Kamis, 28 Januari 2016
Legenda Pedati Kuno Dampu Awang dan Keterkaitannya dengan Sejarah Desa Junti, Dadap, Sendang, dan Krangkeng
A. Pedati Kuno sebagai Warisan Sejarah Lokal
Di Desa Krangkeng, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, hingga saat ini masih tersimpan beberapa bagian dari sebuah pedati kuno. Pedati merupakan alat transportasi tradisional berupa gerobak beroda yang ditarik oleh hewan seperti kerbau, sapi, lembu, ataupun kuda. Pada masa lampau, pedati menjadi sarana utama untuk mengangkut hasil pertanian, barang dagangan, maupun perlengkapan perjalanan jarak jauh.
Sisa-sisa pedati tersebut disimpan di sebuah bangunan sederhana yang berada di belakang Kantor Desa Krangkeng. Bagi masyarakat setempat, benda itu bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari sebuah legenda besar yang menghubungkan sejarah beberapa desa di wilayah Kabupaten Indramayu dan Cirebon, yaitu Desa Krangkeng, Desa Junti, Desa Dadap, Desa Sendang, serta kawasan Gunung Sembung.
Menurut tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun, pedati kuno tersebut berkaitan dengan perjalanan seorang tokoh legendaris bernama Dampu Awang.
B. Raja Tiongkok dan Hilangnya Sang Putri
Konon pada masa lampau hiduplah seorang raja dari negeri Tiongkok yang bernama Raja Titongki. Raja tersebut memiliki seorang putri yang terkenal sangat cantik, bijaksana, dan berkepribadian lembut.
Suatu ketika sang putri jatuh hati kepada seorang pemuda yang dikenal sebagai Syarif Hidayat, tokoh yang kemudian hari dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Karena cintanya yang begitu besar, sang putri memutuskan meninggalkan istana dan berlayar menuju Pulau Jawa untuk mencari Syarif Hidayat yang saat itu berada di wilayah Cirebon.
Kepergian putrinya membuat Raja Titongki sangat cemas. Meskipun merasa sedih, sang raja memahami bahwa putrinya telah menentukan jalan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, ia mengutus salah seorang panglima kepercayaannya, Dampu Awang, untuk menyusul sang putri ke Pulau Jawa.
Sebagai bekal kehidupan putrinya, Raja Titongki memerintahkan Dampu Awang membawa dua pedati penuh berisi emas, permata, dan berbagai barang berharga. Harta tersebut dimaksudkan agar sang putri tetap dapat hidup berkecukupan apabila benar-benar menetap di tanah Jawa.
C. Kedatangan di Pesisir Junti
Rombongan Dampu Awang akhirnya mendarat di kawasan pesisir utara yang sekarang dikenal sebagai Desa Junti, Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu.
Menurut cerita masyarakat, sebelum rombongan Dampu Awang tiba, Putri Raja Titongki telah lebih dahulu sampai di pesisir tersebut dan mendapat pertolongan dari Ki Ageng Junti, tokoh yang dihormati oleh masyarakat setempat. Dari Junti, sang putri kemudian melanjutkan perjalanan menuju Keraton Pakungwati di Cirebon untuk menemui Syarif Hidayat.
Sesampainya di Junti, Dampu Awang bertanya kepada Ki Ageng Junti mengenai arah menuju Cirebon. Ketika berada di kediaman Ki Ageng Junti, ia melihat putri Ki Ageng Junti yang memiliki paras sangat cantik. Seketika Dampu Awang terpikat dan berniat mempersuntingnya.
D. Sayembara Menembus Pagar Bambu
Ki Ageng Junti sebenarnya tidak berkenan menerima lamaran tersebut. Selain karena Dampu Awang bukan seorang muslim, ia juga merasa sifat Dampu Awang kurang mencerminkan seorang calon menantu yang baik.
Namun untuk menjaga hubungan baik dan menghindari penolakan secara langsung, Ki Ageng Junti memberikan sebuah syarat.
Dampu Awang diminta menembus pagar pekarangan rumah yang terbuat dari rumpun bambu ori dengan lebar sekitar satu setengah meter hanya dalam waktu satu malam.
Dampu Awang menerima syarat tersebut tanpa ragu. Ketika malam tiba, ia memiliki siasat yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Ia menaburkan kepingan-kepingan emas di sela-sela rumpun bambu yang menjadi pagar pekarangan.
Melihat emas berserakan, penduduk berbondong-bondong datang untuk memungutnya. Demi memperoleh emas tersebut, mereka menebang dan merobohkan rumpun-rumpun bambu tanpa mengetahui maksud sebenarnya.
Menjelang pagi, pagar bambu telah terbuka lebar. Dampu Awang menganggap dirinya berhasil memenuhi syarat yang diberikan.
Namun bagi Ki Ageng Junti, kemenangan itu diperoleh melalui cara yang tidak jujur. Beliau menilai bahwa syarat tersebut seharusnya dipenuhi dengan usaha sendiri, bukan memanfaatkan keserakahan orang lain.
E. Pelarian ke Gunung Sembung
Menyadari tipu muslihat Dampu Awang, Ki Ageng Junti bersama keluarganya segera meninggalkan Junti menuju Gunung Sembung, salah satu kawasan yang dikenal sebagai pusat penyebaran agama Islam di wilayah Cirebon.
Di tempat itu mereka meminta perlindungan kepada seorang ulama yang disegani, yaitu Syekh Bentong.
