SEJARAH LOSARANG INDRAMAYU

Senin, 20 Juli 2026

 Latar Sejarah

Peristiwa ini terjadi pada masa perkembangan kerajaan-kerajaan di Nusantara, sekitar abad ke-16 hingga awal abad ke-20. Pada tahun 1586 berdirilah Kerajaan Mataram di bawah kepemimpinan Panembahan Senapati. Puncak kejayaan Mataram berlangsung pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613–1645).

Sementara itu, di Pulau Jawa bagian barat, bangsa Belanda mendirikan kongsi dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1602 atas persetujuan Johan van Oldenbarnevelt. Kota Jakarta kemudian dikuasai Belanda dan diubah namanya menjadi Batavia.

Sultan Agung berusaha mengusir VOC dari Batavia. Pada tahun 1628, tentara Mataram melancarkan serangan besar yang berlangsung selama dua bulan. Namun karena VOC memiliki persenjataan yang lebih lengkap dan modern, serangan tersebut gagal. Tahun berikutnya, 1629, Mataram kembali menyerang. Dalam pertempuran itu, Bau Rekso, Bupati Kendal, gugur. Selain itu, VOC membakar hampir seluruh lumbung persediaan makanan tentara Mataram sehingga pasukan mengalami kelaparan dan akhirnya terpaksa mundur. Menurut cerita masyarakat, hanya Lumbung Dalem di Pekandangan, Indramayu, yang tidak ikut terbakar.

Tentara Mataram Menetap di Losarang

Pasukan Mataram yang kembali dari Batavia tidak semuanya pulang ke pusat kerajaan. Sebagian memilih menetap di wilayah barat kekuasaan Mataram, terutama di daerah Indramayu dan Losarang, pada kampung-kampung yang dianggap aman dari pengawasan VOC.

Mereka masih membawa senjata perang seperti tombak, keris, pedang, dan berbagai pusaka lainnya. Karena itu, hingga beberapa generasi kemudian, masyarakat setempat masih menyimpan senjata warisan leluhur yang dirawat dengan baik.

Di tempat persembunyian itu para bekas prajurit sering berkumpul untuk menyusun siasat. Seusai melaksanakan salat, mereka duduk berkerumun sambil mengenakan sarung. Tempat berkumpul tersebut lama-kelamaan dikenal sebagai tempat kerimun (berkerumun), yang kemudian berubah menjadi nama Desa Krimun.

Munculnya Kampung Sarang

Semakin lama persediaan makanan mereka semakin menipis. Setiap ada orang yang melintas sambil membawa bahan makanan atau perbekalan, mereka mengira barang-barang itu akan dikirim kepada Kompeni. Karena itu, perbekalan tersebut dirampas. Orang yang melawan sering dibegal atau diserang. Tindakan itu pada awalnya dianggap sebagai bagian dari perang gerilya melawan Belanda.

Namun lama-kelamaan daerah tersebut dikenal sebagai tempat berkumpulnya para perampok dan penyamun. Kampung itu kemudian disebut Kampung Sarang, yaitu sarang para penyamun. Bahkan hingga sekitar tahun 1930-an, masyarakat masih sering mendengar adanya pembegalan terhadap orang-orang yang melintas di daerah Krimun dan Losarang.

Lahirnya Nama Muntur

Kabar tentang daerah Sarang menyebar luas ke berbagai penjuru. Berita itu terdengar bagaikan gemuruh halilintar yang menggelegar ke mana-mana. Dalam bahasa setempat, suara yang bergemuruh itu disebut gumuntur.

Dari kata itulah kemudian muncul nama Gumuntur, yang lambat laun berubah menjadi Muntur.

Dalam sebuah candra desa yang tertulis pada daun lontar disebutkan:

“Sekar puntang Krimun Pendawa Jangga, gumuruh gumuntur mangsa Randega.”

Kalimat tersebut menggambarkan suasana daerah yang gaduh, penuh pergolakan, dan dianggap sebagai wilayah yang sulit ditembus oleh musuh.

Kedatangan Haji Abdul Fatah Walakiah

Pada suatu masa datang seorang ulama asal Karawang bernama Haji Abdul Fatah Walakiah. Ketika melewati daerah itu, ia berhasil selamat dari gangguan para penyamun. Merasa mendapat perlindungan Allah, ia memutuskan menetap di Muntur.

Beliau kemudian dikenal sebagai penolong masyarakat. Dengan logat Sunda Karawang ia sering berkata:

“Bade nganteur kanu sieun, nulung kanu susah.” (Akan mengantar orang yang ketakutan dan menolong orang yang kesusahan.)

Kehadirannya membawa ketenangan bagi masyarakat setempat.

Pemecahan Kampung Sarang

Sejak tahun 1771, wilayah Kampung Sarang dibagi menjadi dua daerah, yaitu Muntur dan Krimun. Pembagian itu terjadi ketika daerah tersebut mulai dikuasai oleh para tuan tanah Belanda.

Tidak lama kemudian, pada tahun 1777, Belanda membangun Gedong Demang Losarang sebagai pusat pemerintahan dan pengawasan wilayah.

Pada masa itu masyarakat mengenal istilah Zaman Kobokan. Setiap orang yang selesai membawa kerbau yang dianggap berpenyakit diwajibkan mencuci tangan dengan air karbol di sebuah kobokan (tempat cuci tangan) sebelum kembali ke rumah.

Perjalanan Dakwah Ki Kuwu Sangkan

Kisah ini juga berkaitan dengan perjalanan Ki Kuwu Sangkan dalam menyebarkan agama Islam di wilayah Indramayu sejak abad ke-16 hingga masa kekuasaan tuan-tuan tanah Belanda.

Dalam lontar diceritakan:

Bubare Sing Parean Desa Santing Kegunturan Krimun caket ning margi Puntang kandang sapi Kedepok ning pinggir sumur Karang Anyar aris jangga Rancagunda kaline mati Logog Gempol wong Pegagan Nabuh bareng sor Kendayakan

Dan dilanjutkan:

Desa Jumbleng kebon jambu Betokan ning pinggir kali Karang Malang kali Pendawa Kedepok ning Kali Asin Wong Rancagunda pating geletak Kali Waru kaline mati

Syair-syair lontar tersebut menggambarkan suka duka perjalanan dakwah Ki Kuwu Sangkan. Setiap daerah memiliki keadaan yang berbeda-beda: ada yang aman, ada yang penuh kesulitan, bahkan ada yang dilanda bencana dan peperangan.

Dakwah Melalui Kesenian Trebang

Dalam menjalankan dakwahnya, Ki Kuwu Sangkan tidak hanya menggunakan ceramah, tetapi juga memanfaatkan kesenian Trebang agar ajaran Islam lebih mudah diterima masyarakat.

Beliau mengajarkan bahwa pada hari Sabtu masyarakat sebaiknya tidak bepergian jauh. Pertunjukan Trebang disusun dalam beberapa tarian, yaitu:

  1. Tari Burat Gembir — melambangkan penghormatan dan penyambutan.

  2. Tari Udang-Udang.

  3. Tari Lontang.

  4. Tari Ejeng-Ejeng.

  5. Tari Yu Lallah — bermakna ajakan untuk menyembah Allah.

Melalui kesenian itulah Ki Kuwu Sangkan berhasil mendekatkan ajaran Islam kepada masyarakat tanpa meninggalkan budaya lokal yang telah hidup sejak lama.

 


 

0 comments: