Rabu, 15 Juli 2026
Sejarah Desa Srengseng dan Legenda Delapan Sumur Tua
A. Asal-Usul Desa Srengseng
Desa Srengseng merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Selain memiliki sejarah perkembangan sebagai kawasan permukiman yang cukup tua, Desa Srengseng juga dikenal luas karena menyimpan legenda mengenai keberadaan delapan sumur tua yang hingga kini masih menjadi bagian dari cerita turun-temurun masyarakat. Legenda tersebut telah hidup selama berabad-abad dan menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Desa Srengseng.
Menurut cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi, asal-usul Desa Srengseng bermula sekitar abad ke-14 Masehi. Pada masa itu, wilayah yang sekarang menjadi Desa Srengseng masih berupa hutan belantara yang dipenuhi pepohonan besar, semak belukar, serta belum banyak dihuni oleh manusia. Daerah tersebut dikenal memiliki tanah yang subur dan sumber daya alam yang melimpah, namun masih belum tersentuh oleh pembangunan permukiman.
Pada masa itu hiduplah seorang pengembara sekaligus penyebar agama yang berasal dari wilayah Banten. Tokoh tersebut dikenal masyarakat dengan nama Ki Gede Syekh Royani. Beliau digambarkan sebagai seorang ulama yang memiliki ilmu agama, kebijaksanaan, serta kemampuan spiritual yang tinggi. Perjalanannya bukan semata-mata untuk mencari tempat tinggal baru, melainkan juga untuk menyebarkan ajaran kebaikan dan membangun kehidupan masyarakat yang damai.
Dalam pengembaraannya menuju wilayah timur, Ki Gede Syekh Royani singgah di kawasan Gunung Jati, Cirebon. Di tempat tersebut beliau bertemu dengan beberapa tokoh yang memiliki tujuan perjalanan yang sama, yaitu Ki Wandan, Nyi Mas Karang Tapa, Lebe Mangku, dan Syekh Bayan. Kelima tokoh tersebut kemudian menjalin persaudaraan dan sepakat melanjutkan perjalanan bersama-sama.
Mereka menyusuri wilayah pesisir utara Cirebon hingga akhirnya tiba di sebuah kawasan yang berada di perbatasan antara wilayah Cirebon dan Indramayu. Setelah mengamati kondisi alam di sekitarnya, mereka menilai bahwa kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk dijadikan tempat bermukim. Tanahnya subur, pepohonannya rindang, serta terdapat tanda-tanda keberadaan sumber air yang melimpah. Atas dasar pertimbangan tersebut, mereka memutuskan untuk menetap dan membuka kehidupan baru di tempat yang kemudian dikenal sebagai Desa Srengseng.
B. Pertapaan dan Datangnya Petunjuk
Sebagaimana kebiasaan para tokoh pada masa lampau, sebelum membuka sebuah permukiman mereka terlebih dahulu melakukan tirakat dan pertapaan. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tempat yang akan dihuni membawa keselamatan, keberkahan, dan kesejahteraan bagi generasi yang akan datang.
Ki Gede Syekh Royani bersama Ki Wandan, Nyi Mas Karang Tapa, Lebe Mangku, dan Syekh Bayan kemudian menjalani pertapaan di beberapa lokasi yang dianggap memiliki nilai spiritual tinggi. Selama masa pertapaan tersebut, mereka dikisahkan memperoleh berbagai isyarat dan petunjuk melalui mimpi maupun wangsit.
Ki Gede Syekh Royani memperoleh sebuah wangsit mengenai keberadaan sebongkah emas berbentuk bulat besar menyerupai grengseng, yaitu kuali besar yang pada masa dahulu digunakan sebagai alat memasak. Bentuk emas tersebut dipercaya melambangkan kemakmuran, kesejahteraan, serta harapan bahwa daerah yang akan dibangun kelak menjadi tempat yang makmur bagi masyarakatnya.
Sementara itu, para tokoh lainnya memperoleh mimpi mengenai munculnya sebuah sumber mata air yang sangat besar. Dalam mimpi tersebut tampak air memancar dari dalam tanah dengan debit yang begitu deras sehingga mengalir ke berbagai penjuru. Air tersebut digambarkan sebagai sumber kehidupan yang tidak pernah berhenti mengalir dan mampu menghidupi seluruh masyarakat di sekitarnya.
Namun derasnya pancaran air juga menimbulkan kekhawatiran. Jika dibiarkan begitu saja, air yang terus keluar dikhawatirkan akan menyebabkan banjir dan merusak kawasan yang baru akan dibangun. Oleh karena itu, mereka sepakat untuk mencari cara agar sumber air tersebut dapat dimanfaatkan tanpa menimbulkan bencana.
C. Legenda Delapan Sumur Tua
Berdasarkan petunjuk yang diperoleh melalui pertapaan tersebut, para tokoh kemudian menggali beberapa lubang besar sebagai tempat menampung pancaran air yang keluar dari dalam tanah. Lubang-lubang tersebut dibuat menyerupai sumur dengan ukuran yang jauh lebih besar dibandingkan sumur pada umumnya.
Menurut legenda masyarakat, sumur-sumur tersebut dibangun dengan teknik yang sangat unik. Pada bagian dasar sumur digunakan kayu lamaran, yaitu sejenis kayu tua yang dipercaya memiliki daya tahan tinggi terhadap air dan tidak mudah lapuk meskipun terendam selama bertahun-tahun. Penggunaan kayu tersebut diyakini menjadi salah satu alasan mengapa sumur-sumur tua itu mampu bertahan hingga sekarang.
Sumur-sumur tersebut kemudian dikenal dengan nama-nama sebagai berikut:
- Sumur Gede
- Sumur Andrakiyah
- Sumur Lebu
- Sumur Mundu
- Sumur Ketho (Titipan NYIMAS ENDANG KEKASIH/NYI GEDHE KRANGKENG)
- Sumur Sibungkar
- Sumur Satria
- Sumur Penganten
Selain delapan sumur tersebut, masyarakat juga mengenal Sumur Pondok yang kini berada di wilayah Desa Dukuhjati, yaitu desa yang kemudian berkembang sebagai hasil pemekaran dari Desa Srengseng. Di samping itu, menurut penuturan para sesepuh desa, masih terdapat dua sumur tua lainnya yang hingga kini keberadaan maupun nama aslinya belum diketahui secara pasti.
Dalam kepercayaan masyarakat, setiap sumur memiliki fungsi dan makna tersendiri. Selain sebagai penampung air, sumur-sumur tersebut dipercaya menjadi simbol kehidupan, kesuburan, serta perlindungan bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Air yang berasal dari sumur-sumur itu dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mengairi lahan pertanian, serta menjadi sumber kehidupan bagi penduduk yang mulai berdatangan dan menetap di kawasan tersebut.
D. Asal Nama Srengseng
Legenda masyarakat juga mengaitkan asal-usul nama Srengseng dengan wangsit yang diterima Ki Gede Syekh Royani mengenai sebongkah emas yang berbentuk menyerupai grengseng atau kuali besar.
Seiring berjalannya waktu, penyebutan kata grengseng mengalami perubahan pengucapan dalam bahasa masyarakat setempat hingga menjadi Srengseng. Nama tersebut kemudian digunakan untuk menyebut kawasan permukiman yang dibangun oleh Ki Gede Syekh Royani bersama para pengikutnya dan akhirnya menjadi nama resmi desa yang dikenal hingga saat ini.
E. Perkembangan Permukiman
Setelah sumber air berhasil dikendalikan melalui pembangunan sumur-sumur besar tersebut, kawasan di sekitar permukiman mulai berkembang dengan pesat. Masyarakat dari berbagai daerah datang untuk membuka lahan pertanian, mendirikan rumah, serta membangun kehidupan bersama.
Ki Gede Syekh Royani dan para sahabatnya tidak hanya membuka hutan, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang berlandaskan ajaran agama, gotong royong, musyawarah, serta saling menghormati. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar terbentuknya kehidupan sosial masyarakat Desa Srengseng yang terus diwariskan hingga sekarang.
Keberadaan sumur-sumur tua menjadi bagian penting dalam perkembangan desa. Selain memenuhi kebutuhan air, sumur-sumur tersebut menjadi penanda sejarah bahwa kehidupan masyarakat Srengseng bermula dari keberhasilan para leluhur mengelola sumber daya alam secara arif dan bijaksana.
F. Nilai-Nilai Budaya dan Sejarah
Meskipun kisah Ki Gede Syekh Royani dan Delapan Sumur Tua berkembang dalam bentuk tradisi lisan dan belum seluruhnya didukung oleh sumber sejarah tertulis, legenda ini memiliki nilai budaya yang sangat penting bagi masyarakat Desa Srengseng.
Cerita tersebut mengajarkan bahwa pembangunan sebuah desa tidak hanya membutuhkan keberanian dan kerja keras, tetapi juga kebersamaan, kepedulian terhadap lingkungan, serta keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Air yang menjadi pusat legenda melambangkan kehidupan, sedangkan sumur-sumur tua menjadi simbol harapan agar kehidupan masyarakat senantiasa memperoleh keberkahan dan kemakmuran.
Hingga saat ini, legenda Delapan Sumur Tua masih dikenang oleh masyarakat sebagai bagian dari identitas Desa Srengseng. Kisah tersebut tidak hanya menjadi warisan budaya yang memperkuat jati diri masyarakat, tetapi juga menjadi pengingat akan perjuangan para leluhur dalam membuka hutan, membangun permukiman, dan meletakkan dasar kehidupan yang harmonis bagi generasi-generasi berikutnya.



0 comments:
Posting Komentar