SEJARAH DESA KAPRINGAN

Rabu, 15 Juli 2026

A. Gambaran Umum

Desa Kapringan merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Kerangkeng (sekarang termasuk Kecamatan Kandanghaur sesuai perkembangan administrasi), Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Desa ini memiliki letak yang strategis karena berada di kawasan pesisir utara Jawa yang sejak masa lampau menjadi jalur perlintasan perdagangan dan penyebaran kebudayaan.

Secara administratif, Desa Kapringan berbatasan dengan:

  • Sebelah Utara : Desa Purwajaya.
  • Sebelah Selatan : Desa Singakerta.
  • Sebelah Barat : Desa Sibubut.
  • Sebelah Timur : Desa Jagapura.

Sebagai salah satu desa tua di Kabupaten Indramayu, Desa Kapringan memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan perkembangan Kesultanan Cirebon dan proses penyebaran agama Islam di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat. Sejarah tersebut hingga kini masih hidup dalam bentuk cerita lisan yang diwariskan secara turun-temurun oleh para sesepuh desa.

B. Asal-Usul Nama Desa Kapringan

Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, nama Kapringan berasal dari kata pring, yaitu sebutan untuk bambu dalam bahasa Sunda dan Jawa. Pada masa awal pembukaan wilayah tersebut, kawasan yang kini menjadi Desa Kapringan masih berupa hutan lebat yang hampir seluruhnya ditumbuhi pohon bambu.

Awalan ka- pada kata Kapringan menunjukkan suatu tempat atau kawasan. Dengan demikian, nama Kapringan dapat diartikan sebagai tempat yang dipenuhi pohon bambu atau perkampungan yang dibangun di atas bekas hutan bambu.

Nama tersebut kemudian dipertahankan oleh masyarakat sebagai identitas desa hingga sekarang, sekaligus menjadi pengingat terhadap sejarah awal terbentuknya permukiman di wilayah tersebut.

C. Legenda Berdirinya Desa Kapringan

Menurut tradisi lisan masyarakat, Desa Kapringan didirikan oleh seorang tokoh bernama Patih Pringgabaya. Tokoh ini dipercaya merupakan salah seorang patih Kesultanan Cirebon pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) sekitar abad ke-15 hingga awal abad ke-16 Masehi.

Dalam cerita rakyat yang berkembang, Patih Pringgabaya dikenal sebagai seorang panglima yang memiliki keberanian, kecerdasan, dan kesetiaan kepada Kesultanan Cirebon. Beliau dikisahkan turut serta bersama para patih lainnya dalam mempertahankan wilayah Kesultanan Cirebon dari serangan Kerajaan Rajagaluh. Pertempuran tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam upaya Kesultanan Cirebon memperkuat kedudukannya di wilayah Jawa Barat.

Setelah peperangan berhasil dimenangkan, Sunan Gunung Jati memberikan amanah kepada Patih Pringgabaya untuk melaksanakan syiar Islam di wilayah utara Cirebon. Pada masa itu, penyebaran Islam tidak hanya dilakukan melalui dakwah, tetapi juga dengan membangun permukiman baru yang dapat menjadi pusat kegiatan masyarakat dan pendidikan agama.

Menerima amanah tersebut, Patih Pringgabaya bersama para pengikutnya melakukan perjalanan ke arah utara menyusuri kawasan pesisir. Selama perjalanan, beliau mengajarkan ajaran Islam kepada masyarakat yang ditemui serta mengajak mereka membangun kehidupan yang damai, saling menghormati, dan bergotong royong.

Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, rombongan menemukan sebuah kawasan hutan yang memiliki sumber air, tanah yang subur, dan letak yang strategis. Namun demikian, wilayah tersebut masih berupa hutan belantara yang dipenuhi rumpun-rumpun bambu dengan ukuran besar dan tumbuh sangat rapat.

Melihat potensi wilayah tersebut, Patih Pringgabaya memutuskan untuk membuka hutan sebagai tempat mendirikan permukiman. Bersama para pengikutnya, beliau menebang pohon-pohon bambu secara bergotong royong hingga terbentuk lahan yang cukup luas untuk membangun rumah, jalan, tempat ibadah, serta lahan pertanian.

Seluruh bambu yang ditebang dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Rumah-rumah pertama di kawasan tersebut dibangun menggunakan bambu sehingga tidak ada bagian yang terbuang sia-sia. Selain sebagai bahan bangunan, bambu juga digunakan untuk membuat pagar, jembatan sederhana, lumbung penyimpanan hasil panen, serta berbagai peralatan rumah tangga.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak masyarakat yang datang dan menetap di kawasan tersebut. Permukiman berkembang menjadi sebuah perkampungan yang tertata. Selain menjadi tempat tinggal, kampung tersebut juga menjadi pusat penyebaran agama Islam, tempat masyarakat belajar mengaji, bermusyawarah, dan menjalankan kehidupan sosial yang dilandasi nilai-nilai keagamaan.

Karena perkampungan tersebut dibangun di atas bekas hutan bambu (pring) dan sebagian besar rumah penduduknya terbuat dari bambu, masyarakat kemudian menyebutnya sebagai Kapringan. Nama tersebut akhirnya digunakan secara turun-temurun hingga menjadi nama resmi desa.

D. Nilai-Nilai Sejarah dan Budaya

Terlepas dari statusnya sebagai legenda yang diwariskan melalui tradisi lisan, kisah Patih Pringgabaya mengandung berbagai nilai luhur yang masih relevan hingga saat ini.

Pertama, nilai religius, yaitu semangat menyebarkan ajaran Islam melalui pendekatan yang damai, penuh keteladanan, dan mengutamakan kehidupan bermasyarakat.

Kedua, nilai gotong royong, yang tercermin dari kerja sama masyarakat dalam membuka hutan, membangun rumah, dan membentuk sebuah permukiman baru.

Ketiga, nilai kepemimpinan, yaitu keberanian seorang pemimpin dalam mengambil keputusan, mengayomi masyarakat, serta mengarahkan pembangunan wilayah.

Keempat, nilai kepedulian terhadap lingkungan, karena masyarakat memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana tanpa menyia-nyiakan hasil yang diperoleh dari alam.

Nilai-nilai tersebut hingga kini masih menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Desa Kapringan dan menjadi identitas budaya yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

E. Catatan Historis

Hingga saat ini, kisah mengenai Patih Pringgabaya masih didasarkan pada tradisi lisan yang berkembang di tengah masyarakat Desa Kapringan. Belum ditemukan sumber tertulis primer yang secara khusus menjelaskan pendirian Desa Kapringan ataupun keterkaitan langsung Patih Pringgabaya dengan wilayah tersebut. Oleh karena itu, cerita ini lebih tepat diposisikan sebagai legenda atau folklor lokal yang memiliki nilai sejarah budaya.

Meskipun demikian, secara historis dapat dipahami bahwa wilayah Indramayu memang berada dalam pengaruh Kesultanan Cirebon pada abad ke-15 hingga ke-16. Pada masa tersebut berlangsung proses pembukaan permukiman baru serta penyebaran agama Islam di berbagai wilayah pesisir utara Jawa Barat. Dengan demikian, legenda Patih Pringgabaya dapat dipandang sebagai bagian dari memori kolektif masyarakat yang merefleksikan proses sejarah tersebut.

Oleh karena itu, sejarah Desa Kapringan tidak hanya memiliki makna sebagai kisah asal-usul sebuah permukiman, tetapi juga sebagai warisan budaya yang memperkuat identitas masyarakat serta menjadi pengingat akan perjuangan para pendahulu dalam membangun desa yang berlandaskan nilai keagamaan, persatuan, dan semangat gotong royong.

 



 

SRENGSENG

Sejarah Desa Srengseng dan Legenda Delapan Sumur Tua

A. Asal-Usul Desa Srengseng

Desa Srengseng merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Selain memiliki sejarah perkembangan sebagai kawasan permukiman yang cukup tua, Desa Srengseng juga dikenal luas karena menyimpan legenda mengenai keberadaan delapan sumur tua yang hingga kini masih menjadi bagian dari cerita turun-temurun masyarakat. Legenda tersebut telah hidup selama berabad-abad dan menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Desa Srengseng.

Menurut cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi, asal-usul Desa Srengseng bermula sekitar abad ke-14 Masehi. Pada masa itu, wilayah yang sekarang menjadi Desa Srengseng masih berupa hutan belantara yang dipenuhi pepohonan besar, semak belukar, serta belum banyak dihuni oleh manusia. Daerah tersebut dikenal memiliki tanah yang subur dan sumber daya alam yang melimpah, namun masih belum tersentuh oleh pembangunan permukiman.

Pada masa itu hiduplah seorang pengembara sekaligus penyebar agama yang berasal dari wilayah Banten. Tokoh tersebut dikenal masyarakat dengan nama Ki Gede Syekh Royani. Beliau digambarkan sebagai seorang ulama yang memiliki ilmu agama, kebijaksanaan, serta kemampuan spiritual yang tinggi. Perjalanannya bukan semata-mata untuk mencari tempat tinggal baru, melainkan juga untuk menyebarkan ajaran kebaikan dan membangun kehidupan masyarakat yang damai.

Dalam pengembaraannya menuju wilayah timur, Ki Gede Syekh Royani singgah di kawasan Gunung Jati, Cirebon. Di tempat tersebut beliau bertemu dengan beberapa tokoh yang memiliki tujuan perjalanan yang sama, yaitu Ki Wandan, Nyi Mas Karang Tapa, Lebe Mangku, dan Syekh Bayan. Kelima tokoh tersebut kemudian menjalin persaudaraan dan sepakat melanjutkan perjalanan bersama-sama.

Mereka menyusuri wilayah pesisir utara Cirebon hingga akhirnya tiba di sebuah kawasan yang berada di perbatasan antara wilayah Cirebon dan Indramayu. Setelah mengamati kondisi alam di sekitarnya, mereka menilai bahwa kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk dijadikan tempat bermukim. Tanahnya subur, pepohonannya rindang, serta terdapat tanda-tanda keberadaan sumber air yang melimpah. Atas dasar pertimbangan tersebut, mereka memutuskan untuk menetap dan membuka kehidupan baru di tempat yang kemudian dikenal sebagai Desa Srengseng.

B. Pertapaan dan Datangnya Petunjuk

Sebagaimana kebiasaan para tokoh pada masa lampau, sebelum membuka sebuah permukiman mereka terlebih dahulu melakukan tirakat dan pertapaan. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tempat yang akan dihuni membawa keselamatan, keberkahan, dan kesejahteraan bagi generasi yang akan datang.

Ki Gede Syekh Royani bersama Ki Wandan, Nyi Mas Karang Tapa, Lebe Mangku, dan Syekh Bayan kemudian menjalani pertapaan di beberapa lokasi yang dianggap memiliki nilai spiritual tinggi. Selama masa pertapaan tersebut, mereka dikisahkan memperoleh berbagai isyarat dan petunjuk melalui mimpi maupun wangsit.

Ki Gede Syekh Royani memperoleh sebuah wangsit mengenai keberadaan sebongkah emas berbentuk bulat besar menyerupai grengseng, yaitu kuali besar yang pada masa dahulu digunakan sebagai alat memasak. Bentuk emas tersebut dipercaya melambangkan kemakmuran, kesejahteraan, serta harapan bahwa daerah yang akan dibangun kelak menjadi tempat yang makmur bagi masyarakatnya.

Sementara itu, para tokoh lainnya memperoleh mimpi mengenai munculnya sebuah sumber mata air yang sangat besar. Dalam mimpi tersebut tampak air memancar dari dalam tanah dengan debit yang begitu deras sehingga mengalir ke berbagai penjuru. Air tersebut digambarkan sebagai sumber kehidupan yang tidak pernah berhenti mengalir dan mampu menghidupi seluruh masyarakat di sekitarnya.

Namun derasnya pancaran air juga menimbulkan kekhawatiran. Jika dibiarkan begitu saja, air yang terus keluar dikhawatirkan akan menyebabkan banjir dan merusak kawasan yang baru akan dibangun. Oleh karena itu, mereka sepakat untuk mencari cara agar sumber air tersebut dapat dimanfaatkan tanpa menimbulkan bencana.

C. Legenda Delapan Sumur Tua

Berdasarkan petunjuk yang diperoleh melalui pertapaan tersebut, para tokoh kemudian menggali beberapa lubang besar sebagai tempat menampung pancaran air yang keluar dari dalam tanah. Lubang-lubang tersebut dibuat menyerupai sumur dengan ukuran yang jauh lebih besar dibandingkan sumur pada umumnya.

Menurut legenda masyarakat, sumur-sumur tersebut dibangun dengan teknik yang sangat unik. Pada bagian dasar sumur digunakan kayu lamaran, yaitu sejenis kayu tua yang dipercaya memiliki daya tahan tinggi terhadap air dan tidak mudah lapuk meskipun terendam selama bertahun-tahun. Penggunaan kayu tersebut diyakini menjadi salah satu alasan mengapa sumur-sumur tua itu mampu bertahan hingga sekarang.

Sumur-sumur tersebut kemudian dikenal dengan nama-nama sebagai berikut:

  • Sumur Gede
  • Sumur Andrakiyah
  • Sumur Lebu
  • Sumur Mundu
  • Sumur Ketho (Titipan NYIMAS ENDANG KEKASIH/NYI GEDHE KRANGKENG)
  • Sumur Sibungkar
  • Sumur Satria
  • Sumur Penganten

Selain delapan sumur tersebut, masyarakat juga mengenal Sumur Pondok yang kini berada di wilayah Desa Dukuhjati, yaitu desa yang kemudian berkembang sebagai hasil pemekaran dari Desa Srengseng. Di samping itu, menurut penuturan para sesepuh desa, masih terdapat dua sumur tua lainnya yang hingga kini keberadaan maupun nama aslinya belum diketahui secara pasti.

Dalam kepercayaan masyarakat, setiap sumur memiliki fungsi dan makna tersendiri. Selain sebagai penampung air, sumur-sumur tersebut dipercaya menjadi simbol kehidupan, kesuburan, serta perlindungan bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Air yang berasal dari sumur-sumur itu dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mengairi lahan pertanian, serta menjadi sumber kehidupan bagi penduduk yang mulai berdatangan dan menetap di kawasan tersebut.

D. Asal Nama Srengseng

Legenda masyarakat juga mengaitkan asal-usul nama Srengseng dengan wangsit yang diterima Ki Gede Syekh Royani mengenai sebongkah emas yang berbentuk menyerupai grengseng atau kuali besar.

Seiring berjalannya waktu, penyebutan kata grengseng mengalami perubahan pengucapan dalam bahasa masyarakat setempat hingga menjadi Srengseng. Nama tersebut kemudian digunakan untuk menyebut kawasan permukiman yang dibangun oleh Ki Gede Syekh Royani bersama para pengikutnya dan akhirnya menjadi nama resmi desa yang dikenal hingga saat ini.

E. Perkembangan Permukiman

Setelah sumber air berhasil dikendalikan melalui pembangunan sumur-sumur besar tersebut, kawasan di sekitar permukiman mulai berkembang dengan pesat. Masyarakat dari berbagai daerah datang untuk membuka lahan pertanian, mendirikan rumah, serta membangun kehidupan bersama.

Ki Gede Syekh Royani dan para sahabatnya tidak hanya membuka hutan, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang berlandaskan ajaran agama, gotong royong, musyawarah, serta saling menghormati. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar terbentuknya kehidupan sosial masyarakat Desa Srengseng yang terus diwariskan hingga sekarang.

Keberadaan sumur-sumur tua menjadi bagian penting dalam perkembangan desa. Selain memenuhi kebutuhan air, sumur-sumur tersebut menjadi penanda sejarah bahwa kehidupan masyarakat Srengseng bermula dari keberhasilan para leluhur mengelola sumber daya alam secara arif dan bijaksana.

F. Nilai-Nilai Budaya dan Sejarah

Meskipun kisah Ki Gede Syekh Royani dan Delapan Sumur Tua berkembang dalam bentuk tradisi lisan dan belum seluruhnya didukung oleh sumber sejarah tertulis, legenda ini memiliki nilai budaya yang sangat penting bagi masyarakat Desa Srengseng.

Cerita tersebut mengajarkan bahwa pembangunan sebuah desa tidak hanya membutuhkan keberanian dan kerja keras, tetapi juga kebersamaan, kepedulian terhadap lingkungan, serta keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Air yang menjadi pusat legenda melambangkan kehidupan, sedangkan sumur-sumur tua menjadi simbol harapan agar kehidupan masyarakat senantiasa memperoleh keberkahan dan kemakmuran.

Hingga saat ini, legenda Delapan Sumur Tua masih dikenang oleh masyarakat sebagai bagian dari identitas Desa Srengseng. Kisah tersebut tidak hanya menjadi warisan budaya yang memperkuat jati diri masyarakat, tetapi juga menjadi pengingat akan perjuangan para leluhur dalam membuka hutan, membangun permukiman, dan meletakkan dasar kehidupan yang harmonis bagi generasi-generasi berikutnya.




SEJARAH DESA KALIANYAR INDRAMAYU

Kamis, 09 Januari 2025

 

Asal Mula Berdirinya Desa Kalianyar

Desa Kalianyar merupakan pemekaran dari Desa Krangkeng, dimekar pada tahun 1982. Pada waktu
musyawarah tokoh masyarakat adat setempat untuk mencari nama desa ada beberapa pendapat yang
berbeda-beda, yaitu :
1. Bapak Tamin, dari tokoh masyarakat (Anggota Veteran) mengajukan nama desa “Anggada Sari”,
karena konon ceritanya hutan yang berada di Desa Krangkeng ada seorang penjaga yang menguasai
adalah dari bangsa jin atau mahluk halus bernama Anggada Sari.
2. Bapak Samawi, dari tokoh masyarakat (sesepuh desa) mengajukan nama desa “Dukuh Jajar”, artinya
desa yang berdampingan dengan desa induk (Krangkeng) dan agar senantiasa berjalan bersama.
3. Bapak Ky. Kasir Abu Masykur, dari tokoh ulama (Ketua LKMD) mengajukan nama desa
“Kalianyar”, nama tersebut diambil dari nama blok yang yang ada di Desa Krangkeng, tepatnya lokasi
blok tersebut berada diwilayah daerah pemekaran, didalam Desa Krangkeng terdapat 2 (dua) sungai,
yaitu sungai Oyoran dan sungai Kalianyar.

Hasil dari perbedaan pendapat yang yang diajukan oleh para tokoh ulama dan tokoh masyarakat dalam
musyawarah tersebut menyetujui pendapat yang terakhir Bapak Ky. Kasir Abu Maykur yaitu tercetus
nama desa Kalianyar.

Sistem Pemerintahan
Setelah terbentuknya Desa Kalianyar menjadi pemerintahan desa yang berdiri sendiri (mekar) dari Desa
Induk (Krangkeng), Desa Kalianyar mulai menata desa berawal dari sistem pemerintahan dan
seterusnya. Kepala Pemerintahan Desa (Kuwu) pertama yang menjabat pada saat itu adalah Bapak Sasro
yang ditunjuk dari pejabat juru tulis Desa Krangkeng (Desa Induk) pada saat itu Bapak Tarmuki sebagai
Kuwu Desa Krangkeng dan kakak kandung dari Bapak Sasro.
Selain Kuwu atau Kepala Pemerintahan, untuk memperjelas status desa pembagian wilayah teritorial
juga disesuaikan dengan aturan pada saat itu 55% untuk desa induk (Krangkeng) dan 45% untuk desa
pemekaran, Desa Kalianyar mendapat bagian + 800 Ha terdiri dari pekarangan, pesawahan dan
pertambakan.
Adapun batas-batas wilayah meliputi :
· Sebelah Utara : Desa Krangkeng
· Sebelah Selatan : Desa Luwunggesik
· Sebelah Barat : Desa Drengseng
· Sebelah Timur : Laut Jawa

 

CATATAN KUWU PEMEKARAN (KALI ANYAR)

01. Kuwu Sasro : dari tahun 1982 M – 1984 M.
02. Kuwu Burhanudin : dari tahun 1984 M – 1993 M.
03. Kuwu Husni : dari tahun 1993 M – 1994 M.
04. Kuwu Ranadi, HS. : dari tahun 1994 M – 2002 M.
05. Kuwu Jabidi : dari tahun 2002 M – 2003 M.
06. Kuwu Syafi’i : dari tahun 2003 M – 2003 M.
07. Kuwu Ranadi, HS. : dari tahun 2003 M – 2013 M.
08. Pjs. Kuwu Marhamah : dari tahun 2013 M – 2014 M.
09. Pjs. Kuwu Abdul Mutholib : dari tahun 2014 M – 2014 M.
10. Kuwu Syahroni Agus : dari tahun 2014 M – 2021 M.
11. Pjs. Kuwu Rastono : dari Tahun 2021 M – 2021 M.

12. Kuwu Syahroni Agus 2021 M – 2026 M

 

Pusaka

1.hiayasan dinding berupa ukiran dari kulit sebanyak 9 buah
2.Kempluk tempat nener sebanyak 4 buah berbagai ukiran.
3.Cotom bambu 3 buah
4.Eter tempurung 4 buah
5.Kati 5 buah
6.Bangerang 4 buahg.
7.Tambang lulub pohon waru 5,5 cm untuk narik jukung 1 buahh.
8. Alat-alat dapur terdiri dari:
    Kodek liwet kulit dari kayu jati 1 buah,Centong 1 buah,Gagang gobag 1 buah/tangka,Penabuh bende 1 buah/penabuh kayu yang dikepalannya diberi lapisan karet,Gagang hujungan panjalin 1 buah,Kekab kecil 1 buah,Irus 1 buah

9. Senjata terdiri dari:
Gagang keris 2 buah, Panah dari besi 2 buah, Klenengan pedati 2 buah, Tumbak kayu 3 buah/tunggak kayu, Panah kayu 1 buah
10. Alat-alat kelengkapan rumah
Hiasan tunas kelapa, Kelambu dan spray, Iket kepala, Kain tapih, Kandek kecil 3 buah, Mukena, Gagang pisau, Gledeg jati ukuran 3X2 m/ tempat padi

11. Golek (Wayang yang terbuat dari kayu)

SITUS

1.    PEDATI KUNO

2.    ASAM RUNGKAD

3.    TELAGA SARI

4.    TAPAK PERTAPAAN MBAH KUWU SANGKAN (API-API REGES TANJAKAN) Sudah terkena abrasi pantai Tanjakan

5.    MAKAM HABIB KELING (Habib Umar Murid dari SYAIK KURO KARAWANG)

WIRALODRA

 

Pendiri Indramayu Di daerah Bagelen Jawa Tengah yaitu di Banyu Urip tinggallah seorang Tumenggung Bernama Gagak Singalodra mempunyai lima orang putra, yaitu Raden Wangsanegara, Raden Ayu Wangsayuda, Raden Bagus Arya Wiralodra, Raden Bagus Tanujaya dan Raden Bagus Tanujiwa. Raden Bagus Wiralodra Putra ketiga yang berjiwa besar dan bercita-cita luhur, ia ingin membangun suatu Negara untuk diwariskan kelak kepada anak cucunya dengan tempat tinggal yang makmur dan sejahtera rakyatnya.

Raden Wiralodra menjalankan tapa brata di perbukitan Melayu di Gunung Sumbing. Setelah tiga tahun, ia mendapat wangsit yang berbunyi “ Raden Arya Wiralodra, apabila engkau ingin berbahagia serta keturunanmu dikemudian hari, pergilau merantau ke arah matahari terbenam dan carilah lembah Sungai Cimanuk. Manakala engkau tiba di sana, berhentilah dan tebanglah hutan belukar secukupnya untuk mendirikan sebuah pendukuhan dan menetaplah di sana. Kelak tempat itu akan menjadi subur dan makmur dan tujuh keturunanmu akan memerintah di sana”. Setelah mendapatkan wangsit, Raden Arya Wiralodra kembali ke Banyu Urip dan menyampaikan wangsit kepada Ayahandanya, Raden Gagak Singalodra. Raden Gagak Singalodra berkata, “ Hai Anakku Wiralodra betapapun berat hati ayah melepaskanmu untuk mencari Sungai Cimanuk, ayah menghargai cita-citamu yang begitu mulia, berhati-hatilah hidup dirantau orang, bawalah Tinggil untuk menyertai perjalananmu.”

Diceritakan bahwa perjalanan Raden Wiralodra dan KiTinggil memakan waktu 3 tahun. Ia pun terus berjalan menuju arah matahari tenggelam. Akhirnya suatu senja, sampai di sebuah sungai yang amat besar, betapa sukaria hatinya karena disangka sungai itu adalah Sungai Cimanuk yang sedang dicarinya. Berkata Raden Wiralodra pada Ki Tinggil, “ Rupanya inilah Sungai Cimanuk yang sedang kita cari.”Ki Tinggil menjawab, “Hamba pikir lebih baik ambil istirahat sampai besok pagi.”

Pada keesokan paginya ada seorang kakek yang memperhatikan Raden Wiralodra dan Ki Tinggil yang tertidur lelap, kakek itu mendekati lalu berkata, “Hai kisanak, siapakah kalian bedua? Kenapa tidur di situ?” Ki Tinggil dan Raden Wiralodra terkejut melihat kakek yang tiba-tiba ada di hadapannya lalu Raden Wiralodra menjawab, “kek kami tertidur dan perlu kakek ketahui bahwa Saya Raden Wiralodra dan Ki Tinggil. Kami dari Banyu Urip”

Lalu Raden Wiralodra menceritakan perjalanannya hingga tiba di pinggir sungai besar. Kemudian Raden Wiralodra bertanya sambil menatap wajah kakek tersebut.“kek, apakah ini Sungai Cimanuk yang selama ini saya cari?” Kakek menjawab, “Kasihan cucu-cucuku, sungai yang kalian cari sudah jauh terlewat. Perlu cucu ketahui, Sungai besar ini adalah Sungai Citarum.”

Silsilah KY.NGABEI LORING PASAR

Jumat, 30 September 2016

Silsilah
KY.NGABEI LORING PASAR

Danang Sutawijaya (lahir: - wafat: Jenar, 1601) adalah pendiri Kesultanan Mataram yang memerintah sebagai raja pertama pada tahun 1587-1601, bergelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa Tokoh ini dianggap sebagai peletak dasar-dasar Kesultanan Mataram. Riwayat hidupnya banyak digali dari kisah-kisah tradisional, misalnya naskah-naskah babad karangan para pujangga zaman berikutnya.

Danang Sutawijaya atau Dananjaya adalah putra sulung pasangan Ky.Ageng Pamanahan dan Nyi.Sabinah .

Ky.Ageng Pamanahan sendiri  adalah keturunan Brawijaya raja terakhir Majapahit , Sedangkan Nyi.Sabinah adalah keturunan Sunan Giri anggota Walisanga. Hal ini seolah-olah menunjukkan adanya upaya para pujangga untuk mengkultuskan raja-raja Kesultanan Mataram sebagai keturunan orang-orang istimewa.

NY.Sabinah memiliki kakak laki-laki bernama Ki Juru Martani , yang kemudian diangkat sebagai patih pertama Kesultanan Mataram. Ia ikut berjasa besar dalam mengatur strategi menumpas Arya Penangsang pada tahun 1549.

Sutawijaya di ambil sebagai anak nagkat oleh Hadiwijaya bupati pajang sebagai pancingan, karena pernikahan Hadiwijaya dan istrinya sampai saat itu belum dikaruniai anak. Sutawijaya kemudian diberi tempat tinggal di sebelah utara pasar sehingga ia pun terkenal dengan sebutan Raden Ngabei Loring Pasar .

Penulis: Mufti Ali Elang Wetaning Pasar
Kalianyar-Krangkeng-Indramayu

Versi Mankunegara

Silsilah Panembahan Senopati versi Mangkunegaran
Silsilah Keturunan Lengkap :
Kanjeng Panembahan Senopati / Raden Sutawijaya (Sultan Mataram ke 1, pendiri, 1587-1601) menikah dengan 3 istri melahirkan putra-putri 14 orang :

0001. Gusti Kanjeng Ratu Pambayun / Retna Pembayun
0002. Pangeran Ronggo Samudra (Adipati Pati)
0003. Pangeran Puger / Raden Mas Kentol Kejuro (Adipati Demak)
0004. Pangeran Teposono
0005. Pangeran Purbaya / Raden Mas Damar
0006. Pangeran Rio Manggala
0007. Pangeran Adipati Jayaraga / (Raden Mas Barthotot)

0008. Panembahan Hadi Prabu Hanyokrowati/Panembahan Seda ing
            Krapyak (Sultan Mataram ke 2, 1601-1613) menikah dengan Ratu
            Tulung Ayu dan Dyah Banowati / Ratu Mas Hadi (Cicit dari Raden
            Joko Tingkir & Ratu Mas Cempaka), menurunkan putra-putri 12
            orang :

                     001.   Sultan Agung / Raden Mas Djatmika (1593-1645),
                                 Sultan
                                 Mataram ke 3 (1613-1645) menikah dengan Permaisuri
                                  ke 1 Kanjeng Ratu Kulon / Ratu Mas Tinumpak (putri
                                  Panembahan Ratu Cirebon ke 4 setelah Sunan Gunung
                                 Jati), permaisuri ke 2 Kanjeng Ratu Batang / Ratu Ayu
                                 Wetan / Kanjeng Ratu Kulon mempunyai 9 orang putra
                                  putri :
                                                01.    Raden Mas Sahwawrat / Pangeran
                                                            Temenggong Pajang
                                                02.     Raden Mas Kasim / Pangeran Demang
                                                           Tanpa Nangkil
                                                 03.    Pangeran Ronggo Kajiwan
                                                 04.    Gusti Ratu Ayu Winongan
                                                 05.    Pangeran Ngabehi Loring Pasar
                                                 06.    Pangeran Ngabehi Loring Pasar
                                                 07.     Sunan Prabu Amangkurat Agung /
                                                            Amangkurat I / Raden Mas Sayidin 
                                                            (Sultan Mataram ke 4, 1646-1677) wafat
                                                             13 Juli 1677 di Banyumas
                                                 08.    Gusti Raden Ayu Wiromantri
                                                 09.    Pangeran Danupoyo
                       002.   Pangeran Mangkubumi
                       003.   Pangeran Bumidirja
                       004.   Pangeran Arya Martapura / Raden Mas Wuryah
                                   (1605-1688)
                       005.   Ratu Mas Sekar / Ratu Pandansari
                       006.   Kanjeng Ratu Mas Sekar
                       007.   Pangeran Bhuminata
                       008.   Pangeran Notopuro
                       009.   Pangeran Pamenang
                       010.  Pangeran Sularong / Raden Mas Chakra (wafat
                                   Desember 1669)
                        011.  Gusti Ratu Wirokusumo
                        012.   Pangeran Pringoloyo
                                         

0009. Gusti Raden Ayu Demang Tanpa Nangkil
0010. Gusti Raden Ayu Wiramantri
0011. Pangeran Adipati Pringgoloyo I (Bupati Madiun, 1595-1601)
0012. Ki Ageng Panembahan Djuminah/Pangeran Djuminah/Pangeran
            Blitar I (Bupati Madiun, 1601-1613)
0013. Pangeran Adipati Martoloyo / Raden Mas Kanitren (Bupati      
            Madiun
            1613-1645)
0014. Pangeran Tanpa Nangkil


PENJELASAN
Perhatikan kode 0 (nol) Untuk kode keturunan biar tidak bingung.
Ada yang 0 nya 1,2 dan 3

SEJARAH SINGKAT DESA LUWUNGGESIK

Rabu, 14 September 2016

Sejarah Desa Luwunggesik

A. Gambaran Umum

Desa Luwunggesik merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Sebagai daerah yang terletak di kawasan pesisir utara Pulau Jawa, Desa Luwunggesik memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan proses pembukaan hutan, perkembangan permukiman, serta hubungan antarwilayah di perbatasan Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon.

Sebagaimana desa-desa tua lainnya di wilayah Pantai Utara (Pantura), asal-usul Desa Luwunggesik hingga kini masih banyak disampaikan melalui tradisi lisan yang diwariskan dari para sesepuh kepada generasi berikutnya. Meskipun belum ditemukan sumber tertulis yang menjelaskan secara pasti kapan desa ini mulai berdiri, cerita rakyat tersebut tetap menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Desa Luwunggesik.

B. Asal-Usul Nama Luwunggesik

Menurut penuturan para sesepuh desa, nama Luwunggesik berasal dari dua kata, yaitu luwung dan gesik.

Kata luwung dipercaya berasal dari kata suwung, yang dalam pengertian masyarakat setempat bermakna kawasan yang masih kosong, sunyi, atau berupa hutan belantara yang belum dihuni manusia. Sementara itu, kata gesik berasal dari kata gisik atau kisik, yaitu daratan berpasir yang berada di tepi laut atau kawasan pesisir.

Dari kedua kata tersebut, masyarakat kemudian memaknai Luwunggesik sebagai sebuah kawasan hutan yang berada di tepi laut, atau sebuah wilayah yang pada masa lampau masih berupa hutan belantara di kawasan pesisir utara Jawa.

Sebagian tokoh masyarakat juga memiliki penafsiran lain. Mereka berpendapat bahwa nama Luwunggesik tidak hanya menggambarkan kondisi geografis wilayahnya, tetapi juga mengandung makna sebagai sebuah kawasan hutan di tepi laut yang pernah ditinggalkan oleh penemu pertamanya sebelum akhirnya dihuni kembali. Kedua penafsiran tersebut hingga kini masih hidup dan diterima sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan masyarakat.

C. Legenda Awal Pembukaan Wilayah

Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, wilayah yang kini menjadi Desa Luwunggesik pertama kali ditemukan oleh seorang tokoh yang dikenal dengan sebutan Ki Gede. Sebagaimana para pembuka wilayah pada masa lampau, Ki Gede melakukan babad alas, yaitu membuka kawasan hutan untuk dijadikan permukiman baru.

Pada saat pertama kali tiba, kawasan tersebut masih berupa hutan lebat yang berbatasan langsung dengan laut di sebelah timur. Pepohonan tumbuh rapat, sementara sebagian wilayahnya berupa rawa dan semak belukar. Dengan penuh semangat, Ki Gede mulai membuka sebagian hutan untuk dijadikan tempat tinggal.

Namun setelah pekerjaan membuka hutan selesai dilakukan, Ki Gede menyadari bahwa wilayah tersebut tidak terlalu luas untuk dikembangkan menjadi sebuah permukiman besar. Di sekelilingnya telah terdapat wilayah-wilayah lain yang lebih dahulu dihuni masyarakat.

Di sebelah selatan telah berdiri wilayah Bungko, sedangkan di sebelah utara terdapat wilayah Krangkeng atau yang pada masa itu dikenal sebagai Kali Anyar. Di sebelah barat telah berkembang kawasan Srengseng, sementara di sebelah timur terbentang Laut Jawa. Kondisi tersebut membuat ruang untuk memperluas permukiman menjadi sangat terbatas.

Setelah mempertimbangkan berbagai keadaan, Ki Gede akhirnya memutuskan meninggalkan kawasan tersebut. Beliau berharap dapat menemukan daerah lain yang lebih luas dan lebih memungkinkan untuk dikembangkan menjadi sebuah permukiman yang besar.

Perjalanan itu membawanya ke wilayah yang kini dikenal sebagai Gegesik, yang saat ini berada di Kabupaten Cirebon. Di tempat itulah Ki Gede kemudian menetap, membangun keluarga, dan mengembangkan kehidupan bersama masyarakat setempat.

