Sebelum menjadi Pedukuhan dulunya wilayah ini merupakan hutan belantara yang bernama hutan ANDAGA SARI.)


ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦄꦤ꧀ꦢꦒ ꦱꦫꦶ ꦱꦼꦤ꧀ꦢꦶꦫꦶ ꦢꦶꦲꦸꦤꦶ ꦎꦭꦺꦃ ꦧꦶꦤꦠꦁ ꦧꦸꦮꦱ꧀꧈ ꦩꦤꦸꦱꦶꦪ ꦱꦏ꧀ꦠꦶ ꦪꦁ ꦢꦥꦠ꧀ ꦏꦼꦭꦸꦮꦂ ꦩꦱꦸꦏ꧀ ꦤꦼꦒꦿꦶ ꦱꦶꦭꦸꦩꦤ꧀ ꦧꦼꦂꦤꦩ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ (ꦩꦤꦸꦱꦶꦪ ꦲꦫꦶꦩꦻꦴ ꦲꦶꦠꦩ꧀) ꦱꦼꦂꦠ ꦥꦫ ꦭꦼꦭꦼꦩ꧀ꦧꦸꦠ꧀ ꦪꦁ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦧꦭ ꦠꦼꦤ꧀ꦠꦫ ꦢꦫꦶ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ꧉


(Hutan andaga sari sendiri dihuni oleh binatang buas, manusia sakti yang dapat keluar masuk negri siluman bernama NYI LODAYA (Manusia Harimau Hitam) serta para lelembut yang menjadi bala tentara dari NYI LODAYA.)


ꦠꦺꦴꦏꦺꦴꦃ ꦪꦁ ꦧꦼꦂꦤꦩ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꦠꦺꦴꦏꦺꦴꦃ ꦱꦏ꧀ꦠꦶ ꦥꦢ ꦗ꦳ꦩꦤ꧀ꦚ ꦪꦁ ꦩꦼꦤ꧀ꦢꦶꦪꦩꦶ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦄꦤ꧀ꦢꦒ ꦱꦫꦶ꧈ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦄꦢꦭꦃ ꦱꦭꦃ ꦱꦠꦸ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦢꦫꦶ ꦱꦺꦠꦤ꧀ ꦏꦺꦴꦧꦺꦂ꧈ ꦱꦼꦭꦻꦤ꧀ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦱꦺꦠꦤ꧀ ꦏꦺꦴꦧꦺꦂ ꦗꦸꦒ ꦩꦼꦩ꧀ꦥꦸꦚꦻ ꦧꦼꦧꦼꦫꦥ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦱꦏ꧀ꦠꦶ ꦢꦶꦪꦤ꧀ꦠꦫꦚ ꦏꦶ ꦧꦸꦪꦸꦠ꧀ ꦥꦭꦶꦩꦤꦤ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦏꦶ ꦧꦸꦪꦸꦠ꧀ ꦧꦪꦭꦔꦸ (ꦱꦁꦒꦸꦥ꧀ ꦩꦼꦤꦁꦏꦥ꧀ ꦥꦼꦠꦶꦂ)꧉


(Tokoh yang bernama NYI LODAYA merupakan tokoh sakti pada zamannya yang mendiami Hutan ANDAGA SARI, beliau adalah salah satu murid dari SETAN KOBER...)


ꦩꦸꦁꦏꦶꦤ꧀ ꦱꦼꦧꦒꦶꦪꦤ꧀ ꦱꦸꦢꦃ ꦠꦶꦢꦏ꧀ ꦄꦱꦶꦁ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦚꦶ ꦒꦼꦢꦺ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦤꦩꦸꦤ꧀ ꦥꦼꦂꦭꦸ ꦏꦶꦠ ꦏꦼꦠꦲꦸꦮꦶ ꦤꦩ ꦄꦱ꧀ꦭꦶ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦄꦢꦭꦃ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦥꦸꦠꦿꦶ ꦩꦠꦫꦩ꧀꧉


(Mungkin sebagian sudah tidak asing dengan NYI GEDE KRANGKENG namun perlu kita ketahui nama Asli Beliau adalah NYI GENDAR MALAYA seorang Putri MATARAM).


ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦄꦢꦭꦃ ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦥꦸꦠꦿꦶ ꦕꦼꦂꦢꦶꦏ꧀꧈ ꦕꦤ꧀ꦠꦶꦏ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦧꦼꦂꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦠꦶꦁꦒꦶ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦥꦢ ꦱꦸꦮꦠꦸ ꦩꦱ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦢꦶ ꦈꦠꦸꦱ꧀ ꦎꦭꦺꦃ ꦏꦼꦢꦸꦮ ꦎꦫꦁ ꦠꦸꦮꦚ ꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ ꦩꦼꦔꦼꦩ꧀ꦧꦫ ꦏꦼ ꦠꦤꦃ ꦗꦮ ꦢꦭꦩ꧀ ꦫꦁꦏ ꦩꦼꦩ꧀ꦥꦼꦂꦢꦭꦩ꧀ ꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦄꦒꦩ ꦱꦼꦂꦠ ꦏꦤꦸꦫꦒꦤ꧀ꦚ꧉


(Beliau adalah seorang putri cerdik, cantik dan berilmu tinggi sampai pada suatu masa beliau di utus oleh kedua orang tuanya untuk mengembara ke tanah Jawa dalam rangka memperdalam ilmu agama serta kanuragannya.)

ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦧꦼꦫꦁꦏꦠ꧀ ꦢꦫꦶ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦩꦼꦤ꧀ꦠꦎꦏ꧀ ꦪꦁ ꦄꦢ ꦢꦶ ꦪꦺꦴꦒ꧀ꦪꦏꦂꦠ ꦱꦼꦭꦤ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦚ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦩꦼꦤꦼꦫꦸꦱ꧀ꦏꦤ꧀ ꦥꦼꦂꦗꦭꦤꦤ꧀ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦤꦼꦒꦿꦶ ꦕꦫꦸꦧꦤ꧀ ꦤꦒꦫꦶ ꦪꦁ ꦱꦼꦏꦫꦁ ꦧꦶꦪꦱ ꦏꦶꦠ ꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦕꦶꦫꦼꦧꦺꦴꦤ꧀ ꦪꦁ ꦏꦭ ꦆꦠꦸ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦥꦸꦱꦠ꧀ ꦥꦼꦩꦼꦫꦶꦤ꧀ꦠꦲꦤ꧀ ꦆꦱ꧀ꦭꦩ꧀꧈ ꦥꦸꦱꦠ꧀ ꦥꦼꦤ꧀ꦢꦶꦢꦶꦏꦤ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦥꦸꦱꦠ꧀ ꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦏꦤꦸꦫꦒꦤ꧀꧉


(Beliau berangkat dari Hutan Mentaok yang ada di YOGYAKARTA selanjutnya beliau meneruskan perjalan sampai negri CARUBAN NAGARI yang sekarang biasa kita sebut CIREBON yang kala itu menjadi pusat Pemerintahan Islam, Pusat Pendidikan dan Pusat Ilmu Kanuragan.)


ꦥꦢ ꦩꦱ ꦱꦩ꧀ꦥꦻꦚ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ ꦏꦼ ꦠꦤꦃ ꦕꦫꦸꦧꦤ꧀ ꦄꦢ ꦒꦼꦤꦼꦫꦱꦶ ꦱꦼꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ꦚ ꦪꦁ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦠꦺꦴꦏꦺꦴꦃ ꦧꦼꦱꦂ ꦢꦤ꧀ ꦢꦶ ꦱꦼꦒꦤꦶ ꦢꦶ ꦕꦫꦸꦧꦤ꧀:


(Pada masa sampainya NYI GENDAR MALAYA ke tanah CARUBAN ada generasi sebelumnya yang menjadi TOKOH BESAR dan di segani di CARUBAN)


꧑꧉ ꦱꦾꦻꦏ꧀ ꦤꦸꦂ ꦗꦠꦶ ꦪꦁ ꦩꦼꦩ꧀ꦥꦸꦚꦻ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦢꦶꦪꦤ꧀ꦠꦫꦚ ꦱꦶꦠꦶ ꦗꦼꦤꦂ꧈ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦏꦭꦶꦗꦺꦴꦒꦺꦴ ꦢꦤ꧀ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ


(1. SYAIK NUR JATI yang mempunyai murid diantaranya SITI JENAR, SUNAN KALIJOGO dan SUNAN GUNUNG JATI)


꧒꧉ ꦱꦾꦻꦏ꧀ ꦤꦸꦂ ꦗꦠꦶ ꦩꦼꦩ꧀ꦥꦸꦚꦻ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦥꦸꦭ ꦥꦢ ꦒꦼꦤꦼꦫꦱꦶ ꦱꦼꦱꦸꦢꦃ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ꧈ ꦱꦶꦠꦶ ꦗꦼꦤꦂ ꦢꦤ꧀ ꦏꦭꦶꦗꦺꦴꦒꦺꦴ ꦪꦻꦠꦸ ꦱꦾꦻꦏ꧀ ꦧꦼꦤ꧀ꦠꦶꦁ (ꦧꦸꦁꦏꦺꦴ)꧈ ꦒꦤ꧀ꦢꦱꦫꦶ (ꦥꦩꦸꦫꦒꦤ꧀) ꦢꦤ꧀ ꦩꦒ꧀ꦭꦸꦁ ꦱꦏ꧀ꦠꦶ


(2. SYAIK NUR JATI mempunyai murid pula pada GENERASI sesudah SUNAN GUNG JATI, SITI JENAR dan KALIJOGO yaitu SYAIK BENTING (BUNGKO), GANDASARI (PAMURAGAN) dan MAGLUNG SAKTI)


꧓꧉ ꦱꦼꦱꦸꦢꦃ ꦒꦼꦤꦼꦫꦱꦶ ꦏꦼꦢꦸꦮ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ ꦩꦼꦁꦒꦤ꧀ꦠꦶꦏꦤ꧀ ꦱꦾꦻꦏ꧀ ꦤꦸꦂ ꦗꦠꦶ ꦢꦤ꧀ ꦩꦼꦩ꧀ꦥꦸꦚꦻ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ (ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ)꧈ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦥꦿꦶꦁꦒꦧꦪ (ꦏꦥꦿꦶꦔꦤ꧀) ꦢꦤ꧀ ꦩꦱꦶꦃ ꦧꦚꦏ꧀ ꦭꦒꦶ ꦪꦁ ꦭꦻꦤ꧀ꦚ꧉


(3. Sesudah generasi Kedua SUNAN GUNUNG JATI menggantikan SYAIK NUR JATI dan mempunyai murid NYI GENDAR MALAYA (Krangkeng), PANGERAN PRINGGABAYA (Kapringan) dan mash banyak lagi yang lainya.)
ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ/ꦱꦾꦫꦶꦥ꦳꧀ ꦲꦶꦢꦪꦠꦸꦭ꧀ꦭꦃ (ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ ꦆꦤꦶ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꦏꦼꦠꦸꦫꦸꦤꦤ꧀ ꦏꦼ-꧑꧗ ꦢꦫꦶ ꦫꦱꦸꦭꦸꦭ꧀ꦭꦃ ꦱꦮ꧀꧉)


(KANJENG SUNAN GUNUNG JATI/SYARIF HIDAYATULLAH (Sunan Gunung Jati ini merupakan keturunan ke-17 dari Rasulullah SAW.))


