KY BUYUT JAGO

Minggu, 09 Agustus 2026

Kisah Ki Buyut Jago dan Asal-Usul Nama Wilayah di Krangkeng

​Bab I: Ambisi dan Dawuh Sang Adipati

​Suasana Balairung Istana di perbatasan Indramayu tampak begitu megah. 

Di atas singgasana, Sang Adipati menatap putra tunggalnya yang berdiri tegap. 

Pemuda itu tidak hanya berparas tampan dan bertubuh gagah, tetapi juga dianugerahi akal yang amat cerdas. 

Dihadiri segenap patih dan punggawa kerajaan, Sang Adipati memanggil sang putra untuk mendekat.

​Sang Adipati dengan suara berat penuh kewibawaan. "Anakku, Saat ini kekuasaan atas tanah perbatasan ini berada di genggaman ayahanda. 

Katakanlah, wahai putraku, keindahan atau kenikmatan apa yang engkau harapkan dari kekuasaan ini?"

​Di luar dugaan Sang Adipati dan para punggawa, pemuda itu membungkuk takzim, lalu menjawab dengan tatapan membara:

​"Ayahanda, aku tidak menggeledah tahta, tak pula mendamba harta. Yang aku inginkan hanyalah menjadi lelaki tertangguh, pilih tanding, dan tersohor di bawah naungan langit—menjadi Lanange Jagat."

​Sang Adipati menarik napas dalam-dalam, mengelus janggutnya sembari bergumam pendek. "Hemm... Jika memang puncak kesaktian yang menjadi dahagamu, pergilah mengembara ke Cirebon Nagari.

Di sana terhampar samudra ilmu, tempat bersemayam para ulama penyebar kedamaian dan para empu sakti mandraguna. Namun, pasang telingamu baik-baik, jangan sekali-kali membawa sepeser pun harta dari istana ini karena harta yang dibawa pengembara hanya akan menjadi racun yang menimpa jiwa dengan kemalasan."

​"Izin dan doa Ayahanda adalah perisai utamaku," sahut Putra Adipati penuh keyakinan.

​"Berangkatlah, Tempuhlah jalanmu," restu Sang Adipati.


​Bab II: Kesaktian Tanpa Cahaya Agama

​Pemuda itu pun melangkah menembus batas wilayah menuju Caruban Nagari. 

Namun, alih-alih merapatkan diri pada para ulama untuk menimba kearifan jiwa, pandangannya justru tertambat pada kehebatan salah satu tokoh sakti di wilayah Cirebon, yaitu Kyai Gede Petakan.

​Hari berganti hari, bulan berbilang tahun. Berkat ketekunan dan bakat alaminya dalam ilmu kanuragan, Putra Adipati berhasil menguasai berbagai jurus dan kesaktian tingkat tinggi. 

Namun, ketika Kyai Gede Petakan hendak membekalinya dengan ajaran agama sebagai penyeimbang jiwa, pemuda itu melambaikan tangan menolak. 

Baginya, niat awalnya adalah memburu kesaktian, bukan kesucian agama.

​Merasa telah menggenggam puncak kanuragan, ia berniat pamit. "Guru, sampailah masa bagiku untuk melanjutkan pengembaraan ini."

​Kyai Gede Petakan menatap muridnya dengan tatapan dalam nan teduh, lalu berpesan:

​"Pergilah. Namun tancapkan dalam dadamu: kesaktian tanpa kerendahan hati hanyalah jalan menuju kebinasaan. Jangan pernah engkau gunakan ilmumu untuk menindas yang lemah, memeras yang miskin, atau bertindak semena-mena."

​"Pesan Guru akan selalu saya ingat," jawab Putra Adipati singkat sebelum melangkah pergi.

​Sayang, nasihat sang guru hanya sekadar angin lalu. 

Dalam pengembaraannya dari Petakan, Putra Adipati justru melindas wilayah-wilayah yang disinggahinya. 

Ia bertindak sewenang-wenang di tanah Cirebon—menumpahkan darah, merampas harta, dan merenggut kehormatan wanita. Namanya ditakuti, namun dosanya kian menggunung.


​Bab III: Angin Perang dari Kesultanan

​Jerit tangis rakyat akhirnya menembus dinding Kesultanan Cirebon. 

Merasa kedamaian negerinya ternoda, Sultan Cirebon memanggil pasukannya dan memerintahkan tindakan tegas: kepung dan tangkap pendekar murka itu!

​Mengetahui pergerakan besar pasukan Kesultanan, Putra Adipati sadar bahwa bertarung terbuka melawan kekuatan negara adalah tindakan konyol. 

Ia berbalik arah dan melarikan diri kembali menuju tanah kelahirannya di perbatasan Indramayu. 

