PEDATI KUNO

Kamis, 28 Januari 2016

Legenda Pedati Kuno Dampu Awang dan Keterkaitannya dengan Sejarah Desa Junti, Dadap, Sendang, dan Krangkeng

A. Pedati Kuno sebagai Warisan Sejarah Lokal

Di Desa Krangkeng, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, hingga saat ini masih tersimpan beberapa bagian dari sebuah pedati kuno. Pedati merupakan alat transportasi tradisional berupa gerobak beroda yang ditarik oleh hewan seperti kerbau, sapi, lembu, ataupun kuda. Pada masa lampau, pedati menjadi sarana utama untuk mengangkut hasil pertanian, barang dagangan, maupun perlengkapan perjalanan jarak jauh.

Sisa-sisa pedati tersebut disimpan di sebuah bangunan sederhana yang berada di belakang Kantor Desa Krangkeng. Bagi masyarakat setempat, benda itu bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari sebuah legenda besar yang menghubungkan sejarah beberapa desa di wilayah Kabupaten Indramayu dan Cirebon, yaitu Desa Krangkeng, Desa Junti, Desa Dadap, Desa Sendang, serta kawasan Gunung Sembung.

Menurut tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun, pedati kuno tersebut berkaitan dengan perjalanan seorang tokoh legendaris bernama Dampu Awang.

B. Raja Tiongkok dan Hilangnya Sang Putri

Konon pada masa lampau hiduplah seorang raja dari negeri Tiongkok yang bernama Raja Titongki. Raja tersebut memiliki seorang putri yang terkenal sangat cantik, bijaksana, dan berkepribadian lembut.

Suatu ketika sang putri jatuh hati kepada seorang pemuda yang dikenal sebagai Syarif Hidayat, tokoh yang kemudian hari dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Karena cintanya yang begitu besar, sang putri memutuskan meninggalkan istana dan berlayar menuju Pulau Jawa untuk mencari Syarif Hidayat yang saat itu berada di wilayah Cirebon.

Kepergian putrinya membuat Raja Titongki sangat cemas. Meskipun merasa sedih, sang raja memahami bahwa putrinya telah menentukan jalan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, ia mengutus salah seorang panglima kepercayaannya, Dampu Awang, untuk menyusul sang putri ke Pulau Jawa.

Sebagai bekal kehidupan putrinya, Raja Titongki memerintahkan Dampu Awang membawa dua pedati penuh berisi emas, permata, dan berbagai barang berharga. Harta tersebut dimaksudkan agar sang putri tetap dapat hidup berkecukupan apabila benar-benar menetap di tanah Jawa.

C. Kedatangan di Pesisir Junti

Rombongan Dampu Awang akhirnya mendarat di kawasan pesisir utara yang sekarang dikenal sebagai Desa Junti, Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu.

Menurut cerita masyarakat, sebelum rombongan Dampu Awang tiba, Putri Raja Titongki telah lebih dahulu sampai di pesisir tersebut dan mendapat pertolongan dari Ki Ageng Junti, tokoh yang dihormati oleh masyarakat setempat. Dari Junti, sang putri kemudian melanjutkan perjalanan menuju Keraton Pakungwati di Cirebon untuk menemui Syarif Hidayat.

Sesampainya di Junti, Dampu Awang bertanya kepada Ki Ageng Junti mengenai arah menuju Cirebon. Ketika berada di kediaman Ki Ageng Junti, ia melihat putri Ki Ageng Junti yang memiliki paras sangat cantik. Seketika Dampu Awang terpikat dan berniat mempersuntingnya.

D. Sayembara Menembus Pagar Bambu

Ki Ageng Junti sebenarnya tidak berkenan menerima lamaran tersebut. Selain karena Dampu Awang bukan seorang muslim, ia juga merasa sifat Dampu Awang kurang mencerminkan seorang calon menantu yang baik.

Namun untuk menjaga hubungan baik dan menghindari penolakan secara langsung, Ki Ageng Junti memberikan sebuah syarat.

Dampu Awang diminta menembus pagar pekarangan rumah yang terbuat dari rumpun bambu ori dengan lebar sekitar satu setengah meter hanya dalam waktu satu malam.

Dampu Awang menerima syarat tersebut tanpa ragu. Ketika malam tiba, ia memiliki siasat yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Ia menaburkan kepingan-kepingan emas di sela-sela rumpun bambu yang menjadi pagar pekarangan.

Melihat emas berserakan, penduduk berbondong-bondong datang untuk memungutnya. Demi memperoleh emas tersebut, mereka menebang dan merobohkan rumpun-rumpun bambu tanpa mengetahui maksud sebenarnya.

Menjelang pagi, pagar bambu telah terbuka lebar. Dampu Awang menganggap dirinya berhasil memenuhi syarat yang diberikan.

Namun bagi Ki Ageng Junti, kemenangan itu diperoleh melalui cara yang tidak jujur. Beliau menilai bahwa syarat tersebut seharusnya dipenuhi dengan usaha sendiri, bukan memanfaatkan keserakahan orang lain.

E. Pelarian ke Gunung Sembung

Menyadari tipu muslihat Dampu Awang, Ki Ageng Junti bersama keluarganya segera meninggalkan Junti menuju Gunung Sembung, salah satu kawasan yang dikenal sebagai pusat penyebaran agama Islam di wilayah Cirebon.

Di tempat itu mereka meminta perlindungan kepada seorang ulama yang disegani, yaitu Syekh Bentong.

Sebagai ungkapan terima kasih atas kesediaannya memberikan perlindungan, Ki Ageng Junti berjanji akan menikahkan putrinya dengan Syekh Bentong apabila berhasil menyelamatkannya dari kejaran Dampu Awang.

Untuk menyembunyikan sang putri, Syekh Bentong menempatkannya di pucuk sebuah pohon gebang yang sangat tinggi. Tempat persembunyian itu dipercaya menjadi asal-usul nama Ujunggebang.

Tidak lama kemudian Dampu Awang tiba di Gunung Sembung. Terjadilah perdebatan panjang antara Dampu Awang dan Syekh Bentong yang kemudian berubah menjadi pertempuran.

Menurut legenda, pertempuran tersebut dimenangkan oleh Syekh Bentong. Dampu Awang gagal membawa pulang putri Ki Ageng Junti, sedangkan Syekh Bentong kemudian menikahi putri tersebut dan menetap di wilayah Ujunggebang.

F. Pertemuan dengan Nyi Ageng Benda

Merasa gagal, Dampu Awang kembali menuju pesisir Junti. Dari dua pedati penuh harta yang dibawanya, sebagian besar emas telah habis digunakan selama perjalanan sehingga tersisa sekitar satu setengah pedati.

Ia tetap melanjutkan perjalanan menuju Cirebon untuk menyerahkan sisa bekal kepada Putri Raja Titongki.

Namun di tengah perjalanan, Dampu Awang kembali terpikat kepada seorang perempuan cantik bernama Nyi Ageng Benda, yang tinggal di kawasan pesisir utara.

Tanpa mengetahui bahwa Nyi Ageng Benda telah memiliki suami yang sedang melaut, Dampu Awang menyampaikan keinginannya untuk menikahinya.

Nyi Ageng Benda menolak secara halus. Ia memberikan syarat agar Dampu Awang membangun sebuah keraton megah hanya dalam waktu satu malam.

G. Keraton yang Tak Pernah Selesai

Dampu Awang kembali menerima tantangan tersebut. Bersama para pengikutnya ia bekerja tanpa henti sepanjang malam membangun sebuah keraton.

Mereka bekerja sangat cepat sehingga menjelang fajar sebagian besar bangunan telah selesai. Akan tetapi ketika matahari mulai terbit, pekerjaan baru mencapai bagian pintu gerbang.

Karena waktu telah habis, syarat tersebut dianggap tidak terpenuhi.

Dampu Awang kecewa dan tetap memaksa Nyi Ageng Benda menerima lamarannya. Namun perempuan itu tetap menolak dan melarikan diri menuju kawasan pantai yang dipenuhi pohon dadap.

Di tempat persembunyian itu Nyi Ageng Benda terus berdoa agar suaminya segera pulang dari laut.

H. Asal-Usul Desa Dadap

Legenda masyarakat menyebutkan bahwa Dampu Awang kembali menggunakan cara yang sama seperti sebelumnya. Ia menaburkan emas di sepanjang jalur pelarian Nyi Ageng Benda dengan harapan orang-orang akan menunjukkan tempat persembunyiannya.

Namun kali ini usahanya tidak berhasil.

Nyi Ageng Benda tetap bersembunyi di antara rindangnya pohon-pohon dadap sambil setia menunggu kepulangan suaminya.

Kesetiaan tersebut dipercaya mendapat balasan dari alam. Konon garis pantai di kawasan itu semakin melebar sehingga Nyi Ageng Benda dapat memandang lautan lebih jauh untuk menantikan kedatangan suaminya.

Karena kawasan tersebut dipenuhi pohon dadap, masyarakat kemudian mengenalnya sebagai Desa Dadap.

I. Pedati yang Ditinggalkan

Setelah mengalami kegagalan demi kegagalan, Dampu Awang akhirnya memutuskan mengakhiri perjalanannya.

Sebagian harta bendanya telah habis, sementara pedati yang semula digunakan mengangkut emas tidak lagi memiliki muatan.

Menurut legenda, pedati kosong tersebut ditinggalkan di wilayah Krangkeng. Bagian-bagian pedati itulah yang dipercaya masih tersimpan hingga sekarang di belakang Kantor Desa Krangkeng sebagai peninggalan sejarah masyarakat.

Sementara itu, sisa bangunan pintu gerbang keraton yang tidak sempat diselesaikan dipercaya masih dapat dijumpai di Blok Benda, Desa Sendang, tepatnya di sebelah utara lapangan sepak bola desa.

Ilistrasi I

Ilustrasi II

Ilustrasi III


J. Nilai Budaya dan Catatan Historis

Kisah Dampu Awang merupakan salah satu legenda yang sangat dikenal di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu dan Cirebon. Cerita ini hidup melalui tradisi lisan dan memiliki berbagai versi di setiap daerah.

Walaupun belum didukung oleh bukti sejarah tertulis yang dapat memastikan seluruh rangkaian peristiwanya, legenda tersebut memiliki nilai budaya yang tinggi. Kisah ini mengajarkan pentingnya kejujuran, kesetiaan, penghormatan terhadap pilihan hidup seseorang, serta penyelesaian persoalan dengan kebijaksanaan.

Bagi masyarakat Krangkeng, Junti, Dadap, Sendang, dan wilayah sekitarnya, pedati kuno bukan sekadar benda peninggalan masa lalu. Pedati tersebut menjadi simbol perjalanan sejarah, identitas budaya, dan warisan leluhur yang menghubungkan beberapa desa dalam satu rangkaian legenda yang terus dikenang hingga sekarang.

Gambar penampakan Situs :

Beberapa tulisan di Pedati yang mash bisa di kenali dan di baca :
Gambar I :
Gambar II
Gambar III
Gambar IV
Gambar V
Gambar VI
Gambar VII

Telaga Krangkeng (Telaga Sari)

Rabu, 27 Januari 2016

Legenda Telaga Krangkeng (Telaga Sari)

A. Telaga Sari sebagai Warisan Budaya Masyarakat Krangkeng

Di wilayah Desa Kali Anyar, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, terdapat sebuah telaga tua yang oleh masyarakat lebih dikenal dengan nama Telaga Sari atau Telaga Krangkeng. Keberadaan telaga ini telah dikenal sejak masa lampau dan hingga kini masih menjadi salah satu situs yang memiliki nilai sejarah serta budaya bagi masyarakat setempat.

Hingga sekarang belum ditemukan sumber sejarah tertulis yang dapat menjelaskan secara pasti kapan Telaga Sari terbentuk maupun siapa yang pertama kali membuatnya. Oleh karena itu, asal-usul telaga ini lebih banyak dikenal melalui cerita rakyat yang diwariskan secara lisan dari para sesepuh kepada generasi berikutnya.

Meskipun memiliki beberapa versi, seluruh kisah tersebut menunjukkan bahwa Telaga Sari merupakan tempat yang dianggap penting dalam perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat Krangkeng.

B. Jejak Perang Jaya Sena dan Arimba

Salah satu cerita yang berkembang di masyarakat disampaikan oleh seorang tokoh masyarakat Desa Kali Anyar. Menurut penuturannya, Telaga Sari berkaitan dengan peperangan besar antara dua tokoh legendaris, yaitu Jaya Sena dan Arimba.

Konon peperangan itu berlangsung sangat dahsyat. Kedua kesatria tersebut saling mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki sehingga bumi berguncang dan alam di sekitarnya mengalami perubahan.

Setelah peperangan berakhir, bekas pertempuran dipercaya meninggalkan dua cekungan besar yang kemudian terisi oleh mata air alami. Cekungan pertama berada di wilayah Krangkeng dan dikenal sebagai Telaga Sari, sedangkan cekungan lainnya berada di kaki Gunung Ciremai yang kemudian dikenal sebagai Telaga Remis.

Masyarakat memaknai kedua telaga tersebut sebagai saksi bisu dari peristiwa besar yang terjadi pada masa lampau. Walaupun kisah ini berkembang dalam bentuk legenda, cerita tersebut telah menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat hingga sekarang.

C. Sayembara Menyelam Nyi Gede Krangkeng dan Ki Gede Bungko

Versi lain mengenai Telaga Sari disampaikan oleh para sesepuh desa, salah satunya yang dikenal dengan sebutan Pak Suta.

Menurut kisah tersebut, Telaga Sari pernah menjadi lokasi berlangsungnya sebuah sayembara antara dua tokoh besar yang berpengaruh di wilayah pesisir utara, yaitu Nyi Gede Krangkeng dan Ki Gede Bungko.

Sayembara itu berupa perlombaan menyelam ke dasar telaga untuk membuktikan siapa yang memiliki kesaktian, ketahanan, dan kemampuan spiritual yang lebih tinggi.

Masyarakat percaya bahwa telaga pada masa itu memiliki kedalaman yang luar biasa. Airnya sangat jernih dan tidak pernah surut meskipun musim kemarau panjang melanda.

Walaupun tidak ada catatan yang menjelaskan secara rinci siapa yang memenangkan sayembara tersebut, legenda ini menunjukkan bahwa Telaga Sari sejak dahulu telah dipandang sebagai tempat yang memiliki nilai penting, baik secara spiritual maupun sosial.

D. Air Telaga untuk Hajatan di Cirebon

Cerita lain menyebutkan bahwa air Telaga Sari pernah diminta untuk digunakan dalam sebuah hajatan besar di wilayah Cirebon.

Menurut penuturan masyarakat, seorang tokoh bernama Ki Luber mengambil air dari Telaga Sari karena dipercaya memiliki kesucian dan keberkahan. Air tersebut kemudian dibawa ke Cirebon sebagai bagian dari keperluan upacara adat maupun hajatan penting.

Kisah mengenai Ki Luber selanjutnya juga berkaitan dengan tokoh bernama Ki Sura Madi, yang menurut cerita memperoleh amanah dari Ki Luber untuk menjaga hubungan baik antara masyarakat Krangkeng dan Cirebon.

Walaupun cerita tersebut berkembang dalam berbagai versi, masyarakat tetap mempercayai bahwa Telaga Sari memiliki nilai spiritual sehingga airnya dianggap membawa keberkahan.

E. Legenda Ikan Telaga Sari dan Dedeg Seranggi

Legenda yang paling terkenal mengenai Telaga Sari berkaitan dengan usaha mengambil ikan-ikan yang hidup di dalam telaga untuk memenuhi kebutuhan Keraton Cirebon.

Dikisahkan bahwa pada suatu waktu pihak Cirebon memerintahkan sekelompok orang untuk mengambil ikan dari Telaga Sari. Ikan-ikan tersebut akan digunakan dalam sebuah keperluan penting di lingkungan keraton.

Namun ketika rombongan tiba di telaga, mereka dihadang oleh seekor makhluk gaib yang disebut Dedeg Seranggi.

Menurut cerita masyarakat, Dedeg Seranggi bukanlah makhluk biasa. Ia mampu menjelma menjadi seorang kesatria bernama Raden Malanggana yang memiliki kesaktian tinggi.

Terjadilah pertempuran sengit antara Raden Malanggana dengan rombongan utusan dari Cirebon.

Dalam pertempuran tersebut, Raden Malanggana berhasil mengalahkan seluruh rombongan sehingga mereka gagal membawa ikan dari Telaga Sari.

F. Ki Lokawi Mengeringkan Telaga

Setelah kegagalan itu, pihak Cirebon kemudian meminta bantuan seorang tokoh dari Krangkeng yang bernama Ki Lokawi.

Berbeda dengan rombongan sebelumnya, Ki Lokawi tidak menggunakan kekuatan senjata. Ia memilih mengeringkan Telaga Sari agar ikan-ikan di dalamnya dapat diambil dengan mudah.

Bersama masyarakat, Ki Lokawi mulai membuat saluran untuk mengalirkan air telaga keluar. Sedikit demi sedikit permukaan air mulai surut.

Namun pekerjaan itu berlangsung hingga menjelang waktu magrib.

Karena masyarakat pada masa itu sangat menghormati waktu senja, pekerjaan kemudian dihentikan dan dilanjutkan keesokan harinya.

G. Doa Dedeg Seranggi

Pada malam hari, ketika pekerjaan telah berhenti, istri Dedeg Seranggi merasa sangat sedih melihat telaga yang menjadi tempat tinggal mereka hampir mengering.

Dengan penuh keprihatinan, ia menangis di hadapan suaminya.

Mendengar tangisan tersebut, Dedeg Seranggi kemudian memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar hujan segera turun dan mengembalikan air Telaga Sari seperti sediakala.

Menurut legenda masyarakat, tidak lama setelah doa dipanjatkan, langit berubah menjadi gelap. Awan tebal berkumpul dan hujan turun dengan sangat deras sepanjang malam.

Air hujan mengisi kembali Telaga Sari hingga permukaannya kembali seperti semula.

Usaha mengeringkan telaga pun akhirnya gagal.

H. Asal Tradisi Memohon Hujan

Walaupun gagal mengeringkan telaga, Ki Lokawi dipercaya sempat mendengar doa yang dipanjatkan Dedeg Seranggi.

Beliau kemudian menyampaikan isi doa tersebut kepada masyarakat dan para pemimpin di Cirebon.

Sejak saat itu masyarakat Krangkeng meyakini bahwa doa yang dipanjatkan dengan penuh ketulusan memiliki kekuatan yang besar.

Oleh sebab itu, hingga sekarang masih berkembang tradisi bahwa apabila musim kemarau berlangsung sangat panjang dan hujan tidak kunjung turun, sebagian masyarakat Krangkeng melakukan doa bersama di makam Ki Lokawi.

Tradisi tersebut dilakukan sebagai bentuk ikhtiar spiritual dengan harapan Allah SWT menurunkan hujan yang membawa keberkahan bagi sawah, ladang, dan kehidupan masyarakat.

I. Nilai Budaya dan Makna Legenda

Legenda Telaga Sari merupakan salah satu warisan budaya lisan yang sangat penting bagi masyarakat Kecamatan Krangkeng.

Walaupun belum dapat dibuktikan secara historis melalui sumber tertulis, cerita-cerita mengenai Jaya Sena, Arimba, Nyi Gede Krangkeng, Ki Gede Bungko, Ki Luber, Ki Lokawi, Dedeg Seranggi, dan Raden Malanggana telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

Kisah tersebut mengandung berbagai nilai luhur, antara lain pentingnya menjaga keseimbangan alam, menghormati sumber air sebagai anugerah Tuhan, menyelesaikan persoalan dengan kebijaksanaan, serta meyakini bahwa doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan merupakan salah satu bentuk ikhtiar dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup.

Hingga kini Telaga Sari tetap dikenang bukan hanya sebagai sebuah telaga tua, melainkan sebagai simbol sejarah, budaya, dan kearifan lokal masyarakat Krangkeng yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Singgahnya Tokoh-tokoh Sakti dan Pasukan Dari China di Krangkeng

Legenda Panglima Tiampokwang dan Kereta Kayu Kerangkeng

A. Masyarakat Awal Desa Kerangkeng

Menurut tradisi lisan yang berkembang di masyarakat, Desa Kerangkeng merupakan salah satu kawasan tua di wilayah pesisir utara Indramayu yang sejak awal pertumbuhannya telah dipengaruhi oleh perkembangan agama Islam. Kehidupan masyarakat perlahan berubah seiring datangnya para ulama, tokoh agama, dan pendatang dari berbagai daerah yang membawa ajaran Islam serta nilai-nilai kehidupan baru.

Perubahan tersebut tidak terjadi dalam waktu singkat, melainkan melalui proses yang panjang. Sistem pemerintahan, kehidupan sosial, adat istiadat, hingga cara masyarakat bermusyawarah mengalami penyesuaian dengan ajaran Islam yang berkembang pada masa itu. Para tokoh agama dihormati bukan hanya sebagai penyebar agama, tetapi juga sebagai penengah dalam berbagai persoalan masyarakat.

Di tengah berkembangnya kehidupan masyarakat itulah lahir berbagai kisah yang kemudian menjadi legenda, salah satunya adalah kisah mengenai Panglima Tiampokwang dan kereta kayu tanpa paku yang hingga kini masih dikenang oleh masyarakat Kerangkeng.

B. Kedatangan Panglima dari Negeri Tiongkok

Legenda masyarakat mengisahkan bahwa setelah Putri Ong Tien diserahkan kepada Kesultanan Cirebon, beberapa panglima yang mengawal rombongan tersebut memiliki jalan hidup yang berbeda-beda.

Salah seorang panglima bernama Guancang memilih menetap di Cirebon bersama para pengikutnya. Mereka kemudian memeluk agama Islam dan menjadi bagian dari masyarakat Cirebon.

Panglima lainnya, yaitu Lieguanhin, berniat kembali ke negeri asalnya. Akan tetapi dalam perjalanan pulang, rombongannya singgah di kawasan pesisir utara yang kelak berkembang menjadi wilayah Kerangkeng.

Sementara itu terdapat seorang panglima lain yang memiliki kemampuan luar biasa, yaitu Tiampokwang.

C. Panglima Tiampokwang

Dalam legenda masyarakat, Tiampokwang digambarkan sebagai seorang panglima yang memiliki kecerdasan di berbagai bidang. Ia memahami ilmu pemerintahan, perdagangan, pertanian, strategi perang, hingga seni pertukangan.

Selain itu, Tiampokwang juga dikenal sebagai pendekar yang menguasai berbagai ilmu bela diri, ilmu kanuragan, serta ilmu kekebalan yang pada masa itu dipercaya dimiliki oleh para kesatria.

Namun kemampuan yang paling membuat masyarakat kagum bukanlah kesaktiannya, melainkan kepandaiannya membuat kereta kayu tanpa menggunakan satu batang paku pun.

Dengan memanfaatkan sambungan kayu yang sangat presisi, Tiampokwang mampu menciptakan kereta yang kokoh, indah, dan mudah digunakan untuk menempuh perjalanan jauh.

Keahlian tersebut membuat kawasan tempat tinggalnya, yang menurut sebagian masyarakat berada di wilayah Roban, terkenal sebagai pusat pembuatan kereta kayu.

Banyak bangsawan maupun saudagar datang untuk memesan kereta buatannya. Ada kereta beroda dua, ada pula yang beroda empat. Sebagian dihiasi ukiran yang indah, sementara sebagian lainnya dibuat sederhana namun tetap kuat. Kereta-kereta tersebut ditarik oleh sepasang kerbau pilihan yang telah dilatih secara khusus.

D. Ki Badur, Murid Kesayangan

Di antara sekian banyak murid Tiampokwang, terdapat seorang yang paling menonjol bernama Ki Badur.

Ki Badur dikenal sebagai murid yang paling mahir dalam ilmu bela diri sekaligus pertukangan. Karena kepandaiannya, ia sering dipercaya menggunakan kereta terbaik milik gurunya.

Suatu hari, sekitar tahun 1486 M menurut penuturan masyarakat, Ki Badur meminta izin kepada gurunya untuk meminjam sebuah kereta kayu yang paling indah.

Tujuannya sederhana, yaitu mengunjungi kekasihnya yang bernama Nyi Balimbing, seorang perempuan cantik yang tinggal di daerah Kapetakan.

Nyi Balimbing terkenal karena kecantikannya sehingga banyak pemuda ingin mempersuntingnya. Namun hatinya hanya tertuju kepada Ki Badur.

Setelah memperoleh izin, Ki Badur berangkat menggunakan kereta yang ditarik oleh sepasang kerbau kesayangannya, yaitu Maesa Gatra dan Maesa Gatri.

E. Pertemuan dengan Mbah Kuwu Cirebon

Menurut legenda, kereta buatan Tiampokwang bukanlah kereta biasa.

Karena dibuat oleh seorang ahli yang memiliki ilmu tinggi, kereta tersebut dipercaya mampu melewati rawa, sungai, bahkan permukaan air tanpa tenggelam.

Dalam perjalanan menuju Kapetakan, Ki Badur melihat sebuah perahu yang sedang melintas.

Perahu tersebut ternyata ditumpangi oleh Mbah Kuwu Cirebon.

Entah karena kesombongan atau sekadar ingin menunjukkan kesaktiannya, Ki Badur mengucapkan sebuah kutukan sehingga perahu itu tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan kandas.

Mbah Kuwu yang terkejut kemudian berdoa kepada Tuhan agar orang yang berbuat zalim kepadanya memperoleh balasan yang setimpal.

Tidak lama kemudian, kereta Ki Badur tiba-tiba berhenti dan tidak dapat digerakkan sedikit pun.

Walaupun Ki Badur mengerahkan seluruh ilmu kesaktiannya, kereta itu tetap tidak dapat dipindahkan.

F. Kerbau yang Dipotong Warga

Peristiwa tersebut menarik perhatian masyarakat Kapetakan.

Orang-orang berdatangan dari berbagai penjuru untuk menyaksikan kereta yang tidak dapat bergerak itu.

Dalam keramaian tersebut, seseorang mengusulkan agar kerbau yang menarik kereta dipotong saja dan dagingnya dibagikan kepada masyarakat.

Usul itu segera disambut oleh warga.

Tanpa mengetahui bahwa kerbau tersebut milik Ki Badur, masyarakat beramai-ramai menyembelih Maesa Gatra dan Maesa Gatri.

Tak lama kemudian seluruh warga menikmati daging kedua kerbau tersebut.

G. Asal-Usul Ungkapan "Ora Weruh"

Ketika Ki Badur kembali, ia sangat terkejut mendapati kedua kerbau kesayangannya telah hilang.

Dengan marah ia bertanya kepada masyarakat,

"Siapa yang mengambil kerbauku?"

Masyarakat menjawab secara serempak,

"Kami tidak tahu."

Namun menurut legenda, karena kerbau itu telah dimakan oleh banyak orang, dari dalam perut mereka terdengar suara yang menyerupai lenguhan kerbau,

"Eee... eee..."

Sehingga jawaban mereka terdengar menjadi,

"Tidak tahu... eee..."

Cerita rakyat kemudian mengaitkan peristiwa itu dengan munculnya ungkapan "ora weruh" yang berarti tidak tahu, meskipun hubungan tersebut bersifat simbolis dan hanya terdapat dalam legenda masyarakat.

H. Sayembara Kereta Kayu

Karena kereta itu tidak dapat dipindahkan, Ki Badur meminta petunjuk kepada gurunya, Tiampokwang.

Atas izin sang guru, diumumkanlah sebuah sayembara.

Barang siapa mampu mengangkat dan memindahkan kereta kayu tersebut, maka kereta itu akan menjadi miliknya.

Berita itu menyebar ke berbagai daerah.

Banyak pendekar, bangsawan, serta orang-orang yang mengaku memiliki kesaktian datang mencoba keberuntungan.

Ada yang menggunakan tenaga, ada yang mengandalkan ilmu kanuragan, bahkan ada pula yang memanjatkan doa-doa khusus.

Namun tidak seorang pun berhasil mengangkat kereta tersebut.

Masyarakat kemudian percaya bahwa kereta itu hanya dapat digerakkan oleh orang yang memiliki hati bersih, tidak sombong, dan mendapat izin dari Yang Maha Kuasa.

I. Nilai Budaya dan Makna Legenda

Legenda Panglima Tiampokwang dan kereta kayu merupakan salah satu cerita rakyat yang hidup di wilayah Kerangkeng dan sekitarnya.

Walaupun belum didukung oleh bukti sejarah tertulis yang dapat memastikan kebenaran seluruh peristiwanya, kisah ini memiliki nilai budaya yang penting sebagai bagian dari warisan lisan masyarakat.

Cerita tersebut mengandung pesan moral bahwa kesombongan akan membawa kesulitan, sedangkan keahlian harus disertai kerendahan hati. Selain itu, legenda ini juga memperlihatkan tingginya kemampuan masyarakat masa lampau dalam bidang pertukangan, transportasi tradisional, serta hubungan budaya antara wilayah pesisir Indramayu dan Cirebon.

Hingga kini, kisah Tiampokwang, Ki Badur, dan kereta kayu tanpa paku masih dikenang sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Kerangkeng. Meskipun berkembang dalam berbagai versi, legenda tersebut tetap menjadi warisan yang memperkaya sejarah lisan Kabupaten Indramayu dan menjadi pengingat akan nilai-nilai kebijaksanaan yang diwariskan oleh para leluhur.