ꦱꦶꦭ꧀ꦱꦶꦭꦃꦚ ꦢꦶꦩꦸꦭꦻ ꦱꦄꦠ꧀ ꦤꦧꦶ ꦩꦸꦲꦩ꧀ꦩꦢ꧀ ꦱꦮ꧀ ꦩꦼꦩꦶꦭꦶꦏꦶ ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦥꦸꦠꦿꦶ ꦧꦼꦂꦤꦩ ꦱꦶꦠꦶ ꦥ꦳ꦠꦶꦩꦃ꧉ ꦏꦼꦩꦸꦢꦶꦪꦤ꧀ ꦱꦶꦠꦶ ꦥ꦳ꦠꦶꦩꦃ ꦩꦼꦭꦲꦶꦂꦏꦤ꧀ ꦱꦪ꧀ꦪꦶꦢ꧀ ꦲꦸꦱꦻꦤ꧀ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦥꦢ ꦒꦼꦤꦼꦫꦱꦶ-ꦒꦼꦤꦼꦫꦱꦶ ꦱꦼꦭꦤ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦚ꧈ ꦭꦲꦶꦂꦭꦃ ꦄꦪꦃ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ꧉


(Silsilahnya dimulai saat Nabi Muhammad SAW memiliki seorang putri bernama Siti Fatimah. Kemudian Siti Fatimah melahirkan Sayyid Husain sampai pada generasi-generasi selanjutnya, lahirlah ayah Sunan Gunung Jati.)

ꦄꦪꦃꦚ ꦧꦼꦂꦤꦩ ꦱꦾꦫꦶꦥ꦳꧀ ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦭꦃ ꦈꦩ꧀ꦢꦠꦸꦢ꧀ꦢꦶꦤ꧀ ꦧꦶꦤ꧀ ꦄꦭꦶ ꦤꦸꦫꦸꦭ꧀ ꦄꦭꦩ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦢꦶꦏꦼꦤꦭ꧀ ꦱꦼꦧꦒꦻ ꦱꦾꦺꦏ꧀ ꦩꦻꦴꦭꦤ ꦄꦏ꧀ꦧꦂ꧉ ꦢꦶꦪ ꦄꦢꦭꦃ ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦥꦼꦔꦸꦮꦱ ꦩꦼꦱꦶꦂ꧉


(Ayahnya bernama Syarif Abdullah Umdatuddin bin Ali Nurul Alam dan dikenal sebagai Syekh Maulana Akbar. Dia adalah seorang penguasa Mesir.)


ꦆꦧꦸꦚ ꦧꦼꦂꦤꦩ ꦚꦶ ꦩꦱ꧀ ꦫꦫ ꦱꦤ꧀ꦠꦁ ꦪꦁ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꦥꦸꦠꦿꦶ ꦫꦗ ꦥꦗꦗꦫꦤ꧀ ꦪꦁ ꦧꦼꦂꦒꦼꦭꦂ ꦱꦿꦶ ꦧꦢꦸꦒ ꦩꦲꦫꦗ꧉ ꦱꦼꦠꦼꦭꦃ ꦩꦼꦤꦶꦏꦃ꧈ ꦒꦼꦭꦂꦚ ꦧꦼꦂꦒꦤ꧀ꦠꦶ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦱꦾꦫꦶꦥ꦳ꦃ ꦩꦸꦢꦻꦩ꧀꧉


(Ibunya bernama Nyi Mas Rara Santang yang merupakan putri raja Pajajaran yang bergelar Sri Baduga Maharaja. Setelah menikah, gelarnya berganti menjadi Syarifah Mudaim.)


ꦄꦮꦭ꧀ ꦩꦸꦭ ꦥꦼꦂꦠꦼꦩꦸꦮꦤ꧀ ꦏꦼꦢꦸꦮ ꦎꦫꦁ ꦠꦸꦮ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ ꦄꦢꦭꦃ ꦏꦼꦠꦶꦏ ꦚꦶ ꦩꦱ꧀ ꦫꦫ ꦱꦤ꧀ꦠꦁ ꦱꦼꦢꦁ ꦩꦼꦭꦏ꧀ꦱꦤꦏꦤ꧀ ꦆꦧꦢꦃ ꦲꦗꦶ ꦏꦼ ꦏꦺꦴꦠ ꦩꦏ꧀ꦏꦃ꧉ ꦢꦶ ꦱꦤ ꦆꦪ ꦧꦼꦂꦠꦼꦩꦸ ꦱꦾꦺꦏ꧀ ꦩꦻꦴꦭꦤ ꦄꦏ꧀ꦧꦂ꧉


(Awal mula pertemuan kedua orang tua Sunan Gunung Jati adalah ketika Nyi Mas Rara Santang sedang melaksanakan ibadah haji ke Kota Makkah. Di sana ia bertemu Syekh Maulana Akbar.)


ꦩꦼꦫꦺꦏ ꦩꦼꦤꦶꦏꦃ ꦢꦤ꧀ ꦢꦶꦏꦫꦸꦤꦶꦪꦻ ꦢꦸꦮ ꦥꦸꦠꦿ꧈ ꦪꦻꦠꦸ ꦱꦾꦫꦶꦥ꦳꧀ ꦲꦶꦢꦪꦠꦸꦭ꧀ꦭꦃ (ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ) ꦢꦤ꧀ ꦄꦢꦶꦏ꧀ꦚ ꦱꦾꦫꦶꦥ꦳꧀ ꦤꦸꦫꦸꦭ꧀ꦭꦃ꧉


(Mereka menikah dan dikaruniai dua putra, yaitu Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) dan adiknya Syarif Nurullah.)


ꦥꦢ ꧑꧔꧗꧐ ꦩ꧈ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ ꦩꦼꦔꦶꦤ꧀ꦗꦏ꧀ꦏꦤ꧀ ꦏꦏꦶ ꦢꦶ ꦕꦶꦫꦼꦧꦺꦴꦤ꧀ ꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ ꦥꦼꦂꦠꦩ ꦏꦭꦶꦚ꧉ ꦏꦼꦢꦠꦔꦤ꧀ꦚ ꦢꦶꦱꦩ꧀ꦧꦸꦠ꧀ ꦧꦻꦏ꧀ ꦎꦭꦺꦃ ꦥꦩꦤ꧀ꦚ ꦪꦁ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦫꦗ ꦕꦶꦫꦼꦧꦺꦴꦤ꧀꧈ ꦫꦢꦺꦤ꧀ ꦮꦭꦁꦱꦸꦁꦱꦁ/ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦕꦏꦿꦧꦸꦮꦤ ꦢꦤ꧀ ꦌꦩ꧀ꦧꦃ ꦏꦸꦮꦸ ꦱꦁꦏꦤ꧀ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꦥꦸꦠꦿ ꦥꦿꦧꦸ ꦱꦶꦭꦶꦮꦔꦶ ꦢꦫꦶ ꦚꦶ ꦱꦸꦧꦁ ꦭꦫꦁ꧉


(Pada 1470 M, Sunan Gunung Jati menginjakkan kaki di Cirebon untuk pertama kalinya. Kedatangannya disambut baik oleh pamannya yang merupakan seorang raja Cirebon, Raden Walangsungsang/Pangeran Cakrabuana dan Embah Kuwu Sangkan merupakan putra Prabu Siliwangi dari Nyi Subang Larang.)


ꦥꦢ ꦩꦱ ꦱꦩ꧀ꦥꦻꦚ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ ꦏꦼ ꦠꦤꦃ ꦕꦫꦸꦧꦤ꧀ ꦤꦒꦫꦶ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦧꦼꦂꦒꦸꦫꦸ ꦭꦁꦱꦸꦁ ꦏꦼꦥꦢ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ ꦢꦤ꧀ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦩꦼꦤ꧀ꦢꦭꦩꦶ ꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦄꦒꦩ꧈ ꦥꦺꦴꦭꦶꦠꦶꦏ꧀꧈ ꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦏꦼꦢꦶꦒ꧀ꦗꦪꦄꦤ꧀ ꦧꦼꦂꦱꦩ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦭꦻꦤ꧀ꦚ ꦪꦻꦠꦸ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦥꦿꦶꦁꦒꦧꦪ (ꦗꦏ ꦢꦺꦴꦭꦺꦴꦒ꧀) / ꦧꦸꦪꦸꦠ꧀ ꦏꦥꦿꦶꦔꦤ꧀꧉


(Pada masa sampainya NYI GENDAR MALAYA ke tanah CARUBAN NAGARI beliau berguru langsung kepada KANJENG SUNAN GUNUNG JATI dan beliau mendalami ilmu AGAMA, POLITIK, ILMU KEDIGJAYAAN bersama murid lainya yaitu PANGERAN PRINGGABAYA(JAKA DOLOG)/Buyut Kapringan.)


ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ ꦢꦶ ꦧꦼꦫꦶ ꦒꦼꦭꦂ ꦏꦼꦲꦺꦴꦂꦩꦠꦤ꧀ ꦎꦭꦺꦃ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ ꦪꦻꦠꦸ ꦚꦶ ꦩꦱ꧀ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦼꦏꦱꦶꦃ ꦢꦤ꧀ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦪꦁ ꦥꦶꦤ꧀ꦠꦂ꧈ ꦕꦼꦂꦢꦱ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦢꦥꦠ꧀ ꦩꦼꦚꦼꦫꦥ꧀ ꦱꦼꦠꦶꦪꦥ꧀ ꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦪꦁ ꦢꦶꦄꦗꦂꦏꦤ꧀ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦧꦻꦏ꧀ ꦱꦼꦲꦶꦁꦒ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦪꦁ ꦱꦔꦠ꧀ ꦩꦼꦤꦺꦴꦤ꧀ꦗꦺꦴꦭ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦢꦶ ꦄꦤꦏ꧀ ꦌꦩꦱ꧀ꦏꦤ꧀ ꦎꦭꦺꦃ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀꧉


(NYI GENDAR MALAYA di beri gelar kehormatan oleh Kanjeng Sunan Gunung Jati yaitu NYI MAS ENDANG KEKASIH dan menjadi murid yang PINTAR, CERDAS dan dapat menuerap setiap ilmu yang diajarkan Kanjeng Sunan denngan baik sehingga beliau menjadi murid yang sangat menonjol dan di anak emaskan oleh Kanjeng Sunan.)


ꦱꦼꦠꦼꦭꦃ ꦱꦼꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ꦚ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ ꦱꦼꦏꦫꦁ ꦩꦫꦶ ꦒꦸꦤꦏꦤ꧀ ꦒꦼꦭꦂ ꦪꦁ ꦢꦶ ꦱꦼꦩꦠ꧀ꦏꦤ꧀ ꦎꦭꦺꦃ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ ꦩꦼꦭꦤ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦏꦤ꧀ ꦕꦼꦫꦶꦠ꧉


(Setelah sebelumnya NYI GENDAR MALAYA sekarang mari gunakan Gelar yang di sematkan oleh kanjeng sunan untuk melanjutkan cerita.)


ꦱꦼꦠꦼꦭꦃ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦼꦏꦱꦶꦃ ꦢꦶ ꦤꦶꦭꦻ ꦕꦸꦏꦸꦥ꧀ ꦧꦼꦏꦭ꧀ ꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦎꦭꦺꦃ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦩꦏ ꦢꦶ ꦠꦸꦒꦱ꧀ꦏꦤ꧀ꦭꦃ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦧꦼꦫꦁꦏꦠ꧀ ꦏꦼ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦄꦤ꧀ꦢꦒ ꦱꦫꦶ ꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ ꦧꦧꦢ꧀/ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦸꦏ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶꦏꦤ꧀ꦚ ꦥꦼꦢꦸꦏꦸꦲꦤ꧀/ꦢꦺꦱ꧉


(Setelah NYI ENDANG KEKASIH di nilai cukup bekal ilmu oleh kanjeng sunan maka di tugaskanlah NYI ENDANG KASIH berangkat ke HUTAN ANDAGA SARI untuk BABAD/MEMBUKA hutan tersebut dan menjadikanya PEDUKUHAN/DESA.)


ꦠꦥꦶ ꦫꦸꦥꦚ ꦠꦶꦢꦏ꧀ꦭꦃ ꦱꦼꦩꦸꦢꦃ ꦪꦁ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦧꦪꦁꦏꦤ꧀ ꦏꦫꦼꦤ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦄꦢꦭꦃ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦭꦫꦔꦤ꧀ ꦪꦁ ꦢꦶꦲꦸꦤꦶ ꦎꦭꦺꦃ ꦧꦶꦤꦠꦁ ꦧꦸꦮꦱ꧀꧈ ꦩꦤꦸꦱꦶꦪ ꦱꦏ꧀ꦠꦶ ꦪꦁ ꦢꦥꦠ꧀ ꦏꦼꦭꦸꦮꦂ ꦩꦱꦸꦏ꧀ ꦤꦼꦒꦿꦶ ꦱꦶꦭꦸꦩꦤ꧀ ꦧꦼꦂꦤꦩ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ (ꦩꦤꦸꦱꦶꦪ ꦲꦫꦶꦩꦻꦴ ꦲꦶꦠꦩ꧀) ꦱꦼꦂꦠ ꦥꦫ ꦭꦼꦭꦼꦩ꧀ꦧꦸꦠ꧀ ꦪꦁ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦧꦭ ꦠꦼꦤ꧀ꦠꦫ ꦢꦫꦶ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦤꦩꦸꦤ꧀ ꦢꦶ ꦢꦭꦩ꧀ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦫꦸꦥꦚ ꦱꦸꦢꦃ ꦄꦢ ꦢꦲꦸꦭꦸ ꧒ ꦥꦱꦔꦤ꧀ ꦱꦸꦮꦩꦶ ꦆꦱ꧀ꦠꦿꦶ ꦪꦁ ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ ꦢꦶ ꦢꦭꦩ꧀ꦚ ꦪꦻꦠꦸ ꦚꦶ ꦩꦒꦼꦁꦒꦺꦴꦁ ꦢꦤ꧀ ꦏꦶ ꦄꦂꦪ ꦩꦒꦼꦁꦒꦺꦴꦁ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ ꦢꦶ ꦢꦭꦩ꧀ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦪꦁ ꦠꦼꦩ꧀ꦥꦠ꧀ ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ꦚ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꦫꦸꦩꦃ ꦥꦁꦒꦸꦁ ꦢꦤ꧀ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦱꦼꦏꦫꦁ ꦫꦸꦩꦃ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦢꦶ ꦄꦧꦢꦶꦏꦤ꧀ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦤꦩ ꦧ꧀ꦭꦺꦴꦏ꧀ ꦢꦶ ꦢꦺꦱ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦪꦻꦠꦸ ꦧ꧀ꦭꦺꦴꦏ꧀ ꦥꦁꦒꦸꦔꦤ꧀꧉


(Tapi rupanya tidaklah semudah yang NYI ENDANG KASIH bayangkan karena hutan tersebut adalah hutan larangan yang dihuni oleh binatang buas, manusia sakti yang dapat keluar masuk negri siluman bernama NYI LODAYA (Manusia Harimau Hitam) serta para lelembut yang menjadi bala tentara dari NYI LODAYA namun di dalam hutan tersebut rupanya sudah ada dahulu 2 pasangan suami istri yang tinggal di dalamnya yaitu NYI MAGENGGONG dan KY ARYA MAGENGGONG beliau tinggal di dalam hutan yang tempat tinggalnya merupakan rumah panggung dan sampai sekarang rumah beliau di abadikan menjadi nama Blok di Desa Krangkeng yaitu Blok Panggungan.)


ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦏꦼꦪꦏꦶꦤꦤ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦪꦁ ꦢꦶꦩꦶꦭꦶꦏꦶ ꦩꦏ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦩꦼꦩꦱꦸꦏꦶ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦄꦤ꧀ꦢꦒꦱꦫꦶ ꦭꦭꦸ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦱꦶꦁꦒꦃ ꦢꦶ ꦠꦼꦩ꧀ꦥꦠ꧀ ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ ꦚꦶ ꦩꦒꦼꦁꦒꦺꦴꦁ ꦱꦼꦫꦪ ꦩꦼꦩꦶꦤ꧀ꦠ ꦆꦗꦶꦤ꧀ ꦏꦼꦥꦢ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦸꦏ ꦥꦼꦢꦸꦏꦸꦲꦤ꧀ ꦱꦼꦥꦼꦂꦠꦶ ꦄꦩꦤꦠ꧀ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀꧈ ꦎꦭꦺꦃ ꦏꦂꦤ ꦚꦶ ꦩꦒꦼꦁꦒꦺꦴꦁ ꦲꦚ ꦲꦶꦢꦸꦥ꧀ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦱꦸꦮꦩꦶꦚ ꦱꦗ ꦢꦤ꧀ ꦩꦼꦔꦶꦔꦶꦤ꧀ꦏꦤ꧀ ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦄꦤꦏ꧀ ꦩꦏ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦪꦭ ꦢꦶ ꦄꦔ꧀ꦏꦠ꧀ ꦄꦤꦏ꧀ ꦎꦭꦺꦃ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦢꦤ꧀ ꦢꦶ ꦆꦗ꦳ꦶꦤ꧀ꦏꦤ꧀ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦸꦮꦏ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦄꦤ꧀ꦢꦒꦱꦫꦶ꧉


(Dengan keyakinan dan ilmu yang dimiliki maka NYI ENDANG KASIH memasuki Hutan Andagasari lalu beliau singgah di tempat tinggal NYI MAGENGGONG seraya meminta ijin kepada beliau untuk membuka pedukuhan seperti amanat Kanjeng Sunan, oleh karna NYI MAGENGGONG hanya hidup dengan suaminya saja dan menginginkan seorang anak maka NYI GENDAR MAYALA di ankat anak oleh beliau dan di izinkan membuaka Hutan andagasari.)


ꦚꦶ ꦩꦒꦼꦁꦒꦺꦴꦁ ꦢꦤ꧀ ꦏꦶ ꦄꦂꦪ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦼꦫꦶ ꦄꦫꦲꦤ꧀ ꦱꦭꦃ ꦱꦠꦸ ꦏꦸꦤ꧀ꦕꦶ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦸꦏ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦆꦤꦶ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦥꦼꦢꦸꦏꦸꦲꦤ꧀/ꦢꦺꦱ ꦄꦢꦭꦃ ꦩꦼꦔꦭꦃꦏꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦭꦼꦧꦶꦃ ꦢꦲꦸꦭꦸ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦢꦤ꧀ ꦠꦼꦤ꧀ꦠꦫꦚ ꦪꦁ ꦱꦼꦩꦸꦮ ꦠꦼꦤ꧀ꦠꦫꦚ ꦱꦁꦒꦸꦥ꧀ ꦩꦼꦫꦸꦧꦃ ꦢꦶꦫꦶꦚ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦲꦫꦶꦩꦻꦴ꧉

(NYI MAGENGGONG dan KY ARYA memberi arahan salah satu kunci membuka hutan ini menjadi PEDUKUHAN/DESA adalah mengalahkan terlebih dahulu NYI LODAYA dan tentaranya yang semua tentaranya sanggup merubah dirinya menjadi harimau.)


ꦠꦤ꧀ꦥ ꦥꦶꦏꦶꦂ ꦥꦤ꧀ꦗꦁ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦭꦁꦱꦸꦁ ꦥꦩꦶꦠ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦧꦼꦫꦁꦏꦠ꧀ ꦩꦼꦤ꧀ꦕꦫꦶ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦢꦤ꧀ ꦠꦼꦤ꧀ꦠꦫꦚ ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦢꦶꦫꦶ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦄꦏꦶꦂꦚ ꦩꦼꦫꦺꦏ ꦧꦼꦂꦠꦼꦩꦸ ꦢꦤ꧀ ꦧꦼꦂꦠꦼꦩ꧀ꦥꦸꦂ ꧑꧑ ꦲꦫꦶ ꦢꦤ꧀ ꦢꦭꦩ꧀ ꦥꦼꦂꦠꦼꦩ꧀ꦥꦸꦫꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦧꦼꦂꦲꦱꦶꦭ꧀ ꦩꦼꦔꦭꦃꦏꦤ꧀ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦢꦤ꧀ ꦩꦼꦚꦸꦢꦸꦠ꧀ꦏꦤ꧀ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦏꦼ ꦥꦼꦱꦶꦱꦶꦂ ꦄꦤ꧀ꦢꦒ ꦱꦫꦶ ꦢꦤ꧀ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦱꦼꦤ꧀ꦢꦶꦫꦶ ꦥꦸꦭꦁ ꦏꦼ ꦫꦸꦩꦃ ꦎꦫꦁ ꦠꦸꦮ ꦄꦁꦏꦠ꧀ꦚ ꦪꦁ ꦄꦢ ꦢꦶ ꦥꦁꦒꦸꦔꦤ꧀꧈ ꦱꦼꦠꦼꦭꦃ ꦩꦼꦔꦭꦃꦏꦤ꧀ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦩꦏ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦏꦶꦤꦶ ꦢꦶ ꦲꦢꦥ꧀ꦏꦤ꧀ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦱꦶꦠꦸꦮꦱꦶ ꦭꦻꦤ꧀ ꦪꦻꦠꦸ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦼꦫꦶ ꦧꦠꦱ꧀ ꦮꦶꦭꦪꦃ ꦏꦼꦏꦸꦮꦱꦄꦤ꧀ꦚ꧉

(Tanpa piker panjang ENDANG KASIH langsung pamit dan berangkat mencari NYI LODAYA dan TENTARANYA seorang diri sampai akhirnya mereka bertemu dan bertempur 11 Hari dan dalam pertempuran tersebut NYI ENDANG KASIH berhasil mengalahkan NYI LODAYA dan menyudutkan NYI LODAYA ke pesisir ANDAGA SARI dan NYI ENDANG KASIH sendiri pulang ke rumah orang tua angkatnya yang ada di panggungan, setelah mengalahkan NYI LODAYA maka NYI ENDANG KASIH kini di hadapkan dengan situasi lain yaitu memberi batas wilayah kekuasaanya.)


ꦱꦸꦢꦃ ꦱꦼꦭꦪꦏ꧀ꦚ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦗꦶꦏ ꦩꦻꦴ ꦢꦶ ꦧꦸꦮꦠ꧀ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦥꦼꦢꦸꦏꦸꦲꦤ꧀/ꦢꦺꦱ ꦩꦏ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦲꦫꦸꦱ꧀ꦭꦃ ꦢꦶ ꦠꦼꦧꦁ/ꦧꦧꦢ꧀꧉


(Sudah selayaknya hutan jika mau di buat menjadi PEDUKUHAN/DESA maka hutan tersebut haruslah di tebang/babad.)


ꦱꦼꦩꦼꦤ꧀ꦠꦫ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦪꦁ ꦭꦻꦤ꧀ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦧꦢ꧀ ꦲꦸꦠꦤ꧀ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦪꦁ ꦄꦏꦤ꧀ ꦢꦶ ꦠꦼꦩ꧀ꦥꦠꦶꦚ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦧꦼꦂꦧꦒꦻ ꦩꦕꦩ꧀ ꦕꦫ꧉


(Sementara murid-murid Kanjeng sunan yang lain membabad hutan-hutan yang akan di tempatinya dengan berbagai macam cara.)


ꦄꦢ ꦪꦁ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦩꦼꦤ꧀ꦕꦧꦸꦠꦶ ꦥꦺꦴꦲꦺꦴꦤ꧀ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦏꦼꦱꦏ꧀ꦠꦶꦪꦤ꧀ꦚ꧈ ꦄꦢ ꦪꦁ ꦩꦼꦤꦼꦧꦁ ꦥꦺꦴꦲꦺꦴꦤ꧀ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦥꦸꦱꦏꦚ ꦱꦼꦩꦼꦤ꧀ꦠꦫ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦩꦼꦁꦒꦸꦤꦏꦤ꧀ ꦏꦼꦕꦼꦂꦢꦶꦏꦤ꧀ꦚ ꦄꦒꦂ ꦮꦶꦭꦪꦃꦚ ꦭꦸꦮꦱ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦕꦼꦥꦠ꧀ ꦥꦿꦺꦴꦱꦺꦱ꧀ ꦥꦼꦤꦼꦧꦔꦤ꧀ ꦥꦺꦴꦲꦺꦴꦤ꧀ꦚ ꦩꦏ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦏꦂ ꦫꦤ꧀ꦠꦶꦁꦫꦤ꧀ꦠꦶꦁ ꦏꦼꦫꦶꦁ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦥꦢ ꦄꦏꦶꦂꦚ ꦄꦥꦶ ꦩꦼꦚꦭ ꦢꦪꦠ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦏꦂ ꦱꦼꦧꦒꦶꦪꦤ꧀ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦱꦼꦧꦸꦠ꧉


(Ada yang dengan mencabuti pohon dengan kesaktianya, ada yang menebang pohon dengan pusakanya sementara NYI ENDANG KASIH menggunakan kecerdikanya agar wilayahya luas dan cepat proses penebangan pohonya maka beliau membakar ranting-ranting kering sampai pada akhirnya api menyala dayat dan membakar sebagian hutan tersebut.)


ꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ ꦩꦼꦤꦤ꧀ꦢꦻ ꦧꦠꦱ꧀ ꦮꦶꦭꦪꦃ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ ꦩꦼꦔꦶꦏꦸꦠꦶ ꦧꦫꦃ ꦄꦥꦶ ꦪꦁ ꦠꦼꦂꦧꦮ ꦄꦔꦶꦤ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦥꦢ ꦠꦶꦠꦶꦏ꧀ ꦧꦫ ꦄꦥꦶ ꦆꦠꦸ ꦗꦠꦸꦃ ꦠꦼꦥꦠ꧀ ꦢꦶ ꦢꦲꦺꦫꦃ ꦭꦫꦔꦤ꧀ ꦗꦩ꧀ꦧꦺ ꦩꦏ ꦮꦶꦭꦪꦃ ꦪꦁ ꦱꦼꦭꦤ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦚ ꦄꦏꦤ꧀ ꦢꦶ ꦤꦩꦻ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦭꦸꦮꦱ꧀ ꦮꦶꦭꦪꦃꦚ ꦢꦫꦶ ꦥꦼꦂꦧꦠꦱꦤ꧀ ꦕꦶꦫꦼꦧꦺꦴꦤ꧀ ꦆꦤ꧀ꦢꦿꦩꦪꦸ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦭꦫꦔꦤ꧀ ꦗꦩ꧀ꦧꦺ꧉


(Untuk menandai batas wilayah NYI GENDAR MALAYA mengikuti barah api yang terbawa angina sampai pada titik bara api itu jatuh tepat di daerah LARANGAN JAMBE maka wilayah yang selanjutnya akan di namai KRANGKENG luas wilayahnya dari perbatasan Cirebon Indramayu sampai LARANGAN JAMBE.)


ꦏꦠ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦱꦼꦤ꧀ꦢꦶꦫꦶ ꦢꦶ ꦄꦩ꧀ꦧꦶꦭ꧀ ꦧꦸꦏꦤ꧀ ꦠꦤ꧀ꦥ ꦱꦼꦧꦧ꧀ ꦤꦩꦸꦤ꧀ ꦏꦠ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦱꦼꦤ꧀ꦢꦶꦫꦶ ꦧꦼꦂꦩꦏ꧀ꦤ ꦥꦼꦤ꧀ꦗꦫ꧉


(Kata krangkeng sendiri di ambil bukan tanpa sebab namun kata krangkeng sendiri bermakna PENJARA.)


ꦱꦸꦢꦃ ꦱꦪ ꦱꦩ꧀ꦥꦻꦏꦤ꧀ ꦧꦲ꧀ꦮ ꦱꦼꦠꦼꦭꦃ ꦏꦼꦏꦭꦲꦤ꧀ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦢꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦥꦺꦴꦗꦺꦴꦏ꧀ ꦥꦢ ꦥꦼꦱꦶꦱꦶꦂ ꦄꦤ꧀ꦢꦒ ꦱꦫꦶ ꦢꦶ ꦭꦤ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦏꦤ꧀ ꦥꦼꦩ꧀ꦧꦏꦫꦤ꧀ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦩꦏ ꦧꦭ ꦠꦼꦤ꧀ꦠꦫ ꦢꦤ꧀ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦱꦼꦤ꧀ꦢꦶꦫꦶ ꦠꦼꦂꦏꦸꦫꦸꦁ (ꦠꦼꦂꦥꦼꦤ꧀ꦗꦫ) ꦥꦢ ꦄꦥꦶ ꦪꦁ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦏꦂ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦄꦤ꧀ꦢꦒꦱꦫꦶ꧉


(Sudah saya sampaikan bahwa setelah kekalahan NYI LODAYA dan terpojok pada pesisir andaga sari di lanjutkan PEMBAKARAN HUTAN maka bala tentara dan NYI LODAYA sendiri terkurung (terpenjara) pada api yang membakar Hutan ANDAGASARI.)


