SEJARAH DESA SEGERAN

Selasa, 04 Agustus 2026

SEJARAH  DESA SEGERAN

Penemuan Perahu Kuno di Desa Segeran Indramayu

1.      Asal Nama Desa Segeran
Menurut arti lugowi nama Desa Segeran berasal dari kata Seger “yang mendapat akhiran “an ". Seger artinya sehat sedangkan an artinya selalu. Jadi secara lugowi nama Segeran artinya sehat-sehat selalu.
Asal nama Desa Segeran diambil dari jalannya peristiwa Ki Ageng Mayung (Ki Arsitem) di waktu melarikan kepalanya Raden Surantaka yang dipenggal lehernya oleh lawan musuhnya. Ia menuju ke arah timur dari Indramayu, di tengah-tengah perjalanan, Ia berhenti karena melihat ke­pala Raden Surantaka seakan-akan minta minum dan mandi.
 Kemudian Ki Ageng Mayung menancapkan pusakanya ke dalam tanah maka keluarlah air yang sangat jernih sekali, lalu dimandikannya kepala Raden Surantaka tersebut, tiba-tiba nampaklah segar. Akhirnya Ki Ageng Mayung (Ki Arsitem) memberikan kenang-kenangan sebuah nama bahwa kelak pedukuhan tersebut dinamakan Desa Segeran.
Dan ada lagi sebagian para sesepuh kuno yang telah berpengalaman tentang sejarah legenda, bahwa nama Desa Segeran ini diambil dari jalannya peristiwa Raden Jaka Lelana dari Aceh yang mau sembah ke Cirebon. Tetapi di tengah-tengah perjalanan bertemu dengan komplotan Pucuk Umum dari gunung kidul, yang dipimpin oleh Syekh Lemah Abang, yang mau menghina Praja Nunggang Toya orang-orang Cirebon karena terjadi perselisihan faham, maka terjadilah pertempuran. Tetapi Raden Jaka Lelana tidak kuat menandingi kesaktian Syekh Lemah Abang, kemudian ia melarikan diri langsung menuju Cirebon. Di tengah-tengah perjalanan ia merasa lelah haus dan dahaga, ingin minum, dengan tiba-tiba dilihatnya sebuah sumur yang airnya sangat jernih, lalu ia minum di situ, setelah minum nampaklah segar atau sehat kembali seperti semula. Akhirnya Raden Jaka Lelana memberikan sebuah kenang-kenangan kepada penduduk tersebut, bahwa kelak dinamai Desa Segeran.
2.      Kisah Ki Gede Segeran yang pertama
Sewaktu runtuhannya kerajaan Panjang, Akibat dari im¬perialisme daerah kerajaan Mataram. Sekitar tahun 1585 banyak para pembesar prajurit Panjang yang melarikan diri, mencari jalan keselamatan. Di antaranya ada 4 orang pembesar kerajaan Panjang yang melarikan diri menuju kearah barat, menyusuri lereng-lereng pegunungan diantara nya yaitu :
  • 1)      Ki Jaka Pedang
  • 2)      Ki Canggarita
  • 3)      Ki Brawijaya
  • 4)      Nyi Dewi (adik Ki Brawijaya)

Keempat orang ini selalu di kejar-kejar oleh pasukan Mataram. Akhirnya pengejaran di hentikan, karena sudah melewati batas kerajaan Mataram. Setelah keempat orang pembesar ini telah merasa aman, dari pengejaran pa­sukan Mataram. Lalu mereka berhenti untuk beristirahat sambil berunding buat mencari hutan yang cocok untuk dibuka pedukuhan baru sambil menyamar, karena mereka masih khawatir, kalau-kalau pasukan Mataram masih selalu membuntutinya dari belakang. Setelah mereka bertahun- ta­hun lamanya dalam pengembaraan, mendaki gunung dan te­murun gunung dari suatu tempat ke tempat lain, tiba-tiba sampailah di daerah Cirebon barat, sekitar lingkungan pegunungan Gundul. Disitu terdapat hulu sungai Randu Kentir, yang melalui desa Segeran dan yang berpusat atau berpapasan dengan sungai Guna Kasian di sekitar pengimbaran Masjid Segeran dan bermuara sungai disamping sebelah utara, kira-kira 100 meter dari Ki Buyut Tuban/Tirta maya ( Muara Sampang ). Sungai ini sekarang sudah musnah me­rata menjadi daratan akibat perubahan alam. Katanya me­nurut sesepuh kuno, kelak akan membuka sendiri.
 Kemudian ke empat orang tersebut, mereka membuat pe­rahu rakit kemudian dinaikinya bersama-sama sambil me­nyusuri aliran sungai Randu Kentir. Akhirnya sampailah di pusat atau dipapasan sungai tersebut yaitu di sekitar alun-alun Masjid Segeran (yang sekarang di namakan Masjid Jami Al Mujahidn). Mereka berhentilah untuk ber­istirahat disitu. Sambil beristirahat mereka berunding untuk bertempat tinggal atau membuka pedukuhan baru di­situ, sambil menyamar. Setelah bersepakat kemudian mere­ka membagi tugasnya masing-masing.
 Ki Brawijaya dengan Nyi Dewi membuka atau  membabad hutannya menuju kearah barat yaitu yang sekarang menjadi Desa Sliyeg.
 Ki Ageng Jaka Pedang dengan Ki Buyut Canggarita mem­buka atau membabad hutannya menuju ke arah timur, yang se karang menjadi Desa Segeran. Adapun kelanjutannya Nyi Dewi mengikuti Ki Jaka Pedang tinggal di Segeran. Pada saat itu agamanya me­reka masih memeluk agama Budha.
3.      Benteng pertahanan desa Segeran
Ki Ageng Jaka Pedang adalah Ki Gede Segeran yang pertama, Ia di dalam menjaga keamanannya dan ketertiban desanya untuk menolak apabila ada serangan baik dari luar maupun dari dalam, dibuatlah kubu-kubu bentang perta¬hanan yang kokoh dan tangguh di 4 (empat) penjuru desa¬nya diantaranya :
1)      Ki Buyut Canggarita memegang sebelah barat  Desa Segeran.
2)      Nyi Mas Buyut Putri memegang sebelah timur Desa Segeran.
3)      Nyi Mas Buyut Dewi memegang sebelah selatan  Desa Segeran.
4)      Ki Buyut Limun memegang sebelah utara Desa Segeran.
Keempat orang prajurit, ini adalah mereka orang yang dapat dipercaya kesaktiannya, tangguh lagi bijaksana, mereka mempunyai ilmu yang dalam/ilmu gho'ib masing- masing yang luar biasa, diantaranya :
  • Ki Buyut Canggarita bisa menjelma binatang buas : seperti harimau, ular dan lain sebagainya.
  • Nyi Buyut Putri dapat menjadikan/menjiad Desa Segeran menjadi lautan.
  • Nyi Buyut Dewi dapat menjadikan/menjiad Desa Segeran menjadi api.
  • Ki Buyut Limun dapat menjadikan/menjiad Desa Segeran menjadi tidak kelihatan.
4.      Mata Pencaharian
Mata pencaharian Ki Gede Segeran adalah bercocok tanam, perkebunan dan perikanan. tempat-tempat pertaniannya diantaranya :
Pesawahan Blok Silengkong/Alimunjaya, persawahan ini tempat pertama, Ki Gede Segeran bercocok tanam yang pertama, dan juga akhirnya tempat ini dipakai untuk pemendaman pusaka-pusaka Segeran. Dewasa ini pesawahan tersebut dipakai bengkoknya Kuwu dan tempat ini masih jahil atau masih banyak syetannya sering menimbulkan malapetaka.
 Pesawahan Blok Sikobar, pesawahan ini adalah yang di panennya tidak habis-habis. Akhirnya dibakar oleh Ki Gede Segeran tetapi Dewa penghuni pesawahan tersebut tidak terima, lalu ia mengutuk Ki Gede Segeran dan anak cucunya, bahwa untuk selanjutnya apabila mau menanam padi dalam jangka setahun dua kali panen tebarnyapun harus dua kali juga.
  • Pesawahan Blok Sikembar, tempat ini adalah pesawahan Ki Gede Segeran yang dihadiahkan kepada orang yang mempunyai anak dua atau kembar.
  • Pesawahan Blok Sibuyung, pesawahan Blok Sibandeng, dan lain sebagainya.
  • Tempat perikanan yaitu di Tambak kidul dan Tambak girang.
  • Tempat perkebunan yaitu di tegal panas.
5.      Penduduk Segeran
Penduduk desa Segeran ini, bukanlah penduduk asli Segeran. Melainkan hasil dari perjodohan atau asimilasi dari beberapa daerah atau tempat, seperti :
  • Dari kerajaan Panjang yaitu penduduk pertama desa Segeran dari keturunan Ki Gede Segeran yang per­tama, yang menempati sekitar Blok Kemujing ke timur sampai ke makam Nyi Mas Buyut Putri.
  • Dari tegal Gubug yaitu penduduk yang ke dua dari keturunan Ki Ageng Jaka Galunggang atau Jaka Gondang menempati sekitar Blok Gondang.
  • Dari Jogya / Mataram keturunan Pinangeran Jaya penigas, mendiami semua Blok di Segeran.
  • Dari Demak, keturunan putra Demak yaitu Kiyai Yahya mendiami sekitar Blok Gondang.
  • Dari kraton Cirebon atau desa Martasinga keturunan Elang Dunian dan Ratu Mulya.
  • Dari bangsa Cina yang mendiami sekitar Blok Langgar.
  • Dari Majalengka keturunan Kiyai Irsyad mendiami Blok Mundu dan lain-lainnya.
Jadi sudah jelas kalau kita lihat di dalam data-data di atas, bahwa penduduk desa Segeran ini bukanlah satu ke turunan atau penduduk asli lagi, melainkan hasil perpaduan dari berbagai macam golongan dan suku bangsa. Sedangkan tiap-tiap Dia mempunyai ide Agama dan kepercayaan masing-masing, dan pasti mereka mempertahankan idenya sen­diri-sendiri. Kemungkinan inilah yang menyebabkan perpe­cahan aliran agama Islam dan organisasi Islam di desa Segeran : Aliran Mayoritas Agama Islam Menganut faham Ahlu Sunnah Waljama'ah yang terdiri dari organisasi kemasayarakatam Seperti NU/Maarif, Muhammadiyah, Abah Umar, PUI, dll.
 Kesemuanya ini saling berebut pengaruh dalam kalang­an masyarakat, tetapi dia tidak menekan kepada seseorang untuk masuk kepada golongannya. Mereka itu tiap-tiap go­longan saling berdampingan dan hidup toleransi, bebas memilih kepercayaannya dan organisasinya masing-masing.
   