Sebagai ungkapan terima kasih atas kesediaannya memberikan perlindungan, Ki Ageng Junti berjanji akan menikahkan putrinya dengan Syekh Bentong apabila berhasil menyelamatkannya dari kejaran Dampu Awang.
Untuk menyembunyikan sang putri, Syekh Bentong menempatkannya di pucuk sebuah pohon gebang yang sangat tinggi. Tempat persembunyian itu dipercaya menjadi asal-usul nama Ujunggebang.
Tidak lama kemudian Dampu Awang tiba di Gunung Sembung. Terjadilah perdebatan panjang antara Dampu Awang dan Syekh Bentong yang kemudian berubah menjadi pertempuran.
Menurut legenda, pertempuran tersebut dimenangkan oleh Syekh Bentong. Dampu Awang gagal membawa pulang putri Ki Ageng Junti, sedangkan Syekh Bentong kemudian menikahi putri tersebut dan menetap di wilayah Ujunggebang.
F. Pertemuan dengan Nyi Ageng Benda
Merasa gagal, Dampu Awang kembali menuju pesisir Junti. Dari dua pedati penuh harta yang dibawanya, sebagian besar emas telah habis digunakan selama perjalanan sehingga tersisa sekitar satu setengah pedati.
Ia tetap melanjutkan perjalanan menuju Cirebon untuk menyerahkan sisa bekal kepada Putri Raja Titongki.
Namun di tengah perjalanan, Dampu Awang kembali terpikat kepada seorang perempuan cantik bernama Nyi Ageng Benda, yang tinggal di kawasan pesisir utara.
Tanpa mengetahui bahwa Nyi Ageng Benda telah memiliki suami yang sedang melaut, Dampu Awang menyampaikan keinginannya untuk menikahinya.
Nyi Ageng Benda menolak secara halus. Ia memberikan syarat agar Dampu Awang membangun sebuah keraton megah hanya dalam waktu satu malam.
G. Keraton yang Tak Pernah Selesai
Dampu Awang kembali menerima tantangan tersebut. Bersama para pengikutnya ia bekerja tanpa henti sepanjang malam membangun sebuah keraton.
Mereka bekerja sangat cepat sehingga menjelang fajar sebagian besar bangunan telah selesai. Akan tetapi ketika matahari mulai terbit, pekerjaan baru mencapai bagian pintu gerbang.
Karena waktu telah habis, syarat tersebut dianggap tidak terpenuhi.
Dampu Awang kecewa dan tetap memaksa Nyi Ageng Benda menerima lamarannya. Namun perempuan itu tetap menolak dan melarikan diri menuju kawasan pantai yang dipenuhi pohon dadap.
Di tempat persembunyian itu Nyi Ageng Benda terus berdoa agar suaminya segera pulang dari laut.
H. Asal-Usul Desa Dadap
Legenda masyarakat menyebutkan bahwa Dampu Awang kembali menggunakan cara yang sama seperti sebelumnya. Ia menaburkan emas di sepanjang jalur pelarian Nyi Ageng Benda dengan harapan orang-orang akan menunjukkan tempat persembunyiannya.
Namun kali ini usahanya tidak berhasil.
Nyi Ageng Benda tetap bersembunyi di antara rindangnya pohon-pohon dadap sambil setia menunggu kepulangan suaminya.
Kesetiaan tersebut dipercaya mendapat balasan dari alam. Konon garis pantai di kawasan itu semakin melebar sehingga Nyi Ageng Benda dapat memandang lautan lebih jauh untuk menantikan kedatangan suaminya.
Karena kawasan tersebut dipenuhi pohon dadap, masyarakat kemudian mengenalnya sebagai Desa Dadap.
I. Pedati yang Ditinggalkan
Setelah mengalami kegagalan demi kegagalan, Dampu Awang akhirnya memutuskan mengakhiri perjalanannya.
Sebagian harta bendanya telah habis, sementara pedati yang semula digunakan mengangkut emas tidak lagi memiliki muatan.
Menurut legenda, pedati kosong tersebut ditinggalkan di wilayah Krangkeng. Bagian-bagian pedati itulah yang dipercaya masih tersimpan hingga sekarang di belakang Kantor Desa Krangkeng sebagai peninggalan sejarah masyarakat.
Sementara itu, sisa bangunan pintu gerbang keraton yang tidak sempat diselesaikan dipercaya masih dapat dijumpai di Blok Benda, Desa Sendang, tepatnya di sebelah utara lapangan sepak bola desa.
Ilistrasi I
Ilustrasi IIIlustrasi III
J. Nilai Budaya dan Catatan Historis
Kisah Dampu Awang merupakan salah satu legenda yang sangat dikenal di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu dan Cirebon. Cerita ini hidup melalui tradisi lisan dan memiliki berbagai versi di setiap daerah.
Walaupun belum didukung oleh bukti sejarah tertulis yang dapat memastikan seluruh rangkaian peristiwanya, legenda tersebut memiliki nilai budaya yang tinggi. Kisah ini mengajarkan pentingnya kejujuran, kesetiaan, penghormatan terhadap pilihan hidup seseorang, serta penyelesaian persoalan dengan kebijaksanaan.
Bagi masyarakat Krangkeng, Junti, Dadap, Sendang, dan wilayah sekitarnya, pedati kuno bukan sekadar benda peninggalan masa lalu. Pedati tersebut menjadi simbol perjalanan sejarah, identitas budaya, dan warisan leluhur yang menghubungkan beberapa desa dalam satu rangkaian legenda yang terus dikenang hingga sekarang.