ꦩꦼꦫꦺꦏ ꦭꦫꦶ ꦏꦼꦱꦤ ꦏꦼꦩꦫꦶ ꦩꦼꦤ꧀ꦕꦫꦶ ꦢꦠꦫꦤ꧀ ꦪꦁ ꦭꦼꦧꦶꦃ ꦠꦶꦁꦒꦶ ꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ ꦧꦼꦂꦭꦶꦤ꧀ꦢꦸꦁ ꦢꦫꦶ ꦄꦥꦶ ꦢꦤ꧀ ꦩꦼꦭꦶꦤ꧀ꦠꦱꦶ ꦢꦲꦺꦫꦃ ꦪꦁ ꦱꦼꦏꦫꦁ ꦢꦶꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦠꦤ꧀ꦗꦏꦤ꧀꧉


(mereka lari kesana kemari mencari dataran yang lebih tinggi untuk berlindung dari api dan melintasi daerah yang sekarang disebut TANJAKAN.)


ꦱꦼꦠꦼꦭꦃ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ/ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦧꦼꦂꦲꦱꦶꦭ꧀ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦸꦏ ꦥꦼꦢꦸꦏꦸꦲꦤ꧀ ꦪꦁ ꦢꦶꦧꦼꦫꦶ ꦤꦩ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦩꦏ ꦢꦠꦁꦭꦃ ꦧꦚꦏ꧀ ꦥꦼꦔꦼꦩ꧀ꦧꦫ ꦢꦶꦪꦤ꧀ꦠꦫꦚ꧈ ꦏꦶ ꦢꦤꦸ ꦮꦂꦢꦪ (ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦥꦸꦠꦿ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦢꦼꦩꦏ꧀) ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦄꦢꦭꦃ ꦏꦏꦏ꧀ ꦢꦫꦶ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦥꦲꦶꦠ꧀ ꦭꦶꦢꦃ꧈ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦢꦤꦸ ꦮꦂꦢꦪ ꦱꦼꦤ꧀ꦢꦶꦫꦶ ꦢꦫꦶ ꦢꦼꦩꦏ꧀ ꦏꦼ ꦠꦤꦃ ꦗꦮ ꦱꦼꦭꦤ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦚ ꦱꦶꦁꦒꦃ ꦢꦶ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦕꦫ ꦈꦤꦶꦏ꧀ ꦪꦻꦠꦸ ꦧꦼꦫꦼꦤꦁ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦱꦼꦏꦸꦗꦸꦂ ꦠꦸꦧꦸꦃꦚ ꦢꦶ ꦥꦼꦤꦸꦲꦶ ꦭꦸꦩꦸꦠ꧀ ꦩꦏ ꦢꦫꦶ ꦆꦠꦸ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦗꦸꦒ ꦢꦶ ꦗꦸꦭꦸꦏꦶ ꦏꦶ ꦧꦠ ꦭꦸꦩꦸꦠ꧀꧈ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦗꦸꦒꦭꦃ ꦪꦁ ꦏꦼꦭꦏ꧀ ꦄꦏꦤ꧀ ꦩꦼꦩ꧀ꦥꦼꦂꦱꦸꦤ꧀ꦠꦶꦁ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦄꦢ ꦗꦸꦒ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦱꦸꦂꦪ ꦫꦱ ꦢꦤ꧀ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦱꦸꦂꦪ ꦗꦠꦶ ꦏꦼꦢꦸꦮ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦆꦤꦶ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꧒ ꦏꦼꦱꦠꦿꦶꦪ ꦪꦁ ꦱꦼꦭꦭꦸ ꦧꦼꦂꦱꦩ ꦢꦭꦩ꧀ ꦥꦼꦔꦼꦩ꧀ꦧꦫꦄꦤ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦱꦼꦭꦤ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦚ ꦢꦶ ꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦱꦼꦫꦏꦶꦠ꧀ (ꦱꦠꦸ ꦥꦱꦁ) ꦄꦢ ꦥꦸꦭꦃ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦗꦪ ꦥꦠꦶꦃ꧉ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦠꦤ꧀ꦗꦸꦁ꧈ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦗꦁꦏꦸꦁ꧈ ꦏꦶ ꦧꦺꦴꦢꦒ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦩꦱꦶꦃ ꦧꦚꦏ꧀ ꦭꦒꦶ ꦪꦁ ꦭꦻꦤ꧀ꦚ꧉


(Setelah NYI GENDAR MALAYA/ NYI ENDANG KASIH berhasil membuka PEDUKUHAN yang diberi nama KRANGKENG maka datanglah banyak pengembara diantaranya, KY.DANU WARDAYA (Seorang Putra Pangeran Demak) beliau adalah kakak dari PANGERAN PAHIT LIDAH, Pangeran DANU WARDAYA sendiri dari demak ke tana jawa selanjutnya singgah di KRANGKENG dengan cara unik yaitu berenang sampai skujur tubuhnya di penuhi lumut maka dari itu beliau juga di juluki KY BATA LUMUT, beliau jugalah yang kelak akan mempersunting NYI ENDANG KASIH ada juga PANGERAN SURYA RASA DAN PANGERAN SURYA JATI kedua pangeran ini merupakan 2 Kesatria yang selalu bersama dalam pengembaraan dan selanjutnya di sebut PANGERAN SERAKIT (Satu Pasang) ada pulah PANGERAN JAYA PATIH. PANGERAN TANJUNG, PANGERAN JANGKUNG, KY BODAG dan mash banyak lagi yang lainya.)


ꦢꦫꦶ ꦥꦼꦂꦏꦮꦶꦤꦤ꧀ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ/ ꦚꦶ ꦩꦱ꧀ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦼꦏꦱꦶꦃ/ꦚꦶ ꦒꦼꦢꦺ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ/ꦚꦶ ꦲꦗ꧀ꦗꦃ ꦈꦩꦶ ꦲꦧꦶꦧꦃ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦏꦶ ꦢꦤꦸ ꦮꦂꦢꦪ/ꦏꦶ ꦧꦠ ꦭꦸꦩꦸꦠ꧀ ꦭꦲꦶꦂꦭꦃ ꦧꦸꦮꦃ ꦲꦠꦶ ꦪꦻꦠꦸ ꦄꦤ꧀ꦗꦱ꧀ꦩꦺꦴꦫꦺꦴ ꦪꦁ ꦢꦶꦥꦼꦂꦱꦸꦤ꧀ꦠꦶꦁ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦠꦤ꧀ꦗꦸꦁ ꦢꦤ꧀ ꦢꦫꦶ ꦥꦼꦂꦤꦶꦏꦲꦤ꧀ꦚ ꦩꦼꦭꦲꦶꦂꦏꦤ꧀ ꦚꦶꦩꦱ꧀ ꦄꦤ꧀ꦗꦱ꧀ꦩꦤꦶ꧉


(Dari perkawinan NYI GENDAR MALAYA/ NYI MAS ENDANG KEKASIH/NYI GEDE KRANGKENG/NYI HJ.UMI HABIBAH dengan KY DANU WARDAYA/KY BATA LUMUT lahirlah buah hati yaitu ANJASMORO yang dipersunting pangeran Tanjung dan dari pernihannya melahirkan NYIMAS ANJASMANI.)


ꦆꦠꦸꦭꦃ ꦱꦼꦥꦼꦁꦒꦭ꧀ ꦱꦼꦗꦫꦃ ꦢꦺꦱ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ꧉


(Itulah sepenggal sejarah Desa Krangkeng)


Pusaka

1.hiayasan dinding berupa ukiran dari kulit sebanyak 9 buah

2.Kempluk tempat nener sebanyak 4 buah berbagai ukiran.


3.Cotom bambu 3 buah


4.Eter tempurung 4 buah


5.Kati 5 buah


6.Bangerang 4 buah.


7.Tambang lulub pohon waru 5,5 cm untuk narik jukung 1 buah.


8. Alat-alat dapur terdiri dari:

Kodek liwet kulit dari kayu jati 1 buah,Centong 1 buah,Gagang gobag 1 buah/tangka,Penabuh bende 1 buah/penabuh kayu yang dikepalannya diberi lapisan karet,Gagang hujungan panjalin 1 buah,Kekab kecil 1 buah,Irus 1 buah

9. Senjata terdiri dari:
Gagang keris 2 buah, Panah dari besi 2 buah, Klenengan pedati 2 buah, Tumbak kayu 3 buah/tunggak kayu, Panah kayu 1 buah


10. Alat-alat kelengkapan rumah
Hiasan tunas kelapa, Kelambu dan spray, Iket kepala, Kain tapih, Kandek kecil 3 buah, Mukena, Gagang pisau, Gledeg jati ukuran 3X2 m/ tempat padi


SUSUNAN KEPEMIMPINAN /KUWU-KUWUDESA KRANGKENG

01.NYI ENDANG KEKASIH         
       1580-1591

02.PANGERAN JAYA PATI
       1591-1608

03.PANGERAFN SURYA RASA
       1608-1615

04.NYI MAS AYU ANJASMARA
       1615-1630

05.PANGERAN TANJUNG (SUAMI ANJASMORO) 
       1630-1649

06.NYIMAS AYU ANJASMANI
       1649-1666

07.PANGERAN SURAMADI
       1666-1687

08.PANGERAN GEBANG
       1687-1700

09.PANGERAN BAUDAG
       1700-1732

10.EMBAH SYARKOWI (KY.LUKAWI) 
       1732-1770

11.KY.RESITEM
       1770-1796

12.KY.JAKA
       1796-1829

13. KY.KUWU NGABEI LISAN PURO
       1829-1871

14.KUWU HAJI MURTADO
       1871-1885
15.KUWU SATI
       1885-1900

16.KUWU HAJI ANTARI
       1900-1916
17.KUWU RABINGO
       1916-1922

18.KUWU SALAB
       1923-1928
19.KUWU RADEYA
       1928-1943

20.KUWU DARSINI
       1943-1952
21.KUWU MASRIYAH
       1952-1958

22.KUWU SYAFEI
       1958-1959

23.KUWU MARSO
       1959-1964

24.KUWU KASNO
       1964-1978

25.KUWU TARMUKI
       1978-1989

26.KUWU HAJI BADRUDIN   
       1989-1998

27.KUWU JUBAEDI

28.KUWU MADERI
        2013 -2018 

29.KUWU MOH. MANGSUR 2018-2030



 

Penulis : Mufti Ali Adzakir Krangkeng (23-07-2016 Tersusun dan dipublikasikan)

089509013330-083827996777 

 


PEDATI KUNO

Kamis, 28 Januari 2016

Legenda Pedati Kuno Dampu Awang dan Keterkaitannya dengan Sejarah Desa Junti, Dadap, Sendang, dan Krangkeng

A. Pedati Kuno sebagai Warisan Sejarah Lokal

Di Desa Krangkeng, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, hingga saat ini masih tersimpan beberapa bagian dari sebuah pedati kuno. Pedati merupakan alat transportasi tradisional berupa gerobak beroda yang ditarik oleh hewan seperti kerbau, sapi, lembu, ataupun kuda. Pada masa lampau, pedati menjadi sarana utama untuk mengangkut hasil pertanian, barang dagangan, maupun perlengkapan perjalanan jarak jauh.

Sisa-sisa pedati tersebut disimpan di sebuah bangunan sederhana yang berada di belakang Kantor Desa Krangkeng. Bagi masyarakat setempat, benda itu bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari sebuah legenda besar yang menghubungkan sejarah beberapa desa di wilayah Kabupaten Indramayu dan Cirebon, yaitu Desa Krangkeng, Desa Junti, Desa Dadap, Desa Sendang, serta kawasan Gunung Sembung.

Menurut tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun, pedati kuno tersebut berkaitan dengan perjalanan seorang tokoh legendaris bernama Dampu Awang.

B. Raja Tiongkok dan Hilangnya Sang Putri

Konon pada masa lampau hiduplah seorang raja dari negeri Tiongkok yang bernama Raja Titongki. Raja tersebut memiliki seorang putri yang terkenal sangat cantik, bijaksana, dan berkepribadian lembut.

Suatu ketika sang putri jatuh hati kepada seorang pemuda yang dikenal sebagai Syarif Hidayat, tokoh yang kemudian hari dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Karena cintanya yang begitu besar, sang putri memutuskan meninggalkan istana dan berlayar menuju Pulau Jawa untuk mencari Syarif Hidayat yang saat itu berada di wilayah Cirebon.

Kepergian putrinya membuat Raja Titongki sangat cemas. Meskipun merasa sedih, sang raja memahami bahwa putrinya telah menentukan jalan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, ia mengutus salah seorang panglima kepercayaannya, Dampu Awang, untuk menyusul sang putri ke Pulau Jawa.

Sebagai bekal kehidupan putrinya, Raja Titongki memerintahkan Dampu Awang membawa dua pedati penuh berisi emas, permata, dan berbagai barang berharga. Harta tersebut dimaksudkan agar sang putri tetap dapat hidup berkecukupan apabila benar-benar menetap di tanah Jawa.

C. Kedatangan di Pesisir Junti

Rombongan Dampu Awang akhirnya mendarat di kawasan pesisir utara yang sekarang dikenal sebagai Desa Junti, Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu.

Menurut cerita masyarakat, sebelum rombongan Dampu Awang tiba, Putri Raja Titongki telah lebih dahulu sampai di pesisir tersebut dan mendapat pertolongan dari Ki Ageng Junti, tokoh yang dihormati oleh masyarakat setempat. Dari Junti, sang putri kemudian melanjutkan perjalanan menuju Keraton Pakungwati di Cirebon untuk menemui Syarif Hidayat.

Sesampainya di Junti, Dampu Awang bertanya kepada Ki Ageng Junti mengenai arah menuju Cirebon. Ketika berada di kediaman Ki Ageng Junti, ia melihat putri Ki Ageng Junti yang memiliki paras sangat cantik. Seketika Dampu Awang terpikat dan berniat mempersuntingnya.

D. Sayembara Menembus Pagar Bambu

Ki Ageng Junti sebenarnya tidak berkenan menerima lamaran tersebut. Selain karena Dampu Awang bukan seorang muslim, ia juga merasa sifat Dampu Awang kurang mencerminkan seorang calon menantu yang baik.

Namun untuk menjaga hubungan baik dan menghindari penolakan secara langsung, Ki Ageng Junti memberikan sebuah syarat.

Dampu Awang diminta menembus pagar pekarangan rumah yang terbuat dari rumpun bambu ori dengan lebar sekitar satu setengah meter hanya dalam waktu satu malam.

Dampu Awang menerima syarat tersebut tanpa ragu. Ketika malam tiba, ia memiliki siasat yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Ia menaburkan kepingan-kepingan emas di sela-sela rumpun bambu yang menjadi pagar pekarangan.

Melihat emas berserakan, penduduk berbondong-bondong datang untuk memungutnya. Demi memperoleh emas tersebut, mereka menebang dan merobohkan rumpun-rumpun bambu tanpa mengetahui maksud sebenarnya.

Menjelang pagi, pagar bambu telah terbuka lebar. Dampu Awang menganggap dirinya berhasil memenuhi syarat yang diberikan.

Namun bagi Ki Ageng Junti, kemenangan itu diperoleh melalui cara yang tidak jujur. Beliau menilai bahwa syarat tersebut seharusnya dipenuhi dengan usaha sendiri, bukan memanfaatkan keserakahan orang lain.

E. Pelarian ke Gunung Sembung

Menyadari tipu muslihat Dampu Awang, Ki Ageng Junti bersama keluarganya segera meninggalkan Junti menuju Gunung Sembung, salah satu kawasan yang dikenal sebagai pusat penyebaran agama Islam di wilayah Cirebon.

Di tempat itu mereka meminta perlindungan kepada seorang ulama yang disegani, yaitu Syekh Bentong.

Sebagai ungkapan terima kasih atas kesediaannya memberikan perlindungan, Ki Ageng Junti berjanji akan menikahkan putrinya dengan Syekh Bentong apabila berhasil menyelamatkannya dari kejaran Dampu Awang.

Untuk menyembunyikan sang putri, Syekh Bentong menempatkannya di pucuk sebuah pohon gebang yang sangat tinggi. Tempat persembunyian itu dipercaya menjadi asal-usul nama Ujunggebang.

Tidak lama kemudian Dampu Awang tiba di Gunung Sembung. Terjadilah perdebatan panjang antara Dampu Awang dan Syekh Bentong yang kemudian berubah menjadi pertempuran.

Menurut legenda, pertempuran tersebut dimenangkan oleh Syekh Bentong. Dampu Awang gagal membawa pulang putri Ki Ageng Junti, sedangkan Syekh Bentong kemudian menikahi putri tersebut dan menetap di wilayah Ujunggebang.

F. Pertemuan dengan Nyi Ageng Benda

Merasa gagal, Dampu Awang kembali menuju pesisir Junti. Dari dua pedati penuh harta yang dibawanya, sebagian besar emas telah habis digunakan selama perjalanan sehingga tersisa sekitar satu setengah pedati.

Ia tetap melanjutkan perjalanan menuju Cirebon untuk menyerahkan sisa bekal kepada Putri Raja Titongki.

Namun di tengah perjalanan, Dampu Awang kembali terpikat kepada seorang perempuan cantik bernama Nyi Ageng Benda, yang tinggal di kawasan pesisir utara.

Tanpa mengetahui bahwa Nyi Ageng Benda telah memiliki suami yang sedang melaut, Dampu Awang menyampaikan keinginannya untuk menikahinya.

Nyi Ageng Benda menolak secara halus. Ia memberikan syarat agar Dampu Awang membangun sebuah keraton megah hanya dalam waktu satu malam.

G. Keraton yang Tak Pernah Selesai

Dampu Awang kembali menerima tantangan tersebut. Bersama para pengikutnya ia bekerja tanpa henti sepanjang malam membangun sebuah keraton.

Mereka bekerja sangat cepat sehingga menjelang fajar sebagian besar bangunan telah selesai. Akan tetapi ketika matahari mulai terbit, pekerjaan baru mencapai bagian pintu gerbang.

Karena waktu telah habis, syarat tersebut dianggap tidak terpenuhi.

Dampu Awang kecewa dan tetap memaksa Nyi Ageng Benda menerima lamarannya. Namun perempuan itu tetap menolak dan melarikan diri menuju kawasan pantai yang dipenuhi pohon dadap.

Di tempat persembunyian itu Nyi Ageng Benda terus berdoa agar suaminya segera pulang dari laut.

H. Asal-Usul Desa Dadap

Legenda masyarakat menyebutkan bahwa Dampu Awang kembali menggunakan cara yang sama seperti sebelumnya. Ia menaburkan emas di sepanjang jalur pelarian Nyi Ageng Benda dengan harapan orang-orang akan menunjukkan tempat persembunyiannya.

Namun kali ini usahanya tidak berhasil.

Nyi Ageng Benda tetap bersembunyi di antara rindangnya pohon-pohon dadap sambil setia menunggu kepulangan suaminya.

Kesetiaan tersebut dipercaya mendapat balasan dari alam. Konon garis pantai di kawasan itu semakin melebar sehingga Nyi Ageng Benda dapat memandang lautan lebih jauh untuk menantikan kedatangan suaminya.

Karena kawasan tersebut dipenuhi pohon dadap, masyarakat kemudian mengenalnya sebagai Desa Dadap.

I. Pedati yang Ditinggalkan

Setelah mengalami kegagalan demi kegagalan, Dampu Awang akhirnya memutuskan mengakhiri perjalanannya.

Sebagian harta bendanya telah habis, sementara pedati yang semula digunakan mengangkut emas tidak lagi memiliki muatan.

Menurut legenda, pedati kosong tersebut ditinggalkan di wilayah Krangkeng. Bagian-bagian pedati itulah yang dipercaya masih tersimpan hingga sekarang di belakang Kantor Desa Krangkeng sebagai peninggalan sejarah masyarakat.

Sementara itu, sisa bangunan pintu gerbang keraton yang tidak sempat diselesaikan dipercaya masih dapat dijumpai di Blok Benda, Desa Sendang, tepatnya di sebelah utara lapangan sepak bola desa.

Ilistrasi I

Ilustrasi II

Ilustrasi III


J. Nilai Budaya dan Catatan Historis

Kisah Dampu Awang merupakan salah satu legenda yang sangat dikenal di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu dan Cirebon. Cerita ini hidup melalui tradisi lisan dan memiliki berbagai versi di setiap daerah.

Walaupun belum didukung oleh bukti sejarah tertulis yang dapat memastikan seluruh rangkaian peristiwanya, legenda tersebut memiliki nilai budaya yang tinggi. Kisah ini mengajarkan pentingnya kejujuran, kesetiaan, penghormatan terhadap pilihan hidup seseorang, serta penyelesaian persoalan dengan kebijaksanaan.

Bagi masyarakat Krangkeng, Junti, Dadap, Sendang, dan wilayah sekitarnya, pedati kuno bukan sekadar benda peninggalan masa lalu. Pedati tersebut menjadi simbol perjalanan sejarah, identitas budaya, dan warisan leluhur yang menghubungkan beberapa desa dalam satu rangkaian legenda yang terus dikenang hingga sekarang.

Gambar penampakan Situs :

Beberapa tulisan di Pedati yang mash bisa di kenali dan di baca :
Gambar I :
Gambar II
Gambar III
Gambar IV
Gambar V
Gambar VI
Gambar VII

Telaga Krangkeng (Telaga Sari)

Rabu, 27 Januari 2016

Legenda Telaga Krangkeng (Telaga Sari)

A. Telaga Sari sebagai Warisan Budaya Masyarakat Krangkeng

Di wilayah Desa Kali Anyar, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, terdapat sebuah telaga tua yang oleh masyarakat lebih dikenal dengan nama Telaga Sari atau Telaga Krangkeng. Keberadaan telaga ini telah dikenal sejak masa lampau dan hingga kini masih menjadi salah satu situs yang memiliki nilai sejarah serta budaya bagi masyarakat setempat.

Hingga sekarang belum ditemukan sumber sejarah tertulis yang dapat menjelaskan secara pasti kapan Telaga Sari terbentuk maupun siapa yang pertama kali membuatnya. Oleh karena itu, asal-usul telaga ini lebih banyak dikenal melalui cerita rakyat yang diwariskan secara lisan dari para sesepuh kepada generasi berikutnya.

Meskipun memiliki beberapa versi, seluruh kisah tersebut menunjukkan bahwa Telaga Sari merupakan tempat yang dianggap penting dalam perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat Krangkeng.

B. Jejak Perang Jaya Sena dan Arimba

Salah satu cerita yang berkembang di masyarakat disampaikan oleh seorang tokoh masyarakat Desa Kali Anyar. Menurut penuturannya, Telaga Sari berkaitan dengan peperangan besar antara dua tokoh legendaris, yaitu Jaya Sena dan Arimba.

Konon peperangan itu berlangsung sangat dahsyat. Kedua kesatria tersebut saling mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki sehingga bumi berguncang dan alam di sekitarnya mengalami perubahan.

Setelah peperangan berakhir, bekas pertempuran dipercaya meninggalkan dua cekungan besar yang kemudian terisi oleh mata air alami. Cekungan pertama berada di wilayah Krangkeng dan dikenal sebagai Telaga Sari, sedangkan cekungan lainnya berada di kaki Gunung Ciremai yang kemudian dikenal sebagai Telaga Remis.

Masyarakat memaknai kedua telaga tersebut sebagai saksi bisu dari peristiwa besar yang terjadi pada masa lampau. Walaupun kisah ini berkembang dalam bentuk legenda, cerita tersebut telah menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat hingga sekarang.

C. Sayembara Menyelam Nyi Gede Krangkeng dan Ki Gede Bungko

Versi lain mengenai Telaga Sari disampaikan oleh para sesepuh desa, salah satunya yang dikenal dengan sebutan Pak Suta.

Menurut kisah tersebut, Telaga Sari pernah menjadi lokasi berlangsungnya sebuah sayembara antara dua tokoh besar yang berpengaruh di wilayah pesisir utara, yaitu Nyi Gede Krangkeng dan Ki Gede Bungko.

Sayembara itu berupa perlombaan menyelam ke dasar telaga untuk membuktikan siapa yang memiliki kesaktian, ketahanan, dan kemampuan spiritual yang lebih tinggi.

Masyarakat percaya bahwa telaga pada masa itu memiliki kedalaman yang luar biasa. Airnya sangat jernih dan tidak pernah surut meskipun musim kemarau panjang melanda.

Walaupun tidak ada catatan yang menjelaskan secara rinci siapa yang memenangkan sayembara tersebut, legenda ini menunjukkan bahwa Telaga Sari sejak dahulu telah dipandang sebagai tempat yang memiliki nilai penting, baik secara spiritual maupun sosial.

D. Air Telaga untuk Hajatan di Cirebon

Cerita lain menyebutkan bahwa air Telaga Sari pernah diminta untuk digunakan dalam sebuah hajatan besar di wilayah Cirebon.

Menurut penuturan masyarakat, seorang tokoh bernama Ki Luber mengambil air dari Telaga Sari karena dipercaya memiliki kesucian dan keberkahan. Air tersebut kemudian dibawa ke Cirebon sebagai bagian dari keperluan upacara adat maupun hajatan penting.

Kisah mengenai Ki Luber selanjutnya juga berkaitan dengan tokoh bernama Ki Sura Madi, yang menurut cerita memperoleh amanah dari Ki Luber untuk menjaga hubungan baik antara masyarakat Krangkeng dan Cirebon.

Walaupun cerita tersebut berkembang dalam berbagai versi, masyarakat tetap mempercayai bahwa Telaga Sari memiliki nilai spiritual sehingga airnya dianggap membawa keberkahan.

E. Legenda Ikan Telaga Sari dan Dedeg Seranggi

Legenda yang paling terkenal mengenai Telaga Sari berkaitan dengan usaha mengambil ikan-ikan yang hidup di dalam telaga untuk memenuhi kebutuhan Keraton Cirebon.

Dikisahkan bahwa pada suatu waktu pihak Cirebon memerintahkan sekelompok orang untuk mengambil ikan dari Telaga Sari. Ikan-ikan tersebut akan digunakan dalam sebuah keperluan penting di lingkungan keraton.

Namun ketika rombongan tiba di telaga, mereka dihadang oleh seekor makhluk gaib yang disebut Dedeg Seranggi.

Menurut cerita masyarakat, Dedeg Seranggi bukanlah makhluk biasa. Ia mampu menjelma menjadi seorang kesatria bernama Raden Malanggana yang memiliki kesaktian tinggi.

Terjadilah pertempuran sengit antara Raden Malanggana dengan rombongan utusan dari Cirebon.

Dalam pertempuran tersebut, Raden Malanggana berhasil mengalahkan seluruh rombongan sehingga mereka gagal membawa ikan dari Telaga Sari.

F. Ki Lokawi Mengeringkan Telaga

Setelah kegagalan itu, pihak Cirebon kemudian meminta bantuan seorang tokoh dari Krangkeng yang bernama Ki Lokawi.

Berbeda dengan rombongan sebelumnya, Ki Lokawi tidak menggunakan kekuatan senjata. Ia memilih mengeringkan Telaga Sari agar ikan-ikan di dalamnya dapat diambil dengan mudah.

Bersama masyarakat, Ki Lokawi mulai membuat saluran untuk mengalirkan air telaga keluar. Sedikit demi sedikit permukaan air mulai surut.

Namun pekerjaan itu berlangsung hingga menjelang waktu magrib.

Karena masyarakat pada masa itu sangat menghormati waktu senja, pekerjaan kemudian dihentikan dan dilanjutkan keesokan harinya.

G. Doa Dedeg Seranggi

Pada malam hari, ketika pekerjaan telah berhenti, istri Dedeg Seranggi merasa sangat sedih melihat telaga yang menjadi tempat tinggal mereka hampir mengering.

Dengan penuh keprihatinan, ia menangis di hadapan suaminya.

Mendengar tangisan tersebut, Dedeg Seranggi kemudian memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar hujan segera turun dan mengembalikan air Telaga Sari seperti sediakala.

Menurut legenda masyarakat, tidak lama setelah doa dipanjatkan, langit berubah menjadi gelap. Awan tebal berkumpul dan hujan turun dengan sangat deras sepanjang malam.

Air hujan mengisi kembali Telaga Sari hingga permukaannya kembali seperti semula.

Usaha mengeringkan telaga pun akhirnya gagal.

H. Asal Tradisi Memohon Hujan

Walaupun gagal mengeringkan telaga, Ki Lokawi dipercaya sempat mendengar doa yang dipanjatkan Dedeg Seranggi.

Beliau kemudian menyampaikan isi doa tersebut kepada masyarakat dan para pemimpin di Cirebon.

Sejak saat itu masyarakat Krangkeng meyakini bahwa doa yang dipanjatkan dengan penuh ketulusan memiliki kekuatan yang besar.

Oleh sebab itu, hingga sekarang masih berkembang tradisi bahwa apabila musim kemarau berlangsung sangat panjang dan hujan tidak kunjung turun, sebagian masyarakat Krangkeng melakukan doa bersama di makam Ki Lokawi.

Tradisi tersebut dilakukan sebagai bentuk ikhtiar spiritual dengan harapan Allah SWT menurunkan hujan yang membawa keberkahan bagi sawah, ladang, dan kehidupan masyarakat.

I. Nilai Budaya dan Makna Legenda

Legenda Telaga Sari merupakan salah satu warisan budaya lisan yang sangat penting bagi masyarakat Kecamatan Krangkeng.

Walaupun belum dapat dibuktikan secara historis melalui sumber tertulis, cerita-cerita mengenai Jaya Sena, Arimba, Nyi Gede Krangkeng, Ki Gede Bungko, Ki Luber, Ki Lokawi, Dedeg Seranggi, dan Raden Malanggana telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

Kisah tersebut mengandung berbagai nilai luhur, antara lain pentingnya menjaga keseimbangan alam, menghormati sumber air sebagai anugerah Tuhan, menyelesaikan persoalan dengan kebijaksanaan, serta meyakini bahwa doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan merupakan salah satu bentuk ikhtiar dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup.

Hingga kini Telaga Sari tetap dikenang bukan hanya sebagai sebuah telaga tua, melainkan sebagai simbol sejarah, budaya, dan kearifan lokal masyarakat Krangkeng yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Singgahnya Tokoh-tokoh Sakti dan Pasukan Dari China di Krangkeng

Legenda Panglima Tiampokwang dan Kereta Kayu Kerangkeng

A. Masyarakat Awal Desa Kerangkeng

Menurut tradisi lisan yang berkembang di masyarakat, Desa Kerangkeng merupakan salah satu kawasan tua di wilayah pesisir utara Indramayu yang sejak awal pertumbuhannya telah dipengaruhi oleh perkembangan agama Islam. Kehidupan masyarakat perlahan berubah seiring datangnya para ulama, tokoh agama, dan pendatang dari berbagai daerah yang membawa ajaran Islam serta nilai-nilai kehidupan baru.

Perubahan tersebut tidak terjadi dalam waktu singkat, melainkan melalui proses yang panjang. Sistem pemerintahan, kehidupan sosial, adat istiadat, hingga cara masyarakat bermusyawarah mengalami penyesuaian dengan ajaran Islam yang berkembang pada masa itu. Para tokoh agama dihormati bukan hanya sebagai penyebar agama, tetapi juga sebagai penengah dalam berbagai persoalan masyarakat.

Di tengah berkembangnya kehidupan masyarakat itulah lahir berbagai kisah yang kemudian menjadi legenda, salah satunya adalah kisah mengenai Panglima Tiampokwang dan kereta kayu tanpa paku yang hingga kini masih dikenang oleh masyarakat Kerangkeng.

B. Kedatangan Panglima dari Negeri Tiongkok

Legenda masyarakat mengisahkan bahwa setelah Putri Ong Tien diserahkan kepada Kesultanan Cirebon, beberapa panglima yang mengawal rombongan tersebut memiliki jalan hidup yang berbeda-beda.

Salah seorang panglima bernama Guancang memilih menetap di Cirebon bersama para pengikutnya. Mereka kemudian memeluk agama Islam dan menjadi bagian dari masyarakat Cirebon.

Panglima lainnya, yaitu Lieguanhin, berniat kembali ke negeri asalnya. Akan tetapi dalam perjalanan pulang, rombongannya singgah di kawasan pesisir utara yang kelak berkembang menjadi wilayah Kerangkeng.

Sementara itu terdapat seorang panglima lain yang memiliki kemampuan luar biasa, yaitu Tiampokwang.

C. Panglima Tiampokwang

Dalam legenda masyarakat, Tiampokwang digambarkan sebagai seorang panglima yang memiliki kecerdasan di berbagai bidang. Ia memahami ilmu pemerintahan, perdagangan, pertanian, strategi perang, hingga seni pertukangan.

Selain itu, Tiampokwang juga dikenal sebagai pendekar yang menguasai berbagai ilmu bela diri, ilmu kanuragan, serta ilmu kekebalan yang pada masa itu dipercaya dimiliki oleh para kesatria.

Namun kemampuan yang paling membuat masyarakat kagum bukanlah kesaktiannya, melainkan kepandaiannya membuat kereta kayu tanpa menggunakan satu batang paku pun.

Dengan memanfaatkan sambungan kayu yang sangat presisi, Tiampokwang mampu menciptakan kereta yang kokoh, indah, dan mudah digunakan untuk menempuh perjalanan jauh.

Keahlian tersebut membuat kawasan tempat tinggalnya, yang menurut sebagian masyarakat berada di wilayah Roban, terkenal sebagai pusat pembuatan kereta kayu.

Banyak bangsawan maupun saudagar datang untuk memesan kereta buatannya. Ada kereta beroda dua, ada pula yang beroda empat. Sebagian dihiasi ukiran yang indah, sementara sebagian lainnya dibuat sederhana namun tetap kuat. Kereta-kereta tersebut ditarik oleh sepasang kerbau pilihan yang telah dilatih secara khusus.

D. Ki Badur, Murid Kesayangan

Di antara sekian banyak murid Tiampokwang, terdapat seorang yang paling menonjol bernama Ki Badur.

Ki Badur dikenal sebagai murid yang paling mahir dalam ilmu bela diri sekaligus pertukangan. Karena kepandaiannya, ia sering dipercaya menggunakan kereta terbaik milik gurunya.

Suatu hari, sekitar tahun 1486 M menurut penuturan masyarakat, Ki Badur meminta izin kepada gurunya untuk meminjam sebuah kereta kayu yang paling indah.

Tujuannya sederhana, yaitu mengunjungi kekasihnya yang bernama Nyi Balimbing, seorang perempuan cantik yang tinggal di daerah Kapetakan.

Nyi Balimbing terkenal karena kecantikannya sehingga banyak pemuda ingin mempersuntingnya. Namun hatinya hanya tertuju kepada Ki Badur.

Setelah memperoleh izin, Ki Badur berangkat menggunakan kereta yang ditarik oleh sepasang kerbau kesayangannya, yaitu Maesa Gatra dan Maesa Gatri.

E. Pertemuan dengan Mbah Kuwu Cirebon

Menurut legenda, kereta buatan Tiampokwang bukanlah kereta biasa.

Karena dibuat oleh seorang ahli yang memiliki ilmu tinggi, kereta tersebut dipercaya mampu melewati rawa, sungai, bahkan permukaan air tanpa tenggelam.

Dalam perjalanan menuju Kapetakan, Ki Badur melihat sebuah perahu yang sedang melintas.

Perahu tersebut ternyata ditumpangi oleh Mbah Kuwu Cirebon.

Entah karena kesombongan atau sekadar ingin menunjukkan kesaktiannya, Ki Badur mengucapkan sebuah kutukan sehingga perahu itu tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan kandas.

Mbah Kuwu yang terkejut kemudian berdoa kepada Tuhan agar orang yang berbuat zalim kepadanya memperoleh balasan yang setimpal.

Tidak lama kemudian, kereta Ki Badur tiba-tiba berhenti dan tidak dapat digerakkan sedikit pun.

Walaupun Ki Badur mengerahkan seluruh ilmu kesaktiannya, kereta itu tetap tidak dapat dipindahkan.

F. Kerbau yang Dipotong Warga

Peristiwa tersebut menarik perhatian masyarakat Kapetakan.

Orang-orang berdatangan dari berbagai penjuru untuk menyaksikan kereta yang tidak dapat bergerak itu.

Dalam keramaian tersebut, seseorang mengusulkan agar kerbau yang menarik kereta dipotong saja dan dagingnya dibagikan kepada masyarakat.

Usul itu segera disambut oleh warga.

Tanpa mengetahui bahwa kerbau tersebut milik Ki Badur, masyarakat beramai-ramai menyembelih Maesa Gatra dan Maesa Gatri.

Tak lama kemudian seluruh warga menikmati daging kedua kerbau tersebut.

G. Asal-Usul Ungkapan "Ora Weruh"

Ketika Ki Badur kembali, ia sangat terkejut mendapati kedua kerbau kesayangannya telah hilang.

Dengan marah ia bertanya kepada masyarakat,

"Siapa yang mengambil kerbauku?"

Masyarakat menjawab secara serempak,

"Kami tidak tahu."

Namun menurut legenda, karena kerbau itu telah dimakan oleh banyak orang, dari dalam perut mereka terdengar suara yang menyerupai lenguhan kerbau,

"Eee... eee..."

Sehingga jawaban mereka terdengar menjadi,

"Tidak tahu... eee..."

Cerita rakyat kemudian mengaitkan peristiwa itu dengan munculnya ungkapan "ora weruh" yang berarti tidak tahu, meskipun hubungan tersebut bersifat simbolis dan hanya terdapat dalam legenda masyarakat.

H. Sayembara Kereta Kayu

Karena kereta itu tidak dapat dipindahkan, Ki Badur meminta petunjuk kepada gurunya, Tiampokwang.

Atas izin sang guru, diumumkanlah sebuah sayembara.

Barang siapa mampu mengangkat dan memindahkan kereta kayu tersebut, maka kereta itu akan menjadi miliknya.

Berita itu menyebar ke berbagai daerah.

Banyak pendekar, bangsawan, serta orang-orang yang mengaku memiliki kesaktian datang mencoba keberuntungan.

Ada yang menggunakan tenaga, ada yang mengandalkan ilmu kanuragan, bahkan ada pula yang memanjatkan doa-doa khusus.

Namun tidak seorang pun berhasil mengangkat kereta tersebut.

Masyarakat kemudian percaya bahwa kereta itu hanya dapat digerakkan oleh orang yang memiliki hati bersih, tidak sombong, dan mendapat izin dari Yang Maha Kuasa.

I. Nilai Budaya dan Makna Legenda

Legenda Panglima Tiampokwang dan kereta kayu merupakan salah satu cerita rakyat yang hidup di wilayah Kerangkeng dan sekitarnya.

Walaupun belum didukung oleh bukti sejarah tertulis yang dapat memastikan kebenaran seluruh peristiwanya, kisah ini memiliki nilai budaya yang penting sebagai bagian dari warisan lisan masyarakat.

Cerita tersebut mengandung pesan moral bahwa kesombongan akan membawa kesulitan, sedangkan keahlian harus disertai kerendahan hati. Selain itu, legenda ini juga memperlihatkan tingginya kemampuan masyarakat masa lampau dalam bidang pertukangan, transportasi tradisional, serta hubungan budaya antara wilayah pesisir Indramayu dan Cirebon.

Hingga kini, kisah Tiampokwang, Ki Badur, dan kereta kayu tanpa paku masih dikenang sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Kerangkeng. Meskipun berkembang dalam berbagai versi, legenda tersebut tetap menjadi warisan yang memperkaya sejarah lisan Kabupaten Indramayu dan menjadi pengingat akan nilai-nilai kebijaksanaan yang diwariskan oleh para leluhur.