D. Kembalinya Putri Ki Gede ke Luwunggesik

Bertahun-tahun kemudian, setelah kehidupannya di Gegesik berkembang dengan baik, Ki Gede kembali teringat pada kawasan hutan di tepi laut yang pernah dibukanya pada masa muda. Beliau merasa bahwa wilayah tersebut masih memiliki nilai penting karena merupakan tempat pertama yang pernah dirintisnya.

Karena usia yang semakin lanjut, Ki Gede tidak lagi memungkinkan melakukan perjalanan jauh. Oleh sebab itu, beliau mengutus putri tercintanya untuk kembali mencari daerah tersebut dan melanjutkan hak kepemilikan atas wilayah yang pernah dibukanya.

Dengan membawa amanah ayahnya, sang putri melakukan perjalanan menuju kawasan pesisir utara hingga akhirnya menemukan wilayah yang dimaksud. Namun sesampainya di sana, ia mendapati bahwa kawasan tersebut telah dihuni oleh masyarakat yang dipimpin oleh Ki Gede Bungko.

Pertemuan itu kemudian memunculkan perbedaan pendapat mengenai siapa yang sebenarnya memiliki hak atas wilayah tersebut. Sang putri menjelaskan bahwa daerah itu merupakan hasil babad alas yang pernah dilakukan oleh ayahnya bertahun-tahun sebelumnya. Di sisi lain, Ki Gede Bungko merasa bahwa wilayah tersebut telah lama dihuni dan dikelola oleh masyarakatnya.

E. Penyelesaian Sengketa Wilayah

Perselisihan tersebut akhirnya sampai kepada Nyi Mas Krangkeng, yang dalam beberapa cerita juga dikenal sebagai Ki Gede Krangkeng, tokoh yang dihormati oleh masyarakat di kawasan tersebut.

Sebagai seorang pemimpin yang bijaksana, Nyi Mas Krangkeng mendengarkan penjelasan dari kedua belah pihak. Berdasarkan pengetahuannya mengenai sejarah pembukaan wilayah di sekitar Krangkeng, beliau mengetahui bahwa memang pernah ada seseorang yang lebih dahulu membuka kawasan di antara Bungko dan Krangkeng, kemudian meninggalkannya sebelum berkembang menjadi permukiman.

Setelah dilakukan musyawarah, Ki Gede Bungko akhirnya mengakui bahwa wilayah tersebut memang pernah dirintis oleh ayah dari putri tersebut. Dengan semangat persaudaraan dan mengutamakan perdamaian, kedua belah pihak sepakat menyelesaikan persoalan tanpa pertumpahan darah.

Selanjutnya dilakukan penetapan batas-batas wilayah agar tidak terjadi perselisihan di kemudian hari.

Menurut tradisi masyarakat, batas wilayah yang disepakati adalah sebagai berikut:

  • Sebelah selatan berbatasan dengan wilayah Bungko yang ditandai oleh Kali Pamengkang dan Kedokan Beta.
  • Sebelah utara berbatasan dengan wilayah Krangkeng atau Kali Anyar.
  • Sebelah barat berbatasan dengan wilayah Srengseng.
  • Sebelah timur berbatasan langsung dengan Laut Jawa.

Batas-batas tersebut kemudian menjadi dasar pembentukan wilayah yang dikenal hingga sekarang.

F. Penamaan Desa Luwunggesik

Setelah penyelesaian batas wilayah selesai dilakukan, kawasan tersebut resmi dikenal dengan nama Luwunggesik.

Menurut penafsiran pertama, nama tersebut menggambarkan kondisi geografis wilayahnya, yaitu sebuah kawasan hutan yang berada di tepi laut.

Sementara menurut penafsiran lain, nama Luwunggesik mengandung makna simbolis sebagai hutan di kawasan pesisir yang pernah ditinggalkan oleh penemu pertamanya sebelum akhirnya dihuni kembali dan berkembang menjadi sebuah desa. Kisah perpindahan Ki Gede ke Gegesik inilah yang diyakini menjadi latar munculnya penafsiran tersebut.

Walaupun memiliki beberapa versi, seluruh masyarakat sepakat bahwa nama Luwunggesik merupakan warisan sejarah yang tidak terpisahkan dari perjalanan berdirinya desa.

G. Perkembangan Desa

Seiring berjalannya waktu, kawasan yang semula berupa hutan belantara mulai berkembang menjadi sebuah permukiman. Masyarakat membuka lahan pertanian, membangun rumah-rumah sederhana, serta memanfaatkan hasil laut sebagai sumber penghidupan.

Letaknya yang berada di kawasan pesisir menjadikan Desa Luwunggesik berkembang sebagai daerah yang memiliki hubungan erat dengan aktivitas pertanian maupun perikanan. Nilai-nilai gotong royong, musyawarah, serta kehidupan yang rukun menjadi landasan utama masyarakat dalam membangun desa dari generasi ke generasi.

H. Catatan Historis

Hingga saat ini belum ditemukan sumber sejarah tertulis yang dapat menjelaskan secara pasti siapa tokoh pertama yang membuka wilayah Desa Luwunggesik maupun kapan tepatnya desa ini mulai terbentuk. Oleh karena itu, kisah mengenai Ki Gede, putrinya, serta proses penetapan wilayah lebih tepat dipahami sebagai tradisi lisan atau legenda masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.

Meskipun demikian, legenda tersebut memiliki nilai sejarah budaya yang sangat penting karena menggambarkan cara pandang masyarakat terhadap asal-usul desanya. Cerita tersebut juga mengandung nilai-nilai luhur berupa keberanian membuka wilayah baru, penghormatan terhadap hak orang lain, penyelesaian perselisihan melalui musyawarah, serta semangat menjaga persaudaraan antarwilayah.

Naskah sejarah ini disusun berdasarkan berbagai penuturan para sesepuh, tokoh masyarakat, dan sumber-sumber lisan yang masih hidup di tengah masyarakat Desa Luwunggesik. Oleh karena sifatnya yang bersumber dari tradisi lisan, sangat mungkin terdapat perbedaan versi mengenai nama tokoh, tempat, maupun urutan peristiwa.

Oleh sebab itu, sejarah Desa Luwunggesik hendaknya dipahami sebagai warisan budaya yang terus dilestarikan oleh masyarakat. Apabila di kemudian hari ditemukan sumber sejarah baru yang lebih lengkap, maka cerita ini dapat menjadi dasar untuk memperkaya kajian mengenai perjalanan panjang terbentuknya Desa Luwunggesik sebagai salah satu desa tua di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu.

SEJARAH DESA KRANGKENG

Sabtu, 23 Juli 2016

ꦱꦼꦗꦫꦃ ꦢꦺꦱ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦆꦤ꧀ꦢꦿꦩꦪꦸ


(SEJARAH DESA KRANGKENG INDRAMAYU) 

 

ꦄꦱ꧀ꦱꦭꦩꦸꦲꦭꦻꦏꦸꦩ꧀ ꦮꦫꦺꦴꦃꦩꦠꦸꦭ꧀ꦭꦺꦴꦲꦶ ꦮꦧꦫꦺꦴꦏꦠꦸꦃ꧉

(Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.)


ꦥꦼꦂꦭꦸ ꦢꦶꦏꦼꦠꦲꦸꦮꦶ ꦱꦼꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ ꦱꦪ ꦗꦲꦸꦃ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦼꦭꦱ꧀ꦏꦤ꧀ ꦱꦼꦗꦫꦃ ꦢꦺꦱ ꦆꦤꦶ ꦠꦼꦂꦭꦼꦧꦶꦃ ꦢꦲꦸꦭꦸ ꦱꦪ ꦠꦼꦏꦤ꧀ꦏꦤ꧀ ꦱꦼꦗꦫꦃ ꦢꦺꦱ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦄꦢ ꦧꦼꦂꦧꦒꦻ ꦮ꦳ꦺꦂꦱꦶ ꦧꦃꦏꦤ꧀ ꦪꦁ ꦱꦪ ꦏꦼꦠꦲꦸꦮꦶ ꦄꦢ ꧕ ꦮ꦳ꦺꦂꦱꦶ ꦪꦁ ꦩꦱꦶꦁꦩꦱꦶꦁ ꦮ꦳ꦺꦂꦱꦶ ꦄꦢ ꦏꦼꦱꦩꦄꦤ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦥꦼꦂꦧꦺꦢꦄꦤ꧀ ꦗꦢꦶ ꦩꦺꦴꦲꦺꦴꦤ꧀ ꦩꦄꦥ꦳꧀ ꦗꦶꦏ ꦮ꦳ꦺꦂꦱꦶ ꦪꦁ ꦱꦪ ꦱꦩ꧀ꦥꦻꦏꦤ꧀ ꦠꦶꦢꦏ꧀ꦭꦃ ꦱꦩ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦮ꦳ꦺꦂꦱꦶ ꦪꦁ ꦩꦸꦁꦏꦶꦤ꧀ ꦧꦥꦏ꧀/ꦆꦧꦸ ꦢꦤ꧀ ꦠꦼꦩꦼꦤ꧀ꦠꦼꦩꦼꦤ꧀ ꦏꦼꦠꦲꦸꦮꦶ꧉


(Perlu di ketahui sebelum saya jauh menjelaskan Sejarah Desa ini terlebih dahulu saya tekankan sejarah Desa Krangkeng ada berbagai Versi bahkan yang saya ketahui ada 5 versi...)


ꦱꦼꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦥꦼꦢꦸꦏꦸꦲꦤ꧀ ꦢꦸꦭꦸꦚ ꦮꦶꦭꦪꦃ ꦆꦤꦶ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦧꦼꦭꦤ꧀ꦠꦫ ꦪꦁ ꦧꦼꦂꦤꦩ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦄꦤ꧀ꦢꦒ ꦱꦫꦶ꧉


(Sebelum menjadi Pedukuhan dulunya wilayah ini merupakan hutan belantara yang bernama hutan ANDAGA SARI.)


ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦄꦤ꧀ꦢꦒ ꦱꦫꦶ ꦱꦼꦤ꧀ꦢꦶꦫꦶ ꦢꦶꦲꦸꦤꦶ ꦎꦭꦺꦃ ꦧꦶꦤꦠꦁ ꦧꦸꦮꦱ꧀꧈ ꦩꦤꦸꦱꦶꦪ ꦱꦏ꧀ꦠꦶ ꦪꦁ ꦢꦥꦠ꧀ ꦏꦼꦭꦸꦮꦂ ꦩꦱꦸꦏ꧀ ꦤꦼꦒꦿꦶ ꦱꦶꦭꦸꦩꦤ꧀ ꦧꦼꦂꦤꦩ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ (ꦩꦤꦸꦱꦶꦪ ꦲꦫꦶꦩꦻꦴ ꦲꦶꦠꦩ꧀) ꦱꦼꦂꦠ ꦥꦫ ꦭꦼꦭꦼꦩ꧀ꦧꦸꦠ꧀ ꦪꦁ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦧꦭ ꦠꦼꦤ꧀ꦠꦫ ꦢꦫꦶ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ꧉


(Hutan andaga sari sendiri dihuni oleh binatang buas, manusia sakti yang dapat keluar masuk negri siluman bernama NYI LODAYA (Manusia Harimau Hitam) serta para lelembut yang menjadi bala tentara dari NYI LODAYA.)


ꦠꦺꦴꦏꦺꦴꦃ ꦪꦁ ꦧꦼꦂꦤꦩ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꦠꦺꦴꦏꦺꦴꦃ ꦱꦏ꧀ꦠꦶ ꦥꦢ ꦗ꦳ꦩꦤ꧀ꦚ ꦪꦁ ꦩꦼꦤ꧀ꦢꦶꦪꦩꦶ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦄꦤ꧀ꦢꦒ ꦱꦫꦶ꧈ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦄꦢꦭꦃ ꦱꦭꦃ ꦱꦠꦸ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦢꦫꦶ ꦱꦺꦠꦤ꧀ ꦏꦺꦴꦧꦺꦂ꧈ ꦱꦼꦭꦻꦤ꧀ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦱꦺꦠꦤ꧀ ꦏꦺꦴꦧꦺꦂ ꦗꦸꦒ ꦩꦼꦩ꧀ꦥꦸꦚꦻ ꦧꦼꦧꦼꦫꦥ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦱꦏ꧀ꦠꦶ ꦢꦶꦪꦤ꧀ꦠꦫꦚ ꦏꦶ ꦧꦸꦪꦸꦠ꧀ ꦥꦭꦶꦩꦤꦤ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦏꦶ ꦧꦸꦪꦸꦠ꧀ ꦧꦪꦭꦔꦸ (ꦱꦁꦒꦸꦥ꧀ ꦩꦼꦤꦁꦏꦥ꧀ ꦥꦼꦠꦶꦂ)꧉


(Tokoh yang bernama NYI LODAYA merupakan tokoh sakti pada zamannya yang mendiami Hutan ANDAGA SARI, beliau adalah salah satu murid dari SETAN KOBER...)


