Senin, 20 Juli 2026
Asal-Usul Desa Muntur
Desa Muntur merupakan salah satu desa tua di wilayah Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, yang memiliki sejarah panjang serta kaya akan cerita rakyat dan tradisi lisan. Sebelum dikenal dengan nama Muntur, wilayah ini dipercaya bernama Kampung Santing. Nama tersebut diambil dari keberadaan Kali Santing yang mengalir hingga bermuara ke Kali Cilet (Ciheuleut) di wilayah Karanganyar.
Hingga kini masih terdapat peninggalan bersejarah berupa Balai Musyawarah Desa Santing yang tetap dipelihara. Di dalam balai tersebut masih tersimpan sebuah tongtong (kentongan) peninggalan leluhur. Menurut kepercayaan masyarakat, tongtong itu merupakan benda pusaka yang tidak boleh dibunyikan lagi sejak pusat pemerintahan dipindahkan ke Muntur. Konon, siapa pun yang mendengar bunyinya akan diliputi rasa takut yang luar biasa hingga tubuhnya gemetar.
Tidak jauh dari balai tersebut berdiri Masjid Santing, salah satu bangunan tertua di daerah itu. Bagian memolo atau mahkota atapnya masih asli, terbuat dari tanah liat dengan bentuk segi empat yang memperlihatkan pengaruh arsitektur masa Hindu. Masyarakat percaya bahwa kubah masjid tersebut terkadang mengeluarkan suara-suara tertentu sebagai pertanda akan datangnya musibah atau bencana yang menimpa Kampung Santing.
Pembukaan Kampung Santing
Menurut catatan para sesepuh, Kampung Santing dibuka pada hari Rabu Wage, bersamaan dengan dibukanya Kampung Sarang. Wilayah ini dibabad oleh Pangeran Dawala Brata, seorang utusan Kesultanan Cirebon.
Pangeran Dawala Brata memiliki seorang putra yang berguru kepada Buyut Gentong, seorang tokoh penyebar agama Islam di wilayah tersebut. Putra itu bernama Mas Pratapura, yang kemudian menikah dengan seorang perempuan dari keturunan Kerajaan Pajajaran bernama Nyi Karni, yang lebih dikenal sebagai Senti Ronggeng.
Pada awalnya, pernikahan tersebut tidak mendapat restu dari keluarga Mas Pratapura karena Nyi Karni masih memeluk agama Hindu. Setelah memeluk agama Islam, ia tetap merasa belum diterima sepenuhnya oleh keluarga suaminya. Karena itu, ia memilih mengasingkan diri ke daerah Cilet, kemudian bertapa di wilayah yang kini dikenal sebagai Karanganyar hingga akhir hayatnya.
Tempat pertapaannya kemudian dikenal masyarakat sebagai Buyut Ronggeng. Menurut cerita turun-temurun, selama menjalani pertapaan Nyi Karni memperbanyak ibadah dan amal kebajikan. Meskipun tidak pernah memperoleh pengakuan dari mertuanya, masyarakat meyakini bahwa segala doa dan kebaikannya diterima oleh Allah SWT.
Asal Nama Muntur
Menurut cerita masyarakat, nama Muntur berasal dari ungkapan:
"Gumuruh Gumuntur Bocah Santing Kagunturan."
Ungkapan tersebut menggambarkan suara yang bergemuruh dan mengguncang hingga terdengar ke tempat-tempat yang jauh, bagaikan suara petir yang menggelegar.
Dalam sebuah Candra Desa yang tertulis pada daun lontar disebutkan:
Bubare Sing Panjunan
Karangsinom let sewengi
Bocah Santing Kegunturan
Losarang caket margi
Karimun gudang Nanjung
Karang Gandok bangler margi
Miwah Puntang Jangga
Karangmalang sabrangan aris
Karang Kletak Rancagunda
Kedepok Depok
Bait tersebut menjelaskan bahwa Kampung Santing telah ada lebih dahulu dibandingkan Muntur. Frasa "Bocah Santing Kegunturan" menjadi asal-usul penyebutan Muntur, yang lahir dari kisah tentang kegaduhan dan kekejaman seorang jagoan pada masa lampau. Peristiwa itu begitu menghebohkan hingga kabarnya bergema ke berbagai daerah, bagaikan suara guntur yang menggelegar.
Kisah Buyut Ronggeng
Di Karanganyar berkembang sebuah kepercayaan yang berkaitan dengan Buyut Ronggeng. Ketika bertapa, ia pernah mengucapkan pesan:
"Kelak, apabila Buyut Ronggeng dibangun dan dihormati oleh masyarakat Muntur, daerah ini akan memperoleh kesuburan dan keberkahan."
Ungkapan tersebut dipercaya sebagai doa yang membawa kemakmuran bagi masyarakat Desa Muntur hingga sekarang.
Buyut Gentong dan Tokoh-Tokoh Pendampingnya
Di sekitar kompleks Buyut Gentong terdapat makam Demang Margadipura, seorang pejabat pemerintahan pada masa kolonial Belanda yang pernah bertugas di Losarang.
Menurut cerita masyarakat, kawasan ini dahulu dijaga oleh Kaki Rati dan Nini Rati, pasangan penjaga yang berasal dari Trusmi, Cirebon.
Pada tahun 1959, ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) masih berlangsung, kompleks Buyut Gentong mengalami kebakaran yang mengakibatkan hilangnya gentong asli yang menjadi peninggalan bersejarah.
Peristiwa lain terjadi pada tahun 1948, ketika Kiai Asnawi memanjat sebuah pohon asam yang diperkirakan telah berusia lebih dari 460 tahun. Pohon itu dahulu menjadi tempat persinggahan ribuan burung blekok. Konon, setelah berhasil naik ke puncak pohon, Kiai Asnawi tidak dapat turun hingga akhirnya mendapat pertolongan.
Dalam menjalankan dakwahnya, Buyut Gentong juga dibantu oleh beberapa tokoh penting, yaitu:
- Buyut Singkil
- Sela Kuning
- Ki Gedeng Tulus
- Nyi Gandasari dari Ranjeng
- Ki Wanakerti
Mereka dikenal sebagai para penyebar agama Islam di wilayah Losarang dan sekitarnya.
Pemerintahan Desa Muntur
Sejak berdirinya desa, pemerintahan dipimpin oleh beberapa kuwu (kepala desa), yaitu:
- Tiban (Kariman)
- Astinah (berkedudukan di Santing)
- Haji Samaun
- Sidin
- Kadim
- Catem (1943, masa pendudukan Jepang)
- Raci
- Catem (periode kedua)
- Kasnawi
- Surya (berasal dari Kepolisian)
- Kamad
- Sartama (1977–1980)
- Caswan (Pj., dari TNI)
- Carta (Kawer)
- Caswan (Pj., dari TNI)
- Taryono (1998–2005)
- Abdul Khanan (2005–2014)
- Sugeng Sucipto (Pj., sekitar enam bulan)
- Carudin (2014–2020)
- Kandi (Pj., sekitar enam bulan)
- Tanuri (mulai 2021)
Kampung-Kampung di Desa Muntur
Wilayah administratif Desa Muntur terdiri atas beberapa kampung, yaitu:
- Kampung Sarang Kulon
- Kampung Karanganyar
- Kampung Santing
- Kampung Bojong Genting
- Kampung Buyut Gentong
- Kampung Cilanyar Kertajadi, yang mulai berkembang sebagai permukiman baru sekitar tahun 1980.
Gambaran Umum Desa
Dalam data administrasi lama, Desa Muntur tercatat sebagai Desa Nomor 131 dengan luas wilayah sekitar 1.520 hektare. Berdasarkan data tahun 1979, jumlah penduduk Desa Muntur mencapai 6.135 jiwa, terdiri atas 2.980 laki-laki dan 3.155 perempuan.
Sebagai salah satu desa tua di wilayah Losarang, Muntur menyimpan perpaduan antara sejarah, legenda, peninggalan budaya, dan tradisi Islam yang diwariskan secara turun-temurun. Kisah-kisah mengenai Kampung Santing, Buyut Gentong, Buyut Ronggeng, hingga asal-usul nama Muntur menjadi bagian penting dari identitas masyarakat yang masih hidup dan dihormati hingga sekarang.



0 comments:
Posting Komentar