6.      KISAH JAKA GALUNGGANG KI GEDE SEGERAN YANG KE II PEMBAWA AGAMA ISLAM
Raja Bali Lombok mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Nyi Mas Endang Asmara. Dia selalu bermimpi bertemu dengan Sunan Syarif Hidayatulloh. Lalu la jatuh cinta dan kasmaran, tetapi ditolak oleh ayahnya karena berbeda aliran agama yang dipeluknya. Kalau Raja Bali Lom¬bok memeluk agama Budha sedangkan Syarif Hidayatulloh memeluk agama Islam. Tetapi Nyi Mas Endang Asmara memaksa dengan tekad bulat hatinya dari pada tidak terlaksana jadi Permaisurinya lebih baik mati. Akhirnya dikabulkan permintaannya tersebut. Tapi harus ada syaratnya, yaitu harus memeluk agama Islam dan harus pandai dan hukum-hukum syari'at Islam. Dia sanggup, lalu didatangkannya guru-guru besar Islam dari Surabaya dan Gresik oleh Raja Bali -Lombok untuk mendidik anaknya dalam hukum-hukum Islam. Setelah pandai kemudian Nyi Mas Endang Asmara permisi pada ayahnya untuk pergi ke Cirebon, setelah diizinkan, Raja Bali Lombok mengutus patih Bunadir untuk mengawalnya untuk menjaga keselamatan dirinya, Patih Bunadir dibekali pusaka ampuh Raja Bali Lombok yaitu " Gonde Wulung ". Akhirnya berangkatlah Nyi Mas Endang Asmara bersama Patih Bunadir dari kerajaan Bali Lombok menuju ke Cirebon.
Ditengah-tengah perjalanan di hutan belantara ketahuan oleh iblis atau syetan, atas niat baik kedua orang tersebut. Seraya iblis berkata “Nah inilah makanan sa­ya, akan saya goda sampai dimana ketebalan iman mereka berdua."
Pertama-tama syetan masuk ke dalam jasadnya Patih Bunadir menggoda hatinya, tiba-tiba niat baik Patih Buna­dir lenyap, tidak ingat akan perintah yang semula. Timbullah nafsu syahwat yang serakah mengajak Nyi Mas En­dang Asmara untuk berbuat yang tidak senono, perbuatan yang keji yang di kutuk oleh Tuhan. Tetapi Nyi Mas En­dang Asmara masih kuat imannya, la menolak atas ajakan niat buruk Patih Bunadir tersebut. Lalu Nyi Mas Endang Asmara menasehatinya “Hai paman Patih, apakah kau lu­pa akan niat kita semula, bahwa saya pergi dari kerajaan Bali Lombok itu ingin dijadikan Permaisuri Raja Cirebon yaitu Sunan Syarif Hidayatulloh ". Sedangkan Tuhan lebih mengetahui semua perbuatan yang kita lakukan, dan orang Cirebon juga waspada atas gerak-gerik dan je­jak langkah kita berdua ". Jadi tolonglah jangan kau lakukan perbuatan yang hina itu". "Tiba-tiba Patih Bunadir sadar kembali, maka keluarlah syetan dari jasadnya Patih Bunadir dengan keadaan lesu, karena tidak berhasil maksudnya. Syetan tidak putus asa maka dia masuk ke dalam jasadnya Nyi Mas Endang Asmara, menggoda hatinya agar terjun ke dalam jurang kehinaan, maka berubahlah ingatanya Nyi Mas Endang Asmara. Yang awalnya tekun pada cita-cita yang semula menjadi serong mengajak Patih Bunadir seperti apa yang di kehendakinya. Tetapi Patih Bunadir telah insyaf, sadar hatinya la merasa takut terhadap kutukan Tuhan dan penyesalan Rajanya. Kemudian mena­sehatinya seperti nasehat yang telah diberikan kepadanya akhirnya Nyi Mas Endang Asmara sadar dan insyaf kembali. Kemudian syetan keluar lagi dengan hati bingung dan mu­met lantas berfikir sejenak, bagaimana caranya meng­goda kedua insan ini supaya menjadi kawannya dan bang­krut dengan cita-citanya. Setelah berfikir la mengambil keputusan, bahwa satu-satunya jalan yang paling baik untuk menggoda kedua insan ini harus membelah dirinya menjadi dua bagian, sebagian masuk ke dalam jasadnya Patih Bunadir dan yang sebagian lagi masuk ke dalam jasadnya Nyi Mas Endang Asmara. Maka berubahlah menjadi dua bagian, sebagian masuk ke dalam jasadnya Patih Bunadir dan yang sebagian lagi masuk ke dalam jasadnya Nyi Mas Endang Asmara. Maka berubahlah ingatan niat baik mereka, lupa akan tugas semula dan kini timbul nafsu birahi yang menjadi-jadi sudah tidak bisa dikendalikan lagi, akhirnya terjunlah kepada perbuatan yang tidak senono yang di kutuk oleh Tuhan. Setelah selesai Syetan keluar kembali dari jasadnya dua insan tersebut dengan perasaan hati yang riang gembira, sambil bertepuk tangan, bersorak-sorai atas keberhasilannya. Seketika kedua insan ini sadar lalu menangis bersama-sama menyesali atas perbuat­annya yang tidak senonoh itu, dan minta ampunan serta ber­taubat kepada Tuhan. Tapi apa hendak dikata nasi telah menjadi bubur takkan menjadi nasi lagi. Kemudian mereka berdua berunding untuk perjalanan selanjutnya, apakah diteruskan ke Cirebon atau pulang kembali ke Raja Bali Lombok, setelah bersepakat dengan coba-coba saja untuk melanjutkan ke Cirebon
Setelah sampai di Cirebon, langsung menghadap Sunan Syarif Hidayatulloh, setelah disidang kemudian Nyi Mas Endang Asmara dengan terang-terangan ingin dijadikan Permaisurinya, tetapi Sunan Syarif Hidayatulloh menolak dengan secara halus. Katanya "Bahwasanya saat ini saya belum berniat untuk beristri, tapi entah kalau di kemu­dian hari, tetapi saya cuma hanya bisa dapat memberikan kenang-kenangan atau sebagai tanda mata kepada kamu berupa kerudung putih, dan silahkan kalian berdua jangan berlama-lama di kraton lekas pergi meninggalkan Cirebon ".
Kemudian Nyi Mas Endang Asmara permisi untuk keluar sambil menutupkan kerudung kenang-kenangan tadi di atas kepala dan mukanya sambil menangis, merasa malu kepada khalayak ramai atas penolakan Sunan Syarif Hidayatulloh, dan menyesali atas perbuatannya. Kalau toh Nyi Mas En­dang Asmara ini jujur tidak serong, kemungkinan Sunan Syarif Hidayatulloh akan menerima atas kedatangannya apalagi Dia seorang istri yang cantik lagi pandai dalam hukum-hukum syari'at Islam. Dan selanjutnya Nyi Mas En­dang Asmara tidak pulang kenegaranya, karena takut dan malu disesali oleh ayahnya.
Dia menuju ke arah barat dari Cirebon, sampai kemudian di sebuah tegalan yang tidak ada pepohonannya la bersama Patih Bunadir mendirikan sebuah rumah gubug dan membuka pesantren disana. Yang dewasa ini tegalan tersebut dinamai Desa Tegal Gubug.
Pesantren Islamnya merupakan saingan berat pesantren Cirebon baik murid laki-lakinya, apalagi murid perempuannya lebih banyak bila dibandingkan dengan pesantren Cire­bon. Hal ini disebabkan oleh kepandaian Nyi Mas Endang Asmara bersama Patih Bunadir, dalam hal hukum-hukum aga­ma Islam yang telah belajar dari tokoh-tokoh Islam yaitu dari Pulau Jawa, Tuban, dan Gresik. Pada suatu ketika Nyi Mas Endang Asmara berkata kepada Patih Bunadir bahwa ia sedang mengandung. Lalu Patih Bunadir teringat lagi kepada peristiwa masa lalu yang telah silam, maka timbullah nafsu murkanya kepada Sunan Syarif Hidayatulloh ia ingin membalas dendam atas penghinaan orang-orang Cirebon
Kemudian Patih Bunadir permisi kepada Nyi Mas Endang Asmara untuk membalas dendam kepada orang-orang Cirebon, tetapi ditolak tidak diizinkan, karena merasa khawatir bahwa orang-orang Cirebon itu tidak boleh dihina, karena mereka adalah sebagai gudangnya / pusatnya ilmu, baik ilmu kedhzohiran maupun ilmu kebatinan. Tetapi la me­maksa bertekad bulat ia lebih baik mati di medan perang dari pada hidup menyandang malu, juga ia sudah merasa tangguh dan mampu untuk menghadapi gempuran orang-orang Cirebon, karena ia menyandarkan kepada santri-santrinya yang banyak dan mengandalkan pusaka Gonde Wulung.
Sebelum berangkat Patih Bunadir berwasiat dulu kepa­da Nyi Mas Endang Asmara, jikalau nanti lahir si jabang bayi kemudian dengan selamat, andaikata bayi nanti laki-laki maka la harus diberi nama Jaka Galunggang, terus berangkatlah Patih Bunadir dikawal oleh santri-santrinya dengan berbondong-bondong dan bersorak-sorai menyerbu kraton Cirebon sehingga suasana kraton Cirebon menjadi ka­cau balau, guruh-gemuruh penuh oleh ratapan dan rintihan masyarakat yang sangat menyedihkan yang sedang mendapat­kan siksaan dari Patih Bunadir dan santri-santrinya yang sangat kejam tidak mengenal perikemanusiaan. Sehingga di ketahui oleh para prajurit dalam istana, maka terjadilah puncak peperangan yang sangat dahsyat dan menyerukan, sudah dapat dielakkan kembali, istana Cirebon dikerumuni oleh percikan darah dan dentingan senjata disertai oleh jeritan dan ratapan prajurit dari kedua belah pihak ya­ng menjadi korban pertempuran, terutama dari pihak tegal gubug. Patih Bunadir melihat para prajuritnya ter­pukul mundur, amarahnya semakin menjadi-jadi tidak ter­tahan lagi sehingga terjun di gelanggang pertempuran memimpin didepan dengan semangat yang menggigih, sambil menggunakan pusaka Gonde Wulung ia membabi buta meng­hantam prajurit Cirebon bagaikan harimau menerkam mangsanya.
Akhirnya para prajurit dan pinangeran kucar-kacir tidak ada yang menandingi kesaktian Patih Bunadir dan pusaka Gonde Wulung. Mereka mengungsi meninggalkan kra­ton Cirebon bersama-sama dengan Sunan Syarif Hidayatulloh menghindar dari ancaman Patih Bunadir. Sewaktu Ki Kuwu Sangkan sembah ke kraton Cirebon, tiba-tiba dilihat­nya gerombolan pasukan Tegal Gubug yang dipimpin oleh Patih Bunadir, yang sedang mengancam-ancam orang Cire­bon. Sehingga membuat darah muda Ki Kuwu naik, amarah­nya sudah tidak dapat dikendalikan lagi. Dan sewaktu ia mau menghantam Patih Bunadir tiba-tiba di halang-halangi oleh Golok Cabang, bahwa ia juga sanggup untuk menumpas Patih Bunadir dan murid-muridnya serta mengambil Pusaka Gonde Wulung.