ꦩꦸꦁꦏꦶꦤ꧀ ꦱꦼꦧꦒꦶꦪꦤ꧀ ꦱꦸꦢꦃ ꦠꦶꦢꦏ꧀ ꦄꦱꦶꦁ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦚꦶ ꦒꦼꦢꦺ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦤꦩꦸꦤ꧀ ꦥꦼꦂꦭꦸ ꦏꦶꦠ ꦏꦼꦠꦲꦸꦮꦶ ꦤꦩ ꦄꦱ꧀ꦭꦶ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦄꦢꦭꦃ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦥꦸꦠꦿꦶ ꦩꦠꦫꦩ꧀꧉


(Mungkin sebagian sudah tidak asing dengan NYI GEDE KRANGKENG namun perlu kita ketahui nama Asli Beliau adalah NYI GENDAR MALAYA seorang Putri MATARAM).


ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦄꦢꦭꦃ ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦥꦸꦠꦿꦶ ꦕꦼꦂꦢꦶꦏ꧀꧈ ꦕꦤ꧀ꦠꦶꦏ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦧꦼꦂꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦠꦶꦁꦒꦶ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦥꦢ ꦱꦸꦮꦠꦸ ꦩꦱ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦢꦶ ꦈꦠꦸꦱ꧀ ꦎꦭꦺꦃ ꦏꦼꦢꦸꦮ ꦎꦫꦁ ꦠꦸꦮꦚ ꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ ꦩꦼꦔꦼꦩ꧀ꦧꦫ ꦏꦼ ꦠꦤꦃ ꦗꦮ ꦢꦭꦩ꧀ ꦫꦁꦏ ꦩꦼꦩ꧀ꦥꦼꦂꦢꦭꦩ꧀ ꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦄꦒꦩ ꦱꦼꦂꦠ ꦏꦤꦸꦫꦒꦤ꧀ꦚ꧉


(Beliau adalah seorang putri cerdik, cantik dan berilmu tinggi sampai pada suatu masa beliau di utus oleh kedua orang tuanya untuk mengembara ke tanah Jawa dalam rangka memperdalam ilmu agama serta kanuragannya.)

ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦧꦼꦫꦁꦏꦠ꧀ ꦢꦫꦶ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦩꦼꦤ꧀ꦠꦎꦏ꧀ ꦪꦁ ꦄꦢ ꦢꦶ ꦪꦺꦴꦒ꧀ꦪꦏꦂꦠ ꦱꦼꦭꦤ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦚ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦩꦼꦤꦼꦫꦸꦱ꧀ꦏꦤ꧀ ꦥꦼꦂꦗꦭꦤꦤ꧀ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦤꦼꦒꦿꦶ ꦕꦫꦸꦧꦤ꧀ ꦤꦒꦫꦶ ꦪꦁ ꦱꦼꦏꦫꦁ ꦧꦶꦪꦱ ꦏꦶꦠ ꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦕꦶꦫꦼꦧꦺꦴꦤ꧀ ꦪꦁ ꦏꦭ ꦆꦠꦸ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦥꦸꦱꦠ꧀ ꦥꦼꦩꦼꦫꦶꦤ꧀ꦠꦲꦤ꧀ ꦆꦱ꧀ꦭꦩ꧀꧈ ꦥꦸꦱꦠ꧀ ꦥꦼꦤ꧀ꦢꦶꦢꦶꦏꦤ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦥꦸꦱꦠ꧀ ꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦏꦤꦸꦫꦒꦤ꧀꧉


(Beliau berangkat dari Hutan Mentaok yang ada di YOGYAKARTA selanjutnya beliau meneruskan perjalan sampai negri CARUBAN NAGARI yang sekarang biasa kita sebut CIREBON yang kala itu menjadi pusat Pemerintahan Islam, Pusat Pendidikan dan Pusat Ilmu Kanuragan.)


ꦥꦢ ꦩꦱ ꦱꦩ꧀ꦥꦻꦚ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ ꦏꦼ ꦠꦤꦃ ꦕꦫꦸꦧꦤ꧀ ꦄꦢ ꦒꦼꦤꦼꦫꦱꦶ ꦱꦼꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ꦚ ꦪꦁ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦠꦺꦴꦏꦺꦴꦃ ꦧꦼꦱꦂ ꦢꦤ꧀ ꦢꦶ ꦱꦼꦒꦤꦶ ꦢꦶ ꦕꦫꦸꦧꦤ꧀:


(Pada masa sampainya NYI GENDAR MALAYA ke tanah CARUBAN ada generasi sebelumnya yang menjadi TOKOH BESAR dan di segani di CARUBAN)


꧑꧉ ꦱꦾꦻꦏ꧀ ꦤꦸꦂ ꦗꦠꦶ ꦪꦁ ꦩꦼꦩ꧀ꦥꦸꦚꦻ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦢꦶꦪꦤ꧀ꦠꦫꦚ ꦱꦶꦠꦶ ꦗꦼꦤꦂ꧈ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦏꦭꦶꦗꦺꦴꦒꦺꦴ ꦢꦤ꧀ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ


(1. SYAIK NUR JATI yang mempunyai murid diantaranya SITI JENAR, SUNAN KALIJOGO dan SUNAN GUNUNG JATI)


꧒꧉ ꦱꦾꦻꦏ꧀ ꦤꦸꦂ ꦗꦠꦶ ꦩꦼꦩ꧀ꦥꦸꦚꦻ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦥꦸꦭ ꦥꦢ ꦒꦼꦤꦼꦫꦱꦶ ꦱꦼꦱꦸꦢꦃ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ꧈ ꦱꦶꦠꦶ ꦗꦼꦤꦂ ꦢꦤ꧀ ꦏꦭꦶꦗꦺꦴꦒꦺꦴ ꦪꦻꦠꦸ ꦱꦾꦻꦏ꧀ ꦧꦼꦤ꧀ꦠꦶꦁ (ꦧꦸꦁꦏꦺꦴ)꧈ ꦒꦤ꧀ꦢꦱꦫꦶ (ꦥꦩꦸꦫꦒꦤ꧀) ꦢꦤ꧀ ꦩꦒ꧀ꦭꦸꦁ ꦱꦏ꧀ꦠꦶ


(2. SYAIK NUR JATI mempunyai murid pula pada GENERASI sesudah SUNAN GUNG JATI, SITI JENAR dan KALIJOGO yaitu SYAIK BENTING (BUNGKO), GANDASARI (PAMURAGAN) dan MAGLUNG SAKTI)


꧓꧉ ꦱꦼꦱꦸꦢꦃ ꦒꦼꦤꦼꦫꦱꦶ ꦏꦼꦢꦸꦮ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ ꦩꦼꦁꦒꦤ꧀ꦠꦶꦏꦤ꧀ ꦱꦾꦻꦏ꧀ ꦤꦸꦂ ꦗꦠꦶ ꦢꦤ꧀ ꦩꦼꦩ꧀ꦥꦸꦚꦻ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ (ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ)꧈ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦥꦿꦶꦁꦒꦧꦪ (ꦏꦥꦿꦶꦔꦤ꧀) ꦢꦤ꧀ ꦩꦱꦶꦃ ꦧꦚꦏ꧀ ꦭꦒꦶ ꦪꦁ ꦭꦻꦤ꧀ꦚ꧉


(3. Sesudah generasi Kedua SUNAN GUNUNG JATI menggantikan SYAIK NUR JATI dan mempunyai murid NYI GENDAR MALAYA (Krangkeng), PANGERAN PRINGGABAYA (Kapringan) dan mash banyak lagi yang lainya.)
ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ/ꦱꦾꦫꦶꦥ꦳꧀ ꦲꦶꦢꦪꦠꦸꦭ꧀ꦭꦃ (ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ ꦆꦤꦶ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꦏꦼꦠꦸꦫꦸꦤꦤ꧀ ꦏꦼ-꧑꧗ ꦢꦫꦶ ꦫꦱꦸꦭꦸꦭ꧀ꦭꦃ ꦱꦮ꧀꧉)


(KANJENG SUNAN GUNUNG JATI/SYARIF HIDAYATULLAH (Sunan Gunung Jati ini merupakan keturunan ke-17 dari Rasulullah SAW.))


ꦱꦶꦭ꧀ꦱꦶꦭꦃꦚ ꦢꦶꦩꦸꦭꦻ ꦱꦄꦠ꧀ ꦤꦧꦶ ꦩꦸꦲꦩ꧀ꦩꦢ꧀ ꦱꦮ꧀ ꦩꦼꦩꦶꦭꦶꦏꦶ ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦥꦸꦠꦿꦶ ꦧꦼꦂꦤꦩ ꦱꦶꦠꦶ ꦥ꦳ꦠꦶꦩꦃ꧉ ꦏꦼꦩꦸꦢꦶꦪꦤ꧀ ꦱꦶꦠꦶ ꦥ꦳ꦠꦶꦩꦃ ꦩꦼꦭꦲꦶꦂꦏꦤ꧀ ꦱꦪ꧀ꦪꦶꦢ꧀ ꦲꦸꦱꦻꦤ꧀ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦥꦢ ꦒꦼꦤꦼꦫꦱꦶ-ꦒꦼꦤꦼꦫꦱꦶ ꦱꦼꦭꦤ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦚ꧈ ꦭꦲꦶꦂꦭꦃ ꦄꦪꦃ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ꧉


(Silsilahnya dimulai saat Nabi Muhammad SAW memiliki seorang putri bernama Siti Fatimah. Kemudian Siti Fatimah melahirkan Sayyid Husain sampai pada generasi-generasi selanjutnya, lahirlah ayah Sunan Gunung Jati.)

ꦄꦪꦃꦚ ꦧꦼꦂꦤꦩ ꦱꦾꦫꦶꦥ꦳꧀ ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦭꦃ ꦈꦩ꧀ꦢꦠꦸꦢ꧀ꦢꦶꦤ꧀ ꦧꦶꦤ꧀ ꦄꦭꦶ ꦤꦸꦫꦸꦭ꧀ ꦄꦭꦩ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦢꦶꦏꦼꦤꦭ꧀ ꦱꦼꦧꦒꦻ ꦱꦾꦺꦏ꧀ ꦩꦻꦴꦭꦤ ꦄꦏ꧀ꦧꦂ꧉ ꦢꦶꦪ ꦄꦢꦭꦃ ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦥꦼꦔꦸꦮꦱ ꦩꦼꦱꦶꦂ꧉


(Ayahnya bernama Syarif Abdullah Umdatuddin bin Ali Nurul Alam dan dikenal sebagai Syekh Maulana Akbar. Dia adalah seorang penguasa Mesir.)


ꦆꦧꦸꦚ ꦧꦼꦂꦤꦩ ꦚꦶ ꦩꦱ꧀ ꦫꦫ ꦱꦤ꧀ꦠꦁ ꦪꦁ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꦥꦸꦠꦿꦶ ꦫꦗ ꦥꦗꦗꦫꦤ꧀ ꦪꦁ ꦧꦼꦂꦒꦼꦭꦂ ꦱꦿꦶ ꦧꦢꦸꦒ ꦩꦲꦫꦗ꧉ ꦱꦼꦠꦼꦭꦃ ꦩꦼꦤꦶꦏꦃ꧈ ꦒꦼꦭꦂꦚ ꦧꦼꦂꦒꦤ꧀ꦠꦶ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦱꦾꦫꦶꦥ꦳ꦃ ꦩꦸꦢꦻꦩ꧀꧉


(Ibunya bernama Nyi Mas Rara Santang yang merupakan putri raja Pajajaran yang bergelar Sri Baduga Maharaja. Setelah menikah, gelarnya berganti menjadi Syarifah Mudaim.)


ꦄꦮꦭ꧀ ꦩꦸꦭ ꦥꦼꦂꦠꦼꦩꦸꦮꦤ꧀ ꦏꦼꦢꦸꦮ ꦎꦫꦁ ꦠꦸꦮ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ ꦄꦢꦭꦃ ꦏꦼꦠꦶꦏ ꦚꦶ ꦩꦱ꧀ ꦫꦫ ꦱꦤ꧀ꦠꦁ ꦱꦼꦢꦁ ꦩꦼꦭꦏ꧀ꦱꦤꦏꦤ꧀ ꦆꦧꦢꦃ ꦲꦗꦶ ꦏꦼ ꦏꦺꦴꦠ ꦩꦏ꧀ꦏꦃ꧉ ꦢꦶ ꦱꦤ ꦆꦪ ꦧꦼꦂꦠꦼꦩꦸ ꦱꦾꦺꦏ꧀ ꦩꦻꦴꦭꦤ ꦄꦏ꧀ꦧꦂ꧉


(Awal mula pertemuan kedua orang tua Sunan Gunung Jati adalah ketika Nyi Mas Rara Santang sedang melaksanakan ibadah haji ke Kota Makkah. Di sana ia bertemu Syekh Maulana Akbar.)


ꦩꦼꦫꦺꦏ ꦩꦼꦤꦶꦏꦃ ꦢꦤ꧀ ꦢꦶꦏꦫꦸꦤꦶꦪꦻ ꦢꦸꦮ ꦥꦸꦠꦿ꧈ ꦪꦻꦠꦸ ꦱꦾꦫꦶꦥ꦳꧀ ꦲꦶꦢꦪꦠꦸꦭ꧀ꦭꦃ (ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ) ꦢꦤ꧀ ꦄꦢꦶꦏ꧀ꦚ ꦱꦾꦫꦶꦥ꦳꧀ ꦤꦸꦫꦸꦭ꧀ꦭꦃ꧉


(Mereka menikah dan dikaruniai dua putra, yaitu Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) dan adiknya Syarif Nurullah.)


ꦥꦢ ꧑꧔꧗꧐ ꦩ꧈ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ ꦩꦼꦔꦶꦤ꧀ꦗꦏ꧀ꦏꦤ꧀ ꦏꦏꦶ ꦢꦶ ꦕꦶꦫꦼꦧꦺꦴꦤ꧀ ꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ ꦥꦼꦂꦠꦩ ꦏꦭꦶꦚ꧉ ꦏꦼꦢꦠꦔꦤ꧀ꦚ ꦢꦶꦱꦩ꧀ꦧꦸꦠ꧀ ꦧꦻꦏ꧀ ꦎꦭꦺꦃ ꦥꦩꦤ꧀ꦚ ꦪꦁ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦫꦗ ꦕꦶꦫꦼꦧꦺꦴꦤ꧀꧈ ꦫꦢꦺꦤ꧀ ꦮꦭꦁꦱꦸꦁꦱꦁ/ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦕꦏꦿꦧꦸꦮꦤ ꦢꦤ꧀ ꦌꦩ꧀ꦧꦃ ꦏꦸꦮꦸ ꦱꦁꦏꦤ꧀ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꦥꦸꦠꦿ ꦥꦿꦧꦸ ꦱꦶꦭꦶꦮꦔꦶ ꦢꦫꦶ ꦚꦶ ꦱꦸꦧꦁ ꦭꦫꦁ꧉


(Pada 1470 M, Sunan Gunung Jati menginjakkan kaki di Cirebon untuk pertama kalinya. Kedatangannya disambut baik oleh pamannya yang merupakan seorang raja Cirebon, Raden Walangsungsang/Pangeran Cakrabuana dan Embah Kuwu Sangkan merupakan putra Prabu Siliwangi dari Nyi Subang Larang.)


ꦥꦢ ꦩꦱ ꦱꦩ꧀ꦥꦻꦚ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ ꦏꦼ ꦠꦤꦃ ꦕꦫꦸꦧꦤ꧀ ꦤꦒꦫꦶ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦧꦼꦂꦒꦸꦫꦸ ꦭꦁꦱꦸꦁ ꦏꦼꦥꦢ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ ꦢꦤ꧀ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦩꦼꦤ꧀ꦢꦭꦩꦶ ꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦄꦒꦩ꧈ ꦥꦺꦴꦭꦶꦠꦶꦏ꧀꧈ ꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦏꦼꦢꦶꦒ꧀ꦗꦪꦄꦤ꧀ ꦧꦼꦂꦱꦩ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦭꦻꦤ꧀ꦚ ꦪꦻꦠꦸ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦥꦿꦶꦁꦒꦧꦪ (ꦗꦏ ꦢꦺꦴꦭꦺꦴꦒ꧀) / ꦧꦸꦪꦸꦠ꧀ ꦏꦥꦿꦶꦔꦤ꧀꧉


(Pada masa sampainya NYI GENDAR MALAYA ke tanah CARUBAN NAGARI beliau berguru langsung kepada KANJENG SUNAN GUNUNG JATI dan beliau mendalami ilmu AGAMA, POLITIK, ILMU KEDIGJAYAAN bersama murid lainya yaitu PANGERAN PRINGGABAYA(JAKA DOLOG)/Buyut Kapringan.)


ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ ꦢꦶ ꦧꦼꦫꦶ ꦒꦼꦭꦂ ꦏꦼꦲꦺꦴꦂꦩꦠꦤ꧀ ꦎꦭꦺꦃ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦒꦸꦤꦸꦁ ꦗꦠꦶ ꦪꦻꦠꦸ ꦚꦶ ꦩꦱ꧀ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦼꦏꦱꦶꦃ ꦢꦤ꧀ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦪꦁ ꦥꦶꦤ꧀ꦠꦂ꧈ ꦕꦼꦂꦢꦱ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦢꦥꦠ꧀ ꦩꦼꦚꦼꦫꦥ꧀ ꦱꦼꦠꦶꦪꦥ꧀ ꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦪꦁ ꦢꦶꦄꦗꦂꦏꦤ꧀ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦧꦻꦏ꧀ ꦱꦼꦲꦶꦁꦒ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦪꦁ ꦱꦔꦠ꧀ ꦩꦼꦤꦺꦴꦤ꧀ꦗꦺꦴꦭ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦢꦶ ꦄꦤꦏ꧀ ꦌꦩꦱ꧀ꦏꦤ꧀ ꦎꦭꦺꦃ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀꧉


(NYI GENDAR MALAYA di beri gelar kehormatan oleh Kanjeng Sunan Gunung Jati yaitu NYI MAS ENDANG KEKASIH dan menjadi murid yang PINTAR, CERDAS dan dapat menuerap setiap ilmu yang diajarkan Kanjeng Sunan denngan baik sehingga beliau menjadi murid yang sangat menonjol dan di anak emaskan oleh Kanjeng Sunan.)


ꦱꦼꦠꦼꦭꦃ ꦱꦼꦧꦼꦭꦸꦩ꧀ꦚ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ ꦱꦼꦏꦫꦁ ꦩꦫꦶ ꦒꦸꦤꦏꦤ꧀ ꦒꦼꦭꦂ ꦪꦁ ꦢꦶ ꦱꦼꦩꦠ꧀ꦏꦤ꧀ ꦎꦭꦺꦃ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ ꦩꦼꦭꦤ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦏꦤ꧀ ꦕꦼꦫꦶꦠ꧉


(Setelah sebelumnya NYI GENDAR MALAYA sekarang mari gunakan Gelar yang di sematkan oleh kanjeng sunan untuk melanjutkan cerita.)


ꦱꦼꦠꦼꦭꦃ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦼꦏꦱꦶꦃ ꦢꦶ ꦤꦶꦭꦻ ꦕꦸꦏꦸꦥ꧀ ꦧꦼꦏꦭ꧀ ꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦎꦭꦺꦃ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦩꦏ ꦢꦶ ꦠꦸꦒꦱ꧀ꦏꦤ꧀ꦭꦃ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦧꦼꦫꦁꦏꦠ꧀ ꦏꦼ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦄꦤ꧀ꦢꦒ ꦱꦫꦶ ꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ ꦧꦧꦢ꧀/ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦸꦏ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶꦏꦤ꧀ꦚ ꦥꦼꦢꦸꦏꦸꦲꦤ꧀/ꦢꦺꦱ꧉


(Setelah NYI ENDANG KEKASIH di nilai cukup bekal ilmu oleh kanjeng sunan maka di tugaskanlah NYI ENDANG KASIH berangkat ke HUTAN ANDAGA SARI untuk BABAD/MEMBUKA hutan tersebut dan menjadikanya PEDUKUHAN/DESA.)


ꦠꦥꦶ ꦫꦸꦥꦚ ꦠꦶꦢꦏ꧀ꦭꦃ ꦱꦼꦩꦸꦢꦃ ꦪꦁ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦧꦪꦁꦏꦤ꧀ ꦏꦫꦼꦤ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦄꦢꦭꦃ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦭꦫꦔꦤ꧀ ꦪꦁ ꦢꦶꦲꦸꦤꦶ ꦎꦭꦺꦃ ꦧꦶꦤꦠꦁ ꦧꦸꦮꦱ꧀꧈ ꦩꦤꦸꦱꦶꦪ ꦱꦏ꧀ꦠꦶ ꦪꦁ ꦢꦥꦠ꧀ ꦏꦼꦭꦸꦮꦂ ꦩꦱꦸꦏ꧀ ꦤꦼꦒꦿꦶ ꦱꦶꦭꦸꦩꦤ꧀ ꦧꦼꦂꦤꦩ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ (ꦩꦤꦸꦱꦶꦪ ꦲꦫꦶꦩꦻꦴ ꦲꦶꦠꦩ꧀) ꦱꦼꦂꦠ ꦥꦫ ꦭꦼꦭꦼꦩ꧀ꦧꦸꦠ꧀ ꦪꦁ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦧꦭ ꦠꦼꦤ꧀ꦠꦫ ꦢꦫꦶ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦤꦩꦸꦤ꧀ ꦢꦶ ꦢꦭꦩ꧀ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦫꦸꦥꦚ ꦱꦸꦢꦃ ꦄꦢ ꦢꦲꦸꦭꦸ ꧒ ꦥꦱꦔꦤ꧀ ꦱꦸꦮꦩꦶ ꦆꦱ꧀ꦠꦿꦶ ꦪꦁ ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ ꦢꦶ ꦢꦭꦩ꧀ꦚ ꦪꦻꦠꦸ ꦚꦶ ꦩꦒꦼꦁꦒꦺꦴꦁ ꦢꦤ꧀ ꦏꦶ ꦄꦂꦪ ꦩꦒꦼꦁꦒꦺꦴꦁ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ ꦢꦶ ꦢꦭꦩ꧀ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦪꦁ ꦠꦼꦩ꧀ꦥꦠ꧀ ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ꦚ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꦫꦸꦩꦃ ꦥꦁꦒꦸꦁ ꦢꦤ꧀ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦱꦼꦏꦫꦁ ꦫꦸꦩꦃ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦢꦶ ꦄꦧꦢꦶꦏꦤ꧀ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦤꦩ ꦧ꧀ꦭꦺꦴꦏ꧀ ꦢꦶ ꦢꦺꦱ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦪꦻꦠꦸ ꦧ꧀ꦭꦺꦴꦏ꧀ ꦥꦁꦒꦸꦔꦤ꧀꧉


(Tapi rupanya tidaklah semudah yang NYI ENDANG KASIH bayangkan karena hutan tersebut adalah hutan larangan yang dihuni oleh binatang buas, manusia sakti yang dapat keluar masuk negri siluman bernama NYI LODAYA (Manusia Harimau Hitam) serta para lelembut yang menjadi bala tentara dari NYI LODAYA namun di dalam hutan tersebut rupanya sudah ada dahulu 2 pasangan suami istri yang tinggal di dalamnya yaitu NYI MAGENGGONG dan KY ARYA MAGENGGONG beliau tinggal di dalam hutan yang tempat tinggalnya merupakan rumah panggung dan sampai sekarang rumah beliau di abadikan menjadi nama Blok di Desa Krangkeng yaitu Blok Panggungan.)


ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦏꦼꦪꦏꦶꦤꦤ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦆꦭ꧀ꦩꦸ ꦪꦁ ꦢꦶꦩꦶꦭꦶꦏꦶ ꦩꦏ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦩꦼꦩꦱꦸꦏꦶ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦄꦤ꧀ꦢꦒꦱꦫꦶ ꦭꦭꦸ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦱꦶꦁꦒꦃ ꦢꦶ ꦠꦼꦩ꧀ꦥꦠ꧀ ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ ꦚꦶ ꦩꦒꦼꦁꦒꦺꦴꦁ ꦱꦼꦫꦪ ꦩꦼꦩꦶꦤ꧀ꦠ ꦆꦗꦶꦤ꧀ ꦏꦼꦥꦢ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦸꦏ ꦥꦼꦢꦸꦏꦸꦲꦤ꧀ ꦱꦼꦥꦼꦂꦠꦶ ꦄꦩꦤꦠ꧀ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀꧈ ꦎꦭꦺꦃ ꦏꦂꦤ ꦚꦶ ꦩꦒꦼꦁꦒꦺꦴꦁ ꦲꦚ ꦲꦶꦢꦸꦥ꧀ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦱꦸꦮꦩꦶꦚ ꦱꦗ ꦢꦤ꧀ ꦩꦼꦔꦶꦔꦶꦤ꧀ꦏꦤ꧀ ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦄꦤꦏ꧀ ꦩꦏ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦪꦭ ꦢꦶ ꦄꦔ꧀ꦏꦠ꧀ ꦄꦤꦏ꧀ ꦎꦭꦺꦃ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦢꦤ꧀ ꦢꦶ ꦆꦗ꦳ꦶꦤ꧀ꦏꦤ꧀ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦸꦮꦏ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦄꦤ꧀ꦢꦒꦱꦫꦶ꧉


(Dengan keyakinan dan ilmu yang dimiliki maka NYI ENDANG KASIH memasuki Hutan Andagasari lalu beliau singgah di tempat tinggal NYI MAGENGGONG seraya meminta ijin kepada beliau untuk membuka pedukuhan seperti amanat Kanjeng Sunan, oleh karna NYI MAGENGGONG hanya hidup dengan suaminya saja dan menginginkan seorang anak maka NYI GENDAR MAYALA di ankat anak oleh beliau dan di izinkan membuaka Hutan andagasari.)


ꦚꦶ ꦩꦒꦼꦁꦒꦺꦴꦁ ꦢꦤ꧀ ꦏꦶ ꦄꦂꦪ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦼꦫꦶ ꦄꦫꦲꦤ꧀ ꦱꦭꦃ ꦱꦠꦸ ꦏꦸꦤ꧀ꦕꦶ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦸꦏ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦆꦤꦶ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦥꦼꦢꦸꦏꦸꦲꦤ꧀/ꦢꦺꦱ ꦄꦢꦭꦃ ꦩꦼꦔꦭꦃꦏꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦭꦼꦧꦶꦃ ꦢꦲꦸꦭꦸ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦢꦤ꧀ ꦠꦼꦤ꧀ꦠꦫꦚ ꦪꦁ ꦱꦼꦩꦸꦮ ꦠꦼꦤ꧀ꦠꦫꦚ ꦱꦁꦒꦸꦥ꧀ ꦩꦼꦫꦸꦧꦃ ꦢꦶꦫꦶꦚ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦲꦫꦶꦩꦻꦴ꧉

(NYI MAGENGGONG dan KY ARYA memberi arahan salah satu kunci membuka hutan ini menjadi PEDUKUHAN/DESA adalah mengalahkan terlebih dahulu NYI LODAYA dan tentaranya yang semua tentaranya sanggup merubah dirinya menjadi harimau.)


ꦠꦤ꧀ꦥ ꦥꦶꦏꦶꦂ ꦥꦤ꧀ꦗꦁ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦭꦁꦱꦸꦁ ꦥꦩꦶꦠ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦧꦼꦫꦁꦏꦠ꧀ ꦩꦼꦤ꧀ꦕꦫꦶ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦢꦤ꧀ ꦠꦼꦤ꧀ꦠꦫꦚ ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦢꦶꦫꦶ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦄꦏꦶꦂꦚ ꦩꦼꦫꦺꦏ ꦧꦼꦂꦠꦼꦩꦸ ꦢꦤ꧀ ꦧꦼꦂꦠꦼꦩ꧀ꦥꦸꦂ ꧑꧑ ꦲꦫꦶ ꦢꦤ꧀ ꦢꦭꦩ꧀ ꦥꦼꦂꦠꦼꦩ꧀ꦥꦸꦫꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦧꦼꦂꦲꦱꦶꦭ꧀ ꦩꦼꦔꦭꦃꦏꦤ꧀ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦢꦤ꧀ ꦩꦼꦚꦸꦢꦸꦠ꧀ꦏꦤ꧀ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦏꦼ ꦥꦼꦱꦶꦱꦶꦂ ꦄꦤ꧀ꦢꦒ ꦱꦫꦶ ꦢꦤ꧀ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦱꦼꦤ꧀ꦢꦶꦫꦶ ꦥꦸꦭꦁ ꦏꦼ ꦫꦸꦩꦃ ꦎꦫꦁ ꦠꦸꦮ ꦄꦁꦏꦠ꧀ꦚ ꦪꦁ ꦄꦢ ꦢꦶ ꦥꦁꦒꦸꦔꦤ꧀꧈ ꦱꦼꦠꦼꦭꦃ ꦩꦼꦔꦭꦃꦏꦤ꧀ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦩꦏ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦏꦶꦤꦶ ꦢꦶ ꦲꦢꦥ꧀ꦏꦤ꧀ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦱꦶꦠꦸꦮꦱꦶ ꦭꦻꦤ꧀ ꦪꦻꦠꦸ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦼꦫꦶ ꦧꦠꦱ꧀ ꦮꦶꦭꦪꦃ ꦏꦼꦏꦸꦮꦱꦄꦤ꧀ꦚ꧉

(Tanpa piker panjang ENDANG KASIH langsung pamit dan berangkat mencari NYI LODAYA dan TENTARANYA seorang diri sampai akhirnya mereka bertemu dan bertempur 11 Hari dan dalam pertempuran tersebut NYI ENDANG KASIH berhasil mengalahkan NYI LODAYA dan menyudutkan NYI LODAYA ke pesisir ANDAGA SARI dan NYI ENDANG KASIH sendiri pulang ke rumah orang tua angkatnya yang ada di panggungan, setelah mengalahkan NYI LODAYA maka NYI ENDANG KASIH kini di hadapkan dengan situasi lain yaitu memberi batas wilayah kekuasaanya.)


ꦱꦸꦢꦃ ꦱꦼꦭꦪꦏ꧀ꦚ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦗꦶꦏ ꦩꦻꦴ ꦢꦶ ꦧꦸꦮꦠ꧀ ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦢꦶ ꦥꦼꦢꦸꦏꦸꦲꦤ꧀/ꦢꦺꦱ ꦩꦏ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦲꦫꦸꦱ꧀ꦭꦃ ꦢꦶ ꦠꦼꦧꦁ/ꦧꦧꦢ꧀꧉


(Sudah selayaknya hutan jika mau di buat menjadi PEDUKUHAN/DESA maka hutan tersebut haruslah di tebang/babad.)


ꦱꦼꦩꦼꦤ꧀ꦠꦫ ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ꦩꦸꦫꦶꦢ꧀ ꦏꦤ꧀ꦗꦼꦁ ꦱꦸꦤꦤ꧀ ꦪꦁ ꦭꦻꦤ꧀ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦧꦢ꧀ ꦲꦸꦠꦤ꧀ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦪꦁ ꦄꦏꦤ꧀ ꦢꦶ ꦠꦼꦩ꧀ꦥꦠꦶꦚ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦧꦼꦂꦧꦒꦻ ꦩꦕꦩ꧀ ꦕꦫ꧉


(Sementara murid-murid Kanjeng sunan yang lain membabad hutan-hutan yang akan di tempatinya dengan berbagai macam cara.)


ꦄꦢ ꦪꦁ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦩꦼꦤ꧀ꦕꦧꦸꦠꦶ ꦥꦺꦴꦲꦺꦴꦤ꧀ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦏꦼꦱꦏ꧀ꦠꦶꦪꦤ꧀ꦚ꧈ ꦄꦢ ꦪꦁ ꦩꦼꦤꦼꦧꦁ ꦥꦺꦴꦲꦺꦴꦤ꧀ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦥꦸꦱꦏꦚ ꦱꦼꦩꦼꦤ꧀ꦠꦫ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦩꦼꦁꦒꦸꦤꦏꦤ꧀ ꦏꦼꦕꦼꦂꦢꦶꦏꦤ꧀ꦚ ꦄꦒꦂ ꦮꦶꦭꦪꦃꦚ ꦭꦸꦮꦱ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦕꦼꦥꦠ꧀ ꦥꦿꦺꦴꦱꦺꦱ꧀ ꦥꦼꦤꦼꦧꦔꦤ꧀ ꦥꦺꦴꦲꦺꦴꦤ꧀ꦚ ꦩꦏ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦏꦂ ꦫꦤ꧀ꦠꦶꦁꦫꦤ꧀ꦠꦶꦁ ꦏꦼꦫꦶꦁ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦥꦢ ꦄꦏꦶꦂꦚ ꦄꦥꦶ ꦩꦼꦚꦭ ꦢꦪꦠ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦏꦂ ꦱꦼꦧꦒꦶꦪꦤ꧀ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦱꦼꦧꦸꦠ꧉


(Ada yang dengan mencabuti pohon dengan kesaktianya, ada yang menebang pohon dengan pusakanya sementara NYI ENDANG KASIH menggunakan kecerdikanya agar wilayahya luas dan cepat proses penebangan pohonya maka beliau membakar ranting-ranting kering sampai pada akhirnya api menyala dayat dan membakar sebagian hutan tersebut.)


ꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ ꦩꦼꦤꦤ꧀ꦢꦻ ꦧꦠꦱ꧀ ꦮꦶꦭꦪꦃ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ ꦩꦼꦔꦶꦏꦸꦠꦶ ꦧꦫꦃ ꦄꦥꦶ ꦪꦁ ꦠꦼꦂꦧꦮ ꦄꦔꦶꦤ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦥꦢ ꦠꦶꦠꦶꦏ꧀ ꦧꦫ ꦄꦥꦶ ꦆꦠꦸ ꦗꦠꦸꦃ ꦠꦼꦥꦠ꧀ ꦢꦶ ꦢꦲꦺꦫꦃ ꦭꦫꦔꦤ꧀ ꦗꦩ꧀ꦧꦺ ꦩꦏ ꦮꦶꦭꦪꦃ ꦪꦁ ꦱꦼꦭꦤ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦚ ꦄꦏꦤ꧀ ꦢꦶ ꦤꦩꦻ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦭꦸꦮꦱ꧀ ꦮꦶꦭꦪꦃꦚ ꦢꦫꦶ ꦥꦼꦂꦧꦠꦱꦤ꧀ ꦕꦶꦫꦼꦧꦺꦴꦤ꧀ ꦆꦤ꧀ꦢꦿꦩꦪꦸ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦭꦫꦔꦤ꧀ ꦗꦩ꧀ꦧꦺ꧉


(Untuk menandai batas wilayah NYI GENDAR MALAYA mengikuti barah api yang terbawa angina sampai pada titik bara api itu jatuh tepat di daerah LARANGAN JAMBE maka wilayah yang selanjutnya akan di namai KRANGKENG luas wilayahnya dari perbatasan Cirebon Indramayu sampai LARANGAN JAMBE.)


ꦏꦠ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦱꦼꦤ꧀ꦢꦶꦫꦶ ꦢꦶ ꦄꦩ꧀ꦧꦶꦭ꧀ ꦧꦸꦏꦤ꧀ ꦠꦤ꧀ꦥ ꦱꦼꦧꦧ꧀ ꦤꦩꦸꦤ꧀ ꦏꦠ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦱꦼꦤ꧀ꦢꦶꦫꦶ ꦧꦼꦂꦩꦏ꧀ꦤ ꦥꦼꦤ꧀ꦗꦫ꧉


(Kata krangkeng sendiri di ambil bukan tanpa sebab namun kata krangkeng sendiri bermakna PENJARA.)


ꦱꦸꦢꦃ ꦱꦪ ꦱꦩ꧀ꦥꦻꦏꦤ꧀ ꦧꦲ꧀ꦮ ꦱꦼꦠꦼꦭꦃ ꦏꦼꦏꦭꦲꦤ꧀ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦢꦤ꧀ ꦠꦼꦂꦥꦺꦴꦗꦺꦴꦏ꧀ ꦥꦢ ꦥꦼꦱꦶꦱꦶꦂ ꦄꦤ꧀ꦢꦒ ꦱꦫꦶ ꦢꦶ ꦭꦤ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦏꦤ꧀ ꦥꦼꦩ꧀ꦧꦏꦫꦤ꧀ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦩꦏ ꦧꦭ ꦠꦼꦤ꧀ꦠꦫ ꦢꦤ꧀ ꦚꦶ ꦭꦺꦴꦢꦪ ꦱꦼꦤ꧀ꦢꦶꦫꦶ ꦠꦼꦂꦏꦸꦫꦸꦁ (ꦠꦼꦂꦥꦼꦤ꧀ꦗꦫ) ꦥꦢ ꦄꦥꦶ ꦪꦁ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦏꦂ ꦲꦸꦠꦤ꧀ ꦄꦤ꧀ꦢꦒꦱꦫꦶ꧉


(Sudah saya sampaikan bahwa setelah kekalahan NYI LODAYA dan terpojok pada pesisir andaga sari di lanjutkan PEMBAKARAN HUTAN maka bala tentara dan NYI LODAYA sendiri terkurung (terpenjara) pada api yang membakar Hutan ANDAGASARI.)


ꦩꦼꦫꦺꦏ ꦭꦫꦶ ꦏꦼꦱꦤ ꦏꦼꦩꦫꦶ ꦩꦼꦤ꧀ꦕꦫꦶ ꦢꦠꦫꦤ꧀ ꦪꦁ ꦭꦼꦧꦶꦃ ꦠꦶꦁꦒꦶ ꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ ꦧꦼꦂꦭꦶꦤ꧀ꦢꦸꦁ ꦢꦫꦶ ꦄꦥꦶ ꦢꦤ꧀ ꦩꦼꦭꦶꦤ꧀ꦠꦱꦶ ꦢꦲꦺꦫꦃ ꦪꦁ ꦱꦼꦏꦫꦁ ꦢꦶꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦠꦤ꧀ꦗꦏꦤ꧀꧉


(mereka lari kesana kemari mencari dataran yang lebih tinggi untuk berlindung dari api dan melintasi daerah yang sekarang disebut TANJAKAN.)


ꦱꦼꦠꦼꦭꦃ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ/ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦧꦼꦂꦲꦱꦶꦭ꧀ ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦸꦏ ꦥꦼꦢꦸꦏꦸꦲꦤ꧀ ꦪꦁ ꦢꦶꦧꦼꦫꦶ ꦤꦩ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦩꦏ ꦢꦠꦁꦭꦃ ꦧꦚꦏ꧀ ꦥꦼꦔꦼꦩ꧀ꦧꦫ ꦢꦶꦪꦤ꧀ꦠꦫꦚ꧈ ꦏꦶ ꦢꦤꦸ ꦮꦂꦢꦪ (ꦱꦼꦎꦫꦁ ꦥꦸꦠꦿ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦢꦼꦩꦏ꧀) ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦄꦢꦭꦃ ꦏꦏꦏ꧀ ꦢꦫꦶ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦥꦲꦶꦠ꧀ ꦭꦶꦢꦃ꧈ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦢꦤꦸ ꦮꦂꦢꦪ ꦱꦼꦤ꧀ꦢꦶꦫꦶ ꦢꦫꦶ ꦢꦼꦩꦏ꧀ ꦏꦼ ꦠꦤꦃ ꦗꦮ ꦱꦼꦭꦤ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦚ ꦱꦶꦁꦒꦃ ꦢꦶ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦕꦫ ꦈꦤꦶꦏ꧀ ꦪꦻꦠꦸ ꦧꦼꦫꦼꦤꦁ ꦱꦩ꧀ꦥꦻ ꦱꦼꦏꦸꦗꦸꦂ ꦠꦸꦧꦸꦃꦚ ꦢꦶ ꦥꦼꦤꦸꦲꦶ ꦭꦸꦩꦸꦠ꧀ ꦩꦏ ꦢꦫꦶ ꦆꦠꦸ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦗꦸꦒ ꦢꦶ ꦗꦸꦭꦸꦏꦶ ꦏꦶ ꦧꦠ ꦭꦸꦩꦸꦠ꧀꧈ ꦧꦼꦭꦶꦪꦻꦴ ꦗꦸꦒꦭꦃ ꦪꦁ ꦏꦼꦭꦏ꧀ ꦄꦏꦤ꧀ ꦩꦼꦩ꧀ꦥꦼꦂꦱꦸꦤ꧀ꦠꦶꦁ ꦚꦶ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦱꦶꦃ ꦄꦢ ꦗꦸꦒ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦱꦸꦂꦪ ꦫꦱ ꦢꦤ꧀ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦱꦸꦂꦪ ꦗꦠꦶ ꦏꦼꦢꦸꦮ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦆꦤꦶ ꦩꦼꦫꦸꦥꦏꦤ꧀ ꧒ ꦏꦼꦱꦠꦿꦶꦪ ꦪꦁ ꦱꦼꦭꦭꦸ ꦧꦼꦂꦱꦩ ꦢꦭꦩ꧀ ꦥꦼꦔꦼꦩ꧀ꦧꦫꦄꦤ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦱꦼꦭꦤ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦚ ꦢꦶ ꦱꦼꦧꦸꦠ꧀ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦱꦼꦫꦏꦶꦠ꧀ (ꦱꦠꦸ ꦥꦱꦁ) ꦄꦢ ꦥꦸꦭꦃ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦗꦪ ꦥꦠꦶꦃ꧉ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦠꦤ꧀ꦗꦸꦁ꧈ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦗꦁꦏꦸꦁ꧈ ꦏꦶ ꦧꦺꦴꦢꦒ꧀ ꦢꦤ꧀ ꦩꦱꦶꦃ ꦧꦚꦏ꧀ ꦭꦒꦶ ꦪꦁ ꦭꦻꦤ꧀ꦚ꧉


(Setelah NYI GENDAR MALAYA/ NYI ENDANG KASIH berhasil membuka PEDUKUHAN yang diberi nama KRANGKENG maka datanglah banyak pengembara diantaranya, KY.DANU WARDAYA (Seorang Putra Pangeran Demak) beliau adalah kakak dari PANGERAN PAHIT LIDAH, Pangeran DANU WARDAYA sendiri dari demak ke tana jawa selanjutnya singgah di KRANGKENG dengan cara unik yaitu berenang sampai skujur tubuhnya di penuhi lumut maka dari itu beliau juga di juluki KY BATA LUMUT, beliau jugalah yang kelak akan mempersunting NYI ENDANG KASIH ada juga PANGERAN SURYA RASA DAN PANGERAN SURYA JATI kedua pangeran ini merupakan 2 Kesatria yang selalu bersama dalam pengembaraan dan selanjutnya di sebut PANGERAN SERAKIT (Satu Pasang) ada pulah PANGERAN JAYA PATIH. PANGERAN TANJUNG, PANGERAN JANGKUNG, KY BODAG dan mash banyak lagi yang lainya.)


ꦢꦫꦶ ꦥꦼꦂꦏꦮꦶꦤꦤ꧀ ꦚꦶ ꦒꦼꦤ꧀ꦢꦂ ꦩꦭꦪ/ ꦚꦶ ꦩꦱ꧀ ꦌꦤ꧀ꦢꦁ ꦏꦼꦏꦱꦶꦃ/ꦚꦶ ꦒꦼꦢꦺ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ/ꦚꦶ ꦲꦗ꧀ꦗꦃ ꦈꦩꦶ ꦲꦧꦶꦧꦃ ꦢꦼꦔꦤ꧀ ꦏꦶ ꦢꦤꦸ ꦮꦂꦢꦪ/ꦏꦶ ꦧꦠ ꦭꦸꦩꦸꦠ꧀ ꦭꦲꦶꦂꦭꦃ ꦧꦸꦮꦃ ꦲꦠꦶ ꦪꦻꦠꦸ ꦄꦤ꧀ꦗꦱ꧀ꦩꦺꦴꦫꦺꦴ ꦪꦁ ꦢꦶꦥꦼꦂꦱꦸꦤ꧀ꦠꦶꦁ ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦠꦤ꧀ꦗꦸꦁ ꦢꦤ꧀ ꦢꦫꦶ ꦥꦼꦂꦤꦶꦏꦲꦤ꧀ꦚ ꦩꦼꦭꦲꦶꦂꦏꦤ꧀ ꦚꦶꦩꦱ꧀ ꦄꦤ꧀ꦗꦱ꧀ꦩꦤꦶ꧉


(Dari perkawinan NYI GENDAR MALAYA/ NYI MAS ENDANG KEKASIH/NYI GEDE KRANGKENG/NYI HJ.UMI HABIBAH dengan KY DANU WARDAYA/KY BATA LUMUT lahirlah buah hati yaitu ANJASMORO yang dipersunting pangeran Tanjung dan dari pernihannya melahirkan NYIMAS ANJASMANI.)


ꦆꦠꦸꦭꦃ ꦱꦼꦥꦼꦁꦒꦭ꧀ ꦱꦼꦗꦫꦃ ꦢꦺꦱ ꦏꦿꦁꦏꦺꦁ꧉


(Itulah sepenggal sejarah Desa Krangkeng)

 


SUSUNAN KEPEMIMPINAN /KUWU-KUWUDESA KRANGKENG

01.NYI ENDANG KEKASIH         
       1580-1591
02.PANGERAN JAYA PATI
       1591-1608
03.PANGERAFN SURYA RASA
       1608-1651
04.NYI MAS AYU ANJASMARA
       1615-1630
05.PANGERAN TANJUNG
       1630-1649
06.NYIMAS AYU ANJASMANI
       1649-1666
07.PANGERAN SURAMADI
       1666-1687
08.PANGERAN GEBANG
       1687-1700
09.PANGERAN BAUDAG
       1700-1732
10.EMBAH SYARKOWI
       1732-1770
11.KY.RESITEM
       1770-1796
12.KY.JAKA
       1796-1829
13. KY.KUWU NGABEI LISAN PURO
       1829-1871
14.KUWU HAJI MURTADO
       1871-1885
15.KUWU SATI
       1885-1900
16.KUWU HAJI ANTARI
       1900-1916
17.KUWU RABINGO
       1916-1926
18.KUWU SALAB
       1926-1928
19.KUWU RADEYA
       1928-1953
20.KUWU DARSINI
       1953-1960
21.KUWU MASRIYAH
       1960-1967
22.KUWU SYAFEI
       1967-1968
23.KUWU MARSO
       1968-1974
24.KUWU KASNO
       1974-1984
25.KUWU TARMUKI
       1984-1990
26.KUWU HAJI BADRUDIN   
       1990-1998
27.KUWU JUBAEDI
28.KUWU MADERI
        2013 -2018 

29. MOH.MANSUR  2018-2030

 

Penulis : Mufti Ali Adzakir Krangkeng (23-07-2016 Tersusun dan dipublikasikan)

089509013330-083827996777