Namun, utusan Cirebon bergerak lebih cepat. Mereka telah tiba lebih dulu di Pedukuhan Krangkeng untuk meminta bantuan penguasa setempat, Nyimas Endang Kekasih.

​"Cirebon digawe rusuh ning sawijine pendekar sakti kang gawe resah kesultanan," Utusan Cirebon menyampaikan mandat.

​Nyimas Endang Kekasih mengangguk anggun. "Baiklah. Demi ketenteraman bersama, aku akan mengutus dua Senopatiku, Pangeran Surya Rasa dan Pangeran Surya Jati, untuk menyegat langkahnya."


​Bab IV: Jejak Pertempuran di Tanah Krangkeng

​Pangeran Surya Rasa dan Pangeran Surya Jati bergerak cepat memotong jalur pelarian Putra Adipati. 

Tempat penghadangan pertama mereka kelak diabadikan oleh anak cucu sebagai Blok PENGADANGAN.

​Di tempat itulah Pangeran Surya Rasa melangkah mantap menyegat langkahnya. "Berhenti, Kisanak!"

​"Siapa kalian yang berani menghalangi jalanku?" tantang Putra Adipati dengan nada meremehkan.

​"Kami adalah utusan Krangkeng yang berdiri di bawah naungan Kesultanan Cirebon," sahut Surya Rasa.

​"Kalian menghadapiku dengan keangkuhan yang tinggi!" dengus Putra Adipati.

​Pangeran Surya Jati menimpali dengan tenang, "Kami datang bukan membawa kebencian pribadi. Kami hanya mengemban mandat untuk membawamu secara baik-baik ke hadapan Kesultanan Cirebon."

​"Hahaha! Membawaku? Jika ingin membawaku, tukarkan dulu dengan kesaktian kalian!" gelak Putra Adipati.

Srett! Pangeran Surya Rasa memulakan serangan dengan hantaman dahsyat, namun Putra Adipati mampu menangkisnya dengan mudah. Secepat kilat, Pangeran Surya Jati meluncur melayangkan pukulan beruntun, tetapi serangan itu pun berhasil ditepis. Pertempuran dua lawan satu berlangsung amat sengit. 

Karena ketiganya memiliki daya kanuragan yang seimbang, belum ada satu pun serangan yang sanggup menembus pertahanan lawan.

​Pertarungan bergeser hingga ke sebuah wilayah, Merasa tenaga mereka mulai terkuras, ketiganya menghentikan adu fisik dan bersandar sejenak sembari berdialog:

​"Sudahlah, Kisanak. Pertarungan ini hanya menguras tenaga tanpa ujung," ujar Surya Jati.

​"Mari kita melangkah bersama ke Kesultanan secara damai," bujuk Surya Rasa.

​Namun Putra Adipati menggeleng keras. "Tidak! Lanjutkan saja pertempuran ini, agar rasa penasaran di dadaku teruapkan sampai tuntas!"

​Karena tempat berteduh itu menjadi saksi bisu diadakannya dialog dalam keadaan sama-sama sadar (eling), wilayah itu kelak dinamakan KANDA ELING (yang kini dikenal masyarakat sebagai Kandang Eling).

​Karena dialog tak membuahkan hasil, perang tanding kembali berkobar hingga bergeser ke bawah pohon besar, tempat yang kelak dikenang sebagai PANGGANG TARUNG

Saking dahsyatnya benturan ilmu mereka, arena pertarungan terus berputar mengelilingi pedukuhan Krangkeng hingga sampai di tepi aliran sungai.

​Di tempat itu, sebuah pukulan balasan telak dari Pangeran Surya Rasa mendarat keras di rahang Putra Adipati hingga merontokkan salah satu giginya. 

Aliran sungai tempat berdarah dan jatuhnya gigi tersebut sampai sekarang dinamakan KALI UNTU.

​Rontoknya gigi tak mengikis sedikit pun nyali Putra Adipati. 

Namun, rasa lelah yang teramat sangat memaksa ketiga pendekar itu kembali menghentikan pertarungan dan berteduh di bawah rindangnya pepohonan. 

Tempat memulihkan tenaga tersebut hingga kini dinamakan PENGADEMAN.


​Bab V: Musnahnya Kesaktian

​Setelah stamina pulih, pertarungan kembali meletus dan bergeser hingga ke pinggiran Desa Krangkeng. 

Di saat adu kesaktian mencapai puncaknya, di tempat terpisah, Nyimas Endang Kekasih merasa hatinya tidak tenang. 

Ia memanggil suaminya, Pangeran Danuwardaya.

​"Duhai Suamiku, hatiku dibelit kecemasan. Dua senopati kita belum juga kembali membawa kabar. 

