Silsilah KY.NGABEI LORING PASAR

Jumat, 30 September 2016

Silsilah
KY.NGABEI LORING PASAR

Danang Sutawijaya (lahir: - wafat: Jenar, 1601) adalah pendiri Kesultanan Mataram yang memerintah sebagai raja pertama pada tahun 1587-1601, bergelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa Tokoh ini dianggap sebagai peletak dasar-dasar Kesultanan Mataram. Riwayat hidupnya banyak digali dari kisah-kisah tradisional, misalnya naskah-naskah babad karangan para pujangga zaman berikutnya.

Danang Sutawijaya atau Dananjaya adalah putra sulung pasangan Ky.Ageng Pamanahan dan Nyi.Sabinah .

Ky.Ageng Pamanahan sendiri  adalah keturunan Brawijaya raja terakhir Majapahit , Sedangkan Nyi.Sabinah adalah keturunan Sunan Giri anggota Walisanga. Hal ini seolah-olah menunjukkan adanya upaya para pujangga untuk mengkultuskan raja-raja Kesultanan Mataram sebagai keturunan orang-orang istimewa.

NY.Sabinah memiliki kakak laki-laki bernama Ki Juru Martani , yang kemudian diangkat sebagai patih pertama Kesultanan Mataram. Ia ikut berjasa besar dalam mengatur strategi menumpas Arya Penangsang pada tahun 1549.

Sutawijaya di ambil sebagai anak nagkat oleh Hadiwijaya bupati pajang sebagai pancingan, karena pernikahan Hadiwijaya dan istrinya sampai saat itu belum dikaruniai anak. Sutawijaya kemudian diberi tempat tinggal di sebelah utara pasar sehingga ia pun terkenal dengan sebutan Raden Ngabei Loring Pasar .

Penulis: Mufti Ali Elang Wetaning Pasar
Kalianyar-Krangkeng-Indramayu

Versi Mankunegara

Silsilah Panembahan Senopati versi Mangkunegaran
Silsilah Keturunan Lengkap :
Kanjeng Panembahan Senopati / Raden Sutawijaya (Sultan Mataram ke 1, pendiri, 1587-1601) menikah dengan 3 istri melahirkan putra-putri 14 orang :

0001. Gusti Kanjeng Ratu Pambayun / Retna Pembayun
0002. Pangeran Ronggo Samudra (Adipati Pati)
0003. Pangeran Puger / Raden Mas Kentol Kejuro (Adipati Demak)
0004. Pangeran Teposono
0005. Pangeran Purbaya / Raden Mas Damar
0006. Pangeran Rio Manggala
0007. Pangeran Adipati Jayaraga / (Raden Mas Barthotot)

0008. Panembahan Hadi Prabu Hanyokrowati/Panembahan Seda ing
            Krapyak (Sultan Mataram ke 2, 1601-1613) menikah dengan Ratu
            Tulung Ayu dan Dyah Banowati / Ratu Mas Hadi (Cicit dari Raden
            Joko Tingkir & Ratu Mas Cempaka), menurunkan putra-putri 12
            orang :

                     001.   Sultan Agung / Raden Mas Djatmika (1593-1645),
                                 Sultan
                                 Mataram ke 3 (1613-1645) menikah dengan Permaisuri
                                  ke 1 Kanjeng Ratu Kulon / Ratu Mas Tinumpak (putri
                                  Panembahan Ratu Cirebon ke 4 setelah Sunan Gunung
                                 Jati), permaisuri ke 2 Kanjeng Ratu Batang / Ratu Ayu
                                 Wetan / Kanjeng Ratu Kulon mempunyai 9 orang putra
                                  putri :
                                                01.    Raden Mas Sahwawrat / Pangeran
                                                            Temenggong Pajang
                                                02.     Raden Mas Kasim / Pangeran Demang
                                                           Tanpa Nangkil
                                                 03.    Pangeran Ronggo Kajiwan
                                                 04.    Gusti Ratu Ayu Winongan
                                                 05.    Pangeran Ngabehi Loring Pasar
                                                 06.    Pangeran Ngabehi Loring Pasar
                                                 07.     Sunan Prabu Amangkurat Agung /
                                                            Amangkurat I / Raden Mas Sayidin 
                                                            (Sultan Mataram ke 4, 1646-1677) wafat
                                                             13 Juli 1677 di Banyumas
                                                 08.    Gusti Raden Ayu Wiromantri
                                                 09.    Pangeran Danupoyo
                       002.   Pangeran Mangkubumi
                       003.   Pangeran Bumidirja
                       004.   Pangeran Arya Martapura / Raden Mas Wuryah
                                   (1605-1688)
                       005.   Ratu Mas Sekar / Ratu Pandansari
                       006.   Kanjeng Ratu Mas Sekar
                       007.   Pangeran Bhuminata
                       008.   Pangeran Notopuro
                       009.   Pangeran Pamenang
                       010.  Pangeran Sularong / Raden Mas Chakra (wafat
                                   Desember 1669)
                        011.  Gusti Ratu Wirokusumo
                        012.   Pangeran Pringoloyo
                                         

0009. Gusti Raden Ayu Demang Tanpa Nangkil
0010. Gusti Raden Ayu Wiramantri
0011. Pangeran Adipati Pringgoloyo I (Bupati Madiun, 1595-1601)
0012. Ki Ageng Panembahan Djuminah/Pangeran Djuminah/Pangeran
            Blitar I (Bupati Madiun, 1601-1613)
0013. Pangeran Adipati Martoloyo / Raden Mas Kanitren (Bupati      
            Madiun
            1613-1645)
0014. Pangeran Tanpa Nangkil


PENJELASAN
Perhatikan kode 0 (nol) Untuk kode keturunan biar tidak bingung.
Ada yang 0 nya 1,2 dan 3

SEJARAH SINGKAT DESA LUWUNGGESIK

Rabu, 14 September 2016

SEJARAH SINGKAT DESA LUWUNGGESIK

Bismillahirrokhmaanirrokhiim….
Seperti halnya desa-desa lain, desa Luwunggesik juga mempunyai sejarah atau latar belakang sebelum desa ini ada. Menurut cerita,  Luwung berasal dari kata suwung yang artinya alas (hutan) sedangkan gesik berasal dari kata kisik yang artinya pinggir laut. Jadi, dapat disimpulkan Luwunggesik adalah desa atau daerah yang dulunya hutan yang berada di pinggir laut.

Awal mula seseorang, sebut saja namanya Ki Gede menemukan daerah ini dengan cara sama seperti  yang pernah dilakukan para penemu-penemu daerah terdahulu yaitu dengan cara babad alas. Namun, ketika diketahui hasil babad tersebut kecil, maka Ki Gede bermaksud meninggalkan daerah ini, dengan tujuan mencari daerah yang lebih luas. Daerah ini dianggap kecil oleh Ki Gede karena sebelumnya sudah ada yg menduduki di masing-masing sisinya, sebelah selatan dan utara sudah ada daerah Bungko dan daerah Krangkeng (Kali Anyar), di sisi barat sudah ada daerah Srengseng, sementara di sisi timur adalah laut.

Akhirnya Ki Gede benar-benar meninggalkan daerah ini, dan kemudian menemukan daerah yang diinginkannya, yang sekarang diketahui daerah tersebut bernama Gegesik yang berada di kabupaten Cirebon.

Bertahun-tahun kemudian setelah Ki Gede berkeluarga, barulah ia ingat kala dulu pernah mempunyai daerah yang berada di pinggir laut, yang berada di perbatasan antara Cirebon dan Indramayu. Akhirnya Ki Gede mengutus anak perempuannya untuk kembali mencari daerah yang pernah ditinggalkannya dulu.

Ketika Putri sampai, ternyata daerah ini sudah ada yang menduduki, yang tak lain adalah Ki Gede Bungko yang dulunya berbatasan di sebelah selatan desa. Adu argumen pun mulai pecah, ketika selisih pendapat tak menemui jalannya, datanglah Nyi Mas Krangkeng (Ki Gede Krangkeng) untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut. Nyi Mas sendiri tahu kalau memang sebenarnya ada seseorang yang menemukan daerah yang berada diantara Krangkeng dan Bungko ini, akhirnya Nyi Mas membantu Putri ke Gede untuk mengurus semuanya.

Singkat cerita, Ki Gede Bungko akhirnya mengakui bahwa daerah ini adalah daerah yang pernah ditemukan oleh ayah dari Putri tersebut, dan pembatasan wilayah pun dilakukan. Seperti yang diceritakan dari awal di sebelah selatan berbatasan dengan daerah Bungko yang di tandai dengan Kali Pamengkang dan Kedokan Beta, di sebelah utara berbatasan dengan daerah Krangkeng (Kali Anyar), di sisi barat berbatasan dengan daerah Srengseng, sementara di sisi timur adalah laut.

Dan akhirnya daerah ini diberi dengan nama desa Luwunggesik. Diantaranya mengartikan desa Luwunggesik yang berarti daerah hutan yang berada di pinggir laut, dan diantaranya pula mengatakan bahwa desa Luwunggesik mempunyai arti daerah hutan yang ditinggalkan pemiliknya ke daerah Gegesik.

Desa Luwunggesik sendiri belum diketahui oleh siapa dan sejak kapan ditemukan oleh seseorang sebelum kita, karena berbagai sumber mengatakan belum ada yang mengetahuinya.

Demikian sejarah singkat dari desa Luwunggesik, penulis mengambil cerita ini dari berbagai nara sumber, diantaranya adalah dari para sesepuh dan dari para tokoh masyarakat  desa Luwunggesik.

Penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam pengangkatan cerita ini terdapat kesalahan nama  atau tempat kejadian. Kritik dan saran sangatlah penulis harapkan. Kesempurnaan hanyalah milik Allah dan kesalahan hanyalah milik kita.