Maka kemudian diperintahnya Golok Cabang oleh Ki Kuwu maka berangkatlah si Golok Cabang menemui Patih Bunadir setelah sampai di hadapannya maka Golok Cabang berkata : " Hai Patih Bunadir, kau ingin hidup atau ingin mati , seandainya kau masih ingin hidup maka kau pulanglah kembali jangan kau lanjutkan perbuatan serakahmu itu, tetapi kalau kau ingin mati maka akulah si Golok Cabang pusaka dalam Cirebon, yang akan sanggup memotong lehermu itu " Dengan seketika itu terkejutlah Patih Bunadir, karena baru saja la melihat pusaka bisa berbicara dan berge­rak sendiri, maka mulailah semangat Patih Bunadir me­lemah, perasaannya mulai takut seakan selalu mengintai dirinya, tapi sudah kagok asong, maka dicabutnya pusaka Gonde Wulung dan akhirnya terjadilah perang tanding an­tara Golok Cabang dengan Gonde Wulung yang sangat dahsyat sekali, pilih bobot pilih tanding, sama-sama  kuat dan saktinya tetapi lama-kelamaan Golok Cabang merasa kewalahan sehingga kehabisan tenaga, maka larilah si golok Cabang mendekati Ki Kuwu Sangkan, agar dijiad / setrum kembali dengan ilmu keramatnya. Setelah dijiad, maka benar-benar pulih tenaga Golok Cabang dan bertambah dua kali lipat dari tenaga semula, kemudian la bertempur kembali, maka terkejutlah Gonde Wulung melihat tenaga si Golok Cabang semakin kuat dari tenaga semula, sehingga Gonde Wulung tidak mampu lagi untuk melawannya, maka terpepet terus Gonde Wulung oleh si Golok Cabang, Gonde Wu­lung cuma bisa mendampingi Patih Bunadir dari ancaman maut dari Golok Cabang. Dan sewaktu Golok Cabang mengancam leher Patih Bunadir, maka Gonde Wulung mempertahankannya dengan sekuat tenaga sampai menempel di Golok Cabang, tetapi tidak tertahankan oleh Gonde Wulung, sehingga akhirnya Golok Cabang menancap di lehernya Patih Bunadir, ma­ka gugurlah Patih Bunadir. Melihat kejadian tersebut pu­saka Gonde Wulung meloncat dari ikatan Golok Cabang, dan lari pulang ke Tegal Gubug melapor kepada Nyi Mas Endang Asmara, bahwa Patih Bunadir telah gugur di medan perang la tidak bisa berdaya apa-apa lagi, mungkin sudah titik tulis bagja dirinya dari Tuhan yang Maha Esa, harus gu­gur di medan tempur,. Kemudian lama-kelamaan Nyi Mas Endang Asmara melahirkan seorang anak laki-laki lalu diberinya nama sebagaimana wasiat dari ayahnya yaitu Patih Bunadir dengan nama Jaka Galunggang.
Setelah Jaka Galunggang dewasa ia menanyakan ayahnya kepada ibunya tetapi tidak diberitahu oleh ibunya, cuma ibunya menjawab bahwa ayahnya sudah mati. Karena ibunya-merasa khawatir kalau-kalau la berhasrat ingin menuntut balas atas kematian ayahnya, tetapi Jaka Galunggang memak­sa ingin tahu akan riwayat hidup ayahnya. Akhirnya diberi tahu oleh ibunya, setelah Jaka Galunggang mendengar cerita riwayat hidup ayahnya, hatinya tergugah ingin turut bela sungkawa atau membalas dendam kepada orang yang menganiayanya. Kemudian Jaka Galunggang minta do'a restu kepada ibunya, agar la mengizinkan dirinya untuk menun­tut balas dendam atas kematian ayahnya, tetapi tidak di­izinkan oleh ibunya melainkan dinasehatinya " Anakku engkau berani kepada orang Cirebon itu mau mengandalkan apa, mau mengandalkan pusaka Gonde Wulung, Gonde Wulung sudah tidak mampu untuk menandingi pusaka Cirebon ". Setelah mendengar nasehat dari ibunya, bahwa pusaka Gonde Wulung tidak mampu menandingi pusaka orang Cirebon, tidak mampu menandingi pusaka Cirebon ''. Setelah mendengar nasehat dari ibunya, bahwa pusaka Gonde Wulung tidak mampu menandingi pusaka orang Cirebon, maka Jaka Galunggang menjadi sadar. Sebenarnya' dia berani menantang orang Cirebon itu karena menyandarkan Pusaka Gonde Wulung. Kemudian Jaka Galunggang permisi kepada Ibunya, dia ingin berkelana mencari pengalaman, setelah diizinkan, maka berangkatlah Jaka Galunggang dari Tegal Gubug menuju ke arah utara sehingga sampai ke daerah Bo­lon (babadan) yang di kuasai oleh Ki Ageng Warsita. Kemudian Jaka Galunggang ngaula disitu, sampai akhirnya Ki Ageng Warsita bersangka buruk bahwa Jaka Galunggang mencintai Permaisurinya, akhirnya ia diusir dari Bolon. Kemudian Jaka Galunggang melanjutkan perjalanannya sampai melewati Desa Pring Kasap, terus masuk ke perbatasan sebelah se­latan Desa Segeran.
Jaka Galunggang sambil menelusuri jalan yang lenggak-lenggok ( bahasa jawa elak-elok ) maka jalan terse­but diberi nama oleh Jaka Galunggang dengan nama Blok Te­luk, di tengah-tengah perjalanan Jaka Galunggang merasa haus ingin minum, maka ditemukan sebuah tunggak jati yang gerowong bagaikan gentong di dalamnya terdapat sumber mata air yang jernih dan airnya tidak akan habis-habis biarpun diambil oleh orang banyak setiap harinya, kemu­dian Jaka Galunggang minum, ditempat tersebut, sehingga akhirnya pedukuhan tersebut kemudian diberi nama oleh Jaka Galunggang Blok Jati Gentong.
Kemudian la meneruskan perjalanannya terus menuju ke arah utara, sampai akhirnya bertemu dengan seorang wanita, lalu wanita itu ditanya oleh Jaka Galunggang na­mun wanita tersebut diam saja tidak memperdulikannya maka akhirnya pedukuhan tersebut diberi nama oleh Jaka Galunggang Blok Ladeg. Kemudian membelok ke arah, timur, sesampainya di pedukuhan Segeran waktunya sudah pagi (dalam bahasa jawa enjing) maka akhirnya pedukuhan terse­but kemudian diberi nama Blok Kemujing. Kemudian Jaka Galunggang meneruskan perjalanannya dengan membelok la­gi ke arah selatan, sampai akhirnya dia menetap di suatu pedukuhan, berhubung ia namanya Jaka Galunggang maka pedukuhan yang ditempatinya itu di beri nama Blok Gondang.
Ki Gede Segeran atau Jaka Pedang mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik yaitu Nyi Mas Asmawati ( Nyi Mas Warsiti ), Nyi Mas Asmawati ini  jatuh cinta pada Jaka Galunggang, tetapi tidak di restui oleh ayahnya yaitu Ki Gede Segeran, karena mereka mempunyai perbedaan agama yang dipeluknya. Akan tetapi Nyi Mas Asmawati me­maksa, sampai akhirnya Ki Gede Segeran atau Ki Ageng Jaka Pedang memperbolehkan anaknya menikah dengan Jaka Galunggang, tetapi mempunyai syarat asalkan calon menantunya itu dapat menandingi kesaktiannya. Akhirnya terpaksa Jaka Galunggang menyanggupi permintaannya yaitu tanding jurit dengan Ki Gede Segeran, bukan saja la mau menjatuhkan martabat calon mertuanya akan tetapi la menuruti kehendaknya. Kemudian pertarunganpun dimulai dan bukan main hebatnya sungguh dahsyat, karena menentukan titik darah terakhir bagi dirinya masing-masing untuk mempertaruhkan Agama dan pedukuhan serta kehormatan dirinya. Sedangkan Ki Ge­de Segeran bukan sembarang orang sudah keceluk muluk kawentar manca daerah orang sakti mandraguna, pertarungan antara Jaka Galunggang dengan Ki Gede Segeran sama kuat pilih babat pilih tanding sama saktinya. Akan tetapi Ki Gede Segeran di waktu tarung ia lengah, sehingga posisinya diserang oleh Jaka Galunggang sampai akhirnya terja­tuh ( dalam bahasa jawa Kadepok ) maka akhirnya pedukuh­an tersebut kemudian diberi nama Blok Sidepok. Sampai akhirnya lama-kelamaan Jaka Galunggang merasa kewalahan melawan Ki Gede Segeran, maka Jaka Galunggang mencabut pusaka Gonde Wulung dan dibabatkan atau dibacokkan kepada Ki Gede Gegeran, akhirnya kemudian Blok tersebut di beri nama Blok Bacok, lalu dilihatnya bacokan terse­but ternyata meleset hanya keluar darah sedikit dan masih sangat getas, maka akhirnya kemudian blok tersebut diberi nama Blok Getasan (yang sekarang menjadi tempat pemakaman ). Sampai akhirnya Ki Gede Segeran lari akan tetapi ia terus dikejar, dan karena la merasa lelah melamprek atau diam untuk beristirahat di suatu pedukuhan sehingga akhirnya pedukuhan tersebut kemudian diberi na­ma Blok Kelampran (Klampean), kemudian Ki Gede Segeran lari lagi menuju ke arah selatan dan membelok atau menikung lagi ke arah barat, dan akhirnya pedukuhan yang  ditegongi Ki Gede Segeran itu kemudian diberi nama Blok Tikungan dan terus lari ke perbatasan sebelah selatan desa Segeran, Dan karena Ki Gede Segeran merasa malu karena terus dikejar oleh Jaka Galunggang akhirnya ia menghilang tanpa krana tidak ada bekasnya.
 Sampai akhirnya Jaka Galunggang pulang ke Segeran dan kemudian ia menikah dengan putri Ki Gede Segeran yaitu Nyai Mas Asmawati, sampai akhirnya Jaka Galunggang menggantikan ayah mertuanya menjadi Ki Gede Segeran yang ke dua. Beliau mendirikan sebuah pesantren Islam di desanya, dan santri-santrinya banyak sekali dari dalam maupun dari lu­ar desa Segeran sehingga menjadi saingan berat bagi pesantren Cirebon.
Di perbatasan desa Segeran sebelah utara yaitu pedukuhan ( desa ) Pondoh yang perintah oleh Ki Gede Tambak Yoda. la menjadi santri orang Cirebon, dan sewaktu la mau seba Cirebon, berhubung jalannya melalui desa Segeran tiba-tiba dihadang oleh Jaka Galunggang atau Ki Gede Segeran yang kedua. Dan itu cuma di jadikan sebagai latar belakang atau perantaraan saja agar bisa mencari jalan buat persengketaan dengan orang-orang Cirebon, . Karena secara diam-diam la ingin sedang mencari peluang yang baik untuk membalas dendam atas kematian orang tuanya. Dan sebagai tolak ukur untuk mengayoni orang Cirebon, la ingin mengetes dulu santri-santrinya sampai dimana kesaktian orang Cirebon. Maka kemudian Ki Gede Tambak Yoda di halang-halangi oleh Ki Gede Segeran di suruhnya Ki Gede Pondoh untuk membatalkan maksud dan tujuannya, akan tetapi Ki Gede Pondoh menolaknya dan memaksa ingin melanjutkan perjalanannya ke Cirebon. Akhirnya terjadi perselisihan antara Ki Gede Pondoh dengan Ki Gede Segeran, dan sampai terjadi persengketaan yang sengat seru, tetapi akhirnya Ki Gede Tambak Yoda tidak kuat mengayoni atau menandingi kesaktian Ki Gede Segeran atau Jaka Galunggang ( Jaka Gondang ).
 Sampai kemudian Ki Gede Pondoh lari dan terus dikejarnya, Ki Gede Pondoh minta bantuan ke desa Pringgacala ya­itu Ki Gede Mas Kawung Agung akan tetapi dia tidak sanggup untuk menandingi kesaktian Ki Gede Segeran atau Jaka Galunggang. Kemudian Ki Gede Pondoh lari lagi minta ban­tuan pada Ki Gede Kapringan akan tetapi sama saja tidak kuat menandingi kesaktian Ki Gede Segeran. Terus Ki Gede Pondoh minta bantuan kepada Ki Gede Jagapura, kemudian lari lagi minta bantuan pada Ki Gede Gresik tapi semuanya sama saja tidak ada yang sanggup untuk menandingi kesaktiannya Ki Gede Segeran. Sedangkan pengejaran masih diteruskan sampai Ki Gede Tambak Yoda tidak pulang ke desanya tetapi terus menuju ke Cirebon. Dan kebetulan sekali pada waktu itu Ki Kuwu Sangkan sedang berada di Sumur Tamba , Dia melihat orang yang sedang kejar-kejaran kemudian diperhatikan setelah jelas bahwa orang yang dikejarnya itu adalah Ki Gede Pondoh yaitu Tambak Yoda, sedang yang mengejarnya adalah anaknya Patih Bunadir musuh satru bebuyutan orang Cirebon.
Kemudian Ki Kuwu Sangkan marah sekali, dan terus me­merintah pusaka Golok Cabang untuk menghalang-halangi Ja­ka Galunggang atau Ki Gede Segeran diminta untuk memberhentikan pengejarannya terhadap Ki Gede Pondoh. Kemudian Golok Ca­bang mencegat langkahnya Jaka Galunggang atau Ki Gede Segeran sambil berkata '' Hai Ki Gede Segeran kau masih ingin hidup atau mati, kalau kau masih ingin hidup hentikan pengejaran terhadap Ki Gede Pondoh, andai kau ingin mati maka akulah yang akan malawanmu. Ki Gede Segeran atau Jaka Galunggang terkejut dan terheran-heran melihat pu­saka dapat berbicara sendiri, Kemudian pusaka Gonde Wulung membisikkan pada Jaka Galunggang " inilah pusaka da­lam Cirebon yaitu si Golok Cabang, sayapun sudah tidak mampu untuk menandinginya, akan tetapi demi menjaga kese­lamatan kita berdua dan menjaga kehormatan seorang kesat­ria, maka kita orang Segeran pantang mundur dalam mengha­dapi pertempuran, Biarpun gugur di medan tempur asalkan budi dan jasa baik kita tetap termasyhur walau jasad telah di kubur ". Kemudian Ki Gede Segeran atau Jaka Galunggang menjawab Baiklah kita layani saja si Golok Cabang, tapi akan tetapi dengan syarat kita bertarung sambil onder at­au mundur mendekati desa Segeran disana kita nanti min­ta bantuan pusaka Segeran yaitu Bedug. Akhirnya bertarunglah si Golok Cabang dengan Gonde Wulung sambil onder, lama-kelamaan pertarungan itu sampailah di perbatasan desa Segeran. Dan selanjutnya Ki Gede Segeran atau Jaka Galunggang menyuruh istrinya untuk memukul pusaka Bedug, setelah Bedug dipukul atau dibunyikan maka dengan tiba-tiba dan aneh sekali kaburlah si Golok Cabang ke angkasa,  kemudian pusaka Golok Cabang tersebut melaporkan kejadiannya kepada Ki Kuwu Sangkan bahwa dia tidak mampu menangkap Ki Gede Segeran atau Jaka Galunggang bersama Gonde Wulungnya.
 Lalu kemudian Ki Kuwu Sangkan bersama Golok Cabang berangkat lagi menuju desa Segeran dengan tujuan ingin menangkap Ki Gede Segeran atau Jaka Galunggang. Akan tetapi setibanya di perbatasan desa Segeran sudah diketahui oleh Ki Gede Segeran atau Jaka Galunggang, dan segera Ki Ge­de Segeran memukul atau membunyikan pusaka Bedugnya, sampai akhirnya Ki Kuwu Sangkan dan Golok Cabang kabur di angkasa dan Ki Kuwu merasa kewalahan menghadapi pusaka orang Segeran. akhirnya dia minta bantuan kepada para pinangeran dalam Cirebon, di suruh merempug dan menangkap Ki Gede Segeran atau Jaka Galunggang di desa Segeran.
Dan para pinangeranpun berbondong-bondong menuju de­sa Segeran, akan tetapi sesampainya di perbatasan desa Segeran di sambut dengan gembira oleh para santri-santri Segeran, dengan besatan panah, luncuran tombak, bambu runcing, dan hantaman pedang, kelewang dan pukulan, maka terjadilah peperangan yang sangat dahsyat dan aduh ilmu kesaktian, kemudian di tengah-tengah pertempuran pusaka Bedug Di pukul hingga membuat para pinangeran Cirebon kabur berantakan dan tunggang langgang. Ki Kuwu Sangkan melihat kejadian yang demikian itu, la merasa bingung dan heran mengapa para pinangeran bisa kalang kabut.
 Kemudian Ki Kuwu Sangkan duduk termenung sambil ber­fikir jalan, apa yang harus di tempuh agar supaya berha­sil membekot Ki Gede Segeran atau Jaka Galunggang dan kejadian apa yang dapat mengaburkan dirinya bersama para pinangeran. Setelah berfikir bahwa satu-satunya jalan la harus memberikan tipu muslihat, kemudian ia menyuruh Bupati mega mendung dan Golok Cabang untuk menyerang kem­bali desa Segeran dan Ki Kuwu Sangkan sendiri mengintai dari angkasa, ingin mengetahui kejadian yang aneh lagi ajaib di Segeran itu.
Kedatangannya di Segeran Patih Mega Mendung dan Golok Cabang disambut dengan pertempuran oleh Jaka Galunggang dan Pusaka Gonde Wulung, setelah bertempur Ki Gede Sege­ran merasa kewalahan menandingi Golok Cabang dan Patih Mega Mendung, kemudian Jaka Galunggang menyuruh istrinya untuk memukul atau membunyikan pusaka bedug setelah bedug dipukul maka kaburlah Patih Mega Mendung bersama Golok Cabang dan akhirnya di ketahui oleh Ki Kuwu Sangkan dari angkasa bahwa yang dapat mengaburkan orang-orang Cirebon itu adalah sebuah Bedug Pusaka.
Kemudian Ki Kuwu Sangkan menghubungi kembali Golok Cabang, dan disuruh bertarung kembali dengan syarat bertempurnya dengan jinak dan sambil onder atau mundur men­jauhi dari desa Segeran Supaya Jaka Galunggang jauh dari desanya, Dalam pemikiran hati Jaka Galunggang satu-satu­nya jalan untuk melumpuhkan kekuatan orang Cirebon, Dia barus dapat menangkap pusakanya dulu .yaitu Golok Cabang dan tekad Jaka Galunggang atau Ki Gede Segeran sudah bu­lat, biar mati di medan laga dari pada cita-citanya tidak terlaksana yaitu ingin menghancurkan orang-orang Cirebon dan keturunannya buat membalas dendam atas kematian orang tuanya/ayahandanya.
Kemudian dengan tiba-tiba Golok Cabang Sesumbar dari kejauhan menantang perang lagi dengan Jaka Galunggang kemudian laka Galunggang permisi dengan istrinya yaitu Nyi Mas Asmawati yang sedang bunting (hamil), bahwa la akan berangkat secara mati-matian guna untuk membekot si Golok Cabang, andai kata la berada dalam keapesan atau gugur dalam medan perang la terlebih dahulu memberi wasiat kepada istrinya. Apabila kelak kemudian la dikaruniai seorang anak laki-laki la harus diberi nama yaitu Jaka Sana dan jagalah pusaka bedug  ini baik-baik, apabi­la ada orang Cirebon yang membuat huru-hara di desa Segeran maka pukul saja pusaka Bedugnya.
Kemudian Ki Gede Segeran bersama pusaka Gonde Wulung berangkat menangkap si Golok Cabang maka terjadilah pertarungan yang dahsyat. Perangnya Golok Cabang sebagaimana yang telah di wasiati oleh Ki Kuwu Sangkan, la berperang dengan jinak dan sambil onder menjauhi desa Segeran seolah-olah mau ditangkap akan tetapi kalau ditangkap li­cin tidak kena, dan ini membuat penasaran Jaka Galunggang, akhirnya Golok Cabang di desak terus sampai pulau Sulawesi, dan istrinya yang lagi menjaga pusaka Bedug merasa kesal menunggu suaminya sampai akhirnya dia mengan­tuk. Ki Kuwu Sangkan melihat Nyi Mas Asmawati yang sedang mengantuk kemudian Ki Kuwu segera turun dari angkasa guna mencuri pusaka bedug milik Ki Gede Segeran, kemudian Ki Kuwu Sangkan membawanya ke sebelah selatan Segeran. Kemudian memendam pusaka bedug tersebut di sebuah kedokan dan di injak-injak serta di kencinginya kemudian Ki Kuwu Sangkan mengeluarkan ipat-ipat atau sepatah kutukan kepada pusaka bedug sidaguri tersebut bahwa kelak pohon sida guri itu tidak akan ada yang besar yang dapat dibuat bedug lagi dan tempat pemendaman bedug tersebut di beri nama blok bedug dan bedugnya sekarang berada di Panjunan.
 Kemudian Ki Kuwu Sangkan setelah memendam bedug kemudian mencari golok cabang yang berada dalam pengejaran Ki Gede Segeran yang kedua yaitu Jaka Galunggang. Setelah bertemu kemudian Golok Cabang dijiad atau ditambah lagi tenaganya dengan batin Ki Kuwu Sangkan maka dengan tiba-tiba tenaga Golok Cabang Pulih kembali malah bertambah besar dan siap untuk mengamuk menghantam pusaka Gonde Wulung dan Jaka Galunggang. Karena pusaka Gonde Wulung telah berpengalaman sewaktu bertarung dengan Golok Cabang waktu dulu dengan ayahnya jaka Galunggang yang gugur dalam pertempuran. Kemudian pusaka Gonde Wulung menyuruh pulang kepada majikannya yaitu Jaka Galunggang agar pertempurannya itu sambil mundur yaitu pulang lagi ke Segeran untuk minta bantuan kepada pusaka bedug dan ternyata setelah sampai di Segeran dan mau memukul pusaka bedug ternyata bedugnya hilang tanpa krana, dan dicarinya kemana-mana tidak ketemu juga akhirnya Jaka Galunggang atau Ki Gede Segeran yang kedua kebingungan mau menyerah dia malu. Karena dia orang yang diksura sakti mandraguna kemudian dirinya menghilang tanpa krana tiada membekas.
 Adapun cerita singkat mengenai kisah perjalanan Ki Gede Segeran selanjutnya adalah Jaka Sanah sebagai Ki Gede Segeran yang ketiga menggantikan ayahnya yaitu Jaka Galunggang sebagai Ki Gede Segeran yang kedua. sewaktu dipimpin oleh Jaka Sanalah Desa Segeran mau menggabungkan diri kepada Cirebon dan Jaka Sana atau Ki Gede Segeran yang ketiga menjadi tameng dada sebagai wakil pertama orang Cirebon karena ketangkasannya kesaktiannya, kesatriaannya serta keberaniannya dalam menegakkan Agama Islam. Adapun penyebaran agama Islam yang termasyhur di Segeran setelah adanya penyempurnaan dari Cirebon dibawah oleh tokoh yang terkenal yaitu seperti : Kiyai Juri yang menetap di Blok Bedug, Kiyai Gebog yang menetap di Blok Gondang, Kiyai Carim yang menetap di Blok Klampean dan masih banyak lagi.
7.      Kuburan Ki Gede Segeran
Sewaktu agresi pertama tahun + 1947, para Sesepuh Segeran banyak yang mengungsi ke Cirebon, ya¬ng bermukim di keluarga Sultan Kanoman yaitu Elang Jati Kusuma. Disana para Sesepuh Segeran memperbincangkan ma¬salah kuburan (makam) Ki Gede Segeran yang sampai saat sekarang ini belum ada orang atau sejarah yang menunjuk¬kan atau mengetahui dimana makam Ki Gede Segeran. Maka kemudian Para Sesepuh Segeran mengajukan usul kepada Sultan Kanoman agar kiranya membuat kuburan atau tapakan palsu Ki Gede Segeran di atas Gunung Jati, Mengingat masyarakat Segeran selalu mencari-cari dimana makam Ki Gede Segeran, kemudian Sultan Kanoman mengizinkannya untuk membuat makam atau tapakan palsu. Ki Gede Segeran. Begitulah kurang lebihnya riwayat makam Ki Gede Segeran.

Asal-Usul Nama dan Legenda Haurgeulis

Senin, 20 Juli 2026


Asal-Usul Nama Haurgeulis

Nama Haurgeulis berasal dari dua kata dalam bahasa Sunda Kuno, yaitu haur dan geulis. Kata haur berarti bambu, sedangkan geulis berarti cantik atau indah. Dengan demikian, nama Haurgeulis dapat dimaknai sebagai "Bambu Cantik" atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan sebutan "Pring Ayu."

Penamaan tersebut diyakini berkaitan erat dengan kondisi alam Haurgeulis pada masa lampau. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, wilayah ini dahulu merupakan hamparan hutan bambu yang sangat luas. Berbagai jenis bambu tumbuh subur di sepanjang aliran sungai, rawa, dan dataran rendah. Bentuknya yang indah serta manfaatnya yang besar bagi kehidupan masyarakat menjadikan bambu sebagai ciri khas wilayah ini.

Bagi masyarakat masa itu, bambu bukan sekadar tumbuhan liar. Hampir seluruh kebutuhan hidup bergantung pada tanaman tersebut. Bambu digunakan sebagai bahan untuk membangun rumah, pagar, lumbung padi, jembatan, alat pertanian, perlengkapan rumah tangga, hingga berbagai kesenian tradisional. Karena keberadaannya yang melimpah dan memiliki nilai kehidupan yang tinggi, kawasan tersebut kemudian dikenal dengan nama Haurgeulis, yang berarti daerah dengan rumpun bambu yang indah.

Haurgeulis pada Masa Kerajaan Sumedang Larang

Berdasarkan catatan sejarah, pada awal abad ke-16 wilayah yang kini menjadi Kecamatan Haurgeulis, termasuk Gantar, Anjatan, Sukra, serta sebagian wilayah Kandanghaur dan Terisi, berada dalam pengaruh Kerajaan Sumedang Larang. Pada masa itu, batas wilayah antara Sumedang Larang dan daerah pesisir utara belum sepenuhnya tetap sehingga beberapa kawasan sering menjadi objek perebutan pengaruh kekuasaan.

Letak Haurgeulis yang berada di jalur penghubung antara wilayah pedalaman Priangan dan pesisir utara Jawa menjadikannya memiliki nilai strategis. Selain subur untuk pertanian, kawasan ini juga menjadi jalur lalu lintas perdagangan yang menghubungkan masyarakat pegunungan dengan wilayah pesisir.

Dalam beberapa sumber tradisi lisan disebutkan bahwa pernah terjadi perselisihan mengenai status wilayah tersebut antara penguasa Sumedang Larang dan penguasa Indramayu. Meskipun kisah berikut lebih dikenal sebagai legenda daripada catatan sejarah, cerita ini telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat sebagai bagian dari asal-usul wilayah Haurgeulis.

Legenda Nyi Endang Dharma

Menurut legenda, penguasa Indramayu berusaha memperoleh wilayah Haurgeulis tanpa melalui peperangan besar. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, disusunlah sebuah siasat yang melibatkan seorang tokoh sakti bernama Nyi Endang Dharma.

Dalam cerita rakyat disebutkan bahwa Nyi Endang Dharma pada mulanya adalah seorang laki-laki yang memiliki kesaktian tinggi. Demi menjalankan misinya, ia mengubah wujud menjadi seorang perempuan yang sangat cantik jelita. Kecantikan dan pesonanya begitu memikat sehingga menarik perhatian seorang bangsawan Sumedang Larang, yaitu Pangeran Aria Soeriadiwangsa, putra dari Ratu Harisbaya, istri kedua Prabu Geusan Ulun.

Tanpa mengetahui jati diri perempuan tersebut, Pangeran Aria Soeriadiwangsa jatuh cinta dan berniat menjadikannya sebagai istri. Nyi Endang Dharma menerima lamaran itu, tetapi mengajukan sebuah syarat. Ia meminta agar diberikan sebidang wilayah yang kelak akan dijadikan tempat tinggalnya.

Karena telah terpesona oleh kecantikannya, permintaan tersebut disetujui tanpa banyak pertimbangan. Wilayah yang diminta pun diserahkan sebagai bentuk kesungguhan cinta sang pangeran.

Namun, setelah janji itu diikrarkan, barulah pihak Kerajaan Sumedang Larang menyadari bahwa perempuan yang mereka percaya ternyata adalah utusan dari pihak lawan. Menurut legenda, wilayah yang telah dijanjikan itu kemudian berpindah ke dalam pengaruh penguasa Indramayu.

Wilayah yang dimaksud dalam cerita tersebut dipercaya meliputi kawasan yang kini menjadi Haurgeulis, Gantar, Anjatan, Sukra, serta sebagian Kandanghaur dan Terisi.

Warisan Cerita dalam Ingatan Masyarakat

Kisah Nyi Endang Dharma merupakan salah satu legenda yang masih hidup di tengah masyarakat Haurgeulis hingga sekarang. Cerita ini menjadi bagian dari tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi sebagai penjelasan mengenai perubahan kekuasaan di wilayah perbatasan antara Sumedang Larang dan Indramayu.

Walaupun belum seluruhnya dapat dibuktikan melalui sumber sejarah tertulis, legenda tersebut mencerminkan cara masyarakat masa lampau memahami proses terbentuknya wilayah Haurgeulis. Di balik kisah tersebut tersimpan pesan tentang pentingnya kecerdikan, strategi, dan kebijaksanaan dalam memperoleh kemenangan, sekaligus menggambarkan betapa strategisnya wilayah Haurgeulis sejak masa kerajaan.

Seiring berjalannya waktu, Haurgeulis berkembang menjadi salah satu wilayah penting di Kabupaten Indramayu. Namun, nama "Haurgeulis" tetap menjadi pengingat akan bentang alam masa lalu yang dipenuhi rumpun-rumpun bambu indah, sekaligus menjadi simbol sejarah panjang yang menghubungkan budaya Sunda di wilayah pedalaman dengan budaya masyarakat pesisir utara Jawa.

 

 


Sejarah Singkat Desa Haurkolot

 

Sejarah Singkat Desa Haurkolot

Awal Mula Wilayah Haurkolot

Desa Haurkolot merupakan salah satu desa yang berada di bagian selatan Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Letaknya yang berada di wilayah perbatasan menjadikan desa ini memiliki karakter yang khas, baik dari segi sejarah, budaya, maupun kehidupan masyarakatnya. Sejak dahulu, Haurkolot dikenal sebagai daerah penghubung antara wilayah Indramayu dengan kawasan pedalaman yang kini termasuk Kecamatan Gantar.

Secara geografis, Desa Haurkolot berada di titik paling selatan Kecamatan Haurgeulis dan berbatasan langsung dengan Kecamatan Gantar. Posisi tersebut menjadikan Haurkolot sebagai jalur perlintasan masyarakat dari wilayah pesisir utara menuju kawasan Priangan Timur. Kondisi ini berpengaruh besar terhadap perkembangan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat sejak masa lampau.

Asal-usul Nama Haurkolot

Nama Haurkolot memiliki keterkaitan erat dengan nama Haurgeulis, karena keduanya berasal dari kata haur, yaitu sejenis bambu yang dahulu banyak tumbuh di kawasan ini.

Menurut penuturan masyarakat, pada masa lalu wilayah ini merupakan hamparan hutan bambu yang sangat luas. Rumpun-rumpun haur tumbuh subur di sepanjang aliran sungai dan dataran rendah, sehingga menjadi ciri khas bentang alam setempat. Bambu tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan peralatan rumah tangga, tetapi juga menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, mulai dari pagar, lumbung padi, hingga alat musik tradisional.

Nama Haurgeulis secara harfiah dapat dimaknai sebagai "bambu yang indah atau cantik", sedangkan Haurkolot berasal dari gabungan kata haur dan kolot. Dalam bahasa Sunda, kolot berarti tua, lama, atau induk. Oleh karena itu, Haurkolot dapat dimaknai sebagai wilayah tua atau pusat awal permukiman di kawasan hutan bambu. Penamaan tersebut diyakini menunjukkan bahwa kawasan ini merupakan salah satu permukiman tertua di sekitar Haurgeulis.

Haurkolot pada Masa Lampau

Sebelum menjadi bagian dari wilayah administratif Kabupaten Indramayu seperti sekarang, kawasan Haurkolot berada dalam pengaruh kekuasaan Kerajaan Sumedang Larang. Pada masa itu, wilayah-wilayah di bagian selatan Indramayu masih memiliki hubungan yang erat dengan daerah Priangan, baik dalam pemerintahan maupun kehidupan sosial masyarakatnya.

Sebagai daerah perbatasan, Haurkolot menjadi tempat bertemunya berbagai kelompok masyarakat dari wilayah pegunungan dan dataran pantai utara. Hubungan perdagangan, pertanian, serta perpindahan penduduk berlangsung secara alami sehingga membentuk kehidupan masyarakat yang terbuka terhadap berbagai pengaruh budaya.

Seiring berkembangnya pemerintahan di wilayah Cirebon, kemudian pada masa kolonial Belanda dilakukan penataan ulang wilayah administratif. Kawasan Haurkolot akhirnya dimasukkan ke dalam wilayah Kabupaten Indramayu. Meskipun demikian, masyarakat tetap mempertahankan banyak unsur budaya Sunda yang telah berkembang sejak masa sebelumnya.

Perpaduan Budaya Sunda dan Jawa Dermayon

Posisi Haurkolot yang berada di perbatasan menjadikan desa ini sebagai salah satu kawasan pertemuan dua kebudayaan besar, yaitu budaya Sunda dari wilayah selatan dan budaya Jawa Dermayon dari wilayah utara.

Perpaduan tersebut masih dapat dilihat hingga sekarang. Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian masyarakat menggunakan bahasa Sunda, sementara sebagian lainnya menggunakan bahasa Jawa Dermayon. Tidak sedikit pula warga yang mampu menggunakan kedua bahasa tersebut secara bergantian sesuai dengan lawan bicaranya.

Akulturasi budaya juga tampak dalam adat istiadat, kesenian, tradisi gotong royong, serta upacara-upacara adat yang berkembang di tengah masyarakat. Nilai-nilai Sunda berpadu dengan tradisi pesisir Indramayu sehingga melahirkan identitas budaya yang khas dan berbeda dengan desa-desa lain di sekitarnya.

Haurkolot Masa Kini

Memasuki masa pemerintahan modern, Desa Haurkolot berkembang menjadi salah satu desa yang memiliki potensi besar di bidang pertanian dan kehidupan sosial kemasyarakatan. Masyarakat tetap memegang teguh nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap warisan leluhur.

Sebagai desa yang lahir dari perjalanan sejarah panjang, Haurkolot bukan hanya menjadi bagian dari perkembangan wilayah Kecamatan Haurgeulis, tetapi juga menjadi saksi pertemuan sejarah antara wilayah Priangan dan Pantura Indramayu. Jejak-jejak sejarah tersebut masih tercermin dalam nama desa, bahasa yang digunakan masyarakat, adat istiadat, serta berbagai tradisi yang tetap dipelihara hingga sekarang.

Dengan demikian, Haurkolot tidak hanya dikenal sebagai sebuah desa di perbatasan, tetapi juga sebagai wilayah yang menyimpan warisan sejarah dan budaya yang memperkaya identitas Kabupaten Indramayu.

 


 

SEJARAH MUNTUR

Asal-Usul Desa Muntur

Desa Muntur merupakan salah satu desa tua di wilayah Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, yang memiliki sejarah panjang serta kaya akan cerita rakyat dan tradisi lisan. Sebelum dikenal dengan nama Muntur, wilayah ini dipercaya bernama Kampung Santing. Nama tersebut diambil dari keberadaan Kali Santing yang mengalir hingga bermuara ke Kali Cilet (Ciheuleut) di wilayah Karanganyar.

Hingga kini masih terdapat peninggalan bersejarah berupa Balai Musyawarah Desa Santing yang tetap dipelihara. Di dalam balai tersebut masih tersimpan sebuah tongtong (kentongan) peninggalan leluhur. Menurut kepercayaan masyarakat, tongtong itu merupakan benda pusaka yang tidak boleh dibunyikan lagi sejak pusat pemerintahan dipindahkan ke Muntur. Konon, siapa pun yang mendengar bunyinya akan diliputi rasa takut yang luar biasa hingga tubuhnya gemetar.

Tidak jauh dari balai tersebut berdiri Masjid Santing, salah satu bangunan tertua di daerah itu. Bagian memolo atau mahkota atapnya masih asli, terbuat dari tanah liat dengan bentuk segi empat yang memperlihatkan pengaruh arsitektur masa Hindu. Masyarakat percaya bahwa kubah masjid tersebut terkadang mengeluarkan suara-suara tertentu sebagai pertanda akan datangnya musibah atau bencana yang menimpa Kampung Santing.


Pembukaan Kampung Santing

Menurut catatan para sesepuh, Kampung Santing dibuka pada hari Rabu Wage, bersamaan dengan dibukanya Kampung Sarang. Wilayah ini dibabad oleh Pangeran Dawala Brata, seorang utusan Kesultanan Cirebon.

Pangeran Dawala Brata memiliki seorang putra yang berguru kepada Buyut Gentong, seorang tokoh penyebar agama Islam di wilayah tersebut. Putra itu bernama Mas Pratapura, yang kemudian menikah dengan seorang perempuan dari keturunan Kerajaan Pajajaran bernama Nyi Karni, yang lebih dikenal sebagai Senti Ronggeng.

Pada awalnya, pernikahan tersebut tidak mendapat restu dari keluarga Mas Pratapura karena Nyi Karni masih memeluk agama Hindu. Setelah memeluk agama Islam, ia tetap merasa belum diterima sepenuhnya oleh keluarga suaminya. Karena itu, ia memilih mengasingkan diri ke daerah Cilet, kemudian bertapa di wilayah yang kini dikenal sebagai Karanganyar hingga akhir hayatnya.

Tempat pertapaannya kemudian dikenal masyarakat sebagai Buyut Ronggeng. Menurut cerita turun-temurun, selama menjalani pertapaan Nyi Karni memperbanyak ibadah dan amal kebajikan. Meskipun tidak pernah memperoleh pengakuan dari mertuanya, masyarakat meyakini bahwa segala doa dan kebaikannya diterima oleh Allah SWT.


Asal Nama Muntur

Menurut cerita masyarakat, nama Muntur berasal dari ungkapan:

"Gumuruh Gumuntur Bocah Santing Kagunturan."

Ungkapan tersebut menggambarkan suara yang bergemuruh dan mengguncang hingga terdengar ke tempat-tempat yang jauh, bagaikan suara petir yang menggelegar.

Dalam sebuah Candra Desa yang tertulis pada daun lontar disebutkan:

Bubare Sing Panjunan
Karangsinom let sewengi
Bocah Santing Kegunturan
Losarang caket margi
Karimun gudang Nanjung
Karang Gandok bangler margi
Miwah Puntang Jangga
Karangmalang sabrangan aris
Karang Kletak Rancagunda
Kedepok Depok

Bait tersebut menjelaskan bahwa Kampung Santing telah ada lebih dahulu dibandingkan Muntur. Frasa "Bocah Santing Kegunturan" menjadi asal-usul penyebutan Muntur, yang lahir dari kisah tentang kegaduhan dan kekejaman seorang jagoan pada masa lampau. Peristiwa itu begitu menghebohkan hingga kabarnya bergema ke berbagai daerah, bagaikan suara guntur yang menggelegar.


Kisah Buyut Ronggeng

Di Karanganyar berkembang sebuah kepercayaan yang berkaitan dengan Buyut Ronggeng. Ketika bertapa, ia pernah mengucapkan pesan:

"Kelak, apabila Buyut Ronggeng dibangun dan dihormati oleh masyarakat Muntur, daerah ini akan memperoleh kesuburan dan keberkahan."

Ungkapan tersebut dipercaya sebagai doa yang membawa kemakmuran bagi masyarakat Desa Muntur hingga sekarang.


Buyut Gentong dan Tokoh-Tokoh Pendampingnya

Di sekitar kompleks Buyut Gentong terdapat makam Demang Margadipura, seorang pejabat pemerintahan pada masa kolonial Belanda yang pernah bertugas di Losarang.

Menurut cerita masyarakat, kawasan ini dahulu dijaga oleh Kaki Rati dan Nini Rati, pasangan penjaga yang berasal dari Trusmi, Cirebon.

Pada tahun 1959, ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) masih berlangsung, kompleks Buyut Gentong mengalami kebakaran yang mengakibatkan hilangnya gentong asli yang menjadi peninggalan bersejarah.

Peristiwa lain terjadi pada tahun 1948, ketika Kiai Asnawi memanjat sebuah pohon asam yang diperkirakan telah berusia lebih dari 460 tahun. Pohon itu dahulu menjadi tempat persinggahan ribuan burung blekok. Konon, setelah berhasil naik ke puncak pohon, Kiai Asnawi tidak dapat turun hingga akhirnya mendapat pertolongan.

Dalam menjalankan dakwahnya, Buyut Gentong juga dibantu oleh beberapa tokoh penting, yaitu:

  • Buyut Singkil
  • Sela Kuning
  • Ki Gedeng Tulus
  • Nyi Gandasari dari Ranjeng
  • Ki Wanakerti

Mereka dikenal sebagai para penyebar agama Islam di wilayah Losarang dan sekitarnya.


Pemerintahan Desa Muntur

Sejak berdirinya desa, pemerintahan dipimpin oleh beberapa kuwu (kepala desa), yaitu:

  1. Tiban (Kariman)
  2. Astinah (berkedudukan di Santing)
  3. Haji Samaun
  4. Sidin
  5. Kadim
  6. Catem (1943, masa pendudukan Jepang)
  7. Raci
  8. Catem (periode kedua)
  9. Kasnawi
  10. Surya (berasal dari Kepolisian)
  11. Kamad
  12. Sartama (1977–1980)
  13. Caswan (Pj., dari TNI)
  14. Carta (Kawer)
  15. Caswan (Pj., dari TNI)
  16. Taryono (1998–2005)
  17. Abdul Khanan (2005–2014)
  18. Sugeng Sucipto (Pj., sekitar enam bulan)
  19. Carudin (2014–2020)
  20. Kandi (Pj., sekitar enam bulan)
  21. Tanuri (mulai 2021)

Kampung-Kampung di Desa Muntur

Wilayah administratif Desa Muntur terdiri atas beberapa kampung, yaitu:

  • Kampung Sarang Kulon
  • Kampung Karanganyar
  • Kampung Santing
  • Kampung Bojong Genting
  • Kampung Buyut Gentong
  • Kampung Cilanyar Kertajadi, yang mulai berkembang sebagai permukiman baru sekitar tahun 1980.

Gambaran Umum Desa

Dalam data administrasi lama, Desa Muntur tercatat sebagai Desa Nomor 131 dengan luas wilayah sekitar 1.520 hektare. Berdasarkan data tahun 1979, jumlah penduduk Desa Muntur mencapai 6.135 jiwa, terdiri atas 2.980 laki-laki dan 3.155 perempuan.

Sebagai salah satu desa tua di wilayah Losarang, Muntur menyimpan perpaduan antara sejarah, legenda, peninggalan budaya, dan tradisi Islam yang diwariskan secara turun-temurun. Kisah-kisah mengenai Kampung Santing, Buyut Gentong, Buyut Ronggeng, hingga asal-usul nama Muntur menjadi bagian penting dari identitas masyarakat yang masih hidup dan dihormati hingga sekarang.

 


 

 

SEJARAH LOSARANG INDRAMAYU

 Latar Sejarah

Peristiwa ini terjadi pada masa perkembangan kerajaan-kerajaan di Nusantara, sekitar abad ke-16 hingga awal abad ke-20. Pada tahun 1586 berdirilah Kerajaan Mataram di bawah kepemimpinan Panembahan Senapati. Puncak kejayaan Mataram berlangsung pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613–1645).

Sementara itu, di Pulau Jawa bagian barat, bangsa Belanda mendirikan kongsi dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1602 atas persetujuan Johan van Oldenbarnevelt. Kota Jakarta kemudian dikuasai Belanda dan diubah namanya menjadi Batavia.

Sultan Agung berusaha mengusir VOC dari Batavia. Pada tahun 1628, tentara Mataram melancarkan serangan besar yang berlangsung selama dua bulan. Namun karena VOC memiliki persenjataan yang lebih lengkap dan modern, serangan tersebut gagal. Tahun berikutnya, 1629, Mataram kembali menyerang. Dalam pertempuran itu, Bau Rekso, Bupati Kendal, gugur. Selain itu, VOC membakar hampir seluruh lumbung persediaan makanan tentara Mataram sehingga pasukan mengalami kelaparan dan akhirnya terpaksa mundur. Menurut cerita masyarakat, hanya Lumbung Dalem di Pekandangan, Indramayu, yang tidak ikut terbakar.

Tentara Mataram Menetap di Losarang

Pasukan Mataram yang kembali dari Batavia tidak semuanya pulang ke pusat kerajaan. Sebagian memilih menetap di wilayah barat kekuasaan Mataram, terutama di daerah Indramayu dan Losarang, pada kampung-kampung yang dianggap aman dari pengawasan VOC.

Mereka masih membawa senjata perang seperti tombak, keris, pedang, dan berbagai pusaka lainnya. Karena itu, hingga beberapa generasi kemudian, masyarakat setempat masih menyimpan senjata warisan leluhur yang dirawat dengan baik.

Di tempat persembunyian itu para bekas prajurit sering berkumpul untuk menyusun siasat. Seusai melaksanakan salat, mereka duduk berkerumun sambil mengenakan sarung. Tempat berkumpul tersebut lama-kelamaan dikenal sebagai tempat kerimun (berkerumun), yang kemudian berubah menjadi nama Desa Krimun.

Munculnya Kampung Sarang

Semakin lama persediaan makanan mereka semakin menipis. Setiap ada orang yang melintas sambil membawa bahan makanan atau perbekalan, mereka mengira barang-barang itu akan dikirim kepada Kompeni. Karena itu, perbekalan tersebut dirampas. Orang yang melawan sering dibegal atau diserang. Tindakan itu pada awalnya dianggap sebagai bagian dari perang gerilya melawan Belanda.

Namun lama-kelamaan daerah tersebut dikenal sebagai tempat berkumpulnya para perampok dan penyamun. Kampung itu kemudian disebut Kampung Sarang, yaitu sarang para penyamun. Bahkan hingga sekitar tahun 1930-an, masyarakat masih sering mendengar adanya pembegalan terhadap orang-orang yang melintas di daerah Krimun dan Losarang.

Lahirnya Nama Muntur

Kabar tentang daerah Sarang menyebar luas ke berbagai penjuru. Berita itu terdengar bagaikan gemuruh halilintar yang menggelegar ke mana-mana. Dalam bahasa setempat, suara yang bergemuruh itu disebut gumuntur.

Dari kata itulah kemudian muncul nama Gumuntur, yang lambat laun berubah menjadi Muntur.

Dalam sebuah candra desa yang tertulis pada daun lontar disebutkan:

“Sekar puntang Krimun Pendawa Jangga, gumuruh gumuntur mangsa Randega.”

Kalimat tersebut menggambarkan suasana daerah yang gaduh, penuh pergolakan, dan dianggap sebagai wilayah yang sulit ditembus oleh musuh.

Kedatangan Haji Abdul Fatah Walakiah

Pada suatu masa datang seorang ulama asal Karawang bernama Haji Abdul Fatah Walakiah. Ketika melewati daerah itu, ia berhasil selamat dari gangguan para penyamun. Merasa mendapat perlindungan Allah, ia memutuskan menetap di Muntur.

Beliau kemudian dikenal sebagai penolong masyarakat. Dengan logat Sunda Karawang ia sering berkata:

“Bade nganteur kanu sieun, nulung kanu susah.” (Akan mengantar orang yang ketakutan dan menolong orang yang kesusahan.)

Kehadirannya membawa ketenangan bagi masyarakat setempat.

Pemecahan Kampung Sarang

Sejak tahun 1771, wilayah Kampung Sarang dibagi menjadi dua daerah, yaitu Muntur dan Krimun. Pembagian itu terjadi ketika daerah tersebut mulai dikuasai oleh para tuan tanah Belanda.

Tidak lama kemudian, pada tahun 1777, Belanda membangun Gedong Demang Losarang sebagai pusat pemerintahan dan pengawasan wilayah.

Pada masa itu masyarakat mengenal istilah Zaman Kobokan. Setiap orang yang selesai membawa kerbau yang dianggap berpenyakit diwajibkan mencuci tangan dengan air karbol di sebuah kobokan (tempat cuci tangan) sebelum kembali ke rumah.

Perjalanan Dakwah Ki Kuwu Sangkan

Kisah ini juga berkaitan dengan perjalanan Ki Kuwu Sangkan dalam menyebarkan agama Islam di wilayah Indramayu sejak abad ke-16 hingga masa kekuasaan tuan-tuan tanah Belanda.

Dalam lontar diceritakan:

Bubare Sing Parean Desa Santing Kegunturan Krimun caket ning margi Puntang kandang sapi Kedepok ning pinggir sumur Karang Anyar aris jangga Rancagunda kaline mati Logog Gempol wong Pegagan Nabuh bareng sor Kendayakan

Dan dilanjutkan:

Desa Jumbleng kebon jambu Betokan ning pinggir kali Karang Malang kali Pendawa Kedepok ning Kali Asin Wong Rancagunda pating geletak Kali Waru kaline mati

Syair-syair lontar tersebut menggambarkan suka duka perjalanan dakwah Ki Kuwu Sangkan. Setiap daerah memiliki keadaan yang berbeda-beda: ada yang aman, ada yang penuh kesulitan, bahkan ada yang dilanda bencana dan peperangan.

Dakwah Melalui Kesenian Trebang

Dalam menjalankan dakwahnya, Ki Kuwu Sangkan tidak hanya menggunakan ceramah, tetapi juga memanfaatkan kesenian Trebang agar ajaran Islam lebih mudah diterima masyarakat.

Beliau mengajarkan bahwa pada hari Sabtu masyarakat sebaiknya tidak bepergian jauh. Pertunjukan Trebang disusun dalam beberapa tarian, yaitu:

  1. Tari Burat Gembir — melambangkan penghormatan dan penyambutan.

  2. Tari Udang-Udang.

  3. Tari Lontang.

  4. Tari Ejeng-Ejeng.

  5. Tari Yu Lallah — bermakna ajakan untuk menyembah Allah.

Melalui kesenian itulah Ki Kuwu Sangkan berhasil mendekatkan ajaran Islam kepada masyarakat tanpa meninggalkan budaya lokal yang telah hidup sejak lama.

 


 

WIRALODRA

Sabtu, 18 Juli 2026

 

Pendiri Indramayu Di daerah Bagelen Jawa Tengah yaitu di Banyu Urip tinggallah seorang Tumenggung Bernama Gagak Singalodra mempunyai lima orang putra, yaitu Raden Wangsanegara, Raden Ayu Wangsayuda, Raden Bagus Arya Wiralodra, Raden Bagus Tanujaya dan Raden Bagus Tanujiwa. Raden Bagus Wiralodra Putra ketiga yang berjiwa besar dan bercita-cita luhur, ia ingin membangun suatu Negara untuk diwariskan kelak kepada anak cucunya dengan tempat tinggal yang makmur dan sejahtera rakyatnya.

Raden Wiralodra menjalankan tapa brata di perbukitan Melayu di Gunung Sumbing. Setelah tiga tahun, ia mendapat wangsit yang berbunyi “ Raden Arya Wiralodra, apabila engkau ingin berbahagia serta keturunanmu dikemudian hari, pergilau merantau ke arah matahari terbenam dan carilah lembah Sungai Cimanuk. Manakala engkau tiba di sana, berhentilah dan tebanglah hutan belukar secukupnya untuk mendirikan sebuah pendukuhan dan menetaplah di sana. Kelak tempat itu akan menjadi subur dan makmur dan tujuh keturunanmu akan memerintah di sana”. Setelah mendapatkan wangsit, Raden Arya Wiralodra kembali ke Banyu Urip dan menyampaikan wangsit kepada Ayahandanya, Raden Gagak Singalodra. Raden Gagak Singalodra berkata, “ Hai Anakku Wiralodra betapapun berat hati ayah melepaskanmu untuk mencari Sungai Cimanuk, ayah menghargai cita-citamu yang begitu mulia, berhati-hatilah hidup dirantau orang, bawalah Tinggil untuk menyertai perjalananmu.”

Diceritakan bahwa perjalanan Raden Wiralodra dan KiTinggil memakan waktu 3 tahun. Ia pun terus berjalan menuju arah matahari tenggelam. Akhirnya suatu senja, sampai di sebuah sungai yang amat besar, betapa sukaria hatinya karena disangka sungai itu adalah Sungai Cimanuk yang sedang dicarinya. Berkata Raden Wiralodra pada Ki Tinggil, “ Rupanya inilah Sungai Cimanuk yang sedang kita cari.”Ki Tinggil menjawab, “Hamba pikir lebih baik ambil istirahat sampai besok pagi.”

Pada keesokan paginya ada seorang kakek yang memperhatikan Raden Wiralodra dan Ki Tinggil yang tertidur lelap, kakek itu mendekati lalu berkata, “Hai kisanak, siapakah kalian bedua? Kenapa tidur di situ?” Ki Tinggil dan Raden Wiralodra terkejut melihat kakek yang tiba-tiba ada di hadapannya lalu Raden Wiralodra menjawab, “kek kami tertidur dan perlu kakek ketahui bahwa Saya Raden Wiralodra dan Ki Tinggil. Kami dari Banyu Urip”

Lalu Raden Wiralodra menceritakan perjalanannya hingga tiba di pinggir sungai besar. Kemudian Raden Wiralodra bertanya sambil menatap wajah kakek tersebut.“kek, apakah ini Sungai Cimanuk yang selama ini saya cari?” Kakek menjawab, “Kasihan cucu-cucuku, sungai yang kalian cari sudah jauh terlewat. Perlu cucu ketahui, Sungai besar ini adalah Sungai Citarum.”


SEJARAH DESA KAPRINGAN

Rabu, 15 Juli 2026

A. Gambaran Umum

Desa Kapringan merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Kerangkeng (sekarang termasuk Kecamatan Kandanghaur sesuai perkembangan administrasi), Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Desa ini memiliki letak yang strategis karena berada di kawasan pesisir utara Jawa yang sejak masa lampau menjadi jalur perlintasan perdagangan dan penyebaran kebudayaan.

Secara administratif, Desa Kapringan berbatasan dengan:

  • Sebelah Utara : Desa Purwajaya.
  • Sebelah Selatan : Desa Singakerta.
  • Sebelah Barat : Desa Sibubut.
  • Sebelah Timur : Desa Jagapura.

Sebagai salah satu desa tua di Kabupaten Indramayu, Desa Kapringan memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan perkembangan Kesultanan Cirebon dan proses penyebaran agama Islam di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat. Sejarah tersebut hingga kini masih hidup dalam bentuk cerita lisan yang diwariskan secara turun-temurun oleh para sesepuh desa.

B. Asal-Usul Nama Desa Kapringan

Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, nama Kapringan berasal dari kata pring, yaitu sebutan untuk bambu dalam bahasa Sunda dan Jawa. Pada masa awal pembukaan wilayah tersebut, kawasan yang kini menjadi Desa Kapringan masih berupa hutan lebat yang hampir seluruhnya ditumbuhi pohon bambu.

Awalan ka- pada kata Kapringan menunjukkan suatu tempat atau kawasan. Dengan demikian, nama Kapringan dapat diartikan sebagai tempat yang dipenuhi pohon bambu atau perkampungan yang dibangun di atas bekas hutan bambu.

Nama tersebut kemudian dipertahankan oleh masyarakat sebagai identitas desa hingga sekarang, sekaligus menjadi pengingat terhadap sejarah awal terbentuknya permukiman di wilayah tersebut.

C. Legenda Berdirinya Desa Kapringan

Menurut tradisi lisan masyarakat, Desa Kapringan didirikan oleh seorang tokoh bernama Patih Pringgabaya. Tokoh ini dipercaya merupakan salah seorang patih Kesultanan Cirebon pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) sekitar abad ke-15 hingga awal abad ke-16 Masehi.

Dalam cerita rakyat yang berkembang, Patih Pringgabaya dikenal sebagai seorang panglima yang memiliki keberanian, kecerdasan, dan kesetiaan kepada Kesultanan Cirebon. Beliau dikisahkan turut serta bersama para patih lainnya dalam mempertahankan wilayah Kesultanan Cirebon dari serangan Kerajaan Rajagaluh. Pertempuran tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam upaya Kesultanan Cirebon memperkuat kedudukannya di wilayah Jawa Barat.

Setelah peperangan berhasil dimenangkan, Sunan Gunung Jati memberikan amanah kepada Patih Pringgabaya untuk melaksanakan syiar Islam di wilayah utara Cirebon. Pada masa itu, penyebaran Islam tidak hanya dilakukan melalui dakwah, tetapi juga dengan membangun permukiman baru yang dapat menjadi pusat kegiatan masyarakat dan pendidikan agama.

Menerima amanah tersebut, Patih Pringgabaya bersama para pengikutnya melakukan perjalanan ke arah utara menyusuri kawasan pesisir. Selama perjalanan, beliau mengajarkan ajaran Islam kepada masyarakat yang ditemui serta mengajak mereka membangun kehidupan yang damai, saling menghormati, dan bergotong royong.

Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, rombongan menemukan sebuah kawasan hutan yang memiliki sumber air, tanah yang subur, dan letak yang strategis. Namun demikian, wilayah tersebut masih berupa hutan belantara yang dipenuhi rumpun-rumpun bambu dengan ukuran besar dan tumbuh sangat rapat.

Melihat potensi wilayah tersebut, Patih Pringgabaya memutuskan untuk membuka hutan sebagai tempat mendirikan permukiman. Bersama para pengikutnya, beliau menebang pohon-pohon bambu secara bergotong royong hingga terbentuk lahan yang cukup luas untuk membangun rumah, jalan, tempat ibadah, serta lahan pertanian.

Seluruh bambu yang ditebang dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Rumah-rumah pertama di kawasan tersebut dibangun menggunakan bambu sehingga tidak ada bagian yang terbuang sia-sia. Selain sebagai bahan bangunan, bambu juga digunakan untuk membuat pagar, jembatan sederhana, lumbung penyimpanan hasil panen, serta berbagai peralatan rumah tangga.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak masyarakat yang datang dan menetap di kawasan tersebut. Permukiman berkembang menjadi sebuah perkampungan yang tertata. Selain menjadi tempat tinggal, kampung tersebut juga menjadi pusat penyebaran agama Islam, tempat masyarakat belajar mengaji, bermusyawarah, dan menjalankan kehidupan sosial yang dilandasi nilai-nilai keagamaan.

Karena perkampungan tersebut dibangun di atas bekas hutan bambu (pring) dan sebagian besar rumah penduduknya terbuat dari bambu, masyarakat kemudian menyebutnya sebagai Kapringan. Nama tersebut akhirnya digunakan secara turun-temurun hingga menjadi nama resmi desa.

D. Nilai-Nilai Sejarah dan Budaya

Terlepas dari statusnya sebagai legenda yang diwariskan melalui tradisi lisan, kisah Patih Pringgabaya mengandung berbagai nilai luhur yang masih relevan hingga saat ini.

Pertama, nilai religius, yaitu semangat menyebarkan ajaran Islam melalui pendekatan yang damai, penuh keteladanan, dan mengutamakan kehidupan bermasyarakat.

Kedua, nilai gotong royong, yang tercermin dari kerja sama masyarakat dalam membuka hutan, membangun rumah, dan membentuk sebuah permukiman baru.

Ketiga, nilai kepemimpinan, yaitu keberanian seorang pemimpin dalam mengambil keputusan, mengayomi masyarakat, serta mengarahkan pembangunan wilayah.

Keempat, nilai kepedulian terhadap lingkungan, karena masyarakat memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana tanpa menyia-nyiakan hasil yang diperoleh dari alam.

Nilai-nilai tersebut hingga kini masih menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Desa Kapringan dan menjadi identitas budaya yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

E. Catatan Historis

Hingga saat ini, kisah mengenai Patih Pringgabaya masih didasarkan pada tradisi lisan yang berkembang di tengah masyarakat Desa Kapringan. Belum ditemukan sumber tertulis primer yang secara khusus menjelaskan pendirian Desa Kapringan ataupun keterkaitan langsung Patih Pringgabaya dengan wilayah tersebut. Oleh karena itu, cerita ini lebih tepat diposisikan sebagai legenda atau folklor lokal yang memiliki nilai sejarah budaya.

Meskipun demikian, secara historis dapat dipahami bahwa wilayah Indramayu memang berada dalam pengaruh Kesultanan Cirebon pada abad ke-15 hingga ke-16. Pada masa tersebut berlangsung proses pembukaan permukiman baru serta penyebaran agama Islam di berbagai wilayah pesisir utara Jawa Barat. Dengan demikian, legenda Patih Pringgabaya dapat dipandang sebagai bagian dari memori kolektif masyarakat yang merefleksikan proses sejarah tersebut.

Oleh karena itu, sejarah Desa Kapringan tidak hanya memiliki makna sebagai kisah asal-usul sebuah permukiman, tetapi juga sebagai warisan budaya yang memperkuat identitas masyarakat serta menjadi pengingat akan perjuangan para pendahulu dalam membangun desa yang berlandaskan nilai keagamaan, persatuan, dan semangat gotong royong.

 



 

SRENGSENG

Sejarah Desa Srengseng dan Legenda Delapan Sumur Tua

A. Asal-Usul Desa Srengseng

Desa Srengseng merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Selain memiliki sejarah perkembangan sebagai kawasan permukiman yang cukup tua, Desa Srengseng juga dikenal luas karena menyimpan legenda mengenai keberadaan delapan sumur tua yang hingga kini masih menjadi bagian dari cerita turun-temurun masyarakat. Legenda tersebut telah hidup selama berabad-abad dan menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Desa Srengseng.

Menurut cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi, asal-usul Desa Srengseng bermula sekitar abad ke-14 Masehi. Pada masa itu, wilayah yang sekarang menjadi Desa Srengseng masih berupa hutan belantara yang dipenuhi pepohonan besar, semak belukar, serta belum banyak dihuni oleh manusia. Daerah tersebut dikenal memiliki tanah yang subur dan sumber daya alam yang melimpah, namun masih belum tersentuh oleh pembangunan permukiman.

Pada masa itu hiduplah seorang pengembara sekaligus penyebar agama yang berasal dari wilayah Banten. Tokoh tersebut dikenal masyarakat dengan nama Ki Gede Syekh Royani. Beliau digambarkan sebagai seorang ulama yang memiliki ilmu agama, kebijaksanaan, serta kemampuan spiritual yang tinggi. Perjalanannya bukan semata-mata untuk mencari tempat tinggal baru, melainkan juga untuk menyebarkan ajaran kebaikan dan membangun kehidupan masyarakat yang damai.

Dalam pengembaraannya menuju wilayah timur, Ki Gede Syekh Royani singgah di kawasan Gunung Jati, Cirebon. Di tempat tersebut beliau bertemu dengan beberapa tokoh yang memiliki tujuan perjalanan yang sama, yaitu Ki Wandan, Nyi Mas Karang Tapa, Lebe Mangku, dan Syekh Bayan. Kelima tokoh tersebut kemudian menjalin persaudaraan dan sepakat melanjutkan perjalanan bersama-sama.

Mereka menyusuri wilayah pesisir utara Cirebon hingga akhirnya tiba di sebuah kawasan yang berada di perbatasan antara wilayah Cirebon dan Indramayu. Setelah mengamati kondisi alam di sekitarnya, mereka menilai bahwa kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk dijadikan tempat bermukim. Tanahnya subur, pepohonannya rindang, serta terdapat tanda-tanda keberadaan sumber air yang melimpah. Atas dasar pertimbangan tersebut, mereka memutuskan untuk menetap dan membuka kehidupan baru di tempat yang kemudian dikenal sebagai Desa Srengseng.

B. Pertapaan dan Datangnya Petunjuk

Sebagaimana kebiasaan para tokoh pada masa lampau, sebelum membuka sebuah permukiman mereka terlebih dahulu melakukan tirakat dan pertapaan. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tempat yang akan dihuni membawa keselamatan, keberkahan, dan kesejahteraan bagi generasi yang akan datang.

Ki Gede Syekh Royani bersama Ki Wandan, Nyi Mas Karang Tapa, Lebe Mangku, dan Syekh Bayan kemudian menjalani pertapaan di beberapa lokasi yang dianggap memiliki nilai spiritual tinggi. Selama masa pertapaan tersebut, mereka dikisahkan memperoleh berbagai isyarat dan petunjuk melalui mimpi maupun wangsit.

Ki Gede Syekh Royani memperoleh sebuah wangsit mengenai keberadaan sebongkah emas berbentuk bulat besar menyerupai grengseng, yaitu kuali besar yang pada masa dahulu digunakan sebagai alat memasak. Bentuk emas tersebut dipercaya melambangkan kemakmuran, kesejahteraan, serta harapan bahwa daerah yang akan dibangun kelak menjadi tempat yang makmur bagi masyarakatnya.

Sementara itu, para tokoh lainnya memperoleh mimpi mengenai munculnya sebuah sumber mata air yang sangat besar. Dalam mimpi tersebut tampak air memancar dari dalam tanah dengan debit yang begitu deras sehingga mengalir ke berbagai penjuru. Air tersebut digambarkan sebagai sumber kehidupan yang tidak pernah berhenti mengalir dan mampu menghidupi seluruh masyarakat di sekitarnya.

Namun derasnya pancaran air juga menimbulkan kekhawatiran. Jika dibiarkan begitu saja, air yang terus keluar dikhawatirkan akan menyebabkan banjir dan merusak kawasan yang baru akan dibangun. Oleh karena itu, mereka sepakat untuk mencari cara agar sumber air tersebut dapat dimanfaatkan tanpa menimbulkan bencana.

C. Legenda Delapan Sumur Tua

Berdasarkan petunjuk yang diperoleh melalui pertapaan tersebut, para tokoh kemudian menggali beberapa lubang besar sebagai tempat menampung pancaran air yang keluar dari dalam tanah. Lubang-lubang tersebut dibuat menyerupai sumur dengan ukuran yang jauh lebih besar dibandingkan sumur pada umumnya.

Menurut legenda masyarakat, sumur-sumur tersebut dibangun dengan teknik yang sangat unik. Pada bagian dasar sumur digunakan kayu lamaran, yaitu sejenis kayu tua yang dipercaya memiliki daya tahan tinggi terhadap air dan tidak mudah lapuk meskipun terendam selama bertahun-tahun. Penggunaan kayu tersebut diyakini menjadi salah satu alasan mengapa sumur-sumur tua itu mampu bertahan hingga sekarang.

Sumur-sumur tersebut kemudian dikenal dengan nama-nama sebagai berikut:

  • Sumur Gede
  • Sumur Andrakiyah
  • Sumur Lebu
  • Sumur Mundu
  • Sumur Ketho (Titipan NYIMAS ENDANG KEKASIH/NYI GEDHE KRANGKENG)
  • Sumur Sibungkar
  • Sumur Satria
  • Sumur Penganten

Selain delapan sumur tersebut, masyarakat juga mengenal Sumur Pondok yang kini berada di wilayah Desa Dukuhjati, yaitu desa yang kemudian berkembang sebagai hasil pemekaran dari Desa Srengseng. Di samping itu, menurut penuturan para sesepuh desa, masih terdapat dua sumur tua lainnya yang hingga kini keberadaan maupun nama aslinya belum diketahui secara pasti.

Dalam kepercayaan masyarakat, setiap sumur memiliki fungsi dan makna tersendiri. Selain sebagai penampung air, sumur-sumur tersebut dipercaya menjadi simbol kehidupan, kesuburan, serta perlindungan bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Air yang berasal dari sumur-sumur itu dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mengairi lahan pertanian, serta menjadi sumber kehidupan bagi penduduk yang mulai berdatangan dan menetap di kawasan tersebut.

D. Asal Nama Srengseng

Legenda masyarakat juga mengaitkan asal-usul nama Srengseng dengan wangsit yang diterima Ki Gede Syekh Royani mengenai sebongkah emas yang berbentuk menyerupai grengseng atau kuali besar.

Seiring berjalannya waktu, penyebutan kata grengseng mengalami perubahan pengucapan dalam bahasa masyarakat setempat hingga menjadi Srengseng. Nama tersebut kemudian digunakan untuk menyebut kawasan permukiman yang dibangun oleh Ki Gede Syekh Royani bersama para pengikutnya dan akhirnya menjadi nama resmi desa yang dikenal hingga saat ini.

E. Perkembangan Permukiman

Setelah sumber air berhasil dikendalikan melalui pembangunan sumur-sumur besar tersebut, kawasan di sekitar permukiman mulai berkembang dengan pesat. Masyarakat dari berbagai daerah datang untuk membuka lahan pertanian, mendirikan rumah, serta membangun kehidupan bersama.

Ki Gede Syekh Royani dan para sahabatnya tidak hanya membuka hutan, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang berlandaskan ajaran agama, gotong royong, musyawarah, serta saling menghormati. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar terbentuknya kehidupan sosial masyarakat Desa Srengseng yang terus diwariskan hingga sekarang.

Keberadaan sumur-sumur tua menjadi bagian penting dalam perkembangan desa. Selain memenuhi kebutuhan air, sumur-sumur tersebut menjadi penanda sejarah bahwa kehidupan masyarakat Srengseng bermula dari keberhasilan para leluhur mengelola sumber daya alam secara arif dan bijaksana.

F. Nilai-Nilai Budaya dan Sejarah

Meskipun kisah Ki Gede Syekh Royani dan Delapan Sumur Tua berkembang dalam bentuk tradisi lisan dan belum seluruhnya didukung oleh sumber sejarah tertulis, legenda ini memiliki nilai budaya yang sangat penting bagi masyarakat Desa Srengseng.

Cerita tersebut mengajarkan bahwa pembangunan sebuah desa tidak hanya membutuhkan keberanian dan kerja keras, tetapi juga kebersamaan, kepedulian terhadap lingkungan, serta keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Air yang menjadi pusat legenda melambangkan kehidupan, sedangkan sumur-sumur tua menjadi simbol harapan agar kehidupan masyarakat senantiasa memperoleh keberkahan dan kemakmuran.

Hingga saat ini, legenda Delapan Sumur Tua masih dikenang oleh masyarakat sebagai bagian dari identitas Desa Srengseng. Kisah tersebut tidak hanya menjadi warisan budaya yang memperkuat jati diri masyarakat, tetapi juga menjadi pengingat akan perjuangan para leluhur dalam membuka hutan, membangun permukiman, dan meletakkan dasar kehidupan yang harmonis bagi generasi-generasi berikutnya.