Sudi kiranya Kakang melangkah untuk menyaksikan keadaan mereka," pinta Nyimas Endang Kekasih.

​"Baiklah, Dinda. Sesungguhnya rasa cemas yang sama pun sedang menyelimuti kalbuku," balas Pangeran Danuwardaya.

​Pangeran Danuwardaya segera melangkah. Dengan kearifan dan getaran batinnya, ia dengan mudah mendeteksi pusat pusaran energi pertarungan di batas wilayah Krangkeng. 

Begitu melihat Pangeran Danuwardaya hadir di arena, Pangeran Surya Rasa dan Pangeran Surya Jati seketika menghentikan serangan dan langsung bersungkem dengan penuh hormat di hadapan pimpinannya.

​Melihat dua lawannya menunduk tanpa perisai, niat licik menyusup di dada Putra Adipati. "Inilah kesempatanku! Mumpung mereka lengah, aku akan memusnahkan mereka dalam satu serangan!" gumamnya.

​Ia melompat tinggi hendak menghantam surya rasa dan surya jati. 

Namun tanpa ia sadari, lompatan tubuhnya melintas tepat di atas kepala Pangeran Danuwardaya. 

Begitu melangkahi kepala sang pangeran, seketika itu pula seluruh ilmu kanuragan dan daya kesaktian yang dibanggakannya luntur tak berbekas. 

Tubuhnya menjadi lunglai tanpa daya, lalu ambruk tersungkur di hadapan Pangeran Surya Rasa dan Surya Jati.

​Pangeran Danuwardaya menatap pemuda yang tak berdaya itu dengan penuh kedalaman, lalu berpesan kepada kedua senopatinya:

​"Selesaikan tugas kalian. Namun ingat, jaga kehormatan kehidupan—jangan sampai ada darah yang tertumpah membasahi bumi."

​Usai menyampaikan amanatnya, Pangeran Danuwardaya berbalik pulang menghadap sang istri, Nyimas Endang Kekasih.


​Bab VI: Akhir Takdir di Kepatihan

​Kini tinggalah mereka bertiga di perbatasan antara Krangkeng dan Srengseng. 

Pangeran Surya Rasa dan Pangeran Surya Jati berdiri mematungi amanat pimpinannya untuk tidak menumpahkan darah sekecil apa pun.

​Namun, Putra Adipati yang tersungkur di tanah berteriak dengan sisa kesombongannya:

​"Bunuh saja aku di sini! Aku tak akan pernah sudi kalian seret ke Kesultanan Cirebon! Malu bersanding dengan dosa-dosaku!"

​"Bangkitlah. Hadapi dosamu dengan ksatria di hadapan Sultan," kata Surya Rasa tenang.

​"Tidak! Lebih baik aku mati!" tegas Putra Adipati.

​Pangeran Surya Jati memalingkan pandangan, lalu mengambil sebuah batu besar di sekitarnya. "Bangkit dan menyerahlah, maka engkau akan menyambut keselamatan."

​Putra Adipati itu memejamkan mata. "Bunuh saja aku! Tapi aku punya satu permintaan terakhir: jangan pernah pisahkan makamku dari makam orang-orang pada umumnya."

​Surya Jati menggelengkan kepala. "Engkau benar-benar keras kepala. Maka kekerasan kepalamu harus dihancurkan dengan batu ini!"

​Pangeran Surya Rasa menimpali dengan penegasan terakhir:

​"Permintaan terakhirmu tidak akan kami penuhi. 

Kami sengaja akan mengubur jasadmu terpisah dari pemakaman umum, agar menjadi pengingat yang abadi bagi anak cucu kami kelak: Wong nakal urip laka bature, lan mati pun laka bature— (Orang jahat hidup tak berteman dan matipun tak berteman)"

​Batu besar itu kemudian dihantamkan ke kepala Putra Adipati hingga ia menghembuskan napas terakhirnya, tanpa ada setetes darah pun yang membasahi bumi karna bukan batu yang di hantamkan yang merenggut nyawah putra adipati melainkan kesombonganya sendiri yang memecahkan isi kepalanya tanpa darah yang keluar. 

​Untuk mengenang peristiwa pertempuran dan gugurnya Putra Adipati tersebut, wilayah tersebut dinamakan KEPATIHAN

Sesuai dengan nasihat para Senopati, jasad pemuda itu dimakamkan di Desa Krangkeng secara terpisah dari kompleks pemakaman warga. Hingga hari ini, sosok pendekar sakti yang tangguh namun tersesat dalam jalan keangkuhannya itu dikenang oleh masyarakat setempat dengan nama KI BUYUT JAGO.